JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Persetujuan Bersama


__ADS_3

Airin merasakan sentuhan di kulit lehernya, hingga membuat dirinya menggeliat. Perlahan Airin membuka matanya dan mendapati Gagah sedang mencumbunya, menciumi ceruk leher mulusnya. Semalam Gagah sampai larut menyelesaikan pekerjaannya hingga membuat Airin terlelap terlebih dahulu, sehingga pria itu tidak dapat menuntaskan keinginannya untuk bercinta dengan Airin.


"Jam berapa, Mas?" tanya Airin dengan suara parau.


"Belum masuk waktu Shubuh," sahut Gagah tanpa menghentikan aktivitasnya menyapu kulit mulus di sekitar leher Airin.


"Semalam Mas selesai jam berapa? Maaf aku tertidur." Airin ingat dia tak sempat menunggu Gagah sampai menyelesaikan pekerjaannya.


Gagah tak menjawab pertanyaan Airin, pria itu justru semakin intens mencumbu Airin, bahkan kini makin mengeratkan pelukan di tubuh Airin dan menghujani wajah Airin dengan sentuhan bibirnya.


Airin tak menolak apa yang dilakukan Gagah kepadanya. Bahkan saat bibir Gagah menyentuh bibirnya, Airin pun menyambut dan membalas sentuhan hingga membuat bibir mereka saling bertautan.


Gagah merubah posisinya, kali ini tumbuh pria itu sudah berada di atas dan mengungkung tubuh Airin.


"Kita bisa melakukannya sebelum Shubuh, kan?" pinta Gagah.


Airin menganggukkan kepala dan melingkarkan tangan di tengkuk Gagah. Gagah pun mulai melakukan pemanasan sebelum mereka melakukan penyatuan untuk mencapai pelepasan di pagi hari menjelang Shubuh itu.


"Aku harap adik Luna secepatnya hadir di sini." Gagah mengecup perut rata Airin sebelum ia menjatuhkan tubuhnya di samping Airin untuk mengatur nafas setelah mereka mendapatkan pelepasan.


"Aamiin ..." sahut Airin dengan nafas tersengal. Airin lalu bangkit dari tidur dan mengambil pakaiannya yang tadi dilucuti oleh Gagah. Ia mengambil tissue dan memberikan kepada sang suami untuk membersihkan sisa percintaan mereka.


"Aku mandi duluan, Mas." Walau terasa lemas, Airin turun dari tempat tidurnya, hendak ke kamar mandi.


"Kita mandi bersama saja." Gagah pun langsung bangkit dari tempat tidur.


"Kalau Mas mau mandi, Mas saja dulu yang mandi, deh." Airin yakin mereka tidak akan bisa membersihkan tubuhnya jika mandi bersama, karena Gagah pasti akan memanfaatkan situasi untuk melakukan kein timan di dalam kamar mandi.


"Lho, kamu bilang kamu juga ingin mandi." Gagah menyeringai karena sang istri mengetahui modusnya.


"Mas saja duluan, aku siapkan air hangatnya." Airin buru-buru menolak, dan berjalan ke arah kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di bathtub. Namun, tindakan Airin tadi justru membuat dirinya masuk dalam perangkap Gagah.


Airin menolak mandi bersama suaminya, namun ia masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di dalam bathtub. Hal itu tidak disia-siakan oleh Gagah untuk mengurung sang istri di dalam kamar mandi. Gagah bergegas menyusul Airin dan segera mengunci pintu kamar mandi.


Airin terkesiap saat Gagah memeluknya dari belakang, apalagi Gagah tak mengenakan sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya.


"Mas ...!" pekik Airin kaget.


"Kita mandi sekarang?" bisik Gagah menggoda Airin.


"Mas, nanti keburu Shubuh." Airin menggeliat ingin melepaskan tubuhnya dari pelukan. Gagah.


"Sebentar saja, kita bersenang-senang di sini." Gagah meloloskan pakaian Airin dari kepala hingga Airin pun sama-sama tidak mengenakan penutup di tubuhnya.


"Ya ampun, Mas." Airin benar-benar tidak bisa menghindar apalagi lari dari tangan suaminya yang siap untuk memang sanya kembali, memberi kenikmatan di pagi hari.

__ADS_1


***


Gadis membuka pintu kamar orang tuanya. Dia merasa perlu membicarakan soal rencana jahat kedua adik tiri Papanya yang menginginkan perusahaan milik sang Papa dan juga jabatan yang saat ini diduduki oleh Gagah.


Gadis enggan bertukar pikiran dengan Florencia, karena kakaknya itu yang menyebabkan kesehatan Papanya sampai drop hingga akhirnya meninggal.


"Ma ..." Gadis menghampiri Farah yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Dia melihat Mamanya masih bersedih atas meninggalnya sang Papa. Wajah Farah pun terlihat nampak pucat.


Gadis menempelkan punggung tangan ke kening sang Mama. Suhu tubuh Mamanya ia rasakan lebih panas dari biasanya.


"Mama sakit?" Gadis merasa cemas melihat kondisi Farah.


"Mama hanya pusing saja, Gadis." lirih Farah dengan suara lemah.


"Gadis panggilkan dokter, ya, Ma?" Gadis segera mengambil ponsel di saku celana jeans-nya, dia ingin memanggil dokter keluarga untuk datang ke rumahnya dan memeriksa kondisi kesehatan Farah.


"Tidak usah, Gadis! Mama hanya pusing saja, nanti juga sembuh." Farah mencoba bangkit dari tidurnya.


"Mama harus minum obat kalau begitu. Gadis suruh bibi bawakan makan biar Mama bisa minum obat, ya?!" Gadis sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan Mamanya. Dia baru saja kehilangan sang Papa, tentu dia tak ingin sampai kehilangan Mamanya juga.


"Nanti saja, Gadis. Tolong ambilkan Mama minum saja." Farah meminta Gadis mengambilkan air mineral di atas nakas.


Gadis segera mengambil air mineral dan menyerahkan kepada Mamanya.


"Apa kakakmu masih mengunci diri di kamarnya, Gadis?" tanya Farah setelah menengguk air mineral.


Gadis lalu duduk di tepi tempat tidur Farah. Sebenarnya ia ingin membicarakan soal Dicky dan Romi pada Mamanya. Ia ingin mengadukan kelakuan dan niat buruk mereka kepada sang Mama. Namun, melihat kondisi Mamanya saat ini, rasanya ia tidak sampai hati menceritakan apa yang ia dengar semalam pada Farah.


"Ada apa, Gadis? Apa ada yang ingin kamu bicarakan dengan Mama?" Namun, Farah seperti merasakan ada yang ingin disampaikan Gadis kepadanya.


"Apa Mama akan tetap mempertahankan Kak Gagah di perusahaan Papa?" Akhirnya Gadis menyampaikan apa yang ingin dibicarakan pada Mamanya.


"Kenapa memangnya, Gadis?" Farah menatap curiga dengan pertanyaan Gadis.


"Aku tidak rela kalau perusahaan Papa jatuh ke Om Dicky atau Om Romi, Ma." Gadis menentang jika perusahaan milik Papanya dikuasai oleh kedua adik tiri Papanya.


Farah mendesah. Ia pun tahu bagaimana sikap kedua adik iparnya itu. Ketika suaminya masih segar bugar saja, Dicky dan Romi selalu meminta agar Bintang memperkerjakan mereka di Bintang Departement Store. Apalagi saat ini suaminya telah tiada, sudah pasti kedua adik tiri suaminya itu semakin gencar ingin menguasai perusahaan Bintang.


"Mama harap juga seperti itu, Gadis." Sebenarnya Farah tidak ingin membahas soal perusahaan untuk saat ini. Karena ia masih dalam suasana berkabung. Tapi mengingat kedua adik iparnya begitu ingin menguasai perusahaan milik sang suami membuat dirinya mau tidak mau mengambil keputusan sesuai keinginan dan juga amanat dari sang suami agar Gagah tetap bertahan di perusahaan tersebut.


"Aku akan ke kantor BDS siang ini, Ma. Aku ingin bicara dengan Kak Gagah. Aku ingin Kak Gagah mau membantu kita dan terus mengelola perusahaan milik Papa," tekad Gadis, pikiran gadis belia berusia tujuh belas tahun itu lebih matang dan dewasa ketimbang Florencia.


"Kamu akan menemui Gagah?" Farah terkesiap mengetahui putrinya itu sangat memperdulikan perusahaan milik Bintang.


"Iya, Ma. Aku harus bertindak cepat jika tidak ... aku takut Om Dicky dan Om Romi sudah mempersiapkan rencana mereka untuk menguasai harta Papa," jelas Gadis.

__ADS_1


"Mama sebenarnya ingin ikut, Gadis. Mama harus bicara dengan Gagah untuk menyampaikan apa yang Papa kamu inginkan dari Gagah." Farah sedang berduka, tidak mungkin ia berpergian sementara suaminya baru kemarin meninggal.


"Papa ingin bicara apa sebenarnya, Ma?" tanya Gadis penasaran dengan pesan yang ingin disampaikan Papanya kepada Gagah.


"Papa ingin Gagah tetap menggelola BDS, dan membimbing kamu dan kakakmu soal pekerjaan di sana. Papa khawatir Om-Om kamu itu akan menguasai BDS dengan mengatasnamakan kalian sebagai pewaris Papa." Farah menerangkan apa yang belum sempat disampaikan Bintang kepada Gagah.


"Kak Flo? Apa Mama yakin itu tidak berbahaya, Ma? Kak Flo 'kan suka Kak Gagah, nanti bisa runyam kalau Kak Flo ikut mengurus. Bisa jadi Kak Gagah malah justru resign kalau Kak Flo di BDS." Gadis memutar bola matanya merasa tidak yakin Florencia tidak akan membuat huru-hara di sana.


Farah mendengus, dia juga sangat merasa tidak yakin dengan putrinya yang satu itu. Florencia sangat keras kepala dan bersikap kekanakan, berbeda dengan Gadis yang lebih mudah diajak bertukar pikiran dan berpikir lebih dewasa.


***


Setelah Prasetyo dan Gagah berangkat beraktivitas ke kantor masing-masing, Widya kembali berbincang dengan Airin untuk menanyakan, apakah Airin sudah membujuk Gagah untuk resign dari Bintang Departement Store.


Widya masuk ke dalam kamar Luna, sebab Airin sedang mengajari Luna belajar mengenal huruf dan angka. Setelah resign dari pekerjaannya di Central Bank, Airin memang banyak mengajari Luna membaca dan menulis, karena Airin belum memutuskan untuk menyekolahkan Luna di fullday school seperti yang pernah ditawarkan oleh Gagah.


"Luna sedang apa?" tanya Widya mendekat ke arah Luna dan Airin.


"Sedang belajal, Nek." sahut Luna memperlihatkan hasil tulisannya di buku.


"Wah, pintar cucu Nenek." Widya duduk di samping Luna seraya mengusap kepala Luna. Lalu ia menoleh ke arah Airin. "Kamu sudah bicara dengan Gagah, Rin?" tanyanya kemudian.


Airin mendesah, karena ia tidak dapat mempengaruhi suaminya untuk resign dari perusahaan milik Bintang Gumilang.


"Sudah, Ma. Tapi ..." Airin menjeda kalimatnya. Sebenarnya ia tidak enak hati karena tidak dapat memenuhi keinginan sang Mama mertua.


"Tapi?" tanya Widya karena Airin tak segera melanjutkan kalimatnya.


"Mas Gagah belum memutuskan akan resign atau tidak, sebab harus mengadakan rapat terlebih dahulu dan menunggu hasil rapat itu, Ma." ucap Airin menjelaskan.


"Ck, kenapa Gagah mengambil resiko itu, sih!? Apa susahnya resign? Dia 'kan punya hak untuk mengundurkan diri. Dia juga tidak punya kewajiban untuk terus bertahan di sana." Widya kecewa dengan keputusan yang diambil oleh putranya. Widya tentu sangat mengkhawatirkan putranya. Dia tidak ingin putranya terjebak dengan kegilaan kedua adik tiri Bintang, dan juga ambisi Florencia yang ingin memiliki Gagah.


"Mas Gagah bilang sudah berdiskusi dengan Papa dan Papa mendukung keputusan Mas Gagah, Ma." Bukan bermaksud mengadu, namun Airin ingin menjelaskan jika sang suami memutuskan hal tersebut atas persetujuan bersama antara Gagah dengan Prasetyo.


"Papa menyetujui keputusan Gagah?" Widya terperanjat mendengar penjelasan Airin, "Papa ini gimana, sih? Bukannya menasehati anaknya biar selamat dari orang jahat malah menjerumuskan Gagah." Sudah jelas Widya menentang tindakan sang suami.


Airin merasa tak enak hati karena apa yang dikatakannya malah membuat Widya menyalahkan Prasetyo. Tentu Airin tidak ingin mertuanya itu saling bertengkar karena pengaduannya tadi.


"Hmmm, maaf, Ma. Aku tidak bermaksud mengadu," sesal Airin, "Tapi Mas Gagah bilang Mas Gagah dan Papa sudah berdiskusi. Mama jangan menyalahkan Papa juga." Airin meminta Widya tidak marah pada Prasetyo, apalagi kalau sampai terjadi pertengkaran antara Papa dan Mama mertuanya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2