Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Kekhawatiran akan Shania


__ADS_3

Perempuan berperawakan tinggi agak berisi, berambut pendek, seperti potongan rambut polwan. Ternyata memang ia seorang polwan, Satuan Reserse Unit Narkoba.


"Teh Nengsih !!"


"Idih, emak yang satu ini udah lahiran badan masih oke aja !" manja Shania pada kaka sepupunya.


"Ini lagi kamu, ga jadi atuh mau ikut teteh jadi polwan ?"


"Engga, emang dari dulu juga ga mau jadi polwan Sha mah, " jawab Shania.


"Maaf kemaren ga jadi kesini, lagi ada tugas !"


"Si dedek nya mana teh ?"


"Sama teh Yeni di depan !"


"A Rudi mana ?"


"Lagi ada dines patwal,"


Nengsih berjabat tangan dengan Arka.


"Kenalin ini suami aku teh, sekaligus guru kimia aku di sekolah."


Nengsih menyipitkan matanya," jadi my teacher my husband nih ceritanya ?" tanya Nengsih sambil tertawa. (guruku, suamiku)


"Kurasa !!" Shania tertawa.


"Padahal udah dibawain peuyeum, tapi kamunya lagi ngisi. Ya udah lah bawa lagi aja, "


"Ga apa apa atuh, biar Sha bawa aja ke Jakarta. Aku mau liat ponakan aku ah, saha teh namina teh ?" ( siapa ya namanya teh ?)


"Satria !"


"Satria baja hitam, lain ?" tawa Shania menghilang dari ruang keluarga menyisakan Arka dan teh Nengsih.


"Sembarangan," tukas teh Nengsih.


"Harus sabar ya A, ngadepin si neng mah !"


"Insyaallah, ga dinas ?"


"Baru pulang, udah berapa bulan kandungan Shania?" tanya nya, meskipun perempuan wibawa seorang polisi melekat di diri Nengsih.


"Sudah 6 bulan," jawab Arka.


"Terus UN Shania kaya gimana ? meskipun sekarang dinas pendidikan mengijinkan UN bagi siswi yang hamil, apa 'ga bikin Shania dicibir orang ? Terus nanti kuliah gimana ?" sederet pertanyaan kekhawatiran Nengsih memang tak membentak bentak atau berapi api, namun setidaknya menyentil hati Arka. Bahwa sepupu polwannya ini menyayangkan kejadian yang seharusnya belum terjadi. Arka bukan tak paham, jika masa depan Shania masih panjang. Tidak perlu ditanya lagi, ia pun sudah memikirkan semuanya termasuk biaya dan baby sitter nantinya untuk ikut membantu mereka merawat dedek.


Nengsih bukan tak suka akan kehamilan Shania, namun ia mengkhawatirkan kenyamanan, dan mental Shania. Adik sepupu yang sudah seperti adik kecilnya sendiri.


"UN masih beberapa minggu lagi, mungkin mulai minggu depan Shania akan home scholling karena pihak sekolah mau bekerja sama. Namun untuk UN, mau tidak mau Shania memang harus datang ke sekolah, kuliah pun sudah kami pikirkan, insyaallah saya sudah memperhitungkan semuanya."

__ADS_1


Nengsih terlihat mengangguk angguk, "saya harap semua berjalan seperti rencana dan baik baik saja, titip Shania."


Nengsih beranjak karena Shania sudah berteriak teriak.


"Teh Nengsih !! Satria baja hitam, poop'in Sha ihhh !" dengan tawa teh Yeni.


"I'm coming !!" jawabnya tak kalah memekik.


"Kamu tuh udah mau punya bayi, kalo jijik'an gitu, nanti bayi kamu mau siapa yang urus ?" tanya Yeni.


"Baby sitter lah, " jawab Shania.


"Terus kamu mau ngapain ?" Yeni mengernyitkan dahinya.


"Sha kan ngurusin yang lain, kuliah juga," jawabnya enteng.


"Dih, masa iya yang ngurusin semua baby sitter ! Kamu tuh ibunya, masa mau terus terusan ngandelin baby sitter," Nengsih muncul dari dalam dengan membawa air hangat dalam baskom dan menenteng tas peralatan bayi milik Satria.


"Kalo baby sitter ga ada, sakit, cuti atau lain hal gimana ?"


"Ada bi Atun, "


"Ck, dasar ! ga bisa gitu Sha, sok dari sekarang belajar, coba gantiin pampers nya Satria !" pinta Yeni.


"Dih engga ! Jijik ah, bilang aja teh Nengsih sama teh Yeni mau nyuruh nyuruh aku, ga mau gantiin pampers juga, no way !" tolaknya.


"Nanti mah harus belajar Sha, jadilah ibu yang bertanggung jawab !" teh Nengsih membuka pampers kotor dan sejurus kemudian membersihkan dan memakaikan kembali pampers baru tak lupa menyapukan bedak tabur.


"Teh, kayanya Sha harus udah pamit deh, Sha ga bisa lama lama kalo sekarang. Soalnya udah mendekati UN, lagi pemantapan."


"Ya udah, next ke Bandung bareng bi Lia ya, katanya pengen jajan mie kocok !" jawab Nengsih.


"Insyaallah nanti aja abis lebaran," jawab Shania.


Arka dan Shania berpamitan pada kedua adik kaka itu, dan melajukan mobil keluar dari kompleks menuju gerbang tol untuk kembali ke Jakarta.


"Mas, ko Sha ga yakin ya ?!"


"Ga yakin apa ?" tanya Arka mengerutkan dahinya.


"Berasa ga enak hati aja gitu,"


"Ada yang kelupaan dibawa engga ?" tanya Arka, keduanya sudah memasuki tol.


"Engga tau. Engga deh kayanya," jawab Shania.


"Ya udah tidur aja, istirahat Sha. Kamu terlalu mikirin UN kayanya, ga baik juga buat dedek."


Shania mengangguk dengan Arka yang sesekali mengusap perutnya mengiringi kantuk Shania.


***

__ADS_1


Shania mengerjapkan matanya, "udah nyampe mana mas ?" tanya Shania.


"Udah setengah perjalanan, kenapa? Lapar, haus ?" tanya Arka.


"Sha pengen pipis mas,"


"Bentar lagi ada rest area Sha, nanti kita istirahat disana."


Mobil menepi di rest area, Shania langsung turun dan berjalan cepat mencari toilet.


"Sha, hati hati." Arka menggelengkan kepalanya, istri nakalnya masih sangat ceroboh, sampai sampai beberapa kali hampir menabrak orang.


Sejenak Arka menyenderkan kepalanya di kursi mobil. Ia sedikit khawatir dengan gosip di sma BP, mengenai siswi yang tengah mengandung. Takut takut jika Shania akhirnya ketauan, meskipun pak Wildan sudah meyakinkan jika Shania akan baik baik saja. Apakah kekhawatiran Arka beralasan ? toh Shania hanya akan menghabiskan waktu seminggu lagi sampai ia melakukan pembelajaran di rumah sampai tiba saatnya UN sekitar 1,5 bulan lagi.


Jangan jangan Shania dapet nilai gede karena dikasih bocoran jawaban sama pak Arka,


Jelas lah suami mana yang mau istrinya nilai kecil, pasti dilobby lah,


Apa jangan jangan nanti UAS juga kaya gitu, ga adil dong !


Demo aja demo, lengserkan, keluarkan !


KKN itu namanya, istri bo doh aja nilai bisa dimanipulasi jadi gede.


Sejak kenal pak Arka, nilai Shania jadi gede terus. Ada hubungan apa tuh ? kemana mana selalu bareng, sekarang apa apa dibelain.


Jangan jangan ada apa-apa diantara guru sama murid. Atau kumpul ke bo. Pantes aja karena pengen nilai gede apapun dikasih,


"Mas ih ! Dipanggilin ga denger denger, mas tidur apa ngelamun ?" Shania mengguncang pundaknya.


"Eh, engga..udah pipisnya ? Yu makan !" ajak Arka keluar dari mobil.


"Mas ngantuk ? Capek ? Mau istirahat dulu ? Sha ga apa apa sih mas," tanya nya khawatir.


"Ga apa apa, mas cuma lagi mikir aja," ia merangkul Shania.


"Mikirin apa ?" Shania mendongak.


"Mikirin kamu," ia tersenyum tipis.


"Hilih gombal, ga mempan lah ! jatohnya kaya sales lagi nawarin obat, " jawab Shania menbuat Arka mencubit pipinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2