Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Ga romantis !


__ADS_3

Akhirnya hujan reda pada pukul 22.00 WIB,


"Tapi itu airnya masih tinggi mas, " Shania melongokkan kepala ke luar jendela, melihat air kecoklatan memenuhi area halaman, rerumputan jepang yang terhampar dan pohon pohon mini di dalam pot ikut tergenang. Untung saja parkiran letaknya sedikit menanjak, hingga air tak sampai merendam mesin mobil dan motor.


"Mas, ini kalo gini surutnya kapan ?! cih jelek banget drainasenya disini !" Shania kini sedang menikmati potongan coklat yang masih tersisa 4 batang coklat. Shania baru mengalami tempat tinggal tergenang begini, soalnya di kompleks rumahnya dulu tidak pernah ada kejadian sampai banjir.


"2 hari neng biasanya, " jawab bi Atun, sementara yang ditanya masih asik dengan laptopnya.


"Hah ?! lama banget !"


"Itu kalo lewat motor mobil susah loh bi, " decak Shania.


"Tapi besok ga akan setinggi itu neng, paling cuma tinggal semata kaki."


"Oh, " Shania duduk di sofa yang bersebrangan dengan Arka seraya memainkan ponselnya. Ia cekikikan sendiri saat membaca wa grup kelasnya.


"Sudah malam, bibi duluan istirahat mas Arka, neng Shania !" pamit bibi.


"Iya bi, "


"Sudah malam Sha, waktunya tidur !" Arka menutup laptopnya.


"Bentar mas, ini coklatnya belum abis, " dengan mata yang terfokus pada ponselnya dengan tersenyum senyum sendiri, membuat Arka merasa diabaikan sekaligus penasaran.


"Sudah habis berapa ? simpan buat besok, "


"Iya, ini satu..tadi sore satu !" jawab Shania, ia mematikan kembali ponselnya, menghemat dayanya karena malam ini sudah dipastikan tak dapat mencharger nya.


Shania pergi ke kamar mandi dan menggosok giginya lalu naik ke atas ranjangnya.


Posisinya kini lebih mepet ke sisi ranjang dekat Arka. Bahkan dari tempatnya kini, ia bisa melihat Arka yang tengah memejamkan matanya.


"Mas, "


"Hm, "


"Udah tidur ?"


"Udah, "


"Boong banget, masih bisa jawab !" ketus Shania.


"Mas, "


"Ya, " meskipun dengan mata yang sudah terpejam, Arka masih berusaha menjawab. Sedangkan gadis ini masih belum bisa memejamkan matanya yang masih segar.


"Coklat tadi yang dikasih Cakra, mas kemanain ?"


"Dikasih ke Dimas, "


"Ko ka Dimas ?"


Kali ini Arka membuka matanya. "Biar tidak mubazir, "


"Mas cemburu ?" mungkin si avatar aang memberikan kekuatan pada Shania lewat mimpinya sampai sampai gadis ini dengan lirihnya melontarkan pertanyaan seberani itu.


"Menurut kamu ?" Arka balik bertanya.


"Ko malah nanya balik, ya mana Shania tau !" Shania membalikkan badannya hingga menghadap terlentang.


"Wajar ngga kalau mas cemburu ?" tanya Arka.


Shania menggidikan bahunya, "tau !"


"Wajar kalau mas cemburu, itu artinya mas peduli, tapi kalau menurut kamu mas berlebihan atau bikin kamu tak nyaman, kamu tinggal bilang saja. Insyaallah mas ga akan ulangi lagi, mas ga mau bikin kamu tidak nyaman menjalani hubungan ini. Mas ingin kamu bisa meneriman hubungan kita, " Shania tak berkutik lagi, karena semua pertanyaan sudah terjawab oleh Arka secara lengkap dan komplit, bahkan sekarang hati nuraninya tersentil, ia memang lamban memahami, tapi bukan berarti ia bo*doh.


"Mas se serius itu jalanin hubungan sama aku, " gumamnya, tapi tak ada jawaban dari sebelahnya, yang ada adalah dengkuran halus, pertanda Arka sudah menyelami dunia mimpinya duluan. Shania menoleh, "ck, malah ditinggal tidur !"

__ADS_1


Kata romantis memang jauh dari Arka, ia tidak pernah menggombal gombal seperti lelaki kebanyakan, mengumbar janji janji penuh gula biang, tapi ternyata hoax.


Saat orang lain datang dengan kotak coklat dan bunga, lelaki ini malah datang dengan setumpuk catatan pelajaran.


"Hari ini mas masukkan susu kemasan di kotak bekal mu !" Shania mengangkat alisnya sebelah.


"Kaya bocah banget ga sih bekel susu ?!" cebiknya.


"Emang kamu ga denger minggu kemarin mas bilang apa ?" tanya Arka.


"Apa ?" tanya Shania balik, lelaki itu berdecak, kapan istri nakalnya ini serius dalam belajar.


"Hari ini ada praktek kimia di lab. meliputi bahan bahan yang cukup berbahaya namun ada di kehidupan kita sehari hari, "


"Iya. Udah di tas kan ?! ya udah, " jawab Shania, sedangkan Arka hanya menggelengkan kepalanya demi menghadapi sikap acuh Shania.


"Gue udah kaya profesor belum honey ?!" Roy sepaket dengan kaca mata lab dan tabung tabung reaksinya menghampiri bangku Shania dan Inez.


"Udah, kaya prof. sableng !" jawab Shania kembali fokus melihat tabung reaksi di depannya.


"Profesor apaan, mana ada prof. nyontek mulu kerjaannya ! nilai kimia bebek bertelor !" sarkas Inez.


"Tos !" ajak Shania bertos ria dengan Roy.


"Ih, loe berdua 2in.."


Arka masuk ke dalam lab. Kimia dengan membawa beberapa botol berwarna silver dengan tanda cakra, tengkorak, dan api yang tertempel menandakan jika zat senyawa di dalamnya berbahaya.


"Assalamualaikum, pagi !"


"Waalaikumsalam, pagi pak !"


Setelah menjelaskan dasar materi, Arka lalu menerangkan aturan tata tertib di lab.


"Klorin, senyawa kimia yang biasa ditemukan di dalam produk pestisida ataupun desinfektan. Senyawa ini termasuk berbahaya, karena bisa menyebabkan sulit bernafas, iritasi, kemerahan, terbakar dan melepuh, sakit perut, muntah, dan buang air besar berdarah. Klorin bisa dibuat dari mereaksikan mangan dan hidrogen klorida ! praktek kali ini kita akan coba membuat senyawa Klorin ingat !! harus hati hati,"


"Bau !" ucap Roy, yang nekat membuka maskernya dan mencium asam klorida dari jauh.


"Bahaya be*go !!" toyor temannya.


"Dih, udah tau bau malah di endus ! dasar kurang waras, "


"Kalo kata pak Arka ini bisa bikin melepuh dan kebakar, cocok nih buat disiram ke cowok tukang selingkuh, " ujar Inez menggoyang goyang tube berisi cairan berbahaya itu.


"Ini udah bener belum sih, mangannya segimana ?" tanya Shania.


"Udah segitu aja Sha, kita bukan mau bikin obat buat genosida (pemusnahan), cuma buat contoh kecil doang !" ujar Inez.


Arka duduk sementara murid muridnya mengerjakan tugas berkelompok, dengan mata yang sesekali memperhatikan kerja mereka.


"Nah !!! gue udah jadi nih, catet Po catet ! reaksi kimianya !" seru Roy, Arka mendekati kelompok kerja Roy dan menilainya.


"Wah ga bisa jadi nih, masa kita belum !" Shania berdecak, merasa pasokan udaranya terhambat ia malah membuka maskernya, mencampurkan cairan secara sembarang.


"Sha, hati hati itu kebanyakan !" jawab Inez. Shania langsung menghentikkan gerakan tangannya menuang hidrogen klorida yang memang tak banyak.


"Sorry sorry, abis juga !"


"Uhhh, bau banget ! uhuukk uhuukkk ! huwekk !" Shania mengibaskan tangan di depan hidungnya.


"Sha ! loe lepas masker ?!!" sungut Inez. Shania mengangguk.


"Engap gue !" jawabnya santai. Tapi sejurus kemudian Shania menepuk nepuk dadanya.


"Sha ?! are you oke ?" tanya Inez menepuk nepuk Shania yang mulai terbatuk batuk.


"Uhuuukk uhukkk !"

__ADS_1


Arka dan yang lainnya ikut menoleh ke arah kelompok Shania.


"Kenapa ?!" tanya Arka menghentikkan gerakan jarinya di kertas penilaian.


"Honey loe ga apa apa ?" tanya Roy.


"Sha, kamu lepas masker ?" tanya Arka, bukan Shania yang menjawab tapi Inez.


"Iya pak, "


Arka menghembuskan nafasnya kasar, "kalian lanjutkan, jangan ada yang cerboh lagi melanggar aturan lab !" Arka merangkul bahu Shania, mengajaknya keluar ruangan lab.


"Nafas pelan pelan !" pintanya duduk di bangku dengan sirkulasi udara yang bagus, karena letak bangku ini berada di samping lab dengan pohon kersen yang lebat tumbuh menaunginya.


"Susah nafasnya," keluh Shania.


"Pelan pelan, " Arka berjongkok di depan Shania menggenggam tangan gadis itu.


"Tarik nafas, buang..."


"Hhhhh...


"Fuhhhh...."


"Mas ambil dulu air minum, " Arka meninggalkan Shania untuk masuk ke dalam kelas dan mengambil tumbler dan kotak bekal Shania.


Tak berapa lama ia kembali dan menyerahkan tumbler minum milik Shania.


"Minum dulu !" Shania meraihnya.


"Ada pusing ngga ?" tanya Arka.


"Dikit, "


Arka menusukkan sedotan di susu kemasan Shania.


"Minum, susu bisa menetralisir racun," Shania mendongak dan beralih meraih susu dari tangan Arka, Arka tersenyum dan mengusap pipi lembut Shania dengan punggung tangannya.


"Mas pasti pengen ngetawain kan ?!" tuduhnya.


"Engga," tapi ucapan tak sesuai kenyataan, kini Arka justru tengah menertawakannya. Shania memukul mukul dadanya.


"Jahat ihhh, istri sendiri keracunan malah diketawain !!" merengutnya.


"Jangan di merah in nilainya !!" sengit Shania.


"Mau di nilai gimana, kerjaan kamu aja belum beres, " jawab Arka kini mulai berani mengusap usap kepala Shania.


"Ga usah pegang pegang ih, jahat !" ia menggidikkan bahu dan memiringkan kepalanya.


"Masih mau disini, atau mau masuk ke dalam lagi " tanya Arka.


"Ga mau masuk lagi, males !"


"Ya sudah, disini aja dulu. Mas mau liat kerjaan siswa yang lain. Kalau sudah tidak pusing kembali ke kelas untuk pelajaran selanjutnya, " jawab Arka berdiri dan meninggalkan Shania.


Gadis itu kesal sendiri, dengan menghentak hentak kakinya.


"Ih, ga perhatian banget ! bukannya dianterin gitu ke kelas, malah ditinggalin !!!" manyunnya.


"Ga romantis !"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2