
Semua yang ada di dapur sama-sama terkejut saat melihat kemunculan Widya yang langsung menanyakan apa yang dikatakan oleh Sobirin tadi.
"Oh, itu, Bu ..." Sobirin melirik ke arah Bi Darsih dan Bi Junah bergantian dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Siapa yang bekerja di bank?" Widya mengulang pertanyaannya kembali.
"Itu Bu, Sobirin dapat kenalan cewek cantik orang bank katanya," celetuk Bi Junah terkekeh.
"Kamu main perempuan, Birin?" Widya langsung mendelik ke arah Sobirin saat Bi Junah melaporkan hal yang tidak sebenarnya terjadi.
"Tidak, Bu!" Sobirin dengan cepat menepis tudingan Bi Junah.
"Awas saja kamu berani main-main perempuan, Birin! Ingat anak istri di rumah, jangan mikir kesenangan sendiri saja!" Widya langsung mengomel. Walaupun hanya supirnya, tapi, Widya selalu memperlakukan para pegawainya seperti anggota keluarganya sendiri. Jadi, kalau ada sesuatu yang tidak berlaku sewajarnya, dia akan menegur dan menasehati.
"Tidak, kok, Bu! Si Junah tukang fitnah!" Sobirin kembali menyangkal sambil melotot ke arah Bi Junah, membuat Bi Junah kembali terkekeh.
"Tadi itu saya itu disuruh antar motor ke temannya Mas Gagah, Bu." Sobirin mengklarifikasi agar majikannya itu tidak salah paham dan terkena omongan Bi Junah.
"Teman Gagah?" Widya mengerutkan keningnya.
"Iya, Bu. Temannya Mas Gagah yang pegawai bank. Saya kira orang itu pacarnya Mas Gagah, Bu," Sobirin mengungkap dugaannya soal sosok Airin.
Bola mata Widya membulat mendengar cerita Sobirin tentang wanita yang disebut Sobirin sebagai pacar Gagah. Karena setahunya Gagah saat ini tidak dekat wanita lain.
"Pacar Gagah? Siapa maksud kamu itu, Birin?" Widya mulai serius menanggapi ucapan drivernya itu.
"Iya, Bu. Saya tadi disuruh antar motor teman Mas Gagah itu ke bank. Sebelumnya saya disuruh ambil motor di tukang tambal ban, service motor lalu mengantar ke pemiliknya di bank. Pemilik motor itu seorang karyawati bank, Bu," Sobirin menjelaskan, dan justru semakin membuat Widya penasaran.
"Siapa wanita itu, Birin? Orangnya gimana? Siapa namanya?" Widya makin menyelidik.
"Orangnya cantik, Bu. Cocok kalau sama Mas Gagah. Namanya Mbak Airin ...."
Widya terperanjat mendengar nama yang disebut oleh Sobirin.
"Airin?" Mata Airin semakin terbelalak lebar. Bukan hanya Widya yang terkejut saat nama Airin disebut, Bi Darsih dan Bi Junah juga sama-sama terkejutnya, karena mereka juga tahu nama wanita yang ingin dijodohkan Gagah oleh Widya bernama Airin juga.
__ADS_1
"Kamu yakin orang itu namanya Airin? Dia kerja di bank apa, Birin?" Hati Widya bahkan berdebar kencang, ingin memastikan, apakah orang yang dimaksud Sobirin itu Airin yang sama? Karena selama ini anaknya terkesan menolak saat dia jodohkan dengan Airin.
"Di Central Bank, Bu." jawab Sobirin.
"Central Bank?" Widya sampai menangkup kedua pipi dengan tangannya sendiri dan berkata, "Sebentar, orangnya kayak gini, bukan?" Widya lalu berlari meninggalkan dapur ingin mengambil ponsel untuk memperlihatkan foto Airin kepada Sobirin. Apakah wanita yang dijumpai oleh drivernya itu sama dengan foto Airin? Meskipun hatinya sangat yakin jika itu adalah orang yang sama.
"Ciri-cirinya seperti apa, Birin? Rambutnya panjang agak kecoklatan bukan?" tanya Bi Darsih, yang masih mengingat sosok Airin. Karena ketika melayani tamu keluarga Prasetyo malam itu, Bi Darsih sempat mencuri pandang beberapa kali ke arah Airin. Karena selain dia penasaran, dia juga terkagum dengan kecantikan Airin.
"Aku tidak perhatikan rambutnya, Bi. Soalnya rambutnya dicepol kayak gitu. Tapi memang agak pirang," jelas Sobirin kembali.
"Semoga saja itu orang yang sama, ya, Bi?" harap Bi Junah.
"Iya, Jun. Kalau memang orang yang sama, Alhamdulillah ..." sahut Bi Darsih, dia juga berharap Gagah berjodoh dengan Airin.
"Birin, orangnya ini, bukan?" Widya berlari kecil kembali ke dapur, lalu memperlihatkan foto Airin kepada Sobirin.
Sobirin memperhatikan foto Airin pada layar ponsel Widya. Ternyata wanita yang dijumpainya di bank memang sangat mirip dengan foto wanita di ponsel Widya itu.
"Iya, benar ini sepertinya, Bu. Senyumnya mirip banget," jawab Sobirin yakin.
Seperti turun hujan di tengah kemarau panjang, itulah yang saat ini Widya rasakan mendengarkan Gagah dan Airin saling berinteraksi di belakangnya.
Sobirin akhirnya menuruti apa yang diperintahkan oleh Widya, hingga akhirnya dia menceritakan semua, apa yang dia kerjakan sesuai permintaan Gagah.
"Lalu, Airin bicara apa sama kamu, Birin?" Hati Widya serasa berbunga-bunga, seolah dia sendiri yang sedang merasakan jatuh cinta. Kabar yang disampaikan oleh Sobirin dianggap suatu kemajuan besar.
"Mbak Airin cuma bilang terima kasih karena sudah merepotkan karena saya mengantarkan motornya, itu saja, Bu." jawab Sobirin.
"Airin tidak menyinggung soal Gagah?" Widya justru berharap ada kalimat Airin yang menyinggung soal Gagah.
"Tidak, Bu. Saya juga tidak lama, soalnya Mbak Airin sedang melayani nasabah," cerita Sobirin.
"Kapan Gagah menyuruh kamu mengantarkan motor Airin?" tanya Widya.
"Waktu Mas Gagah datang setelah pergi pagi tadi, Bu." jawab Sobirin.
__ADS_1
Widya terdiam, namun keningnya berkerut, menandakan dirinya sedang berpikir keras.
"Jangan-jangan tadi pagi dia pergi itu karena bertemu dengan Airin." Widya menduga-duga.
"Bisa jadi, Bu. Soalnya tadi pagi Mas Gagah 'kan pergi pakaiannya casual banget, kayak kepengen ngapelin pacar," celetuk Bi Junah menyeringai.
"Apa aku tanya Mira saja, ya?" Widya lalu mencari nomer Tante Mira, untuk memastikan apakah benar Gagah bertemu dengan Airin.
"Assalamualaikum, Mir. Sorry aku ganggu waktu kamu. Aku mau tanya, apa tadi pagi Gagah ada datang bertemu Airin ke rumah kamu?" Saat panggilan teleponnya terhubung, Widya segera menanyakan dugaannya itu pada temannya.
"Waalaikumsalam, Mbak. Gagah kemari? Tidak, kok, Mbak." sahut Tante Mira, sedikit bingung dengan pertanyaan Widya. Dia pun lalu bertanya, "Memangnya kenapa, Mbak?"
"Tadi supirku disuruh Gagah antar motor Airin ke kantornya, Mir." jawab Widya.
"Memang kenapa motor Airin, Mbak? Memangnya Airin bertemu Gagah?" tanya Tante Mira kemudian.
"Itu yang buat aku penasaran, Mir. Makanya aku telepon kamu. Aku curiga di belakang kita mereka berdua itu sering bertemu," tebak Widya, lalu bertanya, "Memang Airin tidak ada cerita apa-apa ke kamu, Mir?"
"Tidak, Mbak. Airin tidak cerita apa-apa," sahut Tante Mira.
"Oh ya, mereka pernah bertemu kemarin-kemarin ini di mall, sempat ngobrol juga. Airin tidak cerita?" tanya Widya kembali.
"Oh ya? Airin tidak bilang kalau bertemu dengan Gagah, lho, Mbak." Dari nada bicaranya, Tante Mira nampak terkejut.
"Mereka sepertinya sengaja menyembunyikannya dari kita, Mir." Widya semakin yakin jika Gagah sengaja merahasiakan kedekatannya dengan Airin karena gengsi ketahuan olehnya, sebab sempat menolak Airin.
"Masa, sih, Mbak?" Tante Mira masih tidak percaya, dan berkata, "Kenapa mereka menyembunyikan dari kita? Padahal kita berencana mendekatkan mereka."
"Mir, kita ikuti saja permainan mereka. Kita pura-pura tidak tahu jika mereka berdua sering bertemu, sampai di mana mereka akan menyembunyikannya dari kita." Widya berpikir mungkin Gagah terlalu gengsi mengakui hubungannya dengan Airin sehingga tidak bercerita padanya. Karena itu dia memilih membiarkan Gagah mendekati Airin dengan cara Gagah sendiri, yang terpenting wanita yang akan menjadi pendamping anaknya itu tetaplah wanita yang sama dengan yang diinginkan olehnya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️