
Shania sudah sampai di depan pintu, ia hanya berdiri mematung dan menunduk. Rasanya mata Shania sudah berat dan panas, desiran darahnya membuat pompaan jantungnya berdegup begitu kencang. Sayang sekali ini di tanah orang, jika di Jakarta ia sudah lari dan kabur ke rumah bunda atau Inez.
"Kenapa ?" tanya Arka.
"Buka pintunya, buru !!"
Arka menghela nafasnya, something wrong !
Shania selalu mengalihkan pembicaraan jika merasa tak nyaman dan marah.
Arka memutar kunci pintu, namun pandangannya tak sedetik pun berpaling dari Shania.
Saat pintu terbuka, Shania langsung saja melewati Arka tanpa permisi, tapi tak semudah itu Shania masuk.
"Kenapa ?!" kini nada suaranya dingin seperti awal pertemuan mereka.
"Lepas mas, Sha mau mandi !" desisnya tak kalah sengit mendongak,
"Gitu, cara ngomong sama suami ?" ia menghempaskan tangan Arka, dan masuk ke dalam meraih handuknya.
"Iya, suami yang selingkuh itu emang mesti di kaya gituin !!"
Kening Arka semakin mengkerut.
"Apa maksudnya nih ?! kamu nuduh mas ?" Arka ikut masuk ke dalam.
Blughhh !!!
Shania membanting pintu kamar mandi dan sesenggukan disana. Sementara Arka masih setia menunggu di depan pintu kamar mandi.
"Sha," tapi tak ada jawaban dari dalam. Shania menyalakan kran air untuk meredam suara tangisannya.
Ini rasanya terkhianati, so hurt.
Berani terbang karena cinta, harus berani terjatuh, terperosok, dan nyungseb. Saat ini akal sehatnya tak bekerja, hingga amarah lah yang menguasai hati dan pikirannya, memang menikah butuh pemikiran matang untuk menyikapi semua kemungkinan terburuk dari sebuah badai pernikahan yang menerjang.
"Gue kenapa sih, " gumamnya di sela sela tangisannya. Shania mulai menanggalkan semua pakaiannya, membiarkan semuanya jatuh di bawah lantai kamar mandi. Sedangkan ia mulai mengguyur badannya, mendinginkan kepala yang sudah matang, otak yang sudah meleleh, badan yang ngebul, dan meluruhkan emosi yang semakin mengalir deras.
Shitt !!! gue ga bawa baju ganti lagi ! umpatnya.
__ADS_1
Sudah dipastikan pria matang itu ada di luar. Air masih mengucur dari rambutnya yang kuyup. Karena rasa dingin, ia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi. Menyembulkan kepalanya, dirasa Arka sudah tak ada di sana, Shania keluar dari kamar mandi, dengan mengusap hidung dan matanya yang sudah memerah.
Shania sedikit berjinjit karena kakinya yang basah. Gadis itu melirik ruangan depan pun tak ada Arka disana. Sepertinya suami gurunya ini sudah kembali ke rumah mbah, karena terlalu lama menunggu ia mandi.
Ceklek.
Ia diam mematung di ambang pintu, demi melihat Arka tengah menunggunya di kamar. Pria itu menyenderkan punggungnya di dekat meja sambil melipat kedua tangannya di dada, dimana letak koper tepat berada di sampingnya.
Shania menelan salivanya berat. Mestinya jika niat marah tuh bawa dulu kek koper atau bajunya, kan ga lucu marah marah sambil toplesan begini, cebiknya dalam hati.
Mau tidak mau ia mendekat ke arah koper.
"Ada apa ? kalau mas punya salah bilang, bukan main tuduh tanpa bukti, sambil marah marah ga jelas," ucapnya.
Bahu seputih susu itu melambai lambai tepat di samping Arka. Belum lagi leher mulus dan jenjang milik Shania, damnnn !
"Pikir aja sendiri !" sentaknya. Setidaknya Shania tidak diam seperti waktu itu, ia lebih memilih Shania yang marah marah dan meledak ledak seperti ini dibandingkan diam seperti waktu lalu.
Arka meraih tangan Shania, untuk melihat wajah sembab Shania.
"Kamu nangis ?" tanya nya, mata yang sudah memanas semakin buram dan akhirnya air mata kembali meleleh.
Tangannya terkepal kuat, dan memukul mukul dada Arka dengan satu tangan yang memegang handuk agar tak melorot.
Bughhh
Bughhh
"Mas tuh tega ! mas ke Surabaya bukan mau ketemu ibu, tapi mas mau ketemu mbak Retno, kan ?!"
"Sha tau, mas tuh lagi reuni hati kan ?!"
"Kalo gitu lepasin Sha !"
"Sha mau pulang sekarang ke Jakarta !!"
"Biar mas bisa lebih bebas pacaran sama mbak Retno !!"
"Mas tuh jahat !"
__ADS_1
"Tukang boong !"
"Sha ga suka, mas harus tau, SHA GA SUKA !!"
Bahu Shania bergetar, lalu Arka meraih Shania ke dalam pelukannya.
"Udah marahnya ? mau minta penjelasan mas ngga ?" ia menggeleng meskipun hatinya begitu ingin.
"Retno teman sejak kecil, dia kerabat jauh. Temen perempuan yang mau menerima sikap diam mas ya cuma Retno, sikap masa bo*doh mas, sikap dingin mas,"
"Mas memang tau Retno menyimpan rasa untuk mas, tapi sayangnya mas tidak memiliki rasa apapun. Hanya sebatas menganggapnya teman, saudara Nanang. Retno memang baik, manis, tapi jika hati mas tidak tergerak, mas bisa apa ?"
"Apalagi sekarang, hati mas sudah terisi penuh oleh seorang gadis nakal yang dulu so so an pinter kimia padahal ga bisa apa apa. Gadis ceroboh yang suka berantakin dapur mas, gadis kepedean yang berani berani gombalin guru, gadis nakal yang jadi langganan kursi BP, anaknya pak Hadi !"
Arka mencium pucuk kepala Shania yang masih basah. Wangi bunga dan vanilla menguar memenuhi ruangan kamar.
"Semalam mas memang bertemu Retno. Tak sengaja waktu lagi ngobrol sama Agus, Joko dan Aryo. Tak enak hati karena ia yang jalan malam malam sendirian, mas antar, itupun biar sekalian karena mas ada perlu sama Nanang, buat nganterin hampers pernikahan kita, mas jalan jauh di belakang Retno. Mas dan Retno tau diri, Sha.."
"Kalau kamu tidak percaya, boleh tanya Retno langsung,"
"Atau tanya Agus, Aryo dan Joko ?!" lanjutnya.
Shania kembali menggeleng tak mau.
"Percaya sama mas Sha, " Arka mengangkat dagu Shania, gadis itu masih sesenggukan.
"Kalo ada apa apa tuh bilang, mas bukan peramal yang bisa tau kamu kenapa. Mas bukan psikolog yang ngerti perasaan orang dari sikap yang ditunjukkan. Mas cuma laki laki dengan banyak kekurangan yang sayang sama gadis cantik kaya kamu, laki laki yang sedang berusaha bertanggung jawab atas kamu, "
Arka menghapus jejak air mata Shania di pipi chubby itu.
"Jadi ceritanya sayang nih sama mas ?" goda Arka terkekeh. Mata Shania memicing, tangan satunya kembali memukul mukul dada Arka. Selama ini Shania memang tidak pernah lagi menyatakan rasa sayang ataupun sukanya terhadap Arka lagi, ia takut kembali sakit.
Arka menangkup wajah Shania, menatapnya dalam dalam. Tanpa basa basi lagi ia memajukan wajah dan memiringkannya. Meraup rasa manis yang menjadi candunya. Mungkin kali ini pertahanan imannya akan runtuh dan kebobolan, karena jujur..sebagai laki laki dewasa normal, ia sudah tak dapat lagi menahan gejolak dalam darahnya, desiran itu semakin deras, membuat otak dan tubuhnya berjalan seirama... jika sekarang, detik ini juga Arka menginginkan Shania.
Arka semakin menekan tengkuk Shania untuk memperdalam rasa yang sulit untuk di hindari oleh Shania. Gadis itu kembali melayang di pelukan Arka.
.
.
__ADS_1
.
Untuk part selanjutnya konco konco bocil skip ae yachhhhh !