Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Otewe mencinta


__ADS_3

Shania ikut menyusul Arka ke dalam, ia menaruh buku di meja belajarnya.


"Mas belum makan ?" tanya Shania.


"Udah, tapi mas mau coba itu !" tunjuknya pada toples keripik belut yang ada di meja, tersisa setengahnya.


"Ini barusan kamu yang makan ?" tanya Arka, meraih dan memutar tutup toples, baru saja 2 putaran Shania menahannya.


"Tunggu, tunggu mas ! jangan dulu dibuka !" pinta Shania.


"Kenapa ?" tanya Arka. 2 buah tanda tanya besar menggantung di atas kepala lelaki itu, demi melihat Shania merebutnya dan menaruh di lantai.


"Coba mas langkahin dulu toplesnya !" pinta Shania menunjuk toples berisi keripik belut itu.


"Biar apa ?" tanya Arka membeo.


"Ihh ! cepet langkahin aja, cuma buat tindakan pencegahan. Mas tau kan mencegah lebih baik daripada mengobati ?!" tanya Shania polos.


"Pencegahan dari apa ?" kini Arka semakin dibuat bingung oleh gadis nakal ini, sehari tak membuat dahi Arka mengernyit rasanya bagai sayur tanpa air kuahnya.


"Buat pencegahan dari guna guna atau pelet, buru !!" sandal jepit rumah yang dipakainya kini bahkan sudah menghentak hentak lantai keramik.


"Ngaco ! kamu idup di jaman bung Harto masih pake popok apa gimana ?" tanya Arka.


"Jangan suudzon," Arka mengangkat kembali toplesnya.


"Taro ih ! ga caya orangtua jaman dulu, kena baru tau rasa ! " cebik Shania.


Arka malah sudah memakannya dan menambahkannya sebagai lauk nasi dan sayurnya. Ia hampir menyemburkan nasinya, melihat Shania dengan wajah menggemaskannya tengah menatapnya lekat lekat dari samping. Mungkin menunggu reaksinya yang sudah memakan keripik belut pemberian Rani.


"Yang kaya gini pengen masuk kampus jas kuning ?" Arka terkekeh, astaga ! Shania...Shania.


"Oh iya !!! kamu bener !!" Arka mengernyitkan dahinya usil, Shania lantas menarik kepalanya dan menautkan alisnya.


"Kenapa mas ?" tanya Shania penasaran.


"Ko mas jadi gini ya, jatuh cinta !" jawabnya lagi sembari melahap nasi dan keripik belutnya.


"Hah ?! yang bener ??!! ko aku engga kenapa napa ? apa belom ?!" ia menatap nanar toples keripik belut seraya mengusap usap perut, wajah dan tangannya.

__ADS_1


"Ko kamu jadi cantik sih di mata mas, mas jatuh cinta nih !" wajah Shania langsung berubah, ia mendelik sinis dan menatap tajam, sementara Arka tertawa di sela sela makannya.


"Bisa ga sih serius ?! sembur juga nih pake air minum !!" Shania berdecak dan pergi.


"Calon mahasiswa ko pemikirannya kuno ? hari gini udah ga jaman main pelet peletan, "


"Tapi kan bukan berarti ga ada, mas ! " ia masih kesal dengan lelucon garing Arka.


"Iya. Maaf maaf, " Arka meraih sebatang rokok lalu pergi ke teras depan dengan membawa laptopnya. Baru kali ini Shania melihat Arka merokok.


"Mas ngerokok ?" tanya Shania, sebelum Arka benar benar keluar dari pintu rumah.


"Sesekali aja, " jawabnya.


"Ko ngejauh, "


"Biar asepnya ga ke kamu," jawabnya memekik karena sudah di luar.


"Temen temenku kalo ngerokok, ngerokok aja mas di depan aku, " suara Shania masih bisa terdengar Arka, karena jaraknya yang memang tak terlalu jauh, ditambah suasana sepi, bi Atun sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Itu berarti temen temen kamu ga peduli sama kamu, besok besok jangan dekati mereka waktu lagi ngerokok ! apalagi kalo di sekolah, auto mas razia."


Arka memang tak bisa romantis, tak tau caranya menggombal pula, karena setiap kata katanya malah terdengar garing. Tapi caranya peduli dan bertanggung jawab atasnya lah yang membuat Shania sedikit sedikit mulai bisa menerima Arka kembali. Sampai saat ini saja, Arka masih menghormati Shania dengan tidur di ranjang bawah, jika bukan Arka orangnya, mungkin saat ini Shania sudah menjadi santapan malam yang lezat, jika bukan Arka orangnya mungkin lelaki itu akan mencuri curi untuk tidur di ranjang yang sama dengan Shania, apalagi ini rumahnya, daerah kekuasaannya. Shania tidak tau, apakah Arka sudah mencintainya atau belum, karena setaunya cinta tidak akan datang secepat itu. Menurut buku buku novel yang ia baca.


"Mas, " Shania menghampiri Arka di luar, dengan wajah datarnya lelaki itu menoleh. Arka menggerus batang rokok yang hanya tinggal beberapa cm dari ujung filternya.


"Aku boleh nanya ngga ?" tanya Shania.


"Everything, " jawabnya mengetikan jarinya dengan cepat di atas laptop.


"Maaf kalo ini sedikit privasi, " Shania mengetuk ngetuk kedua jari telunjuknya.


"Hubungan mas sama ka Alya gimana ?" tanya Shania hati hati.


Arka menoleh pada Shania, menyuruhnya duduk di kursi sebelahnya.


"Hubungan mas dan Alya sudah berakhir semenjak terakhir kamu mendengar kami bicara, dan setelah itu sudah tak ada komunikasi lagi sampai saat ini, " terangnya.


"Mas masih sayang sama ka Alya ?" pertanyaan itu sukses membuat dadanya sendiri terasa sesak, seperti sedang menyelam dengan pasokan oksigen yang menipis. Rasanya miris sekali !

__ADS_1


Arka mengubah posisi duduknya, "sebagai lelaki normal, bohong kalau mas tidak menyukai wajah ayu Alya, " Shania melotot mendengar kata wajah ayu.


"Selama 1 tahun mas menjalani hubungan dengan Alya, tidak mungkin tidak ada rasa sayang yang tercipta. Tapi sejak mas memutuskan menerima permintaan ayah untuk menikahi anaknya, maka mas tau saat itu juga mas harus mengakhiri semuanya." Shania semakin menunduk merasa bersalah. Arka menatap Shania lalu mengangkat dagu gadis itu.


"Mas tau, sejak saat itu mas harus belajar menerima, menyayangi dan bertanggung jawab atasmu. Tapi yang mas tau dan mas rasakan, belajar mencintai yang sudah sah dan halal itu jauh lebih menyenangkan. Percaya atau tidak, Allah tengah memberikan jalannya kemana cinta mas harus berlabuh. Buktinya saat ini, Allah sedang menunjukkan semua kelebihanmu di depan mas, " Arka melepaskan tangannya dari dagu Shania.


"Hal mana nya yang lebih menyenangkan ?" tanya Shania.


Arka terkekeh sebelum menjawab, wajah Shania selalu menggemaskan jika sedang serius.


"Kalo kebablasan, ga akan bikin dosa, nggak akan diarak warga. Belajar mencintainya jadi lebih afdol !" tawa Arka, seketika Shania langsung manyun.


Ia berdiri lalu masuk ke dalam rumah, menutup pintu dengan kencang.


"Bughhh !!!!"


Arka malah tertawa terbahak.


"Kulaporin pak Rt kalo ada guru mesum diluar rumah !!!" pekik Shania.


"Lapor aja ! ga takut,"


"Mas Kala tidur di luar !!! aku kunciin rumahnya !"


"Mas masih bisa ketok dapur, ada bi Atun yang suka denger. "


Bughhh !!! suara pintu di tendang dari dalam.


"Ga usah rusak pintu, kalo ga mau disuruh ganti !"


"Baru tau loh, ngambeknya istri nakal mas rusak rusak barang," goda Arka.


Damnnn Shania ! wajah Shania sudah memerah seperti tomat ceri saat ini, hawa panas yang baru kali ini ia rasakan saat di goda lawan jenis, padahal hanya sebuah lelucon garing bak kerupuk rambak, tapi wajahnya sudah semerah ini. Padahal biasanya ia akan kebal dengan gombalan atau rayuan lelaki, malahan ia yang akan berbalik membuat si laki laki salah tingkah dan merona. Apa kini ilmu kebalnya sudah luntur ?


Ga bener Sha !!! tidur..tidur !!! Shania masuk ke dalam kamar lalu naik ke atas ranjang, diliriknya jam yang menempel di dinding, sudah masuk waktu tidurnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2