
Shania kini tengah mendekap sebuah paper bag coklat di depan gerbang rumah, seraya menatap ke arah mobil Arka yang kian mengecil dan menghilang di ujung jalan.
Tangannya terulur membuka gerbang, air banjir memang sudah surut, menyisakan noda coklat di sekitaran dinding dan pagar, sepertinya hari minggu esok ia akan menjadi tenaga infal untuk membersihkan bekas kekacauan yang ditinggalkan si banjir. Ga ada akhlak memang, datang tak diundang pulang tak diantar, udah gitu nyusahin pula.
Buka...engga...buka...engga ?!
Tapi penasaran, dibuka gengsi gue jatoh dong !
Shania membawanya ke dalam, menyimpannya di atas meja, dan ia berlalu menuju kamar.
"Bi, ada yang kirim oleh oleh buat Mas Kala...bibi buka aja, kalo mau cicip ambil aja !" tunjuk Shania setelah mengganti bajunya.
"Waduhhh, ga berani neng. Neng Sha aja yang buka !" jawab bi Atun yang tengah menyusun piring di meja.
"Ga apa apa bi, udah disuruh ko tadi sama mas Kala, takutnya ada makanan basahnya ga bisa dibesokin, sayang kalo basi !" akal akalan Shania memang cerdas seperti si kancil. Bi Atun meraih paper bag, dan membukanya. Ia mulai mengeluarkan satu persatu isi dari dalamnya. 2 kotak bakpia dengan merk ternama Pathok, keripik belut, coklat Monggo dan Yangko, kue mochienya orang Jogja dengan isian kacang cincang.
Shania beroh ria melihatnya.
"Makan aja bi, " pinta Shania.
"Loh, ko jadi bibi. Neng Sha aja duluan, bibi pindahkan di piring sama toples ya, ini keripik belutnya enak dipake makan neng, " jawab bi Atun.
"Masa bi ? Shania belum pernah coba !"
"Makanya cobain, " jawab bi Atun memindahkan makanan makanan itu dari tempatnya. Jika Inez tau mungkin ia akan jadi bahan ledekan gadis dengan mulut nyinyirnya itu. Tadi saja marah marah ga jelas, bahkan sampai tak mau melihat, giliran isinya makanan menggiurkan mata, rasa gengsi, kesal dan marahnya mendadak hilang seperti di sulap David Copperfield untuk berpindah tempat.
***************
Jika sudah kenyang begini, enaknya tuh langsung lempar badan ke ranjang terus mejemin mata. Bersiap kencan dengan pemilik alam mimpi. Tapi bi Atun sudah seperti kaki tangan Arka, selalu mengingatkan untuk tidak tidur siang agar nanti ia tak kesulitan tidur malam.
Ia memutuskan untuk duduk duduk saja di teras belakang, di atas ayunan sangkar burung berwarna putih, iseng iseng mengecek sosial media miliknya, awalnya Shania tersenyum senyum melihat story dan uppload an foto milik teman temannya, tapi kemudian alisnya terangkat melihat sosok yang sangat ia hafal, begitupun beberapa komentar di bawahnya. Sosok gadis dengan gaya glamour dan pakaian minim dengan alat dj yang ia mainkan. Ia menggelengkan kepalanya, dan menghembuskan nafasnya lelah. Jika seandainya orang orang tau akan statusnya yang sudah menikah, apakah nanti nasibnya akan sama dengan Maya ? dikeluarkan dari sekolah, Maya memutuskan untuk tak meneruskan sekolahnya, ia lebih memilih menjadi disc jockey dengan kehidupan malamnya. Mengenai cita cita, Shania masih ingin menggapai cita citanya, paling tidak, ia bisa mengikuti ajang ajang pertandingan bergengsi dalam bidang basket, menambah pengalamannya membela nama sekolah atau bahkan menjadi pemain basket pro. Ia pun memiliki option cita cita lainnya berkuliah di kampus kampus ternama seperti kampus berjas almamater kuning, atau institut teknologi di kota kembang, ataupun kampus di kota pelajar yang menjadi impian semua orang, apakah Arka akan mengijinkannya, nanti ?
Sampai getaran di ponselnya menyadarkan lamunannya.
Mas Kala : Sudah makan ?
Mas Kala : Jangan tidur siang,
Lelaki ini memang terlahir sepaket dengan dingin dan kaku. Julukan kanebo kering sudah menjadi nama tengahnya.
Shania : udah mas,
Shania : iya inget, bawel. Mas juga jangan lupa makan !
*****************
Mobil Arka memasuki halaman rumah, ia terlihat memijit pangkal hidungnya, lelah.
"Assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam, mas !" bukan Shania yang menyambut tapi bi Atun.
__ADS_1
"Shania mana bi ?" tanya Arka, ia menyimpan sepatunya di rak sepatu bersampingan dengan sepatu warrior milik Shania.
"Di belakang mas, "
Arka masuk ke dalam kamar, lalu mencuci kaki dan wajahnya, melangkah masuk ke meja makan, terdapat toples dengan isian yang baru ia lihat, namun isinya ia sangat hafal, ia menyunggingkan senyumnya ternyata oleh oleh dari Rani diterima Shania.
Bi Atun menaruh secangkir kopi yang masih ngebul di meja makan, pertanda air yang dipakai untuk menyeduhnya masihlah panas.
"Makasih bi, "
"Sama sama mas, "
"Shania udah makan ?" tanya Arka.
"Udah mas, sama keripik belut barusan. Tuh abis setengah toples !" tunjuk bi Atun.
Arka menyeruput kopinya terlebih dahulu sebelum ia melirik ke arah teras belakangnya. Ia kembali menarik senyuman saat melihat seorang gadis tampak asik menyumpal kedua lubang telinganya dengan headset, sambil bersenandung, meski suaranya hanya ala kadarnya. Dengan pulpen di tangan dan buku di hadapannya. Shania tampak manis jika sedang begitu, ia bahkan mengangguk anggukan kepalanya.
"I will let you..."
"Mas Kala, sejak kapan disitu ?" lirik yang didendangkan tertahan di udara berganti pertanyaan yang membuat Arka terkejut.
"Sejak kamu nyanyi lagunya coldplay sampe sekarang udah ganti jadi lagu drive, " jawabnya, itu artinya 3 lagu, hampir 15 menit.
Ga ada kerjaan !
"Kenapa udahan ?" tanya Arka kini malah memposisikan duduk di samping Shania.
"Oleh olehnya jadi dibuka ?" tanya Arka.
"Sama bi Atun, " tak salah salah amat kan, meskipun ia yang membuat bi Atun masuk ke dalam perangkapnya, dan meng kambing hitamkan bi Atun.
"Udah dicoba ?" tanya nya lagi.
"Bi Atun yang nyuruh, " jawabnya lagi. Arka hanya mengangguk, "oh.."
Bi Atun ya,
Maafin Shania bi, peace.
"Suka ?" tanya nya.
"B aja," Shania menggidikan bahunya acuh, kali ini Arka terkekeh. Shania adalah gadis dengan gengsi sebesar Rinjani.
"Kenapa ketawa ?" Shania mendesis sebal dan menyipitkan matanya. Arka menggeleng, "engga, emangnya ketawa dilarang ?" tanya Arka, entah s3tan mana yang merasukinya, kini tangan Arka mulai terangkat dan mengusap rambut Shania, bukan hanya mengusap tapi memainkan rambut gelombang itu dengan memilin milinnya.
"Iya, ketawa deh..sebelum ketawa dilarang. Tapi kalo ketawa sendiri gini, mas dikatain gila !" pungkasnya menepis tangan Arka sebal.
"Tumben kamu belajar, biasanya paling males kalo disuruh belajar ?" tangannya kembali menyentuh rambut Shania dan berhenti tepat di bagian pundak.
"Emang biasanya engga ? kan Shania anak rajin ! kalo lagi engga, berarti Shania lagi cuti belajarnya, " terang Shania, Arka menarik garis senyum sambil menggelengkan kepalanya, again.
__ADS_1
"Mas, " tiba tiba Shania menunduk dengan raut wajah yang lesu dan penuh kecemasan.
Arka menautkan kedua alisnya, "kenapa?"
"Shania masih punya cita cita, apa nanti mas bakal larang Shania buat gapai cita cita ?" pertanyaan itu lolos dari mulut kecil Shania.
"Apa alasan mas buat larang usaha kamu buat raih cita cita kamu ?" Arka malah balik bertanya.
"Kan, kan ! mas Kala mah gitu ! sebel deh !" Shania memukul dada Arka.
"Kalo ditanya tuh jangan balik nanya !" sungutnya.
"Nasib Shania gimana, kalo sampe nanti seisi sekolah tau status Shania yang udah nikah, apa nanti Shania sama kaya Maya ? dikeluarin dari sekolah ? apa nanti masa depan Shania bakalan suram ?" tanya Shania.
"Shania ga mau kalo sampe keluar sekolah, terus diem di rumah dasteran ngurus anak ! Shania masih muda, pengen kaya yang lain, " sejenak hati Arka mencelos, inilah resikonya menikahi gadis yang masih sangat muda, keinginannya dan keinginan Shania jelas akan sulit diketemukan. Tapi Arka tak mau ambil pusing, ia dan Shania pasti bisa menyatukan pendapat, ia akan mampu membimbing Shania.
"Apa nanti, mas bakalan nuntut Shania buat punya anak cepet cepet, terus ngurusin mas sama anak di rumah ?" mata Shania sampai berkaca kaca demi menjelaskan kemungkinan yang pasti terjadi, dalam bayangan Shania dan itu terdengar sangat mengerikan.
Arka tersenyum hangat, tatapannya teduh menenangkan, "apapun keputusanmu nanti mas ikut, gapailah cita cita kamu, jangan buat pernikahan ini jadi beban dan penghalang."
"Memangnya apa yang ingin kamu raih ?" tanya Arka, kini tangannya beralih mengusap pucuk kepala Shania.
"Ga muluk muluk ko, pertama Shania pengen jadi pemain basket pro, mas !" matanya berbinar binar menceritakan cita cita utamanya. Jika sampai itu terjadi, itu artinya Shania akan disibukkan dengan segudang kegiatan diklat nasional, asrama, dan sudah dapat dipastikan ia akan jarang pulang ke rumah. Bahkan mungkin, tidak mungkin menjalankan kewajiban utamanya sebagai seorang istri, itu berat untuk Arka, it's bad future. Jelas jelas pemain basket pro, adalah list yang harus dibuang jauh jauh dari list masa depan keluarga bahagia versi Arka.
"Kalo engga juga ga apa apa asal udah nyoba berlaga, tapi yang pengen Shania coba tuh kuliah di kampus kampus ternama, kaya si jas almamater kuning, kalo ngga kampus teknologi di kota kembang, atau engga di kota pelajar juga boleh tuh !" semangatnya berapi api. Lelaki itu menghela nafas lega, masih ada option yang kedua.
"Kalau gitu mulai dari sekarang harus yang serius belajarnya, " jawab Arka.
"Mas ga pengen apa, nerusin ambil magister gitu ?"
"Ada, mungkin setelah launching cabang cafe Route78, "
Shania mengangkat kedua alisnya, woahhh ! keren, Route78 buka cabang ?" Arka mengangguk.
"Mas bantuin Shania ya, biar Shania bisa lulus SBMPTN atau ngga SNMPTN, nanti ! " serunya kini mulai semangat, Arka mengangguk.
Tapi sejurus kemudian Shania kembali menautkan alisnya, "emang mas Kala ga mau punya anak apa, kalo nungguin Shania wisuda atau bahkan kerja kan kelamaan, umur mas aja udah 33 ?"
Arka masih menatap jauh ke dalam manik mata Shania.
"Setiap pasangan menikah pasti ingin memiliki keturunan, termasuk mas, itu sifat manusiawi. Tapi bukan berarti keinginan mas berhak menghalangi kamu untuk meraih cita cita, mas akan menunggu sampai kamu siap, " Arka beranjak dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Shania dengan hati yang mencelos demi mendengar ucapan Arka,
Egoiskah aku ?
.
.
.
.
__ADS_1