
"Mandi dulu deh, nanti terigunya keburu kering."
Shania semakin tak enak hati, firasat seorang ibu itu selalu kuat.
Shania mandi dibantu bunda, "meni lengket gini neng, diusek-usek gitu sampe nempel banget ?!" Shania menggeleng tak tau saat bunda dengan telaten membersihkan terigu basah dari rambutnya.
Bunda membantu Shania mengeringkan rambutnya.
"Kenapa bunda bisa bilang gitu, pasti ada something wrong ?" tanya Shania, sorot mata mereka bertemu di pantulan cermin.
"Sebentar bunda ambil dulu," bunda lantas pergi menuju ruang tengah dimana ia menyimpan paper bag dari rumah.
"Nih, tadi pagi ada tukang paket kirim ini ke rumah, tapi baru diliat luarnya ko bunda ngerasa ga srek,"
Shania meraih sebuah kotak dari tangan bunda, membukanya dengan gunting, memang betul sejak awal saja, saat melihat nama Shania dibubuhi tanda love dan kata tersayang, lalu si pengirim hanya membubuhi nama inisial saja dengan nama RN.
Siapa RN, apakah Ryan ? Ia menggeleng kuat. Mencoba mengusir ke sok tahuannya.
Shania lantas membuka kotak tersebut, isinya membuat Shania mengerutkan dahinya, boneka beruang kecil berwarna putih lalu mug bertuliskan RS dengan tanda love ditengah-tengah antara R dan S, yang lebih membuat Shania dan bunda syok adalah sebuah ling**erie merah menyala, masih dengan label merk ternama seperti miliknya.
"Astagfirullah ! Neng, ini siapa ?!" Shania menggeleng saat membentangkan jaring ikan tersebut, seraya mengambil sepucuk surat berwarna merah jambu yang terselip di dalam kotak.
My sunshine....
Pertama kali ketemu, udah bikin banyak perubahan di diriku. Gue harap kedepannya hubungan kita bisa naik status, Happy birthday, semoga kamu suka sama hadiahku. Dan oh ya, aku bayangin kamu loh pake si merah menyala...
"Ihhh, naudzubillah bunda !" Shania melempar kotak menatap takut saat menyadari dirinya dijadikan obyek fantasi seseorang diluar sana dan yang pasti bukan Arka.
"Neng, meni ngeri gini ! Horor !!" gidik bunda.
"Coba neng inget-inget ?! Sha punya selingkuhan ? Atau lagi deket sama siapa ? Jujur sama bunda, neng !" Shania menggeleng kuat.
"Demi Allah engga bun, kapan Sha main keluar kalo ga ditemenin, ke kampus juga sering dianter jemput mas Kala."
Ryan ? Setaunya pemuda itu baik, dan tak akan senekat itu, toh selama ini Ryan tak pernah melakukan hal-hal aneh padanya. Atau RN itu ada yang lain, Roy Nugraha ? ayolah, mana mungkin !
"Beberapa hari yang lalu ayah lagi ketemu sama temen-temennya buat bukber, liat Arka sama perempuan.. neng, ayah ngikutin mereka, eh katanya mobil Arka beloknya ke klinik, pas makin diikutin masuknya poli kandungan gitu. Tapi Sha jangan salah paham dulu, Arka ada bilang sama neng ngga ketemu perempuan ?" tanya bunda. Shania mengingat ingat, setaunya Arka tak ada bilang apapun pada Shania.
"Hah ?! Masa sih bun ?! Ciri-ciri ceweknya gimana bun ?" tanya Shania mendadak lava gunung merapi pindah ke tubuh Shania.
"Kata ayah sih rambutnya sepunggung, dicat warna maroon gitu, kulitnya putih."
"Ka Alya ?!" gumam Shania.
"Siapa neng ?" tanya bunda.
"Engga. Engga ada bilang bun, ga tau belum bilang," jawabnya.
"Ya udah atuh, yang lain udah nunggu. Kita makan dulu yu !" ajak bunda. Shania memungut kotak tadi dan memasukkannya ke dalam laci.
"Bun, jangan bilang dulu sama mas Kala. Siapa tau udah ini juga udah, cuma temen iseng yang mau prank Sha di hari ultah !" bunda mengangguk.
__ADS_1
"Neng, ini kan belum di clearkan sama Arka. Bunda minta jangan kesulut emosi dulu ya ?! Bicarain baik-baik," pinta bunda, Shania mengangguk, meskipun ia tak janji. Karena memang sudah sejak tadi otaknya sudah ngebul, emosinya sudah meluap-luap seperti air sungai yang banjir.
Perasaan Shania semakin tak karuan dibuatnya. Hanya bisa bertanya-tanya, dia siapa dan apa yang terjadi?
Diantara keramaian Shania merasa sepi sendiri, disaat ulang tahun yang seharusnya menjadi kado terindah hidupnya ia malah sibuk dengan hati gelisah.
"Guys, gue ngelonin dulu Galexia." Shania tak seperti biasanya, ia meraih bayi gemoy yang sudah terantuk-antuk tanpa berkata lagi, dan Arka melihat itu.
"Iya Sha, jodoh gue udah waktunya bobo. Jangan kelamaan disini gaul sama si Melan, Leli, Niken, Inez ! Ntar kebawa-bawa jadi cabe-cabean !" ujar Roy.
"Kalo ngomong suka kaya pengen di jorokin ke sumur ! Jodoh, jodoh, tuh bapaknya ada disini !" sarkas Inez.
"Minta diolesin balsem mulut si Roy !" desis Melan, mereka tertawa.
Laki-laki itu menyusul masuk ke dalam kamar. Lalu dengan membaringkan badannya di samping Shania yang tengah meng'ASI hi Galexia ia bertanya, "kenapa ?"
Shania menggelengkan kepala, padahal hatinya sudah sangat dongkol dan terasa sakit, membayangkan yang hooh-hooh. Beberapa kali ia menghembuskan nafas lelah dan kasar.
Sepertinya si bayi gemoynya tau kapan harus tidur cepat, setelah benar-benar mengantuk dan ditimang-timang ibu, tak butuh waktu lama bagi Shania menidurkan Galexia. Dipandangnya wajah lelap nan tenang bak malaikat milik putrinya, semakin dalam semakin ia merasakan sakit, membayangkan jika Arka benar berkhianat.
Matanya mengembun seketika. Arka masih disitu, laki-laki ini pantang menyerah dengan perubahan sikap Shania.
"Do you want to tell me ?"
Shania membetulkan posisinya, "siapa yang mas antar ke poli kandungan ?"
Sudah benarkah pertanyaan yang dilemparkan Shania sepaket mata embunnya. Tak tau, yang jelas kini embun itu sudah jatuh membasahi pipi.
"Sha, kamu nangis ?" Arka mencoba mengusap pipi yang banjir itu, tapi tangannya ditepis Shania.
Arka mengerutkan dahinya, tanpa aba-aba, tiba-tiba Shania menangis sambil bertanya hal yang random. Arka mencoba mengurai kebingungannya dengan mengingat setiap kejadian yang ia alami belakangan ini.
"Poli kandungan ?"
Apa kejadian tempo hari saat mengantar Alya, sampai ke telinga Shania ? Darimana Shania tau ?
"Mas anter Alya,"
Shania terkejut bukan main, ia mendongak dengan wajah yang sudah basah.
"Mas curangin Sha ?!!" semakin deras saja air mata yang mengalir layaknya aliran sungai sehabis hujan lebat.
Arka menggeleng, "ngga gitu Sha ceritanya,"
"Mas keluar deh ! Sha ga mau liat mas !" Shania mendorong Arka dari ranjang menuju pintu kamar.
"Mas tega banget sama Sha, di hari ulang tahun Sha, mas ngasih kejutan. Dan itu bener-bener bikin Sha terkejut !"
"Sha dengerin dulu, mas cuma nolongin aja, itupun ga sengaja, ada Teguh sama temen Alya juga !" jawabnya, tapi sayang Shania sudah digelapkan oleh se tan. Se tan memang suka dengan celah hati dari orang-orang yang sedang lemah iman. Shania sedang lelah, yap !
Tega banget sama gue ! Udah tau gue ga suka tuh cewek ! Apa mungkin Ka Alya hamil ? Mas Kala ?
__ADS_1
ARGHHHHH !!
Ribuan anak panah terasa menghujam jantung Shania saat ini.
"Sha, dengerin dulu kalo mas lagi ngomong !" Arka beberapa kali mengetuk pintu kamar, tapi tak mendapat balasan. Tapi tak selang berapa menit, saat Arka mulai membalikkan badannya.
"Mas tidur di luar sama nyamuk !!!" Shania melemparkan sebuah bantal dan sarung ke arah Arka, yang sontak ia tangkap.
"Tapi Sha, kalo mas kedinginan ?"
Bugghhhh !!!
Suara pintu di tendang.
Tak enak hati dengan tamu yang masih berada di rumahnya, Arka mendatangi teras belakang terlebih dahulu.
"Loh Ka, Shania mana ?" pertanyaan bunda mewakili pertanyaan yang lain.
"Tadi Shania ngelonin Galexia, tapi kayanya ketiduran," jawab Arka.
"Waduh, si mak capek banget kayanya !"
"Ini juga udah jam setengah sembilan sih, wajar aja !"
"Iya, Shania abis sahur tadi engga tidur lagi, jadi wajar," timpal ibu.
Pukul sembilan tepat, satu persatu dari mereka pamit undur diri.
"Ka, bunda sama ayah pamit. Nanti tolong sampaikan salam sama Sha,"
"Ka, kami pulang dulu !" ayah menepuk bahu Arka.
"Iya yah, bun...hati-hati di jalan. Makasih,"
Rasanya bunda ingin bertanya, tapi saat sederet kalimat itu sudah berada di ujung lidah, akal pikirannya mengatakan jika belum saatnya ia dan sang suami ikut campur, mereka akan lihat sejauh mana anak dan menantunya menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri.
"Bu, kami pamit ya assalamualaikum," bunda cipika cipiki pada besannya, ibu.
Bunda dan ayah keluar dari rumah.
"Yah, bunda tuh bilang sama Sha, pesen juga jangan kesulut emosi dulu. Tuh anak denger ngga ya ?" bunda jadi sedikit khawatir, tau watak putri sulungnya yang selalu mengedepankan ego.
"Pasti marah dulu, kesel dulu, tapi ayah yakin mereka bisa nyelesain masalah. Kita ga usah ikut campur dulu, kalau nanti Arka sudah meminta tolong, baru kita ikut bertindak. Ayah kira bunda ga bilang sama Sha,"
"Bunda bilang yah, abisnya bunda ngerasa kalo Shania dan Arka perlu tau satu sama lain, ko perasaan bunda ga enak gitu yah..kalo ga bilang, tapi sekarang bunda ragu, bunda udah bener belum ya ?"
"Bunda baru nanya sekarang, kalo sekarang kan udah terlanjur Sha tau bun,"
.
.
__ADS_1
.
Gengs, bo iboe maafkan mimin yang akhlakless ini ya, berhubung sudah mendekati idul fitri, dunia real selalu sibuk. Jadi mimin hanya bisa update satu bab sehari. Do'akan saja semoga besok-besok mimin bisa double update normal lagi seperti biasanya.