Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Tahan Godaan Demi Shania


__ADS_3

Shania hanya bisa menjadi obat nyamuk, tak mengerti dengan arah pembicaraan para lelaki di depannya itu, kebanyakan yang diobrolkan adalah bruto, nett, bahan baku dan beberapa istilah perbisnisan yang tak ia mengerti, jika ngomongin dribbling, slamdunk mungkin ia akan paham. Ia lebih memilih memainkan game cacing di ponselnya, ketimbang harus ngitungin berapa banyak cicak yang lagi mojok di pinggiran dinding bangunan samping bikin jomblo jomblo ngiri. Ia menggerakan jarinya ke kanan dan ke kiri, memakan dan melilit lawan lawannya, gadis ini tertawa renyah saat cacing berwarna hitam bergaris kuning miliknya memakan cacing lawan yang ukurannya lebih kecil.


"Doi anteng banget Ka, " tunjuk Nino dengan dagunya pada Shania membuat Arka ikut melirik ke sampingnya.


"Bikin anteng yang liatin juga," bisik Priyawan tertawa.


"Cari mati kamu !" Teguh mengusap kasar wajah Priyawan.


"Peace Ka, canda !" Priyawan mengacungkan kedua jarinya pada Arka.


"Emhhh, kan kan...gue bilang juga apa ! mati kan, Shania dilawan, pak Hadi aja sampe gumoh !" gumamnya tertawa lagi.


"Yahh...yah...nabrak ! mati deh mati ! ga asik ah !!! udah gendut juga, malah brojol lagi kan isinya !! " Shania mendongak, saat 4 pasang mata melihat ke arahnya.


"Kenapa?!" tanya nya menatap ke 4 nya bergantian tanpa dosa.


"Engga, kamu menghayati banget mainnya, sampe berisik !" jawab Arka.


"Oh, sorry ganggu ya ?!" tanya Shania.


"Engga ko, engga !" jawab Teguh.


"Mas, masih lama ngga ?! Sha nunggu di mobil aja deh, biar bisa sambil senderan !" ijinnya.


"Ya udah, tunggu di mobil saja. nih kuncinya !"


"Tapi jangan lama lama, ntar kubawa kabur mobilnya," jawab Shania.


"Bawa aja Sha, emang bisa pke mobil ?" tanya Priyawan.


"Bisa om, yahh...palingan ntar liat aja tiap belokan masih ada engga, kalo engga berarti nyungseb di kali !" tawa Shania.


"Bisa banget, jangan dong ! mobilnya ga apa apa lecet, kalo Sha yang lecet berabe !" jawab Nino.


"Wah, jangan deh..mobilnya jangan lecet yang punya kaya singa, galak galak gimana gitu !" bukan hanya Nino yang tertawa, tapi Priyawan dan Teguh pun ikut tertawa, sedangkan Arka hanya menjiwir hidung Shania pelan.


"Galak ya Sha, padahal Arka tuh paling baik, anteng, kalem diantara temen temen lainnya !" jawab Teguh.


"Anteng sih om, kalem, tapi kalo baik kayanya mesti dikaji ulang. Sekalinya marah, bumi langsung dilanda tsunami ! ampun mas ampun ! aku masih belum insyaf, jangan dulu meletus gunung berapinya!" Shania langsung berdiri dan mengikat lengan kemeja Arka di pinggangnya. Sebelum Arka benar benar marah, ia memutuskan untuk pamit sedangkan ketiga temannya sudah terpingkal pingkal.


"Om om, Sha pamit ya sebelum mas Kala ngambek, nanti ngacak ngacak sampah lagi. Assalamualaikum," Shania membalikkan pad topinya jadi ke belakang, hingga kini terlihatlah dengan jelas wajah cantik mulus tanpa cacat dan manisnya gadis remaja itu. Shania melempar kunci mobil ke atas lalu menangkapnya, ia kemudian berlari kecil pergi dari sana menuju parkiran.


"Hahahah, bukan tempat sampah yang diacak acak Sha, tapi kamu yang diacak acak Arka, aduhhh kocak juga tuh anak, berani nantang maut," ujar Nino.


"Gemes gue, cariin gue yang kaya Shania juga Ka, " jawab Teguh.


Arka menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyuman.


"Loe satu kamar Ka ?" tanya Priyawan.


"Iya, cuma beda kasur aja, " jawab Arka.

__ADS_1


"Wah, strong mamen ! " tepuk Nino.


"Tahan banting juga loe Ka, tiap malem liat cewek cantik tidur tanpa nyentuh !" imbuh Teguh.


"Ya mesti kuat lah, minimal sampe Shania lulus," tambah Priyawan.


"Ka, udah malem. Mendingan pulang aja, kasian Shania nunggu kelamaan, " imbuh Teguh.


"Iya, " Arka melirik jam di tangannya dan berdiri, merapikan celananya yang berkerut.


"Saya pamit ya, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, " jawab ketiganya.


"Selamat ngelonin Ka, " pekik Nino, Arka mengangkat tangannya ke udara tanpa berbalik dan tersenyum.


Arka masuk ke dalam kursi pengemudi, melihat Shania yang asik menatap layar ponselnya, matanya berbinar sambil tersenyum senyum.


"Mas, Sha mau ikutan ini !" ia menunjukkan layar ponsel yang memperlihatkan sebuah laman situs.


JAKARTA MEMANGGIL !!!


SELEKSI CALON ATLIT PELAJAR


Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar Provinsi DKI JAKARTA.


Dibawahnya menampilkan sederet persyaratan yang harus dipenuhi, dan tata cara pendaftaran.


"Kamu yakin ? sebentar lagi ujian semester akhir ?" tanya Arka menstaterkan mobilnya.


"Yakin mas, Sha janji deh bakalan giat belajar sama giat latihan juga ! ya mas ya, please boleh kan ?!"


"KTP Shania kan masih lajang, kartu pelajar juga ada, nama Shania di KK nya ayah kan masih ada," jawab Shania, bahkan gadis itu sampai memikirkan hingga perintilan seperti itu, menunjukan saking besarnya keinginan Shania.


Arka menghembuskan nafas kasar, meskipun berat hati ia berusaha mengangguk dan mengiyakan.


"Yeeee !!! makasih mas, lope lope sekebon bawang, " serunya refleks memeluk lengan Arka. Ia kemudian melihat kembali ke arah ponselnya.


Arka menatap nanar Shania, apakah keputusannya ini benar, atau justru akan membuatnya semakin jauh dengan Shania.


Shania keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Sementara Arka menyusulnya dari belakang, menutup dan mengunci pintu gerbang, juga pintu garasi.


Gadis itu segera mencuci mukanya dan mengganti pakaiannya dengan piyama, meraih buku matematika dan membukanya.


Arka masuk ke dalam kamar, melihat istri nakalnya tengah berkutat dengan buku pr nya.


"Mas mau ganti baju ? bajunya udah aku siapin tuh ! baju kotornya masukin aja ke keranjang, besok ku cuci !" ucapnya tanpa menoleh.


"Iya, " jawab Arka singkat.


Tapi saat Arka tengah mengganti pakaiannya, Shania bertanya. Gadis itu memutar mutar bolpoinnya.

__ADS_1


"Eh, mas. Mas kenal sama abang abang yang tadi di angkringan, mereka temen kuliah dulu ?" tanya Shania.


"Iya, "


"Tapi ko meeting bareng, ngomongin bruto sama nett, setau Sha, itu kan pendapatan. Emang mas Kala siapa pake ngurusin pendapatan angkringan ?" Shania berbalik.


"Terus om Priyawan bilang aku sama Melan jajan di tempat guru sendiri ?" lanutnya.


"Karena angkringan itu punya mas juga, " jawabnya santai memasukkan baju kotor ke keranjang.


"Hah ?!! yang bener ??!" serunya tak percaya dan membalikkan badannya menatap Arka yang kini sudah duduk di ranjang menatap layar ponselnya.


"Jadi mas yang punya angkringan itu juga?!!! besttt ! pantesan aku tantang minta berlian bilang siap, " Shania mengangguk anggukan kepalanya.


"Itu usaha sejak mas masih kuliah, sekarang udah beranak cabang, dulu mas kekurangan uang buat bayar kuliah, makanya karena satu nasib sama Nino, Priyawan dan Teguh, kita patungan bikin angkringan buat nambah penghasilan, " terang Arka.


Mendadak Shania mengingat perkataan Alya bersama temannya tadi siang ia merutuki sikap Alya yang tak tau diri, baginya wanita matre memang bukan hal yang asing, tapi melihat orang sebaik Arka dimanfaatkan, hatinya terasa ikut sakit. Shania bukanlah tipe gadis matre. Ia tumbuh di tengah keluarga yang tidak kekurangan tapi juga tidak berlebih, bundanya pun selalu mendidik Shania penuh dengan pendewasaan tanpa memanjakannya. Shania malah terbiasa hidup sederhana, tapi tak pernah kekurangan.


Beberapa kali Shania menguap, jika berhadapan dengan buku dan angka. Mendadak matanya jadi mengantuk, sepertinya angka angka dan huruf yang berseret mengajaknya muter muter di dunia alam bawah sadar, hingga ia cepat sekali mengantuk.


Ia menutup bukunya.


"Mas turun, Sha udah ngantuk banget !" pintanya, tapi sebelum memastikan Arka benar benar turun, ia sudah merebahkan badannya di ranjang dan menutup matanya. Rupanya perut kenyang dan mata teler akibat rumus phytagoras membuatnya tepar dengan cepat, tanpa susu hangat ataupun dongeng. Ternyata sebenarnya cukup gampang membuat si insomnia girl ini lepas dari penyakitnya ini, berikan saja makanan yang banyak dan pr dengan angka angka dan huruf berderet.


S3tan memang tak pernah mengenal waktu dan tempat. Wajah Shania jauh berkali kali lipat menggemaskan saat ia tertidur. Arka meliriknya meraih rambut panjang yang menutupi sebagian wajah Shania dan membawanya ke belakang.


Apakah harus, ia melakukannya dengan paksa, menahan agar Shania tetap berada di sampingnya, sudah pasti gadis itu akan sangat marah dan kecewa padanya. hembusan nafas tenang menandakan jika Shania memang sudah tertidur. Arka semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Shania.


Aroma nafas mint dari pasta gigi ditambah wangi lembut vanilla yang menguar menjadi ciri khas Shania membuat bulu kuduknya meremang seketika, sungguh godaan yang membuatnya candu. Bibir pink tipis nan lembab Shania yang terbuka sedikit sepertinya enak sebagai tempat untuk mendaratkan bibirnya malam ini.


Tak dapat dipungkiri, imannya mulai goyah. Arka membaringkan badannya di samping Shania, menatap gadis ini lekat lekat hingga ia terlupa untuk menggelar kasurnya di bawah.


"Jangan biarkan mas memaksa kamu Sha, sleepwell little wife," untuk malam ini Arka masih bisa menahannya, seperti kata Teguh saat mereka bicara, Arka tetaplah manusia, laki laki normal yang bisa termakan hawa nav su kapan saja jika terus satu kamar, dan benar kata Priyawan, minimal hingga Shania lulus sekolah. Tapi jika mengingat lagi keinginan Shania.


"Mas ! Shania mau ikutan ini !!" masih terngiang ngiang di pikirannya, wajah berbinar Shania menunjukkan link salah satu portal berita milik Dispora DKI Jakarta.


Arka menghembuskan nafasnya, melepas semua beban dan pikirannya, hingga tak sadar ikut tertidur.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2