JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Beruntung Menjadi Menantu


__ADS_3

Airin dan Luna menyambut kedatangan Gagah di teras rumah. Sebelumnya Airin dan Widya berbincang ringan seputar kehamilan Airin, kondisi Rey juga soal Haikal.


Senyuman mengembang di sudut bibir Airin saat melihat sang suami turun dari mobil. Sementara Luna langsung berlari menghampiri Gagah meminta untuk digendong oleh Papa sambungnya itu.


"Papa datang ..." seru Luna dengan riang sambil merentangkan tangannya.


"Assalamualaikum ... Aduh anak Papa ini kangen sama Papa, ya?" Gagah pun menyambut Luna, mengangkat tubuh mungil Luna seraya menciumi pipi Luna.


"Waalaikumsalam ..." sahut Airin meraih tangan Gagah dan mencium punggung tangan suaminya itu. "Papa capek, Nak. Ayo turun ...!" Airin menyuruh Luna turun, tak ingin anaknya itu bermanja-manja pada Gagah yang baru saja tiba dari kantor.


"Tidak apa-apa, Mama. badan Luna ringan, kok! Gendong Mama saja Papa sanggup, apalagi gendong Luna yang kecil begini," kelakar Gagah dengan mengerlingkan matanya menggoda Airin, membuat istrinya itu seketika membulatkan bola matanya.


"Mama udah becal kok minta digendong Papa, cih!?" Luna memprotes dengan kening berkerut menatap tajam Airin.


"Bukan Mama yang minta gendong Papa, Sayang. Tapi Papa yang mau gendong Mama." Gagah langsung menjelaskan jika itu terjadi bukan atas kemauan Airin, sebab Luna langsung bereaksi keras terhadap Mamanya itu.


"Iiihhh, Mama kayak anak kecil aja mau digendong cama Papa." Luna masih membully sang Mama menganggap Mamanya itu salah.


"Mas, iiihhh ..." Airin mecu bit lengan Gagah sebab karena ucapan Gagah, Luna jadi cerewet padanya.


"Hahaha ..." Gagah tertawa tak menganggap serius protes Airin padanya. Dia lalu merangkul pundak sang istri kemudian membawa Airin masuk ke dalam rumah.


"Ada apa ini? Kelihatannya kamu bahagia sekali, Gagah." Widya yang masih membaca majalah di ruang tamu menoleh ke arah Gagah yang terlihat tertawa bahagia saat memasuki rumah.


"Sudah pasti bahagia, dong, Ma. Tiap pulang kantor disambut istri dan anak seperti ini, siapa yang tidak senang, Ma?" jawab Gagah dengan tersenyum.


"Hmmm, sekarang tidak menyesal Mama jodohkan kamu dengan Airin, kan?" Widya meledek Gagah sebab ia ingat putranya itu sempat menolak Airin.


Airin melirik ke arah Gagah, untung saja dia sempat mendengar cerita dari ART di rumah itu jika Gagah sempat enggan dijodohkan dengannya, sehingga dia tidak merasa kaget mendengar sindiran Mama mertuanya terhadap Gagah.


Gagah pun sama, dia langsung menoleh ke arah istrinya. Tak enak hati disinggung oleh sang Mama tentang penolakannya dulu terhadap Airin.


"Sudahlah, Ma. Tidak usah mengungkit hal itu lagi." Gagah tidak suka disinggung masalah dirinya menolak dijodohkan dengan Airin karena dia malu terhadap sang Mama juga Airin sendiri.


"Aku ke kamar dulu, Ma." Gagah langsung membawa Airin dan Luna ke kamar, tak ingin memperpanjang soal sikapnya yang menentang perjodohan dirinya.


***


"Bagaimana Haikal, Mas? Apa dia bisa mengikuti pekerjaan di sana dengan baik?" Airin menaruh secangkir teh herbal hangat untuk suaminya yang sedang mengerjakan proposal penawaran kerjasama perusahaan baru miliknya juga kakak-kakaknya yang bergerak dalam bidang jasa ekspeditur ke beberapa perusahaan. Semua arsip perusahaan barunya seperti Akta Pendirian, Domisili Usaha, Nomor Induk Berusaha, Nomer Pokok Wajib Pajak, Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dan Surat Keputusan Kementrian Hukum Dan Hal Azasi Manusia sudah lengkap, sehingga dia bisa lampirkan berkas tersebut dalam penawaran ke beberapa Badan Usaha Milik Negara ataupun Perusahaan Swasta. Dia berharap penawarannya akan segera mendapatkan respon positif.


"Kamu meragukan kemampuan adikmu?" Gagah menyandarkan punggung ke sandaran kursi kerjanya.


"Aku tahu Haikal selalu bekerja dengan baik, tapi ini 'kan kantor pusat, Mas. Aku takut Haikal tidak bisa mengikuti cara kerja di sini." Airin menyebut kenapa dirinya bertanya demikian.


"Jika kita memang punya kemampuan dalam bekerja, ditempatkan di mana saja tidak akan jadi masalah," ujar Gagah santai.


"Mama bobooo ..." Sementara dari arah tempat tidur terlihat Luna sudah menguap, ingin segera tidur.

__ADS_1


"Aku kelonin Luna dulu, Mas." Airin minta ijin sang suami menemani Luna tidur terlebih dahulu.


"Kalau sudah Luna, nanti Papanya yang dikelonin, ya!?" Gagah menggoda Airin, membuat Airin tersipu malu.


"Kita belum pernah melakukannya lagi, kan? Apa baby nya tidak kepingin di tengok Papanya lagi?" Gagah terkekeh senang memancing Airin.


Airin bergegas menghampiri Luna, tak ingin mendengar sang suami yang memancingnya dengan kalimat-kalimat yang menjurus pada hal yang berhubungan dengan kebutuhan biologis.


***


Ddrrtt ddrrtt


Widya bergegas mengambil ponselnya, ketika dia mendengar alat komunikasinya di atas nakas berbunyi. Dia sendiri baru saja melaksanakan sholat Dzuhur.


Mata Widya menyipit saat melihat nama Gagah yang menghubunginya. Ada apa Gagah meneleponnya? Widya bertanya-tanya.


"Assalamualaikum, ada apa, Gagah?" Widya segera mengangkat sambungan telepon dari Gagah.


"Waalaikumsalam, Ma. Airin ada di mana, Ma?" tanya Gagah, "Aku hubungi dia tidak juga diangkat teleponnya," lanjutnya.


"Airin?" Spontan Widya menoleh ke arah pintu kamarnya, "Sebentar Mama lihat dulu, Mama ada di kamar habis sholat Dzuhur." Widya melangkah ke luar kamarnya.


"Iya, Ma. Maaf repotin Mama. Aku ingin beritahu dia jika Papanya Luna sudah sadar," kata Gagah.


"Sudah sadar? Syukurlah kalau begitu. Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?" Widya turut senang mendengar kondisi Rey membaik, Baginya, Rey bukanlah ancaman bagi rumah tangga anaknya. "Apa dia mengalami amnesia, Gah?" Namun tiba-tiba Widya teringat ucapan Putri yang ia dengar dari Ayuning tentang kemungkinan Rey mengalami amnesia dan menganggap Airin masih menjadi istri Rey.


"Ma, jangan dengar istrinya Mas Tegar. Mereka berdua itu sama saja, sering asal kalau bicara." Airin meminta sang Mama tidak membicarakan hal konyol seperti yang diucapkan Putri.


"Ibu cari Mbak Airin? Mbak Airin ada di teras samping rumah, Bu." Bi Onah memberitahu Widya saat mendengar Widya berteriak mencari Airin.


"Oh, Airin di teras samping, ya?" tanya Widya pada Bi Onah, "Gah, Airin sedang di teras samping, pantas saja telepon kamu tidak diangkat," kata Widya memberitahu Gagah.


"Aku ingin bicara dengan Airin sebentar, Ma." ujar Gagah.


"Sebentar ..." sahut Widya, "Rin, Airin ... Gagah ingin bicara." Setelah sampai di teras samping rumahnya dan melihat Airin sedang menemani Luna makan puding sambil bermain, Widya menyodorkan ponselnya pada Airin.


"Mas Gagah telepon, Ma?" Airin bangkit dan mengambil ponsel Mama mertuanya.


"Iya, dia telepon kamu dari tadi tapi tidak diangkat, makanya Gagah telepon Mama," ujar Widya.


"HP aku di kamar, Ma." jawab Airin, "Assalamualaikum, Mas." Airin mendekatkan ponsel milik Widya ke telinganya.


"Waalaikumsalam, kamu sedang apa? Aku sejak tadi menghubungi kamu," ucap Gagah.


"Maaf, Mas. Aku dan Luna sedang di teras menemani Luna makan puding," jawab Airin, "Memang ada apa, Mas?" tanya Airin kemudian.


"Aku baru dapat kabar dari Ibu Wulan, kabarnya Papanya Luna sudah mulai sadar." Gagah menyampaikan berita soal kondisi Rey pada istrinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, syukurlah jika memang dia sudah sadar." Airin pun senang mendengar kabar mengenai Rey.


"Aku masih pantau kondisi dia, jika dia sudah membaik dan bisa dibesuk dan Luna sudah siap bertemu dengan Papanya aku akan antar kalian menjenguk ke sana,." Gagah masih mencari waktu yang tepat kapan Luna bisa dipertemukan dengan Rey, sebab ia yakin suatu saat Rey pasti ingin bertemu dengan Luna.


"Iya, Mas. Aku terserah gimana baiknya saja." Airin menurut apa yang diinginkan oleh suaminya.


"Kamu sudah makan?" tanya Gagah.


"Sudah, baru saja, Mas." sahut Airin.


"Jangan telat makan, nanti baby nya kelaparan," pesan Gagah.


"Aku tidak telat makan, Mas." jawab Airin


"Ya sudah, kalau gitu aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum ..." Setelah menyanpaikan apa yang ingin dikatakannya, Gagah imengakhiri sambungan teleponnya.


"Waalaikumsalam ..." Airin menjawab dengan mengerutkan keningnya. Hanya ingin menyampakan hal itu, Gagah sampai meneleponnya. Ia pikir ada hal penting apa sampai Gagah menelponnya melalui Widya? Padahal Gagah bisa menyampaikannya nanti saat dia pulang dari kantornya.


"Katanya Papanya Luna sudah sadar ya, Rin?" tanya Widya saat Airin mengembalikan ponsel padanya.


"Iya, Ma. Mas Gagah bilang seperti itu," sahut Airin, ternyata mertuanya lebih dulu tahu soal kondisi Rey, sudah pasti ia menduga sang suami yang memberitahukan.


"Syukur kalau kesehatannya membaik, kasihan Bu Wulan kalau anaknya itu terus koma," ucap Widya tulus.


Airin tersenyum seraya menanggukkan kepalanya. Dia sungguh teramat kagum pada keluarga suaminya, terutama pada mertuanya itu. Terlihat baik dan sangat tulus terhadap orang lain termasuk pada Rey yang sebenarnya tidak Wulan kenal secara langaung, bahkan bertemu saja belum pernah.


"Iya, Ma," sahut Airin setuju dengan pendapat sang mertua.


"Apa Luna akan dibawa membesuk Papanya, Rin?" Widya masih khawatir Luna akan syok kembali, sebab biarpun sudah sadar, bukan berarti Rey lepas dari peralatan medis yang tersambung ke tubuhnya begitu saja, terutama infus dan juga perban yang pasti masih membalut sebagian kaki dan tangan Rey.


"Mas Gagah bilang ingin memantau keadaan Luna dulu, Ma. Sampai Luna benar-benar aman dibawa bertemu dwngan Papanya." Airin menjelaskan bagaimana sikap Gagah.


"Iya, memang harus seperti itu. Apalagi Luna masih kecil, kasihan kalau dibawa ke rumah sakit yang tentu tidak sehat untuk anak-anak seperti Luna." Widya membelai kepala Luna penuh kasih sayang.


Sekali lagi Airin merasa terkagum dengan sikap yang ditunjukkan Widya pada Luna. Widya terlihat tulus pada Luna, menyayangi Luna seperti menyayangi cucunya sendiri. Sejak awal memang sikap Widya tidak berubah, sudah terlihat sangat menyanyangi Luna dan dirinya, apalagi setelah ia menjadi istri Gagah, Widya justru semakin menyanyangi dirinya dan juga Luna.


"Terima kasih, Ma. Aku beruntung menjadi menantu Mama." Tak ragu Airin menyanjung sang Mama mertua dan menyampaikan rasa bahagianya mendapatkan Mama mertua yang sangat pengertian seperti Widya.


"Karena kamu sudah membuat anak Mama bahagia, tentu saja Mama pun ikut merasakan bahagia Airin. Mama dapat merasakan perubahan dalam diri Gagah sejak berumah tangga denganmu, Airin. Terlebih saat ini kamu sedang mengandung cucu Mama, bukan kehidupan Gagah saja yang semakin lengkap, tapi kehidupan Papa dan Mama juga. Apalagi yang membuat orang tua bahagia selain melihat anak-anaknya berumah tangga dan mendapatkan istri-istri yang Sholehah seperti kamu, Ayuning dan Putri?" ucap Widya mengusap lengan Airin penuh kasih sayang.


*


*


*


"

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2