Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Cuma butiran debu tanpanya !


__ADS_3

Akhirnya kelas X dan XI bisa bernafas lega, ujian semester 2 sudah dilalui. Tapi bukan untuk para guru. Justru setelah ujian nasional dan uas kemarin, kini sekolah disibukkan dengan calon calon siswa tahun ajaran baru, bersiap menyambut kegiatan penerimaan siswa baru. Terkadang para orangtua calon siswa mulai terlihat bolak balik memasuki ruangan TU.


"Perhatian diharapkan kepada seluruh kelas X dan XI, untuk berkumpul di lapangan, saat jam pulang sekolah !! terimakasih,"


Sontak saja setiap kelas X dan XI yang sudah selesai dengan ujiannya, berangsur mendatangi lapangan basket, yang biasa dipakai upacara.


"Sha, buruan udah pada ngumpul tuh !"


"Bentar ah, males ih..panas ! lagian paling paling isinya juga kegiatan kedepannya sampai liburan, " jawab Shania malas malas merapikan alat tulis miliknya.


"Daripada di seret pak Hadi sama satpam !" ajak Inez. Tak menunggu persetujuan atau kesiapan Shania, gadis ini langsung menyeret Shania, seperti gembala menyeret kambingnya.


Shania mencangklok tasnya sedikit kesusahan, karena tangan sebelahnya ditarik Inez. Ia pun tak lupa memakai topi hitam miliknya dengan pad ke belakang.


Bukan puluhan lagi, tapi ratusan siswa sudah berkumpul di lapangan, layaknya pasukan semut berpakaian putih abu abu.


Bukan hanya satu dua, kebanyakan dari mereka menghalau panasnya sorot mentari dengan mengipasi wajah dan menghalau sinarnya menggunakan papan dada, ada juga yang memakai topi dan jaketnya.


"Kebangetan ! kenapa ga di aula aja sih, " gerutu Inez.


"Hooh, ada aula dipake buat apa coba !" tambah Fitri.


"Buat hajatan sunatan si Roy tuh !" tunjuk Shania.


"Ih honey, gue mah udah sunat, masa mau di sunat lagi. Abis dong masa depanku bersamamu !!"


"Huuuu !!!!!"


Kelas Shania memang terkenal dengan kehebohannya, diantara kelas lainnya.


"Masa depan loe suram ! ga mau gue mah, mau dikasih makan apa ntar anak anak gue ?!" seloroh Shania.


"Kasih makan dedak Sha, " Guntur dari kelas XI IPS menimpali, kebetulan dulu saat kelas X mereka memang sekelas bersama, mantan kelas X 2, dimana Shania memang selalu mendapatkan kelas yang anak anaknya asik. Namun, saat kelas XI mereka terpisahkan oleh pilihan jurusan kelas masing masing.


"Tos, tur !! kasih restu kan, adek loe sama gue ?!" pekik Roy dengan mengacungkan telapak kanannya pada Guntur tinggi tinggi. Meskipun jarak mereka terhalang 2 kelas lainnya.


"Woyyy berisik oyyy !!" pekik Niken kelas XI MIPA 1.


"Apeh loe kacang bawang, cemburu ?!" tanya Roy.


"Si kamvreeett, amit amit !!" gidik Niken.


"Loe berdua jangan pada berantem nanti jodoh !" timpal Ari.


"Woy, Asbak rokok ! kalo mau sama adek gue minta restunya sama pak Hadi ! berani ga loe ?!" pekik Deni.


Drama kelas X kembali terjadi, jika mereka dipertemukan bersama, lapangan sudah mulai dipenuhi oleh siswa kelas X dan XI.

__ADS_1


"Gokil, kelas ex X 2 emang rame rame ya, udah pada pisah aja masih pada berdebat manja, ngiri gue !" jawab Inez.


"Suuttt oy ! ini mau dengerin pengumuman, bukan mau lenong bocil !" pekik Melan.


"Mama !!!" pekik Roy.


"Si@*lan, kapan gue brojolin loe !" gidik Melan.


"Bukan di brojolin Mel, dia kan kaya upil cuma loe korek muncul, terus loe peperin di bangku sekolah !" tawa Leli.


"Buset ! hey calon istri siri, jangan salahin gue kalo ntar loe jatuh cinta sama gue Li, terus ga gue anggap, soalnya gue dah punya Shania !" jawab Roy.


Tawa tercipta di tengah tengah lapangan dengan cuaca panas level 10, menyengat kulit.


"Tes, "


"Guys, stop ngomong !! pak Nirwa mau ngomong bentar, " pinta Cakra melihat kerusuhan yang terjadi terutama mantan X 2, terlebih tatapannya sesekali curi curi pandang pada Shania yang tengah bercanda bersama teman temannya.


Saat para guru mulai turun dari ruang guru menuju podium, siswa siswi serempak diam. Apalagi dengan kemunculan si handsome and killer Arkala, bikin kaum siswi seketika membangkitkan dunia halunya, demi berandai andai bisa memeluknya, meraung raung minta disenyumin dan diperhatiin sama si irit senyum ini.


Pengumuman pertama adalah seperti biasa, ucapan selamat karena telah mengikuti ujian, lalu berlanjut untuk jadwal minggu besoknya adalah remedial, jika ada beberapa murid yang nilainya di bawah kkm.


"Untuk daftar setiap nilai ujian akan terpampang di mading sekolah yang berada di koridor dekat perpustakaan dan dekat ruang guru !" jelas pak Nirwa.


"Jika ada murid yang nilainya dibawah kkm, segera hubungi guru mapelnya masing masing, karena di minggu ini setiap guru mapel sudah menyetorkan nilai masing masing murid pada wali kelas (titimangsa),"


"Jadwal pembagian rapot adalah setelah titimangsa berakhir, diharapkan setiap siswa ditemani oleh orangtua/ wali, "


Siswa siswi mulai tak nyaman dengan sengatan matahari. Shania mengarahkan pandangannya kesana kesini, sesekali ke atas podium. Tapi yang didapati, setiap Shania melihat ke arah podium, selalu ada mata Arka yang mengawasinya.


"Kalo nih siswi siswi fans garis keras pak Arka tau, digebukin loe ! ngiri tau, diliatin terus !" bisik Inez.


"Tapi guenya risih, udah kaya tersangka yang maling speaker mobil, " jawab Shania.


"Romantis tau, lagi menjaga pandangan. Daripada liat sama yang bukan muhrimnya," Shania memutar bola matanya.


"Itu mah bukan romantis, tapi kaya ngajak perang ! masa liatinnya, kaya elang mau nyamber anak ayam !" jawabnya pada Inez.


"Shania !!!!!" teriak teman temannya. Shania terjengkat lalu celingukan.


"Ga denger ?! sibuk ghibah sih sama Inez, " tawa teman temannya, sedangkan ia hanya nyengir kuda. Sedangkan kini ia sudah melihat pak Nirwa dan guru guru lain menggelengkan kepalanya sambil berdecak.


"Kenapa ?" tanya nya pada Fitri.


"Disuruh maju ke depan, loe barusan dipanggil buat jadi wajah spanduk SMA sama yang lain, tuh !" tunjuk Fitri, demi menyadari sudah ada Rovi sang juara umum dan Niar juara 2, lalu ada Cakra, dan ketua OSIS juga 3 orang lainnya yang merupakan siswa siswa dengan segudang prestasi di bidang akademik dan non akademik.


"Gue ?!" beonya menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Bukan !!! si Adul !!"


"Shania bisa maju ke depan dan naik ke podium ?!" tanya pak Nirwa sekali lagi.


Shania mengangguk sopan dan maju ke depan. Tepukan tangan mengiringi majunya gadis ini.


"Ini dia anak pak Hadi, from zero to hero !!" seloroh pak Nirwa.


Shania tertawa, memang benar ia adalah siswi nakal yang tiba tiba berubah menjadi siswi baik dan menorehkan prestasi, bahkan diketahui ujian kali ini ia mencetak rekor, untuk pertama kalinya semua nilai ujiannya tak ada yang nilai merah meskipun tak besar. Semuanya diatas batas kkm. Bunda mesti tumpengan kalo gini.


"Siap Shania ?" tanya pak Nirwa.


"Apanya pak ?" semua tertawa demi melihat wakah polos Shania.


"Astagfirullah, "


Shania malah ikut terkekeh.


"Kamu tidur apa ngapain disana ?"


"Ngomongin harga minyak pak, maklum irt, " pekik Ari ngasal, hatinya sedikit tersentak, memang ia seorang ibu rumah tangga sekarang, pikirnya. Julukan baru untuknya.


Shania melotot pada temannya itu dari atas podium.


"Jadi wajah banner buat promosi sekolah BAKTI PERSADA ?" Shania melirik ke arah Arka guna meminta ijin dari sang suami.


Arka mengedip setengah mengangguk sebagai jawaban.


"Boleh pak, " jawabnya ikut berbaris bersama siswa lainnya yang berada di depan podium.


************


"Cie mendadak artis !!!" sapa Inez.


"Siapa, gue ? udah dari dulu gue mah !"


Inez mencebik, "Ck, sombong !"


"Ga percaya gue, sampe bolak balik baca mading ! sejak kapan loe jadi pinter Sha ? nama loe ga ada di zona merah remedial ? biasanya langganan keluar masuk ruang guru buat remed ?!" tanya Inez.


"Bisa dong, Shania emang pinter...tapi gue mah ga mau sombong, pinternya di pendam biar beranak !" selorohnya.


"Hilih, gue juga tau pasti gara gara bojo !" cibir Inez.


"Hahaha, iya. Gue mah apa atuh, cuma butiran debu tanpanya !" tawa Shania.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2