
Setelah ngaler ngidul tak tau arah tujuan, keluarga Arka ngaler dan Shania ngidul. Pembicaraan cukup alot dan lamban, karena Shania yang harus memakai translator. Waktu menunjukkan pukul setengah 9 malam.
"Ka, sudah malam..sebaiknya kita pulang," ajak ibu berada di samping Shania.
"Iya bu, Sha...pulang sekarang ?" tanya Arka diangguki oleh Shania. Sedari tadi, gadis ini sudah pusing dengan cerita Banyu, ingin rasanya ia menceburkan kepalanya ke air dingin agar tak ngebul saat anak dari adik sepupu Arka itu, menceritakan betapa serunya ia bermain. Namun sayang, Shania hanya mengerti satu dua kata saja, hingga membuatnya ingin melompat dari Monas dan menangis sejadi jadinya. Karena pada akhirnya ia hanya mengangguk angguk saja seperti boneka dashboard mobil.
"Mbah, Shania pulang dulu ya !" pamitnya, menyalami satu persatu keluarga Arka yang lebih tua.
"Mbak Shania, sesok nek gelem Banyu arek duduhake kegiatan sing nyeneng ne, golek elut, adus ning kali, karo manjer layangan !" serunya bersemangat.
(Mbak Shania, besok Banyu tunjukkin kegiatan yang asik deh, kita nyari belut, main di sungai, main layangan !)
Mamposss aja loe Sha, diajakin maen ga tau bahasa mereka !
"Iya Nyu, " jawab Shania.
Ketiganya berjalan bersama menyusuri jalanan tanah merah dan berbatu.
"Sha, " panggil ibu demi memanggil Shania yang bergelayut manja di lengannya.
"Iya bu, "
"Bagaimana keluarga kami ? Pada cerewet ya ?! Malu maluin ?" kekeh ibu.
"Ih ibu apaan cobak, engga ko bu..rame, Sha seneng bu..cuma ga ngerti aja, harus pake translator !" tawa Shania, Arka berada paling pinggir sebelah kiri. Sedangkan, Shania memeluk lengan ibu di kanan, jadi ibu berada di antara anak dan mantunya.
"Ibu harap rumah tangga kalian tentram ya, yang namanya rumah tangga pasti ada cekcoknya. Tapi jika dua duanya saling memahami, saling terbuka dan meredam ego masing masing insyaallah. Arka tidak pernah main tangan kan ?" Shania menggeleng, ia melirik Arka yang masih diam berjalan beriringan. Yang ada gue yang selalu nimpuk nih pak guru.
"Alhamdulillah,"
"Semprul ! Saiki lali nek kowe suwe duwe deso ?" sapa 3 orang laki laki seumuran Arka.
(Semprul, kamu lupa kalo punya kampung ?)
"Jok, Gus, Yo !!!" sapa Arka, membuat Shania memandang ketiganya.
"Bu, " ketiganya salim.
"Jok, piye bojomu? wis sehat to ?" tanya ibu.
( Jok, gimana istrimu ? Sudah sehat ?)
"Alhamdulillah bu, sampun !"
"Gus, Yo !!" sapa ibu menerima salim takzim ketiganya.
"Kowe tambah ganteng, Ka !"
(Makin ganteng saja kamu Ka,)
"Ka, iki sopo ?!" tanya Joko.
(Ka, ini siapa)
"Kenal no iki bojoku! " ketiganya tampak terkejut, tapi sejurus kemudian mereka berebut salam dengan Shania.
(Kenalin ini istriku)
"Awas tanganmu ! Engko tak lapor ne bojomu, ben dikongkon turu karo wedhus !" Agus menepis tangan Joko yang sudah bersiap bersalaman dengan Shania.
(Awas tanganmu ! aku laporin istrimu, biar disuruh tidur sama kambing)
"Tangane wong loro, iki iso gawe tangane bojone Arka gatel, iritasi, awas !" jawab Aryo, menepuk kedua tangan temannya. Tapi Shania melirik Arka meminta ijin bersalaman. Arka menggeleng, lalu Shania hanya tersenyum mengatupkan kedua tangannya di dada.
(Tangan kamu berdua bikin istri Arka gatel, iritasi...awas !)
"Shania, " jawabnya.
"Bu, Sha..duluan saja ke rumah. Arka ijin mengobrol sebentar sama 3 semprul ini, "
"Duluan dulu, nanti mas nyusul !" Arka memberikan tangannya lalu dikecup Shania.
"Emhhh, jann tenannn! Gawe ngiler ae, " gumam Aryo.
"Iyo, permisi ya Yo, Jok, Gus..ibu karo Shania arek mulih se, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, "
"Ck, ck, ck ayu ne..koyo model !" decak kagum Joko, melihat Shania yang berjalan bersama ibu, perlahan menghilang di perempatan.
(cantiknya ! kaya model)
"Bening koyo banyu gunung, "
(Bening kaya air gunung)
__ADS_1
"Hanung lo yo model Jok, " jawab Arka.
(Hanung juga model, Jok)
"Biyen kae model bh, nek saiki model klambi daster, " tawa Joko diikuti gelak tawa lainnya.
(Dulu sih model bh, sekarang model baju daster !)
"Koyo ngono kuwi yo goro-goro kuwi Jok, Hanum dadi ngono kuwi!" jawab Aryo.
(Itu juga ulahmu Jok, Hanum jadi kaya gitu)
Keempatnya duduk di pos ronda tempat mereka biasa duduk dan nongkrong dulu, ternyata pos ronda ini masih ada dan telah direnovasi, sepertinya kegiatan ronda masih berjalan disini.
"Mas Arkala iki, awet enom pancen pemuda impian. Mesti digodaki kembang deso," imbuh Agus.
(Mas Arkala ini, memang pemuda idaman sejak dulu, selalu dikejar kejar kembang desa)
"Kowe tanah jek enom tenan, ka !"
(Tapi kaya masih muda banget Ka)
"Prawan kuto lurr !!" satu persatu dari mereka mulai mengeluarkan batangan rokok dari sakunya, hanya Arka yang berbeda merk rokok dengan ketiganya, jika ketiganya rokok dengan taraf hidup yang ala kadarnya gudang gudangan cat merah, Arka jelas lebih berkelas.
(Cewek kota lur !!)
"Emange opo bedane cah wedok kutha karo cah wedok deso, Jok ?" tanya Aryo mengepulkan asap putih di udara.
(Memangnya apa bedanya cewek kota sama cewek kampung, Jok ? )
"Sak mesti ne cah wedok kutha kuwi ayu pipise, ora koyo oseng kangkung, " jawab Joko menyesap rokoknya, seketika Arka terbatuk mendengar ucapan Joko, termasuk Agus dan Aryo yang sudah tergelak.
(Mungkin aja kalo cewek kota cantik pipisnya ga kaya oseng kangkung)
"Wey wey..Eling bojo ning omah lagi nyusoni anak !"
( Inget istri di rumah lagi ngASIhi anak !) tawa ketiga lainnya.
"Duduk meteng sek to Ka ?" tanya Joko hati hati.
(Bukan karena mlendung duluan kan Ka ?)
"Alhamdulillah ora, Jok !"
"Alhamdulillah,"
(Pesona Arka, mampu menggaet daun muda, ga kaya kamu Gus, nene nene kamu gaet )
"Wedus, engga lah !" cebik Agus.
"Piye kabare Jok, Gus, Yo ?"
"Alhamdulillah Ka, ijek ngene ki ae. Weteng soyo mlembung, uwan e wis soyo akeh, anak yo tambah akeh !" seloroh Joko menatap jauh ke depan.
(Alhamdulillah Ka, masih begini begini saja. Perut makin buncit, uban mulai tumbuh, anak nambah terus)
"Mung bojon sing gak nambah ya, Jok ?"
(Cuma istri yang ga nambah ya Jok ?)
"Semprul ! kuwi sing dakkarepake (maunya sih begitu), " kekeh Joko mengeratkan sarungnya karena angin malam.
"Koyoke kuwi gak bakal berlaku kanggo Arka, nek didelok-delok kok ya tambah sip! Melu enom neh koyo bojone, opo aku kudu ngono ya, golek bojo enom?" ujar Agus.
(Kayanya itu ga berlaku buat Arka, dilihat lihat malah makin sip ! kebawa muda sama istri, apa aku juga mesti gitu ya, cari daun muda)
"Halah ! Warsih mbengok teko omah ae, kowe wis mlayu, dadak no arek golek daun muda !" cibir Joko.
(Halah ! Warsih teriak dari rumah saja, kamu sudah terbirit birit, pake so so an cari daun muda )
Ketiga temannya ini memang konyol, keempatnya berteman sejak kecil.
"Kowe rabi ora ngabari koncomu iki, ujug-ujug si mbahmu ngomong nek kowe arek rabi, nek ngerti kowe arek rabi lan calonmu wuayu gak ketulungan ngene ki...wis tak viral no !" ucap Joko.
(Kamu nikah ga kabari kita Ka, tau tau si mbah bilang kamu mau menikah, kalo tau kamu menikah dan calon kamu cantiknya ga ketulungan gitu..udah ku viralkan )
"Ojo ngomong arep njupuk bojone Arka !" imbuh Aryo.
(Jangan bilang mau rebut istrinya Arka)
"Gak bakal gelem wonge karo buntelan kentut gak duwe opo-opo koyo awakmu !" ejek Agus.
( Ga akan mau dia sama buntelan kentut ga punya apa apa kaya kamu )
"Gapunten dadakan, tapi engko iso gak mampir sek ning omah, enek oleh-oleh soko mertuaku, kanggo bojomu ning omah, " jawab Arka.
__ADS_1
(Maaf dadakan, tapi nanti saja setelah ini mampir dulu ke rumah ada oleh oleh dari mertua buat istri di rumah)
Saat keempatnya tengah bercanda dan melepas kangen, seorang perempuan berjilbab melintas di depan mereka.
"Retno ?!" sapa Aryo yang melihat Retno duluan, membuat ketiganya otomatis menoleh.
"Ekhem, " deheman ketiganya merapikan rambut di depan Retno.
"Mas, permisi.."
"Teko endi bengi-bengi ?" tanya Arka.
(Darimana malam malam ?)
"Warung mas, " jawabnya menunjukkan lotion obat nyamuk.
"Dewean ? kowe gak wedi dewean ?" tanya Joko.
(Sendirian ? kamu ga takut sendirian?)
"Ora mas, "
"Pengen diterne Arka gak, Ret ?" bukan Arka yang menawari tapi Joko, membuat Arka menatap Joko.
(Mau dianter Arka ngga Ret ?)
"Gak sah, wis cedak !"
(ga usah, sudah dekat)
"Gak popo wis bengi. Ka ! Mosok kowe gak mesakne cak wedok bengi bengi mlaku dewean?" paksa Joko.
(Ga apa apa sudah malam. Ka ! masa kamu ga kasian perempuan jalan sendirian malam malam)
Karena merasa tak enak hati akhirnya Arka berdiri, kebetulan ia pun terlupa ada hal yang ingin disampaikan pada Nanang.
Ia berbalik sementara ketiganya malah tertawa, "ati-ati turu ning jobo Ka, gak bakal diwenehi jatah karo bojomu !" ledek mereka dengan suara yang benar benar kecil. Sementara Arka sudah menggelengkan kepalanya.
(Hati hati tidur di luar Ka, ga bakal dikasih jatah sama istri !)
Arka berjalan di belakang Retno,
"Sapurane aku nang mburi,"
(Maaf saya di belakang)
"Ora popo wedi dadi fitnah, "
(Ga apa apa mas, takut fitnah juga)
Keduanya sama sama diam, sebenarnya ada hati yang terluka dan mencelos, tapi memang sudah takdir. Mungkin ia dan Arka bukan jodoh, padahal selama ini, ia menolak hampir semua laki laki yang menyukainya, berharap si laki laki ini menyatakan cintanya. Semua orang yang tau keduanya, bahkan menganggap keduanya memiliki hubungan spesial, karena Arka dan Retno begitu dekat sampai menjodoh jodohkan mereka. Hatinya sempat berdegup kencang dan berbunga bunga demi mendapat kabar dari Nanang jika Arka akan pulang ke Surabaya, namun perasaan itu berubah menjadi pahit, saat Nanang mengatakan jika Arka datang bersama istrinya. Ia sadar, saat itupun ia harus mengubur asa dan cintanya, ia harus ikhlas dan legowo, meskipun ia tau itu pasti akan sulit.
Rasa penasarannya terhadap sosok Shania semakin besar saat hampers pernikahan Arka datang lebih awal, ia tau keputusannya mengantar Nanang akan membuat lubang hatinya semakin menganga. Dan saat melihat Shania yang jelas jelas jauh lebih muda, hatinya semakin mencelos, she is too young. Retno meneliti Shania, perutnya rata rata saja, tidak seperti pikiran jahatnya dan sebagian orang saat menddngar pernikahan mereka.
Tak terasa perjalanan sudah sampai di rumah mbah, Retno membuka sandalnya dan membuka pintu.
"Matun nuwun mas, kulo mlebet disek,"
(Makasih banyak mas, saya duluan masuk,)
"Sami sami, "
"Loh pakde Arka, " Banyu melongokkan kepala, rupanya bocah itu belum tidur.
"Mbak Shania mana, ko malah sama budhe Retno ?"
"Nang omah," jawab Arka, ia masuk ingin memanggil Nanang.
"Nang, esuk esuk ndang mulih wenehi hampers manten mas. Daftare karo ibu mas ! " ucap Arka.
(Nang, besok tolong ke rumah pagi pagi, bagikan hampers pernikahan mas. List nya ada di ibunya mas !)
"Nggeh mas, "
"Mas mulih yo, assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam."
.
.
.
.
__ADS_1
Kaku pastikan, belibet kan ?! ketauan deh kalo mimin bukan asli wong jowonya, masih belajar sayang 😁🙏
Mimin dengan senang hati loh, menerima revisi, biar lebih jago lagi bahasa jawanya 🤗, karena mimin pun sama masih terus belajar.