
Jalan yang mereka lewati masih yang tadi. Melewati pesawahan yang membentang luas, para petani ditemani istrinya dengan memakai topi caping, sedang memukul mukul tangkai padi di tangan mereka, ke papan untuk merontokkan gabah dari tangkainya.
"Lagi musim panen ya mas ?" tanya Shania dengan mata yang tak lepas dari kegiatan itu.
"Iya,"
"Lucu deh mas ! itu kayanya satu keluarga gitu yang panen, " tunjuk Shania.
"Iya memang kebiasaannya gitu, "
"Lucu ya, kalo kita kaya gitu mas ?!" Shania tergelak.
"Tapi Sha mah tetep cantik dong, meskipun topi Nike diganti sama dudukuy cetok !" ujar Shania. Arka mengerutkan dahinya.
"Apa? kamu tadi bilang apa ?"
"Dudukuy cetok ! itu topi caping, kalo di sunda tuh bilangnya gitu, hahaha lucu ya mas ?! yu ke Bandung deh mas, " jawab Shania.
"Boleh, kapan kapan ya !" jawabnya.
*************
Keduanya sudah sampai di rumah, tapi kelihatannya rumah kosong.
"Ibu kayanya lagi di rumah mbah, mas !"
"Mau disusul ?" tanya Arka.
Itu artinya, disana akan ada Retno. Shania mencoba berbaik sangka, sekaligus ia pun ingin memastikan dan menguji Arka. Meskipun ia harus mengambil resiko sakit hati dan cemburu. Cemburu ? Ayolah !!
"Boleh, "
Keduanya berjalan menuju rumah mbah. Selama berjalan, para tetangga tak jarang yang menyapa Arka, tapi menatap asing pada Shania meskipun mereka tak urung untuk tersenyum.
"Assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam, "
"Eh mbak Shania !!! padhe Arka !" jawab Banyu.
"Ko manggilnya beda Nyu ?" tanya Shania.
"Abisnya kalo manggil mbak Sha budhe, kaya ketuaan gitu mbak !" Shania tertawa atas kejujuran Banyu.
Akhirnya ia tak harus merasa dikucilkan, bisa satu frekuensi.. karena Banyu memakai bahasa Indonesia.
Retno ikut bergabung dengan membawa baskom kecil dan wortel juga pisau, sepertinya ia akan membantu ibu Nanang memasak.
Perempuan itu menunduk dengan senyuman kalemnya.
"Nyu, katanya mau ngajak main layangan ! ayoo !" ajak Shania.
"Ayo mbak, konco koncoku 'dah nunggu !" Banyu keluar dari rumah membawa tali senar dan kait pancingan untuk berburu belut.
"Mas, aku boleh ikut kan ?" tanya Shania dengan mata berbinar.
"Ga takut item ?" tanya nya, Shania menggeleng.
"Engga lah !"
"Ga takut kepanasan ?"
"Engga, gampang lah itu mah tinggal maskeran lagi, " Shania mengibas ngibaskan tangannya di depan.
"Boleh, hati hati. "
"Apa mas mesti ikut ?" tanya nya.
"Ih, mau ngapain ? kalo mas mau sih ayo, tapi kalo cuma buat jagain mendingan ga usah !" jawab Shania.
"Nyu, titip budhe Sha...kalo ada yang gangguin bilang sama padhe !" seloroh Arka.
"Mau diapain padhe?" tanya Banyu.
"Arep tak 'jak gelut !"
Banyu tertawa, jarang jarang padhe nya ini berseloroh dan bisa se membela ini, apalagi untuk seorang perempuan.
"Kenalke..ini budhe ku, Shania !" ucap jumawa Banyu pada teman temannya.
"Kita cari dulu sawah yang baru tanam padi dulu mbak, " ajak Banyu.
__ADS_1
"Boleh deh, aku ga tau soalnya ! Ngikut aja, " Salwa menghitung, mungkin ada sekitar 5 orang termasuk Banyu. Awal mulanya mereka mengeruk tanah basah sedikit gembur dengan ranting kayu di sekitaran kebun, Shania ikut memperhatikan.
"Kalian nyari apa ?"
"Cacing mbak, buat umpan welut !" jawab Rio.
"Ohh, " dasar udik lu Sha, gitu aja ga tau.
"Ih itu cacingnya," tunjuk Shania.
Banyu dan Anwar menyobekkan daun pisang dan mengambil satu persatu cacing menggunakan tangan.
"Udah cukup belum ?" tanya Shania.
"Sudah mbak, "jawab Dio.
Sepanjang jalan menuju sawah, orang orang yang bertemu menatap lekat, pasalnya anak anak ini jarang jarang ditambahi oleh gadis cantik, tampak asing pula..seperti bukan dari sini.
"Mbak Sha tuh.. mirip artis Korea kalo kata Gendis," ujar Banyu, Gendis adalah adiknya di rumah yang kemarin sempat bertemu dan berkenalan.
"Hahaha, masa sih ! engga juga Nyu, "
"Iyo mbak, ayu..putih," jujur anak kelas 5 sd itu.
"Mbak, semalam ko ndak ikut lagi ke rumah mbah ?" tanya Banyu, membuat Shania mengerutkan dahinya. Sementara anak anak yang lain asik menusukkan cacing pada kail pancingnya.
" Semalam ?" beonya.
"Iyo, malah padhe Arka sama budhe Retno yang datang, "
Deg...
"Maksudnya Nyu ?"
"Iyo mbak, semalam tuh padhe balik lagi ke rumah si mbah. Tapi pas aku liat ko yang bareng padhe malah budhe Retno, " adunya. Langkah Shania sudah mulai harus menyeimbangkan diri, pasalnya kini mereka sudah menapaki jalan pematang sawah.
"Cuma berdua aja Nyu ?" Shania mulai gusar.
"Iya, "
Demi apa ? jawaban Banyu membuat hatinya seperti mendapat pukulan telak hingga hati yang pernah retak kembali terhantam keras. Meskipun Shania belum tau kebenarannya, ataupun penjelasannya. Tapi, hati manusia mana yang tak sakit ? terlebih lagi otak Shania yang masih deras mengalir darah remaja tanggung dengan ego segunung Kelud.
Mungkin cuma ga sengaja lewat ?
Tapi ko sakit sih !
"Oh, " jawab Shania singkat, awan cerah mendadak berawan. Mungkin bisa saja nanti turun hujan badai secara tiba tiba saat Shania bertemu Arka.
"Itu mbak disana !" teriakan Anwar memecah kegundahan hati.
"Itu tuh mbak yang ada lubangnya !" tunjuk Dio pada sisi tanah yang menceruk ke sudut petakan sawah.
Mereka berjongkok demi mengamati lubang belut.
"Coba coba masukkin !" setidaknya Shania dapat mengesampingkan dulu kegundahannya. Ia memang bukan tipe gadis yang bermelow melow menangis seharian untuk urusan hati, ia adalah gadis mampu menyimpan rapat rapat namun meledak pada waktunya, seperti bom waktu.
"Digerakin mbak !" pinta Banyu membuat gerakan memutar mutar senar dan menggoyangkannya dengan jari.
Senar tampak tegang, pertanda belut memakan umpan.
"Tarik Nyu, tarik !!" seru mereka seperti menyoraki timnas yang berlaga.
Banyu menarik senar dan wow !! belut berukuran besar di dapat.
"Yeee !!!!"
Rio dan Musli memasukkan belut ke dalam ember putih kecil bekas cat berisi air.
...
"Waduhhh, " tak sengaja kaki Musli menendang ember berisi beberapa belut, hingga membuat isinya tumpah, sontak saja mereka belingsatan menangkap belut yang licinnya bukan main.
"Ya Mus, asem kowe !!"
"Itu tangkap !"
"Guling guling di tanah kering !"
"Awas itu mau nyebur lagi ke sawah !"
Shania tertawa tawa, merasakan ke hectic an menangkap belut, hingga...
__ADS_1
"Blub !!!"
" Aduhhhh !"
"Yahh mbak Shania !!"
Para bocah itu tertawa melihat setengah badan Shania penuh lumpur. Yap ! Shania terjatuh ke sawah
"Mbak Shania koyo kebo, mandi di sawah !"
****
Tak terasa matahari sudah lebih condong ke arah barat, mereka menyudahi perburuan belut hari ini.
"Mau main layangan ngga ?" tanya Dio.
"Kayanya mbak Sha ga bisa, besok aja ya ?! Ini lumpur udah mau kering di baju !" jawab Shania, jujur saja perasaannya saat ini sedang kesal level sambalado.
"Oh oke deh, mbak. Yu ikutan masak belutnya kalo gitu !" ajak mereka, karena tak ingin membuat kecewa, Shania mengangguk saja.
"Horeee, balik balik... Mbak, yu balik mandi ! jangan sampai nanti orang orang ngira mbak, kebo bule !" jawab Banyu.
Shania berjalan menuju rumah mbah untuk mengambil kunci rumah bersama anak anak.
Dari jauh saja terlihat Arka tengah mengobrol dengan Nanang dan ada Retno disana.
"Hm, reuni ya.."
Hatinya kembali mencelos dan bergetar ngilu.
"Astagfirullah Sha, " ibu terkejut membuat semua yang ada disana menoleh pada kebo cantik ini.
"Mbak Shania bu, mbak Shania nyebur ke sawah kaya kebo !" tawa Banyu diiringi tawa Shania.
"Banyu !" bentak ibunya Tias, adik sepupu Arka.
"Ga apa apa mbak Tias, " jawab Shania, Tias meringis malu.
"Kamu kebo irengnya !" jawab Shania tertawa bersama Banyu.
"Wes..wes...mandi lumpur aja tetep ayu mas, " decak kagum Nanang.
"Bu, Sha mau ambil kunci rumah..mau mandi !"
"Loh ! kan di Arka, Ka...ajak istri mu pulang, "
"Ga perlu bu ! " tukasnya sedikit kesal saat memicingkan matanya pada Arka bergantian pada Retno, padahal Arka sudah beranjak dari duduk melantainya.
"Sha sendiri aja, mas Kala lagi anteng..." jawabnya menengadahkan tangannya meminta kunci, tapi memang dasar Arka tak ingin dibantah, bukannya memberikan ia malah menarik tangan Shania dan membawanya bersama untuk pulang. Shania awalnya menerima saja digandeng.
"Padhe Arka datang sama budhe Retno !"
****
"Cuma berdua, "
****
"Duluan saja mas nyusul, mau ngobrol sama 3 semprul ini, "
****
"Udah reuniannya ?"
****
"Udah, "
*******
Shania menepiskan pegangan Arka.
"Shania bisa jalan sendiri, ga perlu di gandeng gandeng. Kali aja kan tangannya bekas pegang cewek lain !" sengitnya berjalan duluan.
Arka mengerutkan keningnya demi mendapati sikap aneh Shania.
"Sha, "
Tapi gadis itu tak menggubrisnya.
.
__ADS_1
.
.