
Airin memutuskan untuk resign saat ia mengetahui mantan suaminya mulai mengusik kembali ketenangan hidupnya. Terlebih Rey terdeteksi ingin memanfaatkan Luna sebagai salah satu kelemahan Airin. Bukan bermaksud ingin menguasai Luna sepenuhnya, namun, Airin merasa Luna tidak akan tumbuh dengan baik jika bersama Rey dan wanita selingkuhan Rey tersebut.
"Apa kamu yakin akan secepatnya resign?" tanya Gagah saat mengantar Airin ke kantor Central Bank.
Airin mendesah, walau rasa hati berat meninggalkan pekerjaannya, tapi, inilah keputusan yang harus dia ambil.
"Iya, Mas." ucapnya lirih.
"Kamu memutuskan berhenti bekerja untuk melakukan hal yang lebih mulia, menjadi istri dan ibu seutuhnya, jadi saya harap kamu harus ikhlas mengambil keputusan itu, tidak dengan berat hati." Gagah menasehati Airin agar tidak terpaksa memutuskan akan berhenti bekerja.
Airin menoleh ke arah Gagah, menatap suaminya yang menatap singkat padanya, sebab harus fokus dengan jalanan di depannya.
"Saya tidak ingin Papanya Luna mengambil Luna," jawab Airin beralasan.
Gagah mengangguk kecil. Dia masih dapat memaklumi sikap Airin masih sepenuhnya karena Luna, bukan karena status Airin yang sudah menikah dengannya. Baginya, untuk alasan apa pun, keberadaan Airin di rumah terasa lebih baik dan membuat hatinya tenang, daripada Airin harus bekerja dan bertemu banyak orang yang mungkin saja tertarik pada Airin.
"Baiklah, saya antar kamu menemui Pak Andika untuk ijin resign." Gagah ingin memuluskan jalan Airin untuk resign, sehingga dia membutuhkan campur tangan Andika untuk secepatnya mengabulkan permohonan resign Airin.
Airin tidak menolak, karena ia juga ingin secepatnya diijinkan resign, agar bisa menjaga Luna sendiri, tanpa merepotkan Tante Mira ataupun Widya.
Sesampainya di Central Bank
Kehadiran Airin yang datang bersama Gagah, pasti menarik perhatian sesama karyawan Central Bank. Apalagi tanpa ragu, Gagah melingkarkan tangannya di pundak Airin, semakin kencang lah pergunjingan di seputar karyawan bank itu.
"Airin? Pak Gagah?"
Saat Gagah dan Airin berjalan menaiki anak tangga, mereka berdua berpapasan dengan Fany yang baru selesai melakukan absensi
"Fan ..." Airin balas menyapa Fany.
"Kamu sudah masuk kerja lagi?" tanya Fany, karena melihat Airin mengenakan seragam Central Bank.
"Aku ..." Fany menoleh pada Gagah.
"Airin ingin mengajukan resign. Apa Pak Andika sudah datang?" Gagah yang menjelaskan kepada Fany soal rencana Airin.
"Pak Andika sepertinya belum datang, Pak." jawab Fany, "Saya permisi dulu, Pak." Fany berpamitan, meninggalkan Airin dan Gagah yang masih berdiskusi.
"Mas tunggu saja di kursi tamu di depan ruangan Pak Andika." Airin menyarankan Gagah menunggu, "Atau Mas mau ke kantor dulu? Nanti saya saja yang menghadap HRD untuk membicarakan soal rencana resign saya?" Tak enak hati menyuruh suaminya menunggu, Airin membiarkan jika Gagah ingin pergi ke kantornya, karena Gagah juga mempunyai pekerjaan yang hampir seminggu ditinggalkan karena pernikahan mereka.
"Saya menunggu saja. Biar saya yang bicara langsung dengan Pak Andika, agar rencana resign kamu tidak terkendala." Gagah tetap pada keputusannya.
"Saya antar Mas ke atas, tapi setelah itu, saya ingin ke bawah dulu, Mas. Saya harus bicara dengan atasan saya di CS." Tak ingin dianggap lancang dan tidak tahu etika, Airin ingin meminta ijin pada atasannya di bagian customer service soal rencana resignnya.
Gagah menganggukkan kepala, menyetujui permintaan Airin. Dan mereka pun melanjutkan langkah mereka menuju lantai ruangan Andika berada.
***
"Kamu serius ingin resign, Rin?" tanya Bu Henidar, saat Airin menyampaikan rencana pengunduran diri kepada atasannya itu.
"Benar, Bu." sahut Airin.
"Kamu ingin pindah bekerja di mana?" Bu Henidar menduga Airin sudah mendapatkan pekerjaan baru di tempat lain hingga membuat Airin keluar dari pekerjaannya saat ini.
Dengan menggelengkan kepala, Airin tersenyum.
"Saya tidak bekerja di tempat lain, Bu. Saya ... ingin fokus jadi ibu rumah tangga saja," jawab Airin dengan malu-malu.
Jawaban Airin membuat Bu Henidar mengeryitkan keningnya. dia salah satu dari banyaknya karyawan Central Bank yang tidak tahu jika Airin sudah menikah kembali, sehingga membuat Ibu Henidar bingung, karena baru beberapa waktu lalu berita perceraian Airin terdengar.
"Oh ..." Tidak ingin terlalu ikut campur dengan masalah Airin, Bu Henidar hanya menjawab singkat penjelasan Airin tadi.
"Kamu ajukan dulu surat resign nya, Rin. Nanti diajukan ke HRD." Ibu Henidar menjelaskan prosedur mengajukan resign.
"Iya, Bu. Terima kasih atas pengertiannya. Saya permisi." Airin lalu bangkit dan keluar dari ruangan Ibu Henidar.
"Akhirnya kamu resign juga, Rin?" Saat kembali ke meja kerjanya, Airin langsung dito dong pertanyaan oleh Fany.
"Kemarin Mas Rey datang ke rumah Om Fajar, Fan. Dan aku rencananya ingin menitipkan Luna di rumah Om Fajar. Aku takut Mas Rey mengambil kesempatan di saat Luna bersama Tante Mira." Airin sudah mulai terbiasa terbuka pada Fany, apalagi saat ia ketahui ternyata Fany pernah menjadi mata-mata Gagah.
"Memang Luna tidak mau bersama orang tua Pak Gagah, Rin?" tanya Fany kemudian.
__ADS_1
"Luna belum terbiasa ditinggal di sana tanpa aku, Fan. Aku takut dia rewel, makanya aku memutuskan menitipkan Luna di tempat Tante Mira. Tapi, karena Mas Rey sempat datang ke rumah Om Fajar, mau tidak mau aku harus mengambil keputusan resign, daripada beresiko Mas Rey berbuat sesuatu pada Luna." Airin memaparkan apa yang membuatnya mengambil keputusan tersebut.
"Ya sudahlah, Rin. Kamu tidak bekerja juga keluarga suami kamu kaya raya. Kamu tinggal duduk cantik, uang tetap mengalir di kantongmu. Nikmatilah nasibmu sebagai ibu bos, Rin." kelakar Fany sambil tertawa.
Senyum mengembang di sudut bibir Airin. Dia berharap rumah tangganya berjalan mulus, tidak ada rintangan berat yang menghadang apalagi yang berhubungan dengan perselingkuhan, karena ia sudah sangat trauma dengan hal tersebut.
***
Gagah tiba di kantornya setelah selesai bertemu dengan Andika untuk membicarakan soal rencana Airin yang ingin resign. Dengan campur tangannya, tentu saja permohonan resign Airin langsung disetujui. Dan mulai lusa, Airin sudah berhenti bekerja di Central Bank.
Gagah melangkah ke luar dari lift dengan menenteng tas kerja di tangannya. Satu tangan lainnya merapihkan dasi yang melingkar di kerah kemejanya.
"Selamat pagi, Pak."
Gagah memperhatikan Dewi yang menyapanya dengan nada yang sangat aneh. Apalagi bola mata sekretarisnya itu terus menatap ke arah pintu ruang kerja dirinya.
"Ada apa?" Mencurigai sesuatu, Gagah pun akhirnya bertanya.
"Hmmm, itu, Pak." Kembali mata Dewi mengarah pada ruangan kerja Gagah.
"Itu apa?" Penasaran ada apa di dalam ruang kerjanya, Gagah bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Kak Gagah ...!"
Gagah terkesiap, ketika mendapati Florencia berlari dan mendekap tubuhnya. Gadis belia itu memeluknya begitu erat, seakan menyalurkan rasa rindu yang selama ini dibendung oleh gadis itu.
Dewi yang mengikut di belakang Gagah, langsung memutar balik tubuhnya. Dia tidak ingin terlibat dengan konflik bosnya dengan para wanita, hingga memutuskan kembali ke meja kerjanya.
"Flo?" Gagah mengurai pelukan Florencia di tubuhnya. Dia tidak ingin Florencia terus memupuk perasaan cinta terhadap dirinya.
"Kenapa, Kak?" Merasakan penolakan Gagah, Florencia bertanya-tanya.
"Tidak baik seperti ini." Gagah kemudian berjalan ke arah meja kerjanya. Menaruh tas dan duduk di kursi kebesarannya.
"Kak ..." Florencia mengikuti langkah Gagah hingga dia mendudukkan tubuhnya di pangkuan Gagah.
"Flo, tolong jangan bersikap kekanakan!" tegur Gagah melihat sikap Florencia yang dia anggap terlalu berani.
"Flo! Jaga sikapmu!" Kesal dengan ulah Florencia, Gagah menegur dengan nada sedikit menyentak. "Turunlah!" Gagah menatap tajam dengan rahang mengeras. Dia tahu Florencia menyukainya. Tapi, gadis itu tidak pernah bersikap kurang sopan seperti ini sebelumnya.
"Kenapa Kak Gagah seperti ini? Apa ini karena pengaruh istri Kak Gagah itu!?" Florencia turun dari pangkuan Gagah, dengan bertolak pinggang.
"Kamu tahu sekarang saya sudah menikah. Jadi tolong jaga sikap kamu itu! Saya tidak ingin istri saya menjadi salah paham karena sikap kamu itu!" Gagah mengambil sikap tegas.
"Apa Kak Gagah lupa kalau aku anak pemilik perusahaan ini?" Florancia menaikkan dagunya dengan melipat tangan di dada.
"Ya, saya tahu kamu adalah anak Pak Bintang. Karena itu seharusnya kamu menyadari jika saya ini hanya pegawai di perusahaan ini. Tidak seharusnya kamu menyukai karyawan Papamu sendiri." Gagah mencoba menyadarkan Florencia, jika apa yang diinginkan oleh Florencia untuk memilikinya adalah salah.
"Kak, aku tidak perduli Kak Gagah hanya karyawan Papa. Aku janji akan membujuk Papa untuk memberikan perusahaan ini pada Kak Gagah jika Kak Gagah jadi suamiku nanti."
Florencia memberikan penawaran yang tentu saja menggiurkan. Siapa yang tidak ingin memiliki perusahaan retail besar seperti Bintang Departement Store? Apalagi dengan jabatan tertinggi sebagai CEO seperti yang dipegang Gagah saat ini.
Satu sudut bibir Gagah tertarik tipis ke atas, seakan meremehkan tawaran yang diberikan oleh Florencia. Bagi Gagah, tawaran Florencia tidaklah menarik untuknya. Gagah seorang pribadi yang sangat percaya diri. Dia mempunyai kemampuan dalam mengelola suatu usaha. Tentu akan mudah dia mendapatkan pekerjaan yang sama di perusahaan lain, seandainya dia tidak dipakai di perusahaan milik orang tua Florencia.
"Apa kamu bermaksud menukar istri saya dengan jabatan yang saya pegang ini?" tanya Gagah mencibir
"Bukan hanya jabatan, Kak. Tapi, perusahaan ini bisa jadi milik Kak Gagah kalau Kak Gagah mau menjadi suami aku." Florencia memperjelas agar Gagah mempertimbangkan tawarannya.
"Apa kamu pikir saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan ini di perusahaan lain?" Meskipun tidak instan untuk mencapai posisi seperti yang ia jabat saat ini, Gagah merasa yakin, dirinya akan mampu mendapatkan pekerjaan dengan posisi yang sama di perusahaan lain.
Florencia mendengus, sebab Gagah seolah tak tertarik dengan tawarannya membuat hatinya semakin kesal.
"Seperti apa sih, istri Kak Gagah itu? Sampai Kak Gagah tidak tertarik dengan tawaranku?" Florencia bersunggut-sungut. Padahal ia mengharapkan Gagah akan tergiur dengan tawarannya itu.
Kembali senyum tipis mengembang di sudut bibir Gagah. Sepertinya Florencia ingin membandingkan dirinya sendiri dengan Airin. Bagi Gagah, tentu saja Florencia tidaklah sebanding dengan Airin.
"Istri saya lebih berharga dari sekedar jabatan yang sama miliki," jawab Gagah.
Gagah yang sedang merasakan kasmaran dan tergila-gila pada Airin tentu tidak akan bisa membandingkan Airin dengan siapa pun juga. Apalagi ia mempunyai keluarga kaya raya, seandainya dia harus melepas pekerjaan di Bintang Departement Store, bukan masalah besar baginya. Karena sejauh ini, banyak tawaran masuk kepadanya dari beberapa pebisnis kenalannya.
Florencia merasa geram, karena usahanya untuk meluluhkan hati Gagah tak berhasil. Pria itu bahkan seperti menantangnya, tak gentar akan kehilangan posisi tertinggi di perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pulang saja, Flo. Daripada kamu membuang waktumu di sini. Saya baru mulai bekerja hari ini. Banyak pekerjaan yang harus saya tanyani." Gagah bangkit dari kursinya, berjalan ke arah pintu ruangannya.
"Kak, aku cinta Kak Gagah." Tiba-tiba Florencia berlari dan memeluk Gagah dari belakang.
Gagah semakin geram dengan tingkah laku Florencia yang dianggapnya sangat memalukan.
"Hentikan, Flo! Jangan mempermalukan dirimu seperti ini! Laki-laki tidak akan menghargai kamu, jika kamu merendahkan dirimu sendiri seperti ini!" Gagah memaksa Florencia melepaskan pelukan di tubuhnya.
"Kak Gagah akan menyesal karena menolakku!" pekik Florencia dengan nada tinggi, kemudian gadis itu keluar dari ruangan Gagah dengan berlari.
Gagah mendengus kasar. Satu tangannya bertolak pinggang, satu tangan lainnya memijat pelipisnya menanggapi sikap anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Baru saja ia merengguk nikmatnya berumah tangga, namun gangguan tiba-tiba saja datang menghadang.
Gagah lalu berjalan ke luar ruangannya untuk menemui Dewi.
"Wi, lain kali jika Florencia datang saat saya belum tiba di kantor segera kabari saya!" Gagah berpesan kepada sekretarisnya itu, kemudian berjalan ke arah lift.
"Baik, Pak " sahut Dewi.
Dewi memperhatikan punggung Gagah yang berjalan menuju lift. Noda merah di blazer yang dikenakan bosnya itulah yang menarik perhatiannya. Meski samar terlihat dari netranya, namun ia yakin jika itu adalah warna lipstik yang menempel di blazer milik Gagah. Dan Dewi masih ingat ketika Gagah datang, ia tidak melihat ada tanda itu di sana.
"Pak, tunggu!" Dewi bergegas menghentikan. langkah Gagah dengan berseru, ia pun segera bangkit dan berlari menuju bosnya.
"Ada apa?" tanya Gagah heran.
"Maaf, Pak." Dewi berjalan berputar ke belakang Gagah untuk memastikan noda yang dilihatnya itu benar lipstik atau bukan.
"Ada apa?" Gagah makin penasaran, apalagi Dewi justru berputar ke belakangnya, membuat Gagah pun ikut berputar.
"Maaf, Pak. Ada sesuatu di blazer belakang Bapak." Sengaja memberitahu alasannya, karena Gagah justru ikut berputar seperti Dewi.
"Sesuatu apa?" Gagah berusaha melihat bagian belakang tubuhnya, tapi tak terlihat apa yang dimaksud oleh Dewi.
"Seperti noda lipstik, Pak." Dewi menduga jika noda lisptik itu adalah milik Florencia, karena wanita itu tadi memeluk Gagah.
Gagah terperanjat dan segera melepas blazernya untuk melihat noda yang disebut Dewi tadi. Benar saja, sepertinya Florencia sengaja meninggalkan bekas lipstik di blazer milik dirinya. Ia menggelengkan kepala, karena ulah Florencia itu.
"Terima kasih, Wi." Lalu masuk ke dalam ruang kerjanya kembali untuk mengganti blazer yang bersih di lemari ruang istirahatnya.
"Lagian Pak Gagah, sudah jelas-jelas ditaksir sama anak bos malah nikah sama wanita lain. Untung saja aku cepat lihat noda itu, kalau tidak bisa heboh nanti di kantor ini, apalagi kalau sampai ketahuan istri Pak Gagah, yang ada bisa perang dunia ke tiga padahal baru saja menikah kemarin," gumam Dewi memperhatikan Gagah yang menghilang di balik pintu. Dia pun meneruskan pekerjaannya kembali.
***
Gagah mengambil blazer yang dia taruh di bagasi mobilnya. Tentu ia tidak ingin Airin melihat noda itu, sehingga dia sengaja menaruhnya di bagasi agar tidak terlihat Airin. Gagah tidak ingin Airin menjadi curiga terhadapnya. Kadang, ketika seseorang tengah dipengaruhi rasa cemburu, penjelasan yang sebenarnya pun sulit untuk dipercaya. Sehingga dia memilih untuk tidak mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi.
"Bi, tolong cuci blazer aku ini. Ini terkena noda lipstik, bisa hilang tidak?" Gagah menyerahkan blazernya pada Bi Junah.
"Bibi lihat dulu, Mas." Bi Junah memperhatikan noda lipstik berbentuk bibir di blazer Gagah. Senyumnya seketika mengembang, sebab ia mengira jika Airin lah yang meninggalkan noda lipstik itu di blazer milik Gagah.
Bi Junah sangat memaklumi karena mereka adalah pengantin baru yang sedang kasmaran. Saking bersemangatnya sampai lipstik Airin mengenai blazer Gagah. Sama sekali Bi Junah tidak curiga jika noda bibir itu milik wanita lain.
"Bisa, Mas. Noda ini bisa hilang, kok. Nanti saya suruh Onah untuk mencucinya," sahut Bi Junah.
"Ya sudah, tolong cuci sampai hilang noda itu." Gagah memberi perintah pada Bi Junah.
"Baik, Mas." jawab Bi Junah.
"Oh ya, tolong jangan cerita pada Airin soal noda lipstik itu, Bi." Gagah mewanti-wanti agar Bi Junah merahasiakan soal noda lipstik di blazer dari istrinya.
Kedua alis Bi Junah terangkat saat mendengar ucapan Gagah. Pertanyaan pun seketika bermunculan di kepala Bi Junah. Kenapa Airin tidak boleh tahu? Apa noda lipstik bergambar bibir itu bukan milik Airin? Lalu itu noda lipstik siapa? Apa Gagah berselingkuhan dengan wanita lain? Kenapa bisa begitu, bukankah Gagah terlihat begitu menyanyangi Airin? Itulah yang menjadi tanda tanya besar di benaknya.
"Jangan berprasangka buruk tentang aku, Bi. Itu lipstik Florencia. Tadi dia ke kantor dan tiba-tiba memeluk dari belakang. Sepertinya karena itu lipstiknya menempel di blazer aku." Seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Bi Junah, Gagah langsung memberikan penjelasan agar Bi Junah tidak terus menduga-duga. Florencia yang sejak dulu menyukainya tentu sering datang berkunjung ke rumah orang tua Gagah, sehingga para ART di rumah itu mengenal Florencia.
"Siapa yang tadi datang ke kantor?" Suara seseorang tiba-tiba terdengar di dapur, membuat Gagah dan Bi Junah sama-sama terkesiap dengan kemunculan seseorang di dapur tersebut.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️