
Airin mengintip ponselnya. Dia khawatir ada pesan masuk dari Gagah. Tarikan nafas lega langsung dilakukan Airin saat dia tidak mendapati pesan masuk ataupun panggilan tak terjawab dari Gagah, artinya dia aman makan siang hari ini.
"Rin, kita istirahat duluan, yuk!" Fany mengajak Airin untuk istirahat makan siang terlebih dahulu, karena dia melihat Susan dan Dini masih melayani nasabah.
"Mau makan di mana, Fan?" tanya Airin.
"Ayam panggang yang di tikungan itu saja, yuk!" Fany mengajak makan siang di rumah makan ayam panggang yang berjarak seratus meter dari Central Bank.
"Oh, oke, Fan." Airin merapihkan mejanya terlebih dahulu lalu memasukkan ponsel dan dompet ke saku blazernya
"Aku istirahat dulu ya, Din, San." Sebelum absensi, Airin berpamitan kepada kedua rekannya yang lain yang bertugas di customer service.
"Iya, Rin."
"Oke, Rin."
Susan dan Dini menjawab bersamaan.
Setelah absensi terlebih dahulu, Airin dan Fani pun keluar dari kantor mereka. Mereka memilih berjalan kaki karena jarak rumah makan yang dekat dengan Central Bank.
Saat sampai di rumah makan, Airin dan Fani langsung memesan makanan.
"Rin, aku boleh tanya, tidak?" Sambil menunggu pesanan siap, Fany dan Airin berbincang kecil, hingga akhirnya Fany ingin menanyakan sesuatu yang membuat hatinya penasaran.
"Apa?" Airin sedikit berdebar, dia takut jika Fany menanyakan soal orang yang mengantarnya pagi tadi.
"Aku perhatikan, kamu sudah tidak memakai cincin kawin kamu." Fany melirik jari manis Airin yang kosong, sudah tidak tersemat lagi cincin pernikahan di jari manis Airin. Padahal, sejak menikah, Airin selalu menggunakan cincin pernikahanannya itu di jari manisnya.
Airin sontak menutupi tangannya yang diperhatikan oleh Fany. Sejak dia memutuskan ingin berpisah, Airin memang sudah melepas cincin itu. Bahkan dia meninggalkannya di kamar rumah Rey.
"Apa kalian ada masalah?" Fany menerka-nerka.
Airin menarik nafas yang terasa sesak untuk dihirupnya. Jika membicarakan soal perceraiannya dengan Rey, pasti dia akan menjadi sentimentil dan akan menguras emosinya. Rasa sedih, kecewa dan marah bercampur aduk jika mengingat penyebab perceraian mereka.
"Aku sudah bercerai dengan Mas Rey, Fan." Airin akhirnya jujur mengakui nasib hubungan pernikahannya dengan Rey saat ini.
"Hahh??" Fany terbelalak dengan mulut ternganga mendengar perceraian Airin dengan Rey.
__ADS_1
Beberapa detik Fany terlihat syok mendengar kabar tersebut, hingga akhirnya dia kembali bertanya, "Kapan kalian cerai, Rin? Sumpah, aku kaget banget dengar berita itu." Fany mengenal sosok Rey, karena Rey sering mengantar dan menjemput Airin kerja. Dia melihat Airin dan Rey adalah pansangan yang romantis dan terlihat adem ayem rumah tangganya. Airin tidak pernah mengeluhkan soal masalah rumah tangganya, dibanding dengan teman-teman lainnya.
"Hampir empat bulan ini, Fan." lirih Airin.
"Ya ampun, kamu sudah bercerai empat bulan lalu, dan kamu tidak cerita sama aku, Rin?" Fany masih belum percaya dengan pendengarannya.
"Itu bukan kabar baik yang pantas untuk disampaikan, Fan." Airin beralasan.
"Memangnya kenapa kalian berpisah, Rin? Padahal kalian itu couple goals banget, lho." Fany menyanyangkan perpisahan Airin dengan Rey.
"Sudah tidak ada kecocokan di antara kami, Fan." Hawa panas sudah menye rang mata Airin hingga menimbulkan cairan bening yang mulai mengembun di bola matanya.
"Apa ada orang ketiga, Rin? Mas Rey selingkuh?" Fany semakin penasaran. "Sorry, kalau terkesan ingin tahu," lanjutnya. Fany merasa yakin jika Airin adalah tipe wanita setia.
"Iya." Suara Airin tercekat ditenggorokkan. Awalnya dia tidak ingin bercerita apa yang menyebabkan perceraiannya dengan Rey. Bagaimanapun juga Rey adalah Papa dari anaknya. Namun, sebagai wanita biasa, dia tidak tahan untuk terus menyembunyikan masalah yang dia hadapi. Apalagi air mata mulai menitik di pipinya.
Airin buru-buru menarik beberapa lembar tissue untuk menyeka air matanya, walaupun tissue yang dia pakai adalah tissue makan.
"Airin, sorry ..." Fany mengusap lengan Airin, dia merasa bersalah karena menanyakan hal tersebut kepada Airin.
"Tidak apa-apa, Fan." Airin mengibas-ngibas tangannya di depan matanya, agar tidak ada lagi air mata yang mengembun di bola matanya.
"Dia sudah melakukannya sejak awal pernikahan kami," ujar Airin kembali. Fany adalah salah satu rekan kerja yang paling dekat dengannya, sehingga Airin merasa tidak masalah curhat kepada Fany.
"Astaga! Tega banget dia melakukan itu, Rin!" geram Fany.
"Ya, memang sangat menyakitkan, Fan." lirih Airin kembali.
"Sekarang kamu tinggal di mana, Rin?" tanya Fany kembali.
"Sekarang ini aku tinggal di rumah Om aku. Adik Mamaku," jelas Airin.
"Luna bagaimana? Dia ikut siapa?" tanya Fany lagi.
"Luna ikut aku, Fan." sahut Airin.
"Berat banget pasti dia harus berpisah dengan Papanya." Selama ini Airin sering membagi moment kebersaman Rey bersama Luna di story aplikasi akun sosial medianya, sehingga Fany tahu jika Luna sangat dekat dengan Rey.
__ADS_1
"Iya, dia masih saja mencari keberadaan Papanya," sahut Airin kemudian.
"Kasihan Luna ..." Fany merasakan kasihan dengan nasib Luna yang menjadi korban perceraian kedua orang tuanya.
"Permisi ..." pelayan rumah makan itu datang menghampiri lalu menyuguhkan pesanan makanan Airin dan Fany. Sehingga mereka menghentikan perbincangan mereka berdua.
***
"Rin, kamu pulang dengan siapa?" tanya Fany, saat Airin memakai jaket di tubuhnya, ketika pekerjaan mereka selesai dan waktu kerja berakhir. Dia ingat jika Airin tidak membawa motor.
"Aku naik ojek online, Fan." sahut Airin menyampirkan tas di pundaknya.
"Ikut aku saja, yuk! Aku antar kamu pulang, sekalian biar tahu sekarang kamu tinggal di mana?" Fany menawarkan diri mengatar Airin pulang.
"Tidak usah, Fan. Nanti kamu telat pulang ke rumahnya." Airin menolak tawaran Fany.
"Tidak sampai tengah malam ini telatnya, Rin. Ayo, ikut aku saja, sekalian aku mau ketemu Luna, kangen aku sama anakmu itu." Fany merasa tidak keberatan mengantar Airin.
" Oke, deh. Thanks, Fan." Akhirnya Airin menerima tawaran Fany.
Airin dan Fany pun melakukan absensi seperti biasa ketika datang dan pulang dari kantor, juga saat waktu istirahat. Kemudian mereka pun keluar kantor dari arah samping, karena pintu utama sudah ditutup.
Airin dan Fany berjalan ke arah parkiran. Namun, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di samping mereka. Airin terbelalak saat melihat mobil Gagah yang kini berhenti di sebelahnya itu.
"Itu mobil yang tadi pagi antar kamu, Rin?" Fany masih mengenali mobil mewah yang dikendarai oleh Gagah.
Tak lama jendela pintu mobil terbuka hingga terlihatlah sosok pria berwajah tampan di belakang kemudi. Gagah lalu membuka pintu mobil untuk menyuruh Airin masuk ke dalam.
"Ayo, masuk! Saya antar kamu pulang," ucap Gagah kemudian.
Airin sontak melirik ke arah Fany yang tercengang melihat sosok pria yang menjemput Airin saat ini.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️