Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Family Route 78


__ADS_3

"Ka Sha ! kelas XII sibuk banget ya ? Ga pernah datang lagi basket ?"


Shania hanya tersenyum getir mendapatkan pertanyaan itu. Aneh saja kan, orang dengan hobby dan kecintaannya pada basket, tiba tiba memutuskan untuk menghentikan mengejar mimpinya, dan tak pernah menyentuh bola yang sudah menjadi makanan sehari harinya.


"Sorry ya, lagi ga mood. Lutut gue sakit lagi !" alasannya. Tak mungkin ia basket untuk sekarang, berlari mengejar bola kesana kemari dan melompat lompat. Mungkin jika sekedar berlari kecil, melakukan dribble dan passing bisa ia lakukan. Hanya saja, ia takut kebablasan dan lupa jika ia tengah menjaga sesuatu di dalam sana.


Berkali kali ia menghela nafasnya, cukup sulit memang adaptasi yang ia rasakan, dan ia harus terbiasa akan itu.


Dimas sudah menunggu di depan gerbang.


"Ka Sha, duluan !"


Begitu banyak yang mengenal dan bertegur sapa pada Shania, tapi apakah ia yakin mereka akan selalu bertegur sapa begini jika tau ternyata gadis ini sudah menikah dan tengah mengandung ? Hanya tinggal menunggu saatnya tiba, maka bom waktu siap meledak untuknya.


"Sha, anak anak basket kangen sama loe. Sekali kali ikut lah jangan almamater kuning terus yang dipikirin," seloroh Melan merangkulnya.


"Insyaallah Mel, iya nih saking pengen masuknya gue !" ucapannya membuat Melan tertawa, namun tidak untuknya.


"Eh, by the way..loe di jemput siapa ?" tanya nya.


"Sama sepupu," jawabnya menunjuk Dimas.


"Sepupu loe ?! Ga pernah liat !" gidiknya acuh.


"Iya, sibuk kerja sih !" jawab Shania.


"Ka Dimas !" pekik Shania melambaikan tangan dibalas lambaian tangan Dimas.


"Mel, gue duluan ya !" Melan mengangguk.


"Hm, ada apa sama loe Sha ?"


"Lama nunggu ka ?"


Dimas menggeleng, "engga ko, malah gue kira, gue yang telat. Arka lagi meeting sama anak anak Route 78," Dimas menjelaskan.


"Ga apa apa, Sha tau ko. Tadi mas Kala udah bilang," Shania menganggukkan kepalanya.


"Loe kaya Ori Sha, Kala..Kala.. kalajengking maksud loe," kekeh Dimas masuk ke dalam mobil Arka.


"May be, nih venom-nya udah nyampe di perut gue !" jawab Shania mengusap usap perut datar-nya, membuat Dimas tertawa.


"Wah, kayanya bentar lagi Ori mau punya temen..atau justru punya jodoh ?"


Shania memasang seatbelt-nya sambil tertawa, "tanya bapaknya kalo gitu."


"Jadi, udah berapa minggu sekarang usianya ?" tanya Dimas sekedar mengajak Shania mengobrol agar tak suntuk. Beginilah jika dengan Dimas, lelaki ini memang berbanding terbalik dengan Arka yang cenderung lebih pendiam.


"Masuk 7 minggu ka,"


"Eh iya gue lupa nanya, kalo dulu waktu mantan ngandung Orion, dia ada morning sick. Loe lagi mau makan permen ngga ? kali aja loe pusing atau mual ?" Dimas menyodorkan setoples kecil permen dengan berbagai rasa.


"Boleh deh, thanks Ka. Kalo muntah muntah sih cuma di awal doang, kesininya engga. Cuma suka ada rasa mual aja dikit !" jawabnya.


"Oh ! waktu Ori kaya gitu ya, kesian dong harus muntah muntah terus ?"


Dimas mengangguk, "iya..makanya gue salut sama cewek Sha, kodratnya bikin cowok takjub belum lagi pas lahiran, beuhhh !"


Shania menoleh dan mengerutkan dahinya, ia sempat beberapa kali searching bagaimana proses melahirkan dan dari kesemua info yang ia dapat, melahirkan is hurt.


"Sakit ya ?" ia meringis, Dimas menoleh sekejap.


"Itulah pengorbanan wanita Sha, maka balasannya juga dari Allah ga tanggung-tanggung. Gue yakin loe bisa, " jawab Dimas.

__ADS_1


Shania menunduk ke arah perutnya, belum apa-apa nyalinya sudah mengkerut. Meskipun bunda sering berkata, Neng Sha mah kuat, pasti bisa, ga usah terlalu dipikirin, masih lama. Tetap saja hal itu selalu menari-nari di pikirannya seperti sebuah bayangan hitam yang menyelimutinya, gimana kalo gue ga bisa nahan sakit, atau mungkin dia tak setangguh itu dan menyerah. Atau meninggoy ? Shania bergidik.


Tanpa sadar mereka sudah sampai di Route 78.


"Ko kesini ka ? Ga langsung ke rumah ?" Shania mengerutkan dahinya.


"Arka nyuruhnya kesini, " Shania turun dari mobil lalu masuk ke dalam cafe.


"Mbak Sha !" sapa Arga yang baru keluar dari dapur. Arka memang tak pernah memiliki ruang khusus untuk rapat seperti halnya angkringan, katanya biar lebih berasa kekeluargaannya kalo rapat di dapur begini.


"Arga ! Udah lama ga ketemu ya ! Masih jomblo ?" tawa Shania.


"Idih mbak Sha, datang datang nanyain jomblo. Udah ada lah mbak cem-ceman !"


"Cem-ceman tuh sejenis tanaman apa ?" kembali Shania tertawa senang betul ia menggoda karyawan yang usianya masih fresh graduate ini.


"Idih mbak Sha, gebetan mbak otewe menuju halal...eh pacall !"


"Pacall olang Ga ?" tanya Shania, Arga ikut tertawa.


"Ini nih, kalo upil ipil dah bersatu nih !" Dimas ikut nimbrung.


"Sha, meni sono (kangen) ! awis tepang lah kalo udah punya utun mah, " (susah ketemu lah kalo udah punya calon bayi) ujar teh Mila yang baru keluar juga dari dapur merangkul pundak Shania, seperti seorang kakak pada adiknya. Shania yang terbalut swetter hoddie agak besar ini hanya tersenyum simpul.


"Engga atuh teh, cuma lagi seneng 'ngandang aja !" ia sadar betul semenjak tau kehamilannya Shania lebih senang berdiam diri di rumah, terhitung sudah 3 minggu ia tak pernah keluar rumah selain karena sekolah.


"Jago kandang, " cibir Lukman tersenyum mengacak rambut Shania. Shania kadang merasa terharu oleh sikap para karyawan Arka disini yang sudah menganggapnya seperti adik mereka sendiri.


"Sha, baru kesini ih !" ini dia si cabe cabean Route 78, Sifa.


"Iya ka Sifa, lagi mager !" jawab Shania.


"Ha?! mas Arka nyuruh kamu bikin pager ?!" seloroh Arga membuat Dimas dan Lukman menoyor kepalanya sedangkan Sifa tertawa terbahak bersama teh Mila.


"Butuh healing itu mah Sha, bilang sama si bos dong ! Minta healing, bumil mah jangan stress, " Sifa berbisik di kalimat terakhirnya. Yap ! mereka tau keadaan Shania.


"Engga ka Sifa, aku males gerak aja !" Arka masih diam di ambang pintu dapur demi melihat wajah berseri Shania, sudah 3 minggu gadis itu muram, jarang tersenyum. Sifat periangnya mendadak hilang, efek fakta jika ia tengah hamil.


"Gue bikinin special choco ice buat Sha deh, biar berasa lagi healing !" ujar Lukman.


"Uncchhh ! perhatiannya uncle Luk luk..." Dimas menepuk-nepuk bahu Lukman dengan kepalan kepalan kecil membuat Shania tertawa geli.


"Ih geli ka Dim, "


"Mau makan ngga Sha ?" tanya teh Mila.


"Engga teh ah, masih kenyang !" jawab Shania.


"Udah makan emangnya ?" tanya teh Mila.


Shania mengangguk, "udah tadi di sekolah, kan bekelnya disponsori Route 78 !" jawab Shania.


"Percaya lah ! mas Arka mah ga akan bikin istri sama calon anaknya kelaperan !"


"Iya atuh teh Mil, harus tercukupi gizinya !" tambah Sifa.


"Iya ga kaya loe, gizi buruk ! bibir aja di merah-merahin kaya cabe-cabean dempet 3," sarkas Arga pada Sifa.


"Ih Arga !!!" ia dihadiahi pukulan bertubi tubi dari Sifa. Pandangan Shania beralih pada Arka yang berjalan mendekat padanya.


"Ke ruangan mas ? disini mulai rame," ajaknya, Shania mengangguk.


"Ga, ka Sifa, teh Mil, ka Dim, Sha ke ruangan mas dulu, bilang sama uncle Lukman coklatnya anter ke ruangan aja !"

__ADS_1


"Sip !" jawaban mereka.


Keduanya masuk ke dalam ruangan Arka. Belum Shania duduk, Arka sudah membalikkan badannya dan memeluk Shania.


"Udah lama mas ga liat kamu ketawa lepas gitu, sejak tau ada dedek disana."


"Special choco ice datang !" Lukman mengetuk pintu.


"Masuk aja uncle Luk !" jawab Shania.


"Nih Sha, minum dulu !"Lukman menyerahkan satu gelas besar ice coklat dengan topping wipe cream, wafer, marshmallow, coklat caca dan ice cream pada Shania.


"Wowww !!! kayanya enak nih, makasih uncle !"


"Sama sama, " ia keluar dari ruangan. Shania membawa coklat dinginnya ke meja dan duduk di sofa dengan Arka mengekor duduk.


" Mas kebagian ngasih materi buat pemantapan ?" tanya Shania.


"Iya, mas udah sesuaikan sama waktu kuliah juga, cuma hari selasa aja pas jadwal materi kuliah cuma satu. Mas juga buka sesi tanya jawab di luar jam sekolah biar lebih efektif lagi,"


"Dimana ? Ga mungkin di rumah kan ?" tanya Shania.


Arka menggeleng seraya jempolnya membersihkan sisa coklat di ujung bibir Shania dan menjilatnya.


"Di sini aja, deket juga dari sekolah."


"Ih, kalo Sha mau main kesini gimana ?"


"Kamu bisa ke ruangan mas, lagipula sesi tanya jawab mas jadwalkan hanya sampai jam 3 aja, selain itu jangan hari kamis, soalnya mas full di kampus !"


"Gimana masih mual ?" tanya nya.


"Sedikit, cuma ga sampe mau muntah."


Shania kembali menyeruput coklat dinginnya.


"Tok..tok..tok..!"


"Mas Arka, "


"Masuk Fa, "


Sifa membuka pintu ruangan dengan membawa sepiring potongan buah buahan.


"Makasih Fa, "


"Sama sama, Sifa balik ya ! Ga ada perlu apa apa lagi kan ?"


"Engga, makasih banyak ya Fa."


Arka meraih piring potongan buah itu, "buat istri sama calon anak mas, biar sehat !" ia menusukkan garpu di potongan buah hendak menyuapi Shania.


Gadis itu melongo, namun tetap melahap potongan buah dari tangan Arka "Sha makan sendiri aja mas."


Arka mengangguk dan memberikan piring itu di tangan Shania. Ponselnya bergetar, lalu ia merogohnya dari saku celana.


"Sha, ada yang mau ngobrol !"


Shania mengangkat alisnya sebelah, "siapa ?"


Arka menunjukkan layar pipih miliknya, "ibu !!!" seru Shania, langsung menaruh piring buah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2