
Di rumah Prasetyo Sabtu sore ini berkumpul anak, menantu dan cucu-cucunya. Seperti biasa, mereka selalu rutin berkumpul setiap satu bulan sekali di rumah Prasetyo. Dan seperti sebelum-sebelumnya, mereka akan berkelompok. Prasetyo berbincang dengan anak-anaknya, Widya bercakap-cakap dengan menantu-menantunya, sementara cucu-cucu mereka terlihat asyik bermain bersama di kamar Luna.
Seperti kebanyakan pria pekerja yang bergelut di bidang bisnis, tentu saja yang dibicarakan oleh Prasetyo dan anak-anaknya adalah seputar urusan pekerjaan, terutama tentang rencana pendirian usaha baru yang sudah direncanakan mereka dan juga tentang pekerjaan Gagah di perusahaan milik Bintang Gumilang.
"Aku sudah mendapatkan tempat yang cocok untuk tempat usaha kita, Gah. Di daerah Bekasi untuk tempat armada, kalau untuk kantor kita bisa cari di sekitar Jakarta saja. Kebetulan untuk yang di daerah Bekasi itu ada yang ingin jual cepat, jadi menawarkan tanahnya agak murah dari harga pasaran." Tegar menjelaskan kepada orang tua, kakak juga adiknya soal info yang dia dapat dari hasil surveynya beberapa hari ini.
"Apa di Bekasi itu kita buat kantor juga, Mas? Atau hanya untuk tempat armada saja?" tanya Gagah.
"Kebetulan aku sudah pantau tempatnya, Gah. Di sana ada bangunan kantornya, selebihnya garasi untuk armada. Kita tetap harus punya pengurus yang akan mengatur armada dan muatan di sana," ujar Tegar menerangkan.
"Kamu sudah membuat PT nya, Tegar?" tanya Prasetyo.
"Sedang dipersiapkan, Pa. Soalnya kita masih belum punya kantor. Jadi belum tahu alamat perusahaannya itu akan dicatat di mana dalam akta pendirian nanti," jawab Tegar, menjelaskan yang menjadi kendala.
"Kalian pakai saja alamat rumah di Tebet, dua bulan masa kontraknya habis, kan? Mumpung orangnya belum mengajukan perpanjangan kontrak, jadi kita bisa kasih alasan jika tempat itu akan dipakai untuk usaha sendiri." Prasetyo menyarankan memakai rumah lamanya yang dikontrak seorang publik figur, supaya lebih menghemat biaya, daripada harus membeli bangunan baru untuk dijadikan kantor.
"Aku setuju dengan Papa, tempat itu dekat jalan raya, cocok untuk dijadikan kantor." Bagus menimpali.
"Gimana, Gah? Aku juga setuju, tinggal nanti direnovasi disesuaikan dengan ruangan-ruangannya kantor." Tegar pun sependapat.
"Jika memang yang lain setuju, aku ikut saja, Pa." Gagah menyetujui usulan sang Papa, "Oh, ya, Mas Tegar sudah mencari armada? Sudah ada berapa yang sudah kita beri DP?" tanya Gagah kemudian.
"Sudah ada delapan mobil, yang sudah lunas dua mobil, yang enam kita baru kasih DP tinggal menunggu pelunasan saja, kapan kamu akan menyerahkan modal untuk perusahaan kita ini?" tanya Tegar.
"Insya Allah Minggu depan, Mas. Ada sebagian saham BDS yang akan aku jual untuk modal usaha ini." Gagah menerangkan jika dia perlu melepas sebagian sahamnya di perusahaan milik Bintang, agar usaha barunya bisa cepat berjalan.
"Ya sudah, kalau begitu nanti Senin aku hubungi notaris untuk segera memproses pembuatan akta pendirian perusahaan ekspeditur kita," sahut Tegar.
"Kalau kalian butuh dana, pakai saja uang Papa dulu, Gah. Nanti kamu bisa kembalikan jika dana milikmu di BDS sudah berhasil ditarik." Prasetyo tidak menggunakan bahasa memberi, tapi meminjamkan, sebab dia tahu, Gagah pasti akan menolak jika ia menawarkan dana untuk modal usaha.
"Tidak usah, Pa. Untuk pelunasan mobil, aku masih punya uang simpanan." Bahkan dengan bahasa dipinjamkan pun Gagah tetap menolak. Memang di antara ketiga anak Prasetyo dan Widya yang hidup dalam kemapanan, Gagah lebih mapan dibanding kedua kakaknya, terlebih selama bekerja menjadi orang kepercayaan Bintang di perusahaan retail itu, Gagah memang mengumpulkan uangnya untuk sendiri dan sepertiga penghasilannya diberikan kepada Mamanya, sebab Prasetyo pun selalu menolak diberi uang hasil kerja dari ketiga anak-anaknya.
Sementara di ruagan berbeda yang dibicarakan oleh para wanita, istri Prasetyo dan menantunya tak jauh dari urusan anak-anak dan suami-suami mereka, seperti kebiasaan wanita pada umumnya jika sudah berkumpul.
Airin sendiri sudah mulai menikmati perannya sebagai salah satu anggota keluarga Prasetyo Hadiningrat. Bersyukur karena ia berada dalam lingkungan keluarga yang baik, tanpa ada persaingan di antara para menantu Prasetyo dan Widya.
"Rin, katanya sekarang anaknya Pak Bintang yang pegang BDS, ya? Kamu harus tetap waspada, lho, Rin. Jangan sampai lengah sedikitpun." Putri mencoba menasehti Airin agar selalu bersikap hati-hati terhadap wanita di sekitar Gagah.
"Jangan menakuti Airin seperti itu, Put. Aku yakin Gagah itu tidak akan mengkhianati Airin." Ayuning justru lebih percaya jika adik iparnya tidak mungkin berselingkuh.
"Ayu benar, Put. Mama percaya sama anak Mama, kok. Lagipula Gadis itu tidak seperti kakaknya, jadi Mama jamin perselingkuhan itu tidak akan pernah ada!" Widya bahkan memastikan jika anaknya tidak akan menduakan Airin hanya untuk wanita lain, apalagi wanita yang masih terbilang anak-anak.
"Iya, sih, Ma. Aku juga percaya dengan Gagah. Tapi, untuk jaga-jaga perlu juga, kan? Apalagi kalau ceweknya nekat." Putri yang pernah merasakan suaminya dikejar banyak wanita merasa khawatir sendiri.
"Kita doakan saja agar rumah tangga Gagah dan Airin jauh dari masalah pelik apalagi jika menyangkut orang ketiga, Put." Widya berharap kedua menantunya yang lain untuk selalu mendukung dan mendoakan kelanggengan rumah tangga Airin dan Gagah.
"Aamiin ...."
"Itu pasti, Ma."
"Iya, Ma."
Airin, Ayuning dan Putri menjawab bersamaan ucapan Mama mertunya.
"Oh ya, Rin. Kamu sudah ada tanda-tanda isi belum? Sudah sebulan kalian menikah, kan?" tanya Ayuning mengubah topik pembicaraan.
"Iya, lho, Rin. Mama juga mau tanya itu sama kamu." Widya menimpali.
"Aku belum cek, sih, Ma, Mbak" sahut Airin.
"Jadwal haid kamu sendiri gimana?" Putri pun ikut bertanya.
"Mestinya memang dua hari lalu, tapi sampai sekarang belum haid. Aku juga belum merasa mual, cuma kemarin sempat sakit kepala sebentar tapi cepat normal lagi." Airin menceritakan apa yang dialaminya kemarin pagi.
"Buruan dicek, Rin. Siapa tahu itu tanda kamu hamil," ujar Ayuning.
__ADS_1
"Tanda-tanda adik Luna mau launching, nih." timpal Putri terkekeh.
"Iya, nanti aku coba beli testpack, semoga saja itu benar," sahut Airin tersenyum penuh harap.
"Cucu Mama akan tambah lagi, dong!" Widya menyambut dengan sumringah tanda-tanda yang disebut oleh Airin tadi.
"Insya Allah, tapi jangan terlalu berharap dulu, ya, Ma. Takutnya mengecewakan." Airin tidak ingin terlalu muluk berhadap meskipun ia pasti sangat bahagia jika kenyataannya ia memang hamil.
"Ya sudah, sekarang kita makan dulu, yuk! Kasihan anak-anak pasti sudah lapar." Widya lalu mengajak para menantunya untuk segera ke meja makan untuk menyantap makan malam bersama.
Setelah semua berkumpul di meja makan yang panjang, para istri bergantian menyiapkan nasi dan lauk untuk suami-suami dan anak mereka yang masih kecil. Begitu juga dengan Airin, Airin hanya mengambilkan buah untuk Luna karena Luna sudah makan lebih dahulu. Setelah itu ia mengambil piring kosong di depan Gagah lalu mengambilkan nasi untuk makan sang suami.
"Jangan banyak-banyak nasinya, Airin." Saat Airin menaruh nasi dengan takaran yang lebih banyak dari biasanya, Gagah dengan cepat memprotes. Namun, Airin tidak menghiraukan protes suaminya itu. Dia lalu mengambil lauk pauk yang akan dimakan. Setelah mengambil lauk, Airin menyingkirkan piring di hadapannya dan mengganti dengan piring yang sudah dia isi nasi tadi.
Tentu saja tindakan Airin membuat Gagah bingung, karena Airin justru menaruh piring berisi nasi dan lauk di hadapan Airin, bukan di hadapannya. Dan Gagah dibuat kaget ketika Airin tiba-tiba menyodorkan makanan di sendok ke depan mulutnya.
"Aku suapin Mas saja." Airin hendak menyuapkan makanan ke mulut Gagah.
Sontak semua orang menolehkan pandangan ke arah Airin dan Gagah. Sama seperti Gagah, mereka yang ada di sekeliling meja makan pun merasa aneh dengan sikap Airin saat ini. Namun Gagah tetap membuka mulutnya dan menerima suapan yang diberikan oleh Airin.
Sesudah memberikan satu suapan kepada Gagah, Airin menyuapi dirinya sendiri, kemudian kembali menyuapi Gagah tanpa merasa malu sedikitpun. Sepertinya Airin tidak menyadari jika dirinya kini sedang menjadi pusat perhatian, sampai membuat Prasetyo beserta istri, anak dan menantunya yang lain saling pandang keheranan.
"Ppffftt ..." Bahkan Tegar sulit untuk menahan tawanya melihat tingkah Airin yang mirip seperti ABG yang sedang kasmaran karena makan sepiring berdua.
"Aku pikir anakmu cuma Luna saja, ternyata dia juga," celetuk Tegar menunjuk ke arah Gagah sambil tertawa lebar.
Airin yang menyadari saat ini sedang menjadi pusat perhatian langsung menoleh ke arah suaminya juga orang yang ada di sekeliling meja makan.
"Tumben sekali kamu menyuapi Gagah, Rin?" Widya pun merasa apa yang dilakukan Airin sangat lucu namun romantis.
"Jangan-jangan itu bawaan jabang bayi, Rin." Putri menimpali sambil terkekeh.
Gagah langsung memperhatikan Airin dengan serius saat mendengar soal jabang bayi yang disebut Putri.
"Aku ... aku tidak tahu, Mas. Aku belum periksa," jawab Airin. Dia melihat Gagah begitu bersemangat mengira dirinya hamil, hal itu justru membuatnya takut mengecewakan Gagah jika itu tak terbukti benar.
"Nanti Mama suruh Junah beli testpack di apotik, biar besok pagi bisa kamu coba. Kalau pagi pasti lebih akurat." Widya berinisiatif membelikan alat pengecek kehamilan untuk Airin agar cepat ketahuan hamil atau tidak.
"Iya, Ma." sahut Airin. Dia sangat malu dan cemas, sebab sikapnya tadi sudah membuat semua orang mengharapkan kabar bahagia darinya.
"Luna mau punya adik, nih." Ayuning menatap Luna yang tak terpengaruh dengan obrolan orang-orang dewasa si sekitarnya. Dia terlihat asyik menyantap buah melon dan pepaya di piringnya.
Airin menoleh ke arah Luna, dia bahkan tak menyuapi anaknya sendiri, tapi dia justru menyuapi suaminya. Apakah benar itu pertanda jika dirinya sedang hamil? Alangkah senangnya Luna jika tahu akan mempunyai adik.
"Luna mau adik bayi tidak?" Kini justru acara makan malam lebih banyak membahas soal kemungkinan Airin hamil.
"Mau, Bude." Luna menjawab pertanyaan Ayuning.
"Luna harus berdoa agar adik bayinya sudah ada di perut Mama," lanjut Ayuning.
"Pelut Mama ada adik bayinya? Mana, Ma?" Luna justru bertanya polos memperhatikan perut Airin, membuat orang yang bekunpul di sana tertawa.
"Ternyata tokcer juga punyamu, Gah. Hahaha ..." Tegar terbahak meledek Gagah, membuat orang-orang dewasa di sana menatap tajam ke arah Tegar.
"Tegar, tolong jaga bicaramu! Jangan biasakan anak-anak mendengar semua leluconmu itu!" Bagus yang sejak tadi mendengarkan percakapan orang tua, adik juga istrinya kini ikut menegur Tegar yang selalu membuat gaduh suasana.
"Bagus benar, jangan racuni anak-anak dengan kalimat yang belum waktunya mereka pahami, Tegar!" Prasetyo pun bersikap tegas ikut menegur Tegar.
"Iya, nih! Mas Tegar iseng banget! Bikin malu saja!" Tegar pun tak luput omelan Putri.
"Apa sebaiknya kamu periksa ke dokter kandungan sekarang, Airin?" Gagah tidak sabar ingin mendapat kepastian tentang kehamilan Airin hingga menyarankan untuk periksa secepatnya ke dokter kandungan.
"Nanti saja setelah dicek pakai testpack, Mas. Kalau hasilnya positif, nanti langsung ke dokter untuk periksa kandungan dan juga minta vitamin, lagipula ini sudah malam, pasti sudah tutup dokternya." Airin beralasan menolak, karena ia takut tidak hamil.
"Tidak ada salahnya periksa sekarang juga, Rin. Nanti Mama suruh dokter kandungan kenalan Mama untuk datang ke sini." Widya sependapat dengan Gagah untuk mengetahui Airin positif hamil atau tidak.
__ADS_1
"Nanti saja, Ma. Nanti dicek pakai testpack dulu saja, aku takut hasilnya negatif." Airin tetap menolak dan memberikan alasan kenapa dia tidak ingin diperiksa oleh dokter kandungan saat ini juga.
"Kalau gitu nanti Mama suruh Junah beli testpack yang paling bagus, biar hasilnya tidak salah." Sepertinya Widya dapat memaklumi kecemasan Airin, apalagi sebelumnya pun Airin mengatakan tidak ingin buru-buru menduga-duga, sebab takut hasilnya mengecewakan.
"Ya sudah, kita selesaikan makannya dulu, nanti lanjut mengobrolnya setelah selesai makan." Prasetyo mengajak istri, anak, menantu dan cucunya untuk melanjutkan makan malam mereka.
***
Dengan tangan kiri memegang botol su su menikmati su su formula, tangan kanan Luna meraba perut Airin yang berbaring di sebelahnya. Sepertinya ia mengingat apa yang diucapkan oleh Ayuning dan Putri tentang adik bayi, hingga ia terus saja memperhatikan perut Airin yang rata.
"Ma, adik bayi lagi apa di pelut Mama?" tanya Luna penasaran.
Kening Airin berkerut mendengar pertanyaan Luna. Tentu saja ia bingung akan menjawab apa karena ia sendiri tidak tahu apakah ia sedang hamil atau tidak. Mungkin jika ia memang positif hamil, ia akan bisa mengatakan jika calon adik Luna itu sedang tidur di perutnya.
"Adik bayinya lagi bobo ya, Ma?" tanya Luna kembali, karena Airin tak menjawab pertanyaannya tadi.
"Mama tidak tahu, Sayang. Sekarang Luna bobo saja, ya! Nanti kalau pagi Luna bangun, Mama kasih tahu adik bayinya sedang apa." Airin berpikir besok pagi sebelum Luna bangun ia sudah mendapatkan jawaban dari hasil testpack agar dia dapat menjawab pertanyaan Luna. Dan ia pun berharap hasil testpack nanti menggembirakan untuk keluarganya.
"Luna melem, Ma." Luna menyerahkan botol su sunya pada Airin, lalu memejamkan matanya dengan memeluk boneka Mona.
Airin tersenyum mendengar ucapan Luna. Dia pun menyuruh Luna membaca doa sebelum tidur lalu mengusap punggung Luna agar Luna cepat terlelap.
Lima belas menit kemudian Luna sudah terlelap dalam tidurnya.
"Selamat bobo, Sayang. Mimpi yang indah, ya." Airin kemudian menyelimuti Luna dan mengecup pipi Luna sebelum kembali ke kamar suaminya.
"Luna sudah tidur?" tanya Gagah yang baru saja masuk ke kamar setelah berbincang kembali dengan kakak-kakaknya.
"Sudah, Mas." jawab Luna.
"Ini alat untuk mengecek kehamilan kamu." Gagah menyerahkan testpack yang tadi ia dapat dari Widya.
"Terima kasih, Mas." Airin menerima testpack itu lalu menaruhnya di atas nakas dan akan ia pakai saat bangun tidur esok hari.
"Apa alat itu tidak bisa dipakai sekarang?" tanya Gagah saat melihat Airin menaruh alat itu, tidak langsung dipakai saat itu juga.
"Bisa saja, Mas. Tapi, kalau digunakan pagi hari setelah bangun hasil lebih akurat. Karena di waktu tersebut hormon HCG di dalam urine lebih tinggi, jadi kehamilan diharapkan akan lebih cepat terdeteksi oleh testpack ini." Airin menjelaskan kenapa ia akan menggunakan testpack itu besok pagi.
"Aku tidak sabar menunggu besok, berapa jam lagi kira-kira?" Gagah memeluk tubuh Airin dan menciumi wajah Airin menunjukkan rasa bahagia dengan kemungkinan kehamilan Airin.
Airin menyandarkan kepalanya di dada bidang Gagah, merasakan kenyamanan dalam pelukan sang suami. Namun tiba-tiba dia merasakan sesuatu.
"Kenapa pakai parfum ini lagi, sih, Mas? Tidak enak sekali baunya!" Airin melepas tubuhnya dari pelukan Gagah sambil menutup hidungnya karena saat itu ia merasakan aroma maskulin yang biasanya dia suka.
"Baunya tidak enak?" Gagah mengedus tubuhnya, "Bukannya kamu suka aroma ini? Sama seperti Luna?" tanya Gagah heran.
"Aroma itu bikin kepalaku pusing, Mas. Cepat ganti bajunya!" Airin menyuruh Gagah menukar pakaian.
"Aku pakai ini di tubuhku, ganti baju pun pasti aromanya masih sama, Airin." Gagah beralasan.
"Kalau begitu Mas mandi saja biar baunya hilang." Airin semakin aneh, bahkan menyuruh Gagah mandi.
"Kalau begitu Mas jangan dekat-dekat aku!" Airin bergegas menuju peraduan dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan bergelung selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, membuat Gagah kebingungan hingga geleng-geleng kepala. Namun, demi menyenangkan hati istri dan tidak dilarang tidur memeluk Airin, Gagah pun akhirnya beranjak ke arah kamar mandi.
*
*
*
.
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1