
Arka mengambil laptop dari ruang kerjanya, lalu membawanya ke sofa tengah, ia juga mengambil selimut tipis dari kamar tamu. Pria itu menatap pintu kamar berwarna coklat yang sedari tadi tertutup. Helaan nafas lelah lolos dari mulutnya.
Ia bekerja berteman bantal dan sarung, Shania bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
"Gimana mas mau jelasin Sha, denger nama Alya aja kamu langsung sewot dan pergi," gumamnya.
"Loh ! Ka, belum tidur ?" tanya ibu ikut duduk.
"Belum bu, ibu duluan aja. Nanti kalo sudah selesai, Arka tidur."
"Ya sudah," ibu tersenyum simpul melihat selimut tipis dan bantal.
"Anak muda ndak bisa boongin yang sudah pengalaman, Shania marah ? Apapun masalahnya bujuk baik-baik. Istri kamu itu memang masih labil, butuh dibimbing dan disabarin. Insyaallah, lama-lama Shania akan berubah, yang sabar...kesabaran kamu membimbing istri pasti akan berbuah manis."
"Iya bu, insyaallah." Ibu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan putranya yang kena hukuman Shania.
Lama ia membiarkan laptopnya menyala, namun si mata tak bisa diajak kompromi lagi, bahwa tubuhnya sudah diambang batas lelah. Arka membaringkan badannya di sofa yang tak sepanjang tinggi badannya.
Good night pak guru.
Shania terusik karena suara Galexia yang merengek haus. Refleks tangannya meraba ke arah samping, ia lupa jika tadi dialah yang mengusir Arka dari kamar dan menyuruhnya tidur di luar.
"Hm, pantesan dingin."
Bukan Arka yang merasa kedinginan, tapi Shania.
Nyesel ngga ? Nyesel ngga tuh ?
Setelah meng'ASIhi Galexia Shania melirik jam di dinding masih pukul setengah 2 malam, jika ia tidur kembali ia takut kebablasan. Shania meraih ikat rambut dan turun dari ranjang.
Tangannya menarik pegangan pintu.
Ceklek !
Ia terdiam di ambang pintu, hatinya mencelos melihat Arka tertidur meringkuk di sofa hanya berteman selimut tipis. Layar laptop pun masih menyala, tidak seperti biasanya.
"Maafin Sha, mas.."
"Duh, ayahnya dedek jadi tidur di luar gini. Ko jadi ga tega ya," Shania mendekat, gadis itu memperhatikan Arka, bibirnya terkulum melihat pahatan Tuhan yang satu ini, dari sisi manapun memang pak guru yang satu ini lebih cocok jadi artis atau anak band, wajahnya lebih mumpuni. Atau justru model majalah wanita dewasa, ia terkikik sendiri. Sudah pasti ia tak akan membiarkan, wong baru dekat sama mantan saja ia sudah sekesal ini, apalagi jika jadi model, sudah pasti yang menyukai Arka bakalan berjejer kaya antrian BLT (bantuan langsung tunai).
"Mas, tau ngga sih ? Sha tuh cemburu loh, kalo mas masih bawa-bawa ka Alya diantara kita. Apalagi denger mas nolongin ka Alya, ya...walaupun Sha tau sesama manusia wajib tolong menolong, tapi bisa ngga sih mas tuh jangan selalu terlibat dengan yang namanya Alya, bukan..bukan...bukan cuma ka Alya, tapi cewek-cewek lain ! Mas Kala tuh cuma punya Sha. Dan ini hukumannya kalo mas ga ijin dulu, mas ga bilang sama Sha. Tapi guenya juga sih yang be*go ! Masa nolong orang mesti ijin dulu, ntar yang ada keburu mati tuh manusia !" Shania bermonolog seakan tengah menceritakan kekesalannya di depan Arka yang tertidur.
"Itu cemburu buta namanya Sha, " Shania melotot, ia merasakan panas dingin di tubuhnya, mendadak kakinya yang setengah berjongkok kaku dan lengket seperti di lem di tempatnya kini.
Posisi terkamvreeet saat seseorang dikatakan tengah marah.
Arka membuka matanya memergoki Shania yang curhat colongan sambil asyik menikmati wajah Arka.
"Ketauan ya, lagi curi-curi pandang !" ucap Arka.
"Dih, engga ! Sha mau bangunin sahur !" tolaknya, si gadis image selangit ini sedang beralibi.
"Hmm, terus tadi siapa yang bilang Sha cemburu loh mas," tiru Arka.
"Mas ngigo kali ! Tuh laptop aja sampe kelupaan dimatiin, " decaknya kesal menggerutu untuk menutupi rasa malu.
__ADS_1
"Telinga mas masih sehat, otak mas masih waras. Dari tadi mas udah bangun, malahan mas denger kamu sampe bilang.. mas, Sha sayang banget sama mas, i love you pulll mas !" ujar Arka menggoda.
"Ihh, engga ya ! Sha ga bilang gitu, lebay banget !" matanya semakin membulat saat Arka sengaja menahan posisinya dan menarik Shania ke arahnya. Namun, tak semudah itu untuk menumbangkan Shania di pelukannya, karena gadis itu berontak.
"Iya, kamu bilang gitu. Barusan manggil mas aja pake sebutan cinta ko !" lanjut Arka, wajah Shania semakin merah.
"Idihhh ! Engga ya, kapan ?!!"
"Barusan. Masa lupa, kamu yang bilang juga,"
"Engga ihhh, Sha ga selebay itu !! Awas ihh, Sha lagi marah !" Arka malah menggeleng dan semakin menggoda, bisa saja ia menarik Shania dan menguncinya dengan sekali sentakan, tapi Arka sengaja ingin menggoda istri nakalnya dulu yang sudah membiarkannya kedinginan tanpa pelukan.
"Aaaa !" Shania terbawa ke atas sofa, tepatnya ke atas badan Arka. Arka bahkan menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut, hingga keduanya kini bergumul di bawah selimut, seperti anak kecil yang sedang main rumah-rumahan.
"Mas ih, awas !" pukul Shania di dadanya tapi pria itu menggeleng.
"Sempit mas !"
"Sha sesek,"
"Awww ! Sakit mas !"
Berbarengan dengan ibu dan bi Atun keluar dari kamar mereka masing-masing. Bukannya Shania dan Arka yang malu, sebab keduanya sedang sibuk bercanda dalam selimut. Tapi ibu dan bi Atun yang mendadak salah tingkah melihat adegan grasak-grusuk di depan mereka, seketika awkward moment tercipta diantara keduanya.
"Ya Allah gusti, salah waktu keluar ini !" ucap bi Atun dikekehi ibu.
Love after war yang sebenarnya.
Terdengar suara bi Atun dan ibu, Shania melongokkan kepalanya dari dalam selimut.
"Ibu, bi Atun...Mas ih awas !!!" Shania berusaha keluar dari jerat ayahnya dedek.
Shania membuka selimut dan beranjak dari sofa, dengan rambut yang semrawut seperti habis berantem jambak-jambakan sama pela kor.
Ibu tertawa bersama bi Atun.
"Mbok ya jangan bikin ngiri neng, mas," Shania menoleh dan melotot pada Arka, berkatnya ia jadi malu di depan ibu dan bi Atun.
"Apa ?" tantang Arka seraya mengedip genit pada Shania. Sepertinya lelaki dingin ini harus mulai belajar merayu ala ala anak muda untuk bisa mengimbangi Shania-nya, sedikitnya ia harus tau kapan ia akan menggunakan kemampuan itu jika Shania sedang mode ngambek.
"Jangan marah lagi Sha, mas cuma ga sengaja nolongin Alya. Dia hamil duluan, tapi ga lama dia divonis mengidap HIV. Tempo hari pas mas ketemuan sama konsumen yang mau adain bukber di angkringan sama Teguh di luar, ga sengaja ketemu mereka, eh.. Alya mengalami pendarahan dan harus dilarikan ke RS terdekat, Teguh sama temennya Alya bawa motor masing-masing karena ga mungkin ditinggal. Jalanan macet, mereka yang pake motor bisa sampe duluan ketimbang mas, ya otomatis mas yang bawa Alya jalan dari parkiran ke dalam pake kursi roda ditemani suster, mereka udah nunggu di dalam RS."
Sebenarnya hati gadis itu sudah mencelos beberapa kali, merasa miris dengan nasib yang menimpa Alya, tapi ia meyakini apa yang ia tanam itu yang ia tuai, begitupun yang terjadi pada Alya bukanlah suatu kecelakaan atau kebetulan.
"Masih marah ? Mas tuh mau bilang, tapi masih nunggu waktu yang tepat sama kalimat yang pas biar kamu ga marah duluan, selama ini kalo kamu diajak ngobrol, baru keluar nama Alya saja sudah kabur. Sebelumnya Alya ada hubungi mas."
Demi apa mata Shania sudah menatap Arka dengan kilatan.
"Tunggu dulu jangan marah, dia hubungi mas karena mau minta maaf atas kesalahan lalu, terutama sama kamu."
"Dia pengen ketemu kamu buat minta maaf langsung, tapi mas larang dulu. Mas tau hati kamu belum dilembutkan buat ngobrol sama dia. Tapi mas tau, istri mas ini pemaaf ko," lanjutnya, mendadak hati Shania sedikit melunak.
"Jadi sekarang dia dimana ?"
"Mas ga tau karena mas langsung pulang, nanti mas coba tanya Teguh."
__ADS_1
"Jadi mau maafin ?" Shania mengangguk.
"Jadi mas udah ga tidur di luar lagi kan ?" tanya Arka lagi, mata Shania memutar malas.
"Masih, itu hukuman buat mas udah bikin malu di depan ibu sama bibi,"
"Ga bisa !!" Arka langsung menempatkan dirinya berbaring di samping Galexia.
"Dihhh !!! Kaya bocah ! Mas keluar !!" Shania mencebik, ponsel Shania bergetar di atas meja. Shania yang sedang menyingkirkan bayi Gorila dari ranjang terpaksa menghentikan kegiatannya.
I miss you so much my sunshine😘
Raut wajah Shania mendadak pias. Sudah beberapa kali nomor tanpa nama ini memberinya pesan, dimulai dari balasan baik-baik hingga kasar sudah Shania berikan.
Arka yang melihat perubahan itu bertanya.
"Kenapa Sha ?"
"Ini mas," Shania menyerahkan ponselnya, ia lalu bergegas mengambil kotak semalam yang bunda berikan.
"Awalnya Sha ga gubris mas, Sha pikir ini cuma keisengan anak-anak doang mau prank ultah. Tapi ko dari semalem ini nomor kasih pesen kaya gini !" terlihat gurat wajah gusar dan takut dari Shania.
I miss you, do you miss me sunshine?
Aku selalu menantikan saat pertemuan kita kembali.
Happy birthday, semoga semua cita-citamu tercapai.
Kutunggu kamu di pelaminan.
Love you, Sha. Saat yang paling kunantikan adalah melihat wajah cantikmu.
Have a nice dream, soulmate.
Selamat sahur, my sunshine.
Tangan Arka mengepal kuat, terlebih melihat isian kotak bernuansa merah menyala, apalagi saat membaca surat si pengagum rahasia itu yang sudah lancang membayangkan lekukan tubuh istrinya.
"Lancang !"
"Bre_ng sek !" gumamnya terdengar jelas.
Baru kali ini Shania melihat Arka semurka ini, sampai mengatakan kata-kata seperti itu, bahkan sejak pertama kali bertemu Arka, inilah kali pertama ia melihat suami gurunya itu terlihat begitu menyeramkan.
Arka kemudian menyalin nomor ponsel si orang sakit itu di ponselnya.
"Kamu blokir nomor ini !" Shania mengangguk.
"Jangan pernah pergi ke luar, tanpa seijin mas, atau tanpa ditemani !" ia kembali mengangguk.
.
.
.
__ADS_1
Noted :
Awkward moment : Momen canggung.