Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
oo...kamu ketahuan !


__ADS_3

Shania berinteraksi dengan teman-teman satu fakultasnya, hanya saja tak banyak. Ia justru lebih memilih mencari dimana keberadaan trio kimvrit.


"Shania," gadis itu menoleh.


"Iya,"


Sebotol minuman isotonik terulur dari tangan lelaki itu sepaket dengan senyum manisnya, semanis sukrosa. Shania hanya mengangkat alisnya tak mengerti.


"Apa nih ?" tanya nya, bukan nada lemah lembut layaknya gadis-gadis desa yang tau tata krama, melainkan sebuah nada terkesan nyolot, ia bukan tidak tau seorang yang tiba-tiba mendekati dan memberikan minum, sudah menjadi trik basi.


"Minum, kasian kepanasan kayanya !" jawabnya, bukannya merasa risih atau sakit hati tapi lelaki ini malah pantang menyerah, menganggap tatapan tajam dan judes-nya Shania adalah semacam magnet tersendiri bagi lelaki.


"Ga usah ka, gue mau ke kantin ko bareng temen-temen. Kaka simpen aja, ga enak, baru pertama mos udah dikasih minum sama senior !" jawabnya.


"Ga apa-apa, emang kenapa ?! Kalo ada yang ganggu bilang aja gue," paksanya.


"Sha !!" teriak Melan diiringi Deni dan Roy.


"Honey ! Udah lama nunggu ?" tanya Roy mengalungkan tangannya di pundak Shania, membuat pemuda di depan mereka melihatnya, sedikit banyak raut wajahnya berubah keruh.


"Engga, baru aja mau ke kantin. Yuuk ! Duluan ya ka, permisi !" keempatnya berlalu pergi.


"Ati-ati loe Sha. Romannya tuh kating ngincer loe, gue sebagai adeknya pak Arka ga redo !" jawab Roy diangguki Melan.


"Bwahahaha, ngaku-ngaku !adeknya lutung kasarung aja ngaku adeknya pak Arka," tawa Deni dan Melan.


"Engga lah, gue cukup sadar diri !" jawab Shania.


"Mendingan ditolak dari awal, daripada dikira ngasih harapan ! Hebat lah mak kita yang satu ini, baru jadi camaba aja pesonanya udah sekuat itu, sampe jadi idola yang di ributin diantara camaba sama kating !"


"Well, siap-siap aja banyak yang ga suka Sha !" ujar Deni, Shania mengangguk dan melepaskan nafas lelahnya.


"Bisa singkirin tangan loe, bau com beran ! Abis pegang apa sih Roy ?!" Shania menepis tangan Roy.


"Abis cebok loe ya ?!" tawa Deni.


"Ih jorokkk !"


"Engga lah ! Enak aja loe ngomong, tangan bau surgawi begini dibilang bau comberan ! nih...nih...gue bekep loe !" Roy dengan sengaja membekap Shania.


"Njirr ihhh !"


Keempatnya duduk di kantin sebelum sebentar lagi masuk untuk kembali melanjutkan acara.


"Laper gue,"


"Ngantuk gue mah !"

__ADS_1


"Pengen balik gue !" timpal Roy.


"Dih, anak emak ! Mainannya dikit-dikit balik,"


****


" Visi almamater hijau !!! Menjadi universitas yang memiliki keunggulan kompetitif dalam membangun masyarakat Indonesia yang maju, demokratis, dan sejahtera berdasarkan Pancasila di era globalisasi !!!!! Kampus Hijau, Buliding Future Ledears, yeeee !!!" tepukan tangan menggema di ruangan yang Shania tempati.


"Fakultas Teknik !hu..hu...hu...hu...!!"


Hentakan kaki para camaba dan panitia menggema di seluruh sudut ruangan, teriakan yel-yel menjadi keriuhan tersendiri di seluruh ruangan yang berbeda. Beda jurusan dan fakultas, beda pula yel-yel yang digaungkan.


Setidaknya suara berisik ini memberi Shania sedikit sentakan karena kantuknya, semalam Galexia mengajaknya bermain sampai pukul 3 dini hari.


"Ka, saya ijin ke toilet dulu !" ujarnya menginterupsi.


"Oke, ga lama !" jawabnya.


"Iya ka," Shania sedikit berlari, dilihatnya Riyan, Vano dan beberapa kating lainnya yang sedang berkumpul.


"Sha, mau kemana ?!" tanya Riyan.


"Ke toilet ka, misi..." jawabnya pamit, menatap jengah ke arah salah satu teman Riyan yang sejak awal sudah dirasa mengincarnya.


"Haduhhh, ngantuk parah nih gue ! Mana pematerinya kaya lagi ngelonin lagi !" gumamnya membasuh wajahnya, tak sengaja seragam putihnya ikut terbasahi, hingga tanktop hitamnya terlihat jelas.


"Yaaa, ampun deh ! Ceroboh banget sih gue !" dumelnya, ditambah sumber kehidupan Galexia terasa kencang, karena sudah lebih dari 2 jam tidak ia pompa.


"Sha, kenapa ?" Shania tersentak melirik ke arah suara.


"Loe ngapain disini ?! Loe ngikutin gue ?!" galaknya sewot.


Rupanya Shania harus benar-benar berhati-hati pada orang di depannya.


"Kenapa baju kamu, pake ditutupin gitu ?" tanya nya mendekat.


"Loe mau ngapain, jangan deket-deket ! Gue ga apa-apa !" tolak Shania mundur. Oke, apakah sekarang ia harus merasa takut padanya.


Tapi lelaki itu melepaskan jasnya dan berencana memasangkan di badan Shania.


"Sorry, ga usah ! Biar gue pinjem jaket temen aja !" tolaknya menghindar.


"Ga apa-apa ! Dari tadi loe nolak gue Sha, gue ga rabies ko," jawabnya sedikit memaksa.


"Ga usah, gue bisa pinjem punya temen. Nanti loe di marahin yang lain, masa panitia ga pake jas !" alasan Shania.


"Ga ada yang berani marahin gue Sha,"

__ADS_1


Ditengah paksaan, untungnya hadir seseorang, bak dewi Quan'in untuk Shania.


"Shania kan ?!" ia sedikit berlari ke arah Shania.


"Iya, "


Ini, siapa lagi nih ?! pikirnya.


"Gue Yuna, sepupu mas Teguh temen mas Arka, " jawabnya, Shania akhirnya bisa tersenyum lega. Mas-nya bisa diandalkan dimana saja. Raganya memang tak ada disini, tapi mata dan jiwanya dimana-mana.


"Loe kenapa Sha ?" tanya Yuna melihat Shania menutupi bagian dada-nya.


"Baju gue ga sengaja ikut kesiram air pas cuci muka," jawabnya.


"Oh, basah..nih pake aja jas punya gue aja ! Ga apa-apa, loe bilang aja baju loe basah, dan gue yang pinjemin."


Shania mengurut dada lega. Yuna menyerahkan dan membantu Shania memasangkan jas miliknya.


"Loe ngapain Yun ? Loe bukan panitia dan bukan anak fakultas teknik," ujarnya menatap Yuna seperti kurang suka.


Yuna menarik senyuman miringnya, "santai aja Rivano, gue cuma di kasih mandat sama lakinya Shania buat jaga Sha, biar ga digangguin kucing garong."


"Saking cintanya mas Arka sama loe Sha, cie...gimana ga cinta, istrinya aja glowing gini ! Ga bisa dibiarin sendiri. Hati-hati Sha, sekarang banyak yang nekat !" mata Yuna seperti mendelik ke arah Vano.


"Thanks ka Yuna," jawab Shania menerima jas hijau milik Yuna.


"Kalo butuh apa-apa, bisa cari gue..gue anak PGSD, " jawabnya.


"Sekali lagi makasih ka, oh...berarti kaka, kajur temen gue Melan dong !" jawab Shania berseru.


"Oh temen loe ambil PGSD juga ?" Shania mengangguk.


"Sha, loe masih webinar kan ? Sebaiknya loe masuk lagi ke ruangan !" Vano memotong obrolan keduanya.


"Oke, ka Yuna gue duluan ya !" Yuna mengangguk, Shania berlari dengan memakai jas milik Yuna.


"Hey Rivano, loe sebaiknya jangan macem-macem sama Shania. Urungkan niatan loe buat dapetin Shania. Gue tau cerita loe ya, dan suami Shania sudah tau kalo yang selama ini neror Shania itu loe orangnya !" tunjuk Yuna.


"Dan sebaiknya loe jangan ikut campur Yun, gue peringatin !" jawab Vano tak kalah tajam.


"Loe bakal nyesel Vano, loe ga tau Arka siapa, kiprahnya di BEM gimana ? Kalo sampai almamater kuning datang kesini dan aduin kelakuan loe ke kesenatan dan pihak kampus, loe bisa dipecat. Apa sih yang loe incer dari Shania, bukannya loe belok ya ?!" tawa sinis Yuna.


"Bukan urusan loe !" Vano pergi meninggalkan Yuna dengan langkah besarnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2