JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Berhenti Bekerja


__ADS_3

Ddrrtt ddrrtt


Airin menoleh ponsel Gagah yang ditaruh di atas nakas. Sementara suaminya itu sedang berada di kamar mandi. Airin ingin menerima panggilan telepon itu, tapi ia takut untuk mengangkatnya.


Ddrrtt ddrrtt


Suara panggilan telepon itu kembali terdengar dari ponsel Gagah, memaksa Airin untuk bangkit dan mendekat untuk melihat siapa yang menghubungi Gagah.


"Mama mau ke mana?" tanya Luna, melihat Airin bangkit saat sedang menemaninya menonton televisi di kamar Gagah.


"HP Papa bunyi, Mama mau lihat dulu siapa yang telepon Papa." Airin menjelaskan pada Luna, Airin meraih ponsel Gagah hingga terlihat nama Florencia yang nampak di layar ponsel suaminya


Airin mengerutkan keningnya melihat nama seorang wanita yang muncul di ponsel Gagah. Matanya kini melirik ke kamar mandi, lalu berjalan ke sana untuk memberitahu Gagah soal telepon tersebut.


Tok tok tok


"Mas, HP nya bunyi!" Dengan sedikit berteriak, Airin memberitahu sang suami.


"Tolong angkat saja dulu. Bilang nanti saya akan hubungi balik." Suara Gagah terdengar menjawab ucapan Airin.


Mendapat persetujuan dari sang suami, Airin pun akhirnya mengangkat panggilan telepon yang kembali berbunyi.


"Halo, Kak. Aku ada di Jakarta sekarang. Kak Gagah apa kabar? Aku kangen ingin ketemu, apa kita bisa bertemu malam ini, Kak?" Suara manja seorang wanita langsung terdengar saat Airin mengangkat panggilan di ponsel Gagah.


Airin membuatkan bola matanya saat wanita di seberang mengatakan kangen dan ingin bertemu dengan Gagah. Siapa wanita itu? Kenapa dia bilang kangen pada Gagah? Apakah wanita itu adalah mantan kekasih Gagah? Baru saja dia ingin tahu tentang kisah cinta masa lalu Gagah, kini semua itu seolah terjawab dengan telepon masuk dari seseorang wanita bernama Florencia.


"Hmmm, maaf, Mas Gagah sedang di kamar mandi," Terasa tercekat di tenggorokan suara Airin. Jujur saja, dia merasa tak nyaman dengan kehadiran Florencia, meskipun dia tidak tahu siapa wanita itu, dan apa hubungan wanita itu dengan Gagah.


"Ini siapa?" Suara Florencia terdengar kaget mendengar suara wanita yang menjawab panggilan teleponnya.


"Hmmm, saya ..." Airin ragu ingin menyebut dirinya adalah istri Gagah. Apalagi pernikahannya dengan Gagah masih belum diketahui banyak orang.


"Siapa yang telepon?" Suara Gagah dari arah kamar mandi membuat Airin menolehkan pandangan pada suaminya itu.


"Sebentar, Mbak." jawab Airin pada Florencia, lalu ia menyerahkan ponsel Gagah pada pemiliknya.


Gagah mengerutkan keningnya saat melihat teleponnya sedang tersambung dengan Florencia. Dia lalu melirik ke arah Airin yang seketika itu langsung mematikan televisi dan menggendong Luna masuk ke dalam kamar Luna.


"Halo?" ucap Gagah mendekatkan benda pipih ke telinganya.


"Halo, Kak Gagah. Kak Gagah ada di mana? Siapa perempuan tadi?" tanya Florencia penuh selidik.


"Tadi itu ..." Gagah menjeda kalimatnya. Dia tahu jika sejak masih remaja, Florencia mempunyai rasa suka terhadap dirinya.


"Yang tadi mengangkat telepon kamu itu istri saya, namanya Airin." Gagah jujur mengatakan siapa Airin pada Florencia. Ia pun menyadari jika pengakuannya ini akan membuat Florencia merasakan kecewa.


"Hahh? Apa?? Kak Gagah jangan bercanda, deh, ya! Istri dari mana? Kapan Kak Gagah nikahnya?" Florencia terkejut dan tidak percaya dengan pengakuan Gagah soal Airin.


"Apa saya pernah bohong sama kamu, Flo?" Gagah mengerti, tidak akan mudah bagi Florencia untuk menerima kabar pernikahannya.


"Kenapa Kak Gagah menikah? Bukankah aku pernah bilang ke Kak Gagah, kalau aku mau jadi istri Kak Gagah?" Nada kecewa terdengar dari ucapan Florencia.


"Flo, kamu ini masih muda. Kamu masih harus menyelesaikan kuliahmu." Gagah memberi pengertian kepada Florencia.


"Kak Gagah jahat! tut ... tut ... tut ..." Florencia memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Gagah memperhatikan ponselnya, lalu menaruh kembali ponselnya di atas nakas. Dia mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh Airin di tepi tempat tidur. Setelah memakai pakaian dan menyisir rambutnya dengan rapih ia menghampiri kamar Luna, karena dia melihat reaksi Airin yang terlihat tidak santai setelah menerima panggilan telepon masuk dari Florencia di ponselnya.


Dilihatnya Airin sedang duduk di permadani memperhatikan Luna bermain di playground. Dia merasakan jika telepon masuk dari Florencia sedikit mengganggu pikiran Airin. Segera ia mendekat dan duduk di samping sang istri yang sedang melamun.


"Apa yang dikatakan Flo tadi?" tanya Gagah, membuat Airin terkesiap.


"Tidak ada." Airin mengedikkan bahunya, ia malas membahas soal wanita itu.


Tangan Gagah merengkuh punggung Airin dan merebahkan kepala Airin untuk bersandar di bahu kekarnya.

__ADS_1


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Flo itu anak pemilik perusahaan tempat saya bekerja. Saya sudah menganggap dia seperti adik saya sendiri." Seakan tahu yang dipikirkan Airin, Gagah langsung mengklarifikasi agar Airin tidak bermain-main dengan prasangka buruk tentang dirinya.


"Saya tidak memikirkan hal itu." Airin berkilah, menyangkal kecemasan yang saat ini sedang melandanya.


"Kamu tidak perlu khawatiran, saya sudah berjanji di depan penghulu, di hadapan orang tua kamu dan semua saksi, juga di hadapan Tuhan, kalau saya tidak akan menyakiti hati kamu, apalagi berselingkuh dengan wanita lain." Tangan Gagah menyentuh dagu Airin dan mengarahkan agar pandangan mata wanita itu terarah pada dirinya.


"Saat saya menikahi kamu, tempat di hati saya ini kosong, tidak ada satu wanita pun di hati saya. Dan kamulah yang sudah berada di sini sekarang ini dan selamanya." Gagah mengambil tangan tangan Airin lalu mendekatkan ke dadanya. Ia mencoba meyakinkan Airin. Baginya, Florencia hanyalah kerikil kecil yang tidak perlu dia cemaskan akan mempengaruhi rumah tangga yang baru saja dibangun dengan Airin.


"Mas menganggap dia itu adik?" Airin mencoba memberanikan diri bertanya.


"Ya, seperti yang saya katakan tadi." Gagah senang, Airin merespon penjelasannya, tidak terus pura-pura acuh dengan kehadiran Florencia.


"Lalu, bagaimana dengan wanita itu? Apa wanita itu juga menganggap Mas hanya sebatas kakak saja? Sampai meminta bertemu malam ini?" Airin seolah melampiaskan unek-uneknya.


"Minta bertemu? Siapa?" Gagah tidak tahu jika Florencia mengatakan ingin bertemu dengannya malam ini."


"Memangnya yang menelepon Mas tadi siapa?" Airin menjauhkan kepalanya dari tubuh Gagah. Tanpa dia sadari jika percikan cemburu sudah mulai tumbuh di hatinya.


"Flo minta bertemu dengan saya? Lalu kamu bilang apa?" tanya Gagah.


"Tadi 'kan HP nya saya langsung kasih ke Mas," sahut Airin sedikit ketus.


"Apa kita harus bertemu dengan dia, supaya saya bisa mengenalkan kamu pada dia?" Gagah merasa tak ada salahnya mengenalkan Airin pada Florencia, agar Florencia tidak terus berharap terhadapnya.


"Tidak usah, tidak perlu!" Airin lalu bangkit, "Luna, ayo sudah dulu mainnya." Airin menyuruh anaknya untuk berhenti bermain, karena sudah mendekati waktu Maghrib.


***


Florencia bergegas keluar dari kamarnya setelah ia menutup panggilan telepon dengan Gagah. Kabar yang diberikan Gagah jika pria yang disukainya itu kini telah menikah membuat hatinya terasa terca bik. Sejak menginjak usia lima belas tahun, ia sudah menganggumi sosok Gagah yang menurutnya sangat tampan. Apalagi Gagah adalah anak buah Papanya, hingga dia meyakini jika akan mudah untuknya mendapatkan Gagah.


"Pa, Papa ...!" Florencia berlari menuruni anak tangga mencari Papanya.


"Kenapa berteriak, Flo?" tanya Farah, Mama Florencia melihat anaknya berteriak-teriak di dalam rumah.


"Gagah?" Farah menoleh ke arah suaminya yang sedang duduk beristirahat.


"Pa, itu tidak benar, kan? Kak Gagah mana mungkin menikah!" Tak mendapat jawaban dari Mamanya, Florencia kini bertanya kepada Papanya.


"Itu benar, Flo. Gagah memang sudah menikah beberapa hari lalu," jawab Bintang.


"Kok, Papa kasih ijin Kak Gagah menikah!? Papa tahu kalau aku itu suka sama Kak Gagah, kan? Aku ingin menikah dengan Kak Gagah. Kenapa Papa tidak menghalangi pernikahan Kak Gagah?" tanya Florencia dengan kecewa.


"Papa tidak punya hak untuk melarang Gagah menikah, Flo." sahut Bintang kembali.


"Kak Gagah itu bekerja pada Papa, seharusnya Papa bisa mempengaruhi Kak Gagah untuk menjadi calon suami aku, Pa!" Dengan kekuasaan sang Papa, Florence menganggap jika semua bisa dikendalikan oleh Bintang. Hingga dia merasakan kecewa sebab Papanya tidak berbuat apa-apa untuk menghalangi pernikahan Gagah.


"Papa tidak mungkin berbuat seperti itu, Flo! Papa harus profesional, tidak bisa mencampuradukan urusan pribadi dengan pekerjaan," tegas Bintang yang menganggap anaknya terlalu berlebihan.


"Lagipula kamu masih belia, masih kuliah. Sebaiknya kamu fokus saja dengan kuliah kamu, jangan memikirkan soal menikah." Bintang mencoba menasehati putri pertamanya itu.


"Pokoknya aku tidak mau tahu! Aku ingin Kak Gagah jadi calon suami aku. Papa harus memberi ancaman akan memecat Kak Gagah kalau Kak Gagah tidak menceraikan istrinya itu!" Florencia seperti sudah kehilangan akal sehatnya, sehingga mempunyai rencana licik agar Gagah berpisah dengan istrinya.


"Astaga, Flo! Kamu ini bicara apa?!" Farah menegur Florencia yang diselimuti amarah.


"Ma, kalau Mama sayang sama Flo, Mama harus bantu Flo." Florencia berharap dukungan dari sang Mama. Ambisinya memiliki Gagah membuat hati nuraninya tertutup.


"Tidak, Flo! Papa tidak akan ijinkan kamu menjadi duri dalam rumah tangga orang lain!" Bintang menentang keras permintaan Florencia.


"Papa tidak sayang sama Flo? Papa tidak mau membela Flo? Berkorban untuk Flo?" Air mata langsung berderai di pipi Florencia mendapatkan pertentangan dari sang Papa.


"Papa tidak akan mendukung orang yang berniat jahat pada orang lain." Bintang menjelaskan maksud ucapannya.


"Dan Papa membiarkan orang lain berbuat jahat pada Flo? Flo kecewa sama Papa! Papa jahat!!" Florencia berlari meninggalkan kedua orang tuanya dengan terisak.


"Flo ..." Farah ingin mengejar anaknya, namun dia urungkan niatnya itu ketika dia melihat suaminya terlihat kesakitan memegangi dadanya. Sepertinya penyakit jantung suaminya kambuh lagi setelah pertengkaran dengan Florencia.

__ADS_1


"Pa? Papa tenang dulu ... jangan emosi." Farah khawatir melihat suaminya menahan sakit dada bagian kiri.


Setelah beberapa saat menunggu kondisi suaminya kembali normal. Farah pun kembali bicara.


"Waktu Mama dengar Gagah akan menikah, Mama juga khawatir tentang Flo, Pa. Apa sebaiknya Papa bicara saja dengan Gagah mengenai apa yang diinginkan Flo?" Farah menyarankan agar suaminya bertukar pikiran dengan Gagah.


"Tidak, Ma. Papa malu jika Papa menyampaikan apa yang diinginkan oleh Flo. Papa tidak boleh kalah dengan keinginan anak, apalagi keinginan Flo itu salah." Bintang menatap istrinya. "Lagipula, bagaimana jika Gagah menolak tawaran itu, Ma? Bagaimana seandainya Gagah rela meninggalkan pekerjaannya daripada harus berpisah dengan istrinya? Siapa yang akan mengurus perusahaan? Saat ini, hanya Gagah orang yang paling tepat mengelola perusahaan Papa." Bintang menjelaskan alasannya tidak akan menekan apalagi mengancam Gagah.


***


Hari ini, baik Airin maupun Gagah sudah mulai beraktivitas kembali seperti semula. Sementara ini, Luna dititipkan di rumah Tante Mira, karena Luna masih canggung, belum terbiasa jika harus ditinggal sendiri di rumah orang tua Gagah, meskipun Gagah sudah membuatkan kamar yang nyaman, ternyata Luna masih takut ditinggal bersama Widya yang belum Luna kenal dekat.


"Maaf, ya, Tante. Jadi merepotkan Tante lagi." Meskipun Luna adalah cucu keponakan Tante Mira, namun Gagah tetap menyampaikan permohonan maaf, karena merasa telah membuat repot Tante Mira kembali.


"Tidak apa-apa, Gagah. Luna ini cucu Nenek juga, kan?" Tante Mira membelai kepala Luna. Dia menyadari jika Luna belum terbiasa tinggal di rumah Prasetyo tanpa kehadiran Airin dan Gagah.


"Nek, kamal Luna di lumah Nenek Wida ada pelosotan cama mandi bolanya." Luna berceloteh menceritakan tentang kamarnya.


"Pasti Papa Gagah yang suruh bikin mainan untuk Luna, kan?" Tante Mira menanggapi cerita Luna.


"Iya, Ma. Papa Gagah bilang Papa cayang cama Luna." Luna mengatakan apa yang pernah diungkapkan Gagah kepadanya.


"Luna sendiri, sayang tidak sama Papa?" Kini Gagah yang bertanya pada Luna.


"Cayang, Pa." jawab Luna.


"Kalau sayang, sini peluk Papa." Gagah merengangkan tangan berharap Luna mau menuruti keinginannya.


Luna berlari ke arah Gagah. Dengan tangan kekarnya, Gagah mengangkat tubuh mungil Luna ke atas hingga membuat Luna tertawa.


Senyuman tak bisa dibendung Airin, hingga lengkungan di bibir wanita cantik itu terbentuk. Semakin lama keegoisan hatinya semakin melemah setiap melihat interaksi akrab yang terjadi antara Gagah dan Luna. Inilah yang Airin inginkan, melihat Luna merasa bahagia, dengan kehadiran seorang Papa yang selalu bercanda dan menemaninya, bukan Papa yang sibuk mengencani wanita lain.


Teringat akan wanita lain, tiba-tiba saja Airin teringat akan sosok Florencia yang dua hari lalu menelepon suaminya. Sejak mengetahui soal Florencia, Airin berusaha bersikap biasa saja, tidak ingin menampakkan kecemasan hatinya di depan Gagah apalagi keluarga Gagah, walau rasa khawatir itu tetap ada di hatinya.


"Oh ya, beberapa hari lalu Rey datang kemari." Merasa kedatangan Rey akan mengganggu waktu liburan Airin dan Gagah, Tante Mira menunda memberitahu soal kemunculan Rey ke rumahnya pada pasangan pengantin baru itu.


Gagah dan Airin sama-sama terkejut hingga saling pandang.


"Mau apa dia kemari, Tante?" Tidak suka, itu yang Airin rasakan saat mengetahui Rey datang ke rumah Om Fajar


"Intinya dia tidak suka dan tidak ikhlas melihat kamu sudah menikah kembali," sahut Tante Mira kemudian.


Tangan Tante Mira mengibas ke udara.


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan soal dia," ucapnya kemudian.


"Apa Rey menggunakan alasan Luna, Tante?" Gagah menebak apa yang dilakukan Rey.


"Ya, seperti itulah. Dia memberi alasan jika kalian akan melarang dia bertemu dengan Luna." Tante Mira membeberkan apa yang dituduhkan Rey.


"Tante, sementara ini, apa Tante bisa menemani Luna di rumah orang tua saya? Tiap pagi, saya akan suruh supir jemput Tante kemari, setelah kami pulang, Tante akan diantar pulang kembali ke rumah ini. Saya khawatir jika Rey akan mencari kelengahan kami untuk dapat membawa Luna, jika Luna ada di sini." Gagah terlalu mengkhawatirkan rencana Rey yang dia anggap kurang baik.


"Jangan, Mas. Tidak enak jika Tante harus bolak-balik ke rumah Mama." Airin kurang setuju. Dia tidak enak menyuruh Tantenya itu menemani Luna bukan di tempat Tante Mira sendiri. Walaupun hanya ibu rumah tangga, namun Tante Mira juga punya kesibukan sendiri di rumahnya.


"Biar saya yang resign saja." Airin akhirnya mengambil keputusan untuk berhenti bekerja, agar dia dapat mengurus Luna sendiri. Karena ia pun tidak ingin sampai Luna jatuh ke tangan Rey.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2