JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Siap Menemani Luna bermain


__ADS_3

Dewi masih sibuk dengan anggapannya sendiri. Dan menduga jika Luna adalah anak Gagah di luar nikah, hanya karena pernikahan bersama Airin dilakukan secara tertutup oleh bosnya itu. Baginya, aneh saja seorang direktur ternama seperti Gagah harus menikah secara sembunyi-sembunyi dan tidak diketahui oleh para karyawannya.


"Luna ini anak Airin, anak sambung saya, Wi." Seakan tahu jika Dewi bingung akan ucapannya, Gagah memperjelas kalimatnya.


Namun, justru penjelasan Gagah membuat Dewi semakin terkejut. Jika Luna adalah anak sambung Gagah, artinya bosnya itu menikah dengan seorang janda beranak satu. Keheranan pun semakin menyelimuti hati Dewi. Menurutnya, sebagai seorang pria, Gagah bisa dibilang mendekati sempurna. Mempunyai wajah tampan, dan karir yang mapan sebagai seorang CEO di usia yang sangat muda. Seharusnya Gagah bisa mendapatkan istri yang lebih dari Airin dan masih berstatus gadis. Tapi, kenapa justru Gagah memilih Airin? Itu yang membuat Dewi tak habis pikir.


"Oh ya, berkas yang mesti saya tanda tangani ada di mana, Wi? Tolong taruh di meja saya." Ucapan Gagah membuat Dewi terkesiap karena ia masih memikirkan soal pernikahan rahasia bosnya itu.


"Oh, semua berkas sudah saya letakan di meja Bapak," jawab Dewi.


"Oke, kamu boleh kembali ke mejamu." Gagah menyuruh Dewi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Baik, Pak. Permisi ..." Dewi berpamitan. Matanya sempat mencuri pandang ke arah Airin dengan penuh tanda tanya.


"Aku kok' merasa pernah lihat istri Pak Gagah itu, ya. Tapi, di mana?" Dewi makin penasaran dengan sosok Airin.


Sementara di dalam ruangan kerja Gagah sepeninggal Dewi.


"Duduklah dulu, saya mau menandatangani arsip sebentar." Gagah menyuruh Airin duduk di sofa sementara ia menandatangi beberapa dokumen yang harus diselesaikan hari ini.


Jika normalnya seorang istri yang diduakan dengan pekerjaannya oleh sang suami saat bulan madu akan merasa kesal, Airin justru sebaliknya. Ia merasa senang, karena dengan kesibukan Gagah, dia merasa terselamatkan dan tidak dibuat repot dengan permintaan Gagah yang berhubungan dengan hal-hal in tim.


"Luna pelna ke sini cama Nenek." Luna yang duduk di samping Airin berceloteh menceritakan kepada s,ang Mama tentang pengalamannya saat diajak pertama kali oleh Tante Mira dan Widya ke kantor Gagah beberapa waktu lalu.


"Luna pernah ke sini? Sama siapa?" tanya Airin terkejut mendengar cerita Luna.


"Cama Nenek," sahut Luna.


"Nenek siapa?" Airin mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak tahu siapa yang membawa Luna ke kantor Gagah dan kapan hal itu terjadi.


"Dulu Luna pernah dibawa Mama dan Tante Mira kemari." Gagah menjelaskan kepada Airin siapa yang membawa Luna ke kantornya kala itu.


"Kapan, Mas?" tanya Airin,


"Sebelum kita ke Jogya pertama kali. Awalnya saya bilang ke Tante Mira ingin melamar kamu. Tapi atas rembukan Tante Mira dan Mama, akhirnya didapat kesepakat kita pergi ke Jogya waktu itu." Gagah menjelaskan agar Airin tugas bingung. Pria itu kembali menghampiri Airin setelah selesai menandatangi dokumen penting.


"Papa, ayo main pelosotan," ajak Luna. Sebelumnya Gagah menjanjikan akan membawa bocah kecil itu bermainan di arena permainan anak yang ada di mall nya.


"Luna, Papa sedang bekerja. Jangan diganggu." Tanpa disadari, Airin menyebut Papa pada Gagah. Menandakan jika dia sudah mengikhlaskan panggilan Papa pada Gagah untuk anaknya .


Terkulum senyuman di bibir Gagah mendengar ucapan Airin. Sebutan Papa yang diucapkan Airin kepadanya seketika membuat hatinya menghangat.


"Luna ingin bermain sekarang?" tanya Gagah duduk di samping Luna dengan membelai kepala bocah itu dengan penuh kelembutan.


"Iya, Pa." Luna mengangguk.


"Luna, jangan ganggu Papa kerja!" Airin kembali menasehati anaknya agar tidak mengganggu Gagah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Saya sudah menandatangani semua dokumennya." Gagah bangkit kembali, lalu mengulurkan tangannya pada Luna. "Ayo, Luna." Gagah mengajak Luna.


"Kalau kamu masih lelah, sebaiknya kamu istirahat saja dulu di kamar itu." Gagah menunjuk ruangan khusus yang ada di belakang rak besar di belakang meja Gagah. Bangungan itu terpisah dengan ruangan kerja Gagah, namun akses pintu keluar masuk kamar itu berada di dalam ruangan Gagah.


"Tidak usah, Mas. Saya tidak apa-apa." Airin menolak diminta Gagah untuk beristirahat, padahal sejujutrnya ia memang kelelahan dan membutuhkan istirahat yang cukup. Karena ia yakin, malam nanti, ia pasti akan 'dijajah' kembali oleh sang suami.


"Jangan membantah perintah suami. Kamu harus istirahat, karena kamu harus fit untuk nanti malam." Benar saja dugaan Airin, Gagah pasti tidak akan membiarkannya istirahat dengan tenang nanti malam. Gagah lalu melingkarkan tangannya di pundak Airin, dan membawa Airin ke kamar istirahat.


"Kamu tidurlah yang tenang di sini. Saya akan menjaga Luna." Gagah menyusun bantal dan menyuruh Airin membaringkan tubuhnya. Lalu ia mengatur suhu udara di ruangan itu agar Airin dapat istirahat dengan nyaman.


"Kok, Mama bobo lagi, Pa? Luna mau main pelosotan, Pa." Luna heran Mamanya malah berbaring padahal dirinya ingin bermain.


"Nanti Papa yang akan menemani Luna bermain. Mama Airin harus istirahat, supaya Luna bisa cepat dapat dedek bayinya." Gagah memberi alasan kenapa membiarkan Airin beristirahat.


"Luna mau di cini aja temani Mama bial dedek bayinya cepat datang, Pa." Luna tidak mengerti, bagaimana adik bayi yang dijanjikan oleh Gagah itu bisa datang, sehingga bocah itu menganggap jika dia menemani Mamanya, adik bayi yang diinginkannya akan cepat datang.


Gagah dan Airin saling berpandangan mendengar keinginan Luna. Gagah bahkan langsung mengusap tengkuknya mendengar keluguan putri sambungnya.


"Mama butuh istirahat, Luna. Mama butuh untuk tidur. Kalau Luna di sini, nanti Mama Airin tidak bisa tidur. Luna ikut Papa saja, katanya Luna mau main perosotan." Gagah membujuk Luna agar mau ikut dengannya ke arena permainan anak.


"Iya Pak. Luna mau main mandi bola juga, Pa." sahut Luna.


"Nanti pintu kamar saya kunci dari luar. Saya tinggal satu kuncinya di atas nakas. Kamu telepon saya saja jika kamu sudah bangun." Gagah lalu menyelimuti Airin dan memberikan kecupan singkat di kening istrinya itu. Setelah Airin menjawab dengan anggukkan kepalanya, Gagah dan Luna pun meninggalkan Airin.


Airin menyibak selimut dan bangkit dari tempat tidur. Dia ingin melihat ruangan kamar di kantor suaminya itu.


Airin membuka lemari pakaian di samping tempat tidur. Dia melihat beberapa kemeja, celana panjang, blazer serta dasi, juga beberapa handuk bersih yang semuanya tersusun rapih. Ada juga sajadah di dalam lemari itu, menandakan jika Gagah termasuk pria yang tidak melupakan kewajiban terhadap Sang Penciptanya.


Airin kemudian duduk di tepi tempat tidur dengan mengedar pandangan ke setiap sudut ruangan. Ruang kerja dan ruang kamar istirahat yang sangat nyaman. Pasti akan menyenangkan dan betah mempunyai ruangan kerja seperti milik suaminya itu.


"Jadi, seperti ini menjadi istri CEO?" Tak terasa senyuman terkulum di sudut bibir Airin, membayangkan betapa menyenangkannya menjadi istri seorang bos. Tidak perlu bekerja, hanya fokus melayani suami dan menikmati fasilitas mewah sang suami.


"Astaghfirullahal adzim! Kenapa aku berpikir seperti itu?" Airin mengerjapkan matanya. Karena merasa terlena dengan fasilitas kemewahan milik suaminya itu. Airin sadar, dia harus bisa membawa diri. Saat ini dia masuk ke dalam anggota keluarga besar Prasetyo. Keluarga terpandang dengan status sosial yang masuk dalam kalangan orang-orang elit.


Airin, tentu tidak ingin anggapan Tante Jehan tentangnya itu benar. Jika dia hanya memanfaatkan kekayaan Gagah. Dia tidak merasa silau dengan harta dan jabatan yang didapat oleh Gagah. Dia menikah pun karena Gagah terus mendesaknya. Jika Gagah tidak mendesak, mungkin saat ini Airin masih tetap berstatus janda.


***


Gagah bergandengan tangan dengan Luna ke arena permainan anak. Dikarenakan hari ini adalah hari senin, mall itu tidak seramai seperti weekend.


Luna pun terlihat sangat antusias melangkah menuju arena permainan anak. Walaupun langkah Luna tak selebar langkah Gagah dan harus beberapa kali berlari untuk menyeimbangi langkah Gagah.


Saat Gagah hendak menuju tempat permainan anak yang berada di lantai tiga Gagah melewati hall yang digunakan untuk pemeran otomotif yang baru dibuka akhir Minggu lalu.


Gagah menyempatkan diri mampir ke salah satu stand untuk memantau pameran otomotif yang diselenggarakan di mall yang ia pimpin.


Saat itu, seorang pria memperhatikan Gagah yang bergandengan tangan dengan Luna. Pria itu tak lain adalah Rey. Perusahaannya yang menyelenggarakan pemeran itu, membuat Rey harus sering hadir di sana.

__ADS_1


Rey merasa heran dengan keberadaan Luna bersama Gagah, karena hari ini adalah hari kerja. Dia pun mengedar pandangan mencari keberadaan Airin, namun tak ia jumpai mantan istrinya itu bersama Gagah dan Luna.


Merasa penasaran dengan kehadiran Luna, apalagi dia merasa jika Luna adalah darah dagingnya, Rey segera mendekat ke arah Gagah yang sedang berbincang dengan seseorang.


"Selamat siang, Pak Gagah." Rey menyapa Gagah, "Luna ..." Lalu Rey menyapa putrinya.


"Papa ..." Tangan Luna melepas tautannya dengan jari-jari besar Gagah lalu memeluk Rey yang membungkukkan tubuhnya hingga berhasil menggendong putrinya.


"Pak Rey?" Gagah hampir melupakan jika Rey bekerja di perusahaan otomotif yang menyelenggarakan pemeran tersebut.


"Luna kenapa bisa dengan Pak Gagah?" Bukannya Rey melupakan ucapan Gagah yang menyebutkan jika Gagah dan Airin akan menikah. Namun, dia masih merasa heran, bagaimana Luna bisa sampai di mall itu tanpa kehadiran Airin.


"Di mana Mamanya Luna, Pak Gagah?" tanya Rey penasaran soal keberadaan Airin.


Gagah menarik sudut bibirnya hingga membentuk satu lengkungan tipis. Dia sudah mendengar alasan perceraian Airin dan Rey. Dia pun sangat mengutuk perbuatan Rey yang berselingkuh di belakang Airin, apalagi sudah dilakukan bertahun-tahun semenjak awal pernikahan mereka.


"Airin sedang istirahat di kamar saya." Gagah sengaja menyebutkan jika Airin berada di kamarnya agar membuat hati Rey terbakar.


"Sepertinya Airin sedang kelelahan, karena semalam kami melakukan aktivitas malam pertama kami sebagai pengantin baru, Pak Rey" Seringai tipis kembali terlihat di sudut bibir Gagah mengibaratkan jika dirinya telah memberikan pu kulan keras pada Rey.


Rey terperanjat mendengar Gagah menyebutkan soal malam pertama. Tentu Rey tahu arti kata yang diucapkan Gagah itu.


"M-maksud Pak Gagah, Pak Gagah dan Airin sudah menikah?" Rey masih tak percaya Gagah dan Airin benar-benar menikah begitu cepat.


"Benar, Pak Rey. Kami baru saja menikah kemarin." Gagah sengaja memamerkan pernikahannya pada Rey.


Seakan dihan tam palu godam hati Rey mendengar kepastian soal pernikahan mantan istrinya dengan Gagah. Sejujurnya, dia tidak ingin berpisah dari Airin. Jika saja Airin mau memaafkan dirinya, ia ingin bisa kembali dengan mantan istrinya itu. Tapi, semua itu saat ini telah terlambat. Apalagi pria yang menjadi suami Airin bukanlah pria biasa-biasa saja.


"Papa, Luna mau main pelosotan cama mandi bola." Luna memberitahu Papanya jika dirinya akan bermain di arena permainan anak.


"Luna mau main mandi bola? Tapi, sekarang ini Papa sedang kerja, Sayang. Nanti saja kalau Papa libur, ya!?" Rey tentu tidak bisa seperti Gagah, yang bisa pergi di luar waktu istirahat. Saat bertemu Airin Jumat kemarin saja, Rey menggunakan waktu istirahat sampai dia mengorbankan waktu sholat Jumat demi mengantar Joice ke salon.


"Luna mau main pelosotan cama Papa Gagah, Pa." Ucapan Luna menepis anggapan Rey yang menduga Luna ingin bermain dengannya.


Hati Rey seakan mencelos mendengar penjelasan Luna jika anaknya itu tidak menginginkan bermain dengannya melainkan dengan Gagah. Apalagi saat Luna menyebut Gagah dengan panggilan Papa.


Kecemburuan Rey terhadap Gagah semakin menguat. Bukan hanya karena pria itu sudah berhasil memiliki Airin, yang sebenarnya masih dia cintai. Tapi juga karena Gagah sudah berhasil menarik perhatian Luna.


"Ayo Luna, Papa antar Luna ke tempat permainan." Gagah merentangkan tangan kepada Luna yang langsung disambut oleh Luna, hingga tubuh bocah itu sudah berganti tempat.


"Jika Pak Rey memang sibuk dan tidak ada waktu untuk menemani Luna, Anda tidak usah risau, Pak. Karena saya siap untuk menemani Luna bermain." Gagah tersenyum dengan kemenangan. Membuat Rey semakin gigit jari sementara hatinya merasa kesal dengan kedekatan Gagah dengan Luna


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2