
Kasus melalui jalur hukum telah ditempuh, hampir 2 minggu Arka lewati dengan bolak-balik kantor polisi.
"Jangan main-main dengan saya," baru diketahui Arka adalah sekertaris BEM di kampus kuning beberapa tahun lalu, dan kini ia kembali ikut terlibat meskipun tak sepenuhnya dan hanya sebagai pembimbing di kegiatan kemahasiswaan itu, memang tak banyak yang tau, karena statusnya yang sibuk.
Vano masuk bui, dipecat dari kampus hijau meskipun hukumannya sedikit diringankan oleh hakim. Tapi setidaknya ini membuktikan jika ia bersalah.
"Gue berharap loe sadar No, gimana pun dulu loe pernah jadi temen gue !" ujar Riyan yang menjenguk Vano, Vano hanya tertunduk lesu, andai dulu ia menghentikkan niatannya mencelakai Shania dan mengincar Arka. Ia tak menyangka jika ternyata Arka bisa sesadis itu.
"Sampaikan maaf saya sama Shania," ucapnya.
Arka mendorong sebuah paperbag, berisi sajadah, sarung, peci dan Al-Qur'an.
"Saya tau jika kamu berusaha berubah, maka kamu pasti bisa kembali ke jalan yang benar, No. Gaya hidupmu dan rasa trauma masa lalumu yang membuat kamu begitu," jawab Arka.
Flashback on
"Kenapa Vano bisa sampai belok gitu ? Sejak kapan ?" Riyan datang ke rumah Arka, kebetulan disana ramai, ada pasukan kurawa datang berkunjung.
"Udah lama sih, gue kenal dia, dia ya udah gitu !" terang Riyan.
Kresss...
Kriukkk...
Kriukkkk...
"Bisa diem ngga tuh mulut ! Berisik tau ngga !" sarkas Shania pada Guntur dan Ari yang sedari tadi tak berhenti nyemil.
"Piss mak !"
"Terus," tanya Melan.
"Dia kaya gitu karena sering dikhianatin ceweknya. Sering dihina ceweknya juga, jadi punya rasa traumatis tersendiri," lanjut Riyan.
"Jadi maksud loe, karena dia sering diselingkuhin terus dihina, dia jadi frustasi, dan lebih nyaman sama cowok lagi gitu ?" tanya Niken.
"Mungkin,"
"Ko bisa sih ?!" Shania berfikir.
"Bisa lah Sha, kalo salah pergaulan ! Salahnya dia ketemu sama yang kaya gitu juga, jadi ditarik masuk ke dunia orang belok gitu. Kan ada komunitasnya !"
"Ohhhhh !!!!" Shania, Melan, Niken, Leli berohria bersamaan menciptakan gelak tawa diantara mereka.
"Kenapa ga dibikin paduan suara aja sekalian ?!"
"Loe sering ditolak sama dihina, apa jangan-jangan loe juga gitu Roy ?!" gidik Niken.
"Njirrr ! Engga lah, iman gue ga serapuh itu meskipun setipis kulit nene-nene, dan kuat meski tak sekokoh batu karang !"
"Ya kali aja,"
"Lagian loe jujur amat buka kartu si Roy, Ken..." decak Ari.
"Tau..."
Riyan tertawa, rupanya circle pertemanan Shania yang terkenal berandal dulu di sekolah, sesolid ini. Jika harus mengulang waktu, ia sangat ingin masuk bergabung diantara mereka.
"Lagian si Roy mah preman tanggung ! Bandelnya tanggung, setengah-setengah !" ujar Deni.
"Enak aja ! Ga cuma gue, Shania, Melan, Guntur, Ari juga. Bandel, berandal tapi giliran ujian agama pas praktek solat, tetep solat juga !"
"Hahahaha ! Saravvvv, kalo ga praktek ga dapet nilai lah ! be*go di piara !" Guntur menoyor kepala Roy.
"Ayo Yan," Arka sudah keluar dari kamar dan bersiap menjenguk Vano bersama Riyan.
__ADS_1
"Iya pak, guys gue duluan !"
"Nah loh mak, pak Arka bawa oleh-oleh buat si pisang stroberi. Loe sendiri dibeliin ngga ? Jangan sampe si pisang stroberi jadi selir loe, mak !" bisik Leli.
"Engga lah ! Sembarangan, lagian itu belinya bareng gue, alat-alat solat !"
"Siapa tau kan dibelakang loe mereka ada...ehek-ehek Sha," goda yang lain.
"Loe semua mau gue usir pake sapu atau gue tendang pake bakiak ? Balik sana !! Gale mau tidur, berisik !!"
Kembali mereka tertawa kencang.
Flashback off
"Shania sudah memaafkanmu," Arka pamit dari sana. Meskipun semua sudah berakhir dan terbukti jika Vano bersalah, kasus pemukulan itu tetap tidak bisa dibenarkan, figur seorang guru adalah untuk di gugu dan ditiru. Jelas sikap Arka tak patut untuk dicontoh. Maka dengan itu pihak Dinas dan sekolah ANGKASA RAYA memberikan skorsing pada Arka selama 3 bulan dari kegiatan ***.
------
Hari demi hari berlalu, Galexia tumbuh menjadi bayi gemuk, dan menggemaskan.
"Hari pertama ngajar lagi kan mas ?" peluk Shania dari belakang.
"Iya,"
"Kangen ?"
"Ngajar ?" alis Arka mengkerut, Shania mengangguk.
"Lumayan...lumayan kangen gajinya Sha, sekarang kan uang belanja semakin naik, pemasukan dari seorang guru lumayan berpengaruh untuk uang makan," jawabnya.
Shania setuju dengan Arka, selama 3 bulan skorsingnya gaji Arka ikut di pending oleh pihak Dinas yang tau masalah itu, sebagai bentuk hukuman atas kecerobohan dan sikap sarkasme Arka.
"Apa-apa sekarang naik mas," cemberutnya.
"Iya, do'akan saja mas lancar mencari rejeki yang halal buat kalian," jawab Arka.
Shania selesai dengan ikatan kucir dua di rambut Gale. Rambut putrinya ini persis ayahnya, hitam legam, lebat dan lurus meskipun masih pendek.
"Udah momy kasih minyak seledri, sama minyak kemiri, tinggal cemplungin deh ke minyak goreng di wajan ya dek !" seloroh Shania ditertawai ibu dan bi Atun, sedangkan Arka hanya menggelengkan kepalanya mendengar kelakar Shania setiap pagi pada anaknya.
"Rambutnya udah momy iket kaya ekor kuda, dipakein jepitan bunga tinggal diem aja di padang rumput ! Di datengin kumbang nakal deh," kembali bi Atun tertawa, memang ibu muda yang satu ini selalu mengajak anaknya berceloteh tak jelas.
"Udah dibedakin kaya mochie, udah di semprot minyak wangi, cantik deh gadisnya momy, tinggal cuss.. mangkal !" kecupan sayang Shania di pipi lembut nan chubby anaknya.
"Sha," tegur Arka sementara Galexia sendiri tertawa melihat gaya alay layaknya w4r ia oleh Shania.
"Mas, 2 minggu lagi dedek udah mulai makan loh ! For your information," ujar Shania duduk dan menyendok nasi untuk Arka.
"Iya to nduk ? Oalah ko ga kerasa ya ?!" seru ibu.
"Iya bu, 2 minggu lagi dedek pas 6 bulan !"
"Kalo gitu, bagusnya bikin makanan MP-ASI sendiri nduk," jawab ibu.
"Iya bu,"
"Biar ibu yang bantu buat nduk,"
"Iya bu, makasih.."
"Paling beli cemilan bayi-nya mas," lanjut Shania.
"Iya, nanti kita beli," jawab Arka.
****
__ADS_1
"Mas ngajar, langsung ke kampus. Nanti pulangnya mas ga bisa jemput kamu, nanti dijemput Dimas saja ya ?"
"Sha biar pesen ojol aja !" jawab Shania. Karena kebetulan si blacky motor Shania sedang masuk bengkel untuk perawatan.
"Oke, mas pergi. Nanti pulangnya hati-hati. Kabari mas kalo udah sampai rumah."
"Iya mas, hati-hati !" Shania berdadah-dadah ria.
Ia berbalik dan langsung menuju gedung dimana ia menimba ilmu. Tapi saat melintasi pendopo fakultas teknik, ia melihat anak-anak teknik berkumpul ramai-ramai.
"Ada apa sih ?" tanya Shania.
"Rencana demo Sha," jawab salah satu temannya.
"Demo apa ?" tanya Shania, karena seumur-umur ia belum pernah ikut dalam aksi demo sebenarnya bersama ribuan mahasiswa, menyampaikan aspirasi rakyat pada pemerintahan di negri ini.
"Ada beberapa poin masalah yang harus disampaikan, di depan gedung DPRD !"
"Oh, kayanya seru tuh !" jawab Shania.
"Loe mau ikut, yuukk daftar !" ajaknya, Shania sudah melebarkan senyumnya, sepertinya hidup masa mudanya belum lengkap jika ia tidak mencoba. Yang benar saja, mahasiswa kalo belum ngerasain demo, kaya belom my trip my adventure ! rasanya.
Shania duduk di kantin, menyeruput jus jeruk miliknya.
"Mak, ikutan ?" tanya Roy yang datang bersama Deni dan Melan. beda jurusan tak menjadikan mereka berjauhan.
"Ikut apa ?"
"Demo ?! Kuy lah, gue pengen ngerasain rasanya demo Sha !" seru Melan berbinar.
"Ikut gue mah ! Kali aja nemu yang cantik disana anak kampus lain !" jawab Roy.
"Gue disuruh jadi ketua regu jurusan !" jawab Deni.
"Weitttsss, gayanya jadi ketua regu perang !" imbuh Melan berkelakar.
"Ga tau gue, takut dimarahin mas Kala, loe tau sendiri kan...laki gue cinta perdamaian, dia juga kaya mama Loren ! Tauuu aja kalo gue mau rusuh !"
"Sekali-kali Sha, buat membela aspirasi rakyat. Turunkan harga minyak !!!! Turunkan ko tang janda !" pekik Roy mengepalkan tangannya, membuat seisi kantin menoleh pada mereka.
"Berisik peak ! Loe kira di Senayan !"
"Apaan bawa-bawa ko tang, yang ada loe di timpuk !"
"Loe kan ibu-ibu Sha, masa ga mau memperjuangkan nasib dapur, loe juga pihak terpelajar yang mampu memperjuangkan suara rakyat," jawab Melan.
"Kuyyy lah, gaskeun !!" Shania berdiri hendak mendaftar pada sekertaris DPM.
******
"Hah ??!!!!! LOE GILAAAKKK ?!!" pekik Shania.
"Gue, jadi koordinator lapangan ?! OGAH LAH !!"
"Ga apa-apa Sha, banyak ko, loe cuma tinggal bakar semangat temen-temen mahasiswa bantu ka Kevin,"
"Gue kan junior !"
"Itu namanya gue bunuh diri !" jangankan membantu Kevin berorasi dengan keren-nya, ikut dalam barisan pasukan hijau di Senayan saja, mungkin Arka akan mencincangnya hidup-hidup.
.
.
.
__ADS_1
.