JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Boneka Untuk Luna


__ADS_3

Airin tidak cepat bergegas turun ke bawah menemui Gagah. Dia memilih bersiap untuk berangkat ke kantor. Mengganti seragamnya, merapihkan rias wajah dan rambutnya. Lalu menyampirkan jaket di lengannya dan tas di pundaknya. Setelah itu, barulah dia turun ke bawah sambil menuntun Luna hingga ke luar rumah.


"Airin, ini Gagah sudah dari tadi menunggu kamu." Ketika Airin sampai di teras, Tante Mira memberitahu soal kedatangan Gagah.


"Hai ..." sapa Gagah saat melihat Airin. Namun, tak ada balasan perkataan ataupun senyuman dari Airin.


Gagah lalu menatap ke arah Luna yang juga sedang memandangnya. Gagah berjalan mendekat ke arah Luna lalu duduk berjongkok di depan Luna.


"Halo, Luna." Gagah menyapa Luna. Namun, Luna justru ketakutan saat melihat Gagah menghampirinya. Bocah cilik itu bahkan bersembunyi di belakang Airin. Luna menang tidak mudah akrab dengan orang asing yang ditemuinya.


Gagah tak kaget melihat Luna yang terlihat takut kepadanya, karena dia sudah mengantisipasi hal tersebut.


"Om punya sesuatu untuk Luna. Sebentar, Om ambilkan dulu." Gagah kembali bangkit dan berlari kecil ke mobilnya yang masih terparkir di luar rumah Om Fajar.


Airin mengerutkan keningnya melihat apa yang dilakukan oleh Gagah. Dia menoleh ke arah Tante Mira yang hanya tersenyum merespon.


"Mama, Luna takut ..." Luna masih bersembunyi di belakang Airin dengan tangan mencengkram erat rok bawah Airin.


"Jangan takut Luna, Om Gagah baik, kok." Tante Mira mengusap kepala Luna, menenangkan Luna agar tidak takut terhadap Gagah dan mengatakan jika Gagah adalah sosok yang baik dan tidak akan menyakiti hati Luna.


Tak lama kemudian, Gagah sudah kembali di hadapan mereka dengan membawa sebuah boneka di tangannya.


"Ini untuk Luna." Gagah menyodorkan sebuah boneka pada Luna, berharap Luna mau membeli boneka pemberiannya. Karena saat ulang tahun keponakannya bulan lalu, keponakannya itu sangat senang saat dua beri kado boneka itu.



Wajah ketakutan Luna kini berubah menjadi sumringah saat Gagah menyodorkan boneka itu kepadanya.


"Bonekanya lucu, Ma." Luna menerima boneka pemberian dari Gagah dan menunjukkan kepada Airin. Seperti harapan Gagah, Luna terlihat senang dengan hadiah yang dia beri untuk Luna.


Gagah mengusap kepala Luna melihat bocah itu terlihat gembira dengan pemberiannya.


"Luna suka?" tanya Gagah karena Luna kini tak ketakutan lagi melihatnya.


"Iya, Om." Luna mengangguk seraya memperhatikan boneka lucu yang dipegangnya saat ini.


"Luna, ayo bilang apa dikasih boneka sama Om Gagah?" Tante Mira menyuruh Luna berucap terima kasih.


"Makacih, Om." Luna memeluk boneka pemberian Gagah.


Kening Airin berkerut melihat Luna yang dengan mudah menerima pemberian Gagah. Padahal, biasanya Luna sukar untuk menerima hadiah dari orang asing, meskipun pemberiannya itu berupa mainan yang disukai Luna.

__ADS_1


"Sebaiknya kita sarapan dulu, nanti keburu siang. Gagah ikut sarapan sekalian, yuk!" Tante Mira menawarkan Gagah sarapan bersama dengan keluarganya. Hal itu membuat Airim menoleh ke arah Tantenya. Nampaknya Airin keberatan Gagah ikut sarapan bersama keluarga Om nya itu.


"Tidak usah, Tante." Gagah menolak.


"Tidak apa-apa, sekalian saja sarapan. Kamu pasti belum sarapan juga, kan?" Tante Mira memaksa Gagah untuk ikut sarapan karena dia yakin, sepagi ini sudah datang ke rumahnya, Gagah pasti belum sempat sarapan.


"Maaf, jadi merepotkan Tante." Meskipun mulut Gagah menolak, dalam hati pria itu justru merasa senang karena disambut hangat keluarga Airin.


"Ayo, masuk!" Tante Mira mempersilahkan Gagah masuk ke dalam rumahnya.


"Iya, Tante." sahut Gagah tersenyum dan melirik ke arah Airin yang seketika memasang wajah memberengut dengan mulut mencebik.


Airin sudah pasti merasa tidak nyaman dengan keberadaan Gagah nanti di meja makan keluarga Om Fajar saat menikmati sarapan pagi bersama


***


"Maaf, sarapannya seadanya saja, Gagah " Ketika mereka sudah berkumpul dalam satu meja, Tante Mira menyampaikan permohonan maaf kepada Gagah karena tidak dapat menjamu Gagah dengan menu sarapan yang biasa disediakan di rumah Gagah, karena Tante Mira hanya membuat nasi goreng dengan dadar telor.


"Tidak masalah, Tante. Yang penting cukup membuat perut kenyang," jawab Gagah.


"Oh ya, Nak Gagah. Apa mengantar Airin ke kantor tidak merepotkan dan mengganggu rutinitas Nak Gagah ke kantor?" tanya Om Fajar. Mengingat Gagah menjabat sebagai CEO di perusahaan besar, ada rasa tak enak hati Om Fajar melihat Gagah sampai repot-repot mengantar Airin ke kantor.


"Kalau Mbak Airin diantar Om Gagah, lalu aku berangkat sekolah dengan siapa, dong? Bawa motor sendiri saja, ya, Pa?" Feby minta diijinkan membawa kendaraan sendiri ke sekolahannya.


"Kamu belum punya SIM, Feby. Papa tidak ijinkan kamu bawa motor sendiri." Om Fajar menolak, tak memberikan ijin.


"Nanti kamu ikut kami saja. Nanti kita berangkat antar kamu ke sekolah dulu." Gagah menjelaskan jika dia siap mengantar Feby ke sekolahnya.


"Wah, asyik diantar naik mobil mewah, auto jadi pusat perhatian teman-teman sekolah, dong!" Feby terlihat senang.


"Luna, ayo cepat makannya. Mama mau berangkat kerja." Sementara Airin sibuk antara sarapan untuknya sendiri dengan menyuapi Luna, karena Luna terlalu asyik dengan mainan barunya, sampai dia tidak fokus sarapan.


"Biar nanti Luna Tante saja yang menyuapi, Rin. Kamu habiskan saja sarapan kamu, nanti kamu terlambat." Tante Mira mengambil inisiatif bergantian menyuapi Luna.


"Luna, sini sama Nenek makannya." Tante Mira bangkit dari kursinya lalu mengambil piring nasi milik Luna, dan mengajak Luna makan di tempat yang berbeda agar Luna bisa leluasa bermain boneka barunya.


"Anak-anak selalu begitu. Jika dapat mainan baru, pasti heboh dengan mainannya." Om Fajar terkekeh menanggapi sikap Luna.


Setelah Luna dibawa oleh Tante Mira, mereka yang ada di meja makan melanjutkan sarapannya. Dan saat semua sudah menghabiskan sarapan pagi, Gagah dan Airin berpamitan kepada Tante dan juga Om nya untuk berangkat ke kantor sekaligus mengantar Feby ke sekolahan.


"Akhirnya merasakan juga naik mobil mewah." Feby kegirangan saat masuk ke dalam mobil Gagah.

__ADS_1


"Jangan norak kamu, By!" bisik Airin yang masuk dan duduk di samping Feby.


"Mbak kok' duduk di sini? Di depan sama Om Gagah, dong! Memangnya Om Gagah itu supir Mbak!?" Feby memprotes Airin yang ikut duduk di belakang bersamanya.


Airin mendelik ke arah Feby karena Feby justru menyuruhnya duduk berdampingan dengan Gagah. Sedangkan Gagah langsung melirik ke arah spion dengan senyum terkulum di bibirnya, karena dia berhasil membuat Airin tidak dapat kabur ke mana-mana. Gagah juga tidak segera menjalankan mobilnya, karena dia menunggu Airin pindah ke kursi depan.


"Kok' tidak jalan-jalan, Om? Nanti keburu kesiangan aku, nih!" Feby melirik ke arlojinya.


"Kalau kakak kamu tidak pindah ke depan, saya tidak akan menjalankan mobilnya." Gagah justru memberikan ancaman.


Airin kini melotot ke arah Gagah yang memanfaatkan situasi yang tidak berpihak kepadanya saat ini.


"Mbak, buruan pindah, deh! Mbak sih, tidak akan telat, aku yang nantinya terlambat." Feby mendorong tubuh Airin agar keluar dan pindah ke kursi depan.


"Ya ampun, Feby!" Dengan menggerutu akhirnya Airin terpaksa pindah ke kursi depan.


"Kita berangkat sekarang?" Setelah Airin memasang seat belt, Gagah mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Om Fajar.


"Siap, Om!" sahut Feby cepat.


"Kalau berangkat diantar, kalau pulang kamu dijemput siapa, Feb?" tanya Gagah yang mulai mengakrabkan diri dengan adik sepupu Airin.


"Naik ojek online, Om." jawab Feby.


"Jangan panggil Om, Feb. Kesannya saya ini tua sekali." Gagah protes, namun diakhiri dengan tawa kecil.


"Panggil siapa, dong? Mas? Terlalu mesra kalau aku panggil Mas. Yang cocok panggil Mas itu Mbak Airin." Feby meledek Airin yang sejak duduk di depan hanya diam tak bersuara.


Airin kini melirik ke belakang. Dia mulai merasa kesal dengan ulah Feby yang terlihat mendukung Gagah.


"Aku panggil Kak Gagah saja, gimana? Siapa tahu nantinya Kak Gagah jadi Kakak aku." Feby semakin gencar berkelakar. Namun, hal itu membuat Airin merasa tidak nyaman, karena adik sepupunya itu semakin bersemangat menggodanya. Seketika itu juga Airin merasa seisi jagat raya ini seakan berlawanan dengannya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2