
Liliana dan Ambar sama-sama terkejut ketika Airin menjelaskan, jika di antara Gagah dengan Rey, pernah berjumpa sebelumnya. Tentulah, kedua sahabat Airin merasa penasaran. Apa yang terjadi ketika sang mantan bertemu dengan calon masa depan Airin itu? Apalagi jika Rey tahu, jika calon pendamping Airin yang baru, levelnya jauh di atas Rey, bukan hanya dari fisiknya saja, melainkan dari segi finansial dan jabatan dalam perusahaan.
"Rey pernah bertemu dengan Pak Gagah, Rin?" tanya Liliana masih dengan keterkejutannya.
"Iya," Anggukkan kepala mengakhiri jawaban Airin.
"Maksudnya, saat kamu pergi sama Pak Gagah, kamu bertemu dengan Rey?" Ambar memastikan jawaban Airin.
"Iya," sahut Airin, "Waktu Mas Gagah mengajak Luna jalan-jalan ke mall, terus makan di restoran, kami bertemu dengan Papanya Luna dengan wanita itu," sambung Airin mengingat peristiwa pertemuannya kembali dengan wanita yang sudah merebut suaminya dulu.
"Tidak tahu malu banget si Rey, masih saja hubungan sama pelakor itu!" geram Liliana menggerutu. Sebagai seorang wanita dan juga teman Airin, ia pun masih merasakan kesal melihat wanita selingkuhan Rey, apalagi Airin yang mengalami sendiri.
"Eh, lalu gimana waktu kalian bertemu? Kalau kamu bawa Luna, berarti Luna tahu Papanya kencan dengan wanita lain, dong!? Terus, sikap Luna sendiri gimana waktu bertemu Rey?" Ambar tak jauh beda penasarannya dengan Liliana.
"Luna sempat peluk Papanya. Tapi, itu tidak lama. Sebab Luna lebih memilih dekat dengan Mas Gagah, bahkan sampai minta disuapi Mas Gagah segala." Tak ada yang ditutupi oleh Airin soal pertemuan Luna dengan Papanya.
"Ah seru, nih! Terus, terus? Rey tahu kalau Pak Gagah calon kamu? Kamu kenalkan Pak Gagah sebagai CEO, tidak?" Ambar semakin bersemangat mendengar cerita Airin.
"Papanya Luna sudah kenal sebelumnya dengan Mas Gagah, karena perusahaan tempat Papanya Luna bekerja akan mengadakan event di Mall Bintang," jelas Airin.
"Lalu, kamu bilang ke Rey kalau Pak Gagah itu calon kamu, Rin?" tanya Liliana.
"Bukan aku yang bilang. Tapi, Mas Gagah sendiri yang mengatakan, kalau kami akan segera menikah," ungkap Airin.
"Hahaha ..." Liliana tertawa senang mengetahui apa yang dikatakan Gagah kepada Rey.
"Yes! Mam pus kau, Rey!" Bahkan Ambar berkata lebih kasar, mencemooh mantan suami Airin itu.
"Reaksi Rey gimana? Kaget dong, pasti?" tanya Liliana.
"Dia menyalahkan aku karena membiarkan Luna dekat dengan Gagah. Dia juga menyebut aku terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikah lagi." Airin membeberkan semua protes keras Rey terhadapnya.
"Idiihh, tidak tahu malu banget itu orang!" cibir Ambar cepat.
"Iya, heran, deh! Apa hak dia, larang kamu menikah lagi? Yang penting, masa iddah kamu sudah lewat, kamu sudah boleh menikah secara hukum dan agama. Bodo amat dia mau bilang apa!? Urusan Luna dekat dengan Pak Gagah, itu 'kan malah bagus. Biar Pak Gagah menerima dan menyanyangi Luna begitu juga sebaliknya," Liliana merasa heran dengan sikap Rey yang dia anggap kekanakan.
"Intinya dia merasa cemburu, Li. Terlebih jika sampai Luna lebih akrab dengan Pak Gagah daripada dengan Rey. Karena nanti yang akan bersama Luna sehari-harinya itu 'kan Pak Gagah ketimbang dia," sambung Ambar merespon kata-kata Liliana.
"Tapi, si Rey itu masih saja sama wanita itu? Tidak tobat juga rupanya?" Liliana heran, sudah dilabrak dan dipermalukan, Rey masih saja berhubungan dengan Joice.
"Kena pelet mungkin, sampai tidak bisa lepas," celetuk Ambar.
"Dasarnya doyan! Bukan kena pelet lagi!" Liliana menampik anggapan Ambar.
"Menurut kalian, apa orang akan menganggap aku kegatelan karena menikah lagi sekarang ini?" Masih ada kekhawatiran di hati Airin akan pandangan orang lain terhadapnya.
"Kamu jangan dengar apa kata orang deh, Rin. Toh, mereka juga tidak ikut merasakan waktu kamu tersakiti. Jadi, mulai sekarang, tutup telinga rapat-rapat dari omongan negatif orang-orang!" Ambar menyarankan Airin untuk bermental baja, dan tidak tumbang hanya karena omongan segelintir orang yang tidak ingin melihat Airin bahagia.
"Ya sudahlah, Rin Tidak perlu memikirkan mereka. Fokus ke masa depan kamu saja. Jelang kebahagiaan kamu dan Luna bersama Pak Gagah. Yakin saja, hidup kamu akan semakin indah ke depannya." Liliana mengusap lengan Airin seakan memberi dukungan pada Airin.
"Aamiin. Makasih untuk support kalian."
Airin merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Liliana dan Ambar. Sahabat sejati memang layak disematkan Airin kepada dua temannya itu. Karena, mereka berdua selalu ada saat Airin di posisi tersulit, maupun saat Airin merasakan kebahagiaan. Sebab itulah, Airin merasa perlu memberitahu rencana pernikahan dirinya dengan Gagah. Baginya, Liliana dan Ambar adalah bagian terpenting di dalam hidupnya, selain anggota keluarganya sendiri.
***
Weekend Minggu ini, Widya memenuhi janjinya, kembali berkunjung ke rumah Pak Baskoro bersama suaminya, untuk melakukan lamaran resmi. Gagah dan Airin bersama Luna pun ikut menemani.
__ADS_1
Selepas bertemu dengan keluarga Airin, Prasetyo dan Widya melanjutkan perjalanan ke Solo untuk memberitahu keluarga mereka yang sebagian besar menetap di sana. Sementara Gagah, Airin dan Luna kembali ke Jakarta.
Keluarga Prasetyo dan Baskoro telah menetapkan akhir pekan depan acara pernikahan Gagah dan Airin dilaksanakan. Walau hanya akad nikah dan syukuran sederhana, keluarga Prasetyo tetap menyiapkan wedding organizer yang akan mengurus pernikahan putra bungsu mereka, agar tidak terlihat biasa saja.
Begitu pun dalam memilih baju pengantin yang akan dipakai untuk akad nikah nanti. Widya meminta pihak salon untuk membuat kebaya dengan cepat yang akan dipakai oleh Airin nanti.
Senin harinya mendekati makan siang, Gagah datang ke kantor Central Bank. Sudah pasti dia ingin meminta ijin kepada Andika selalu bos di mana Airin bekerja.
Dengan langkah tegap, Gagah turun dari mobil dan memasuki gedung kantor Central Bank. Pria itu membalas sapaan security yang membukakan pintu untuknya. Aura bahagia terpancar di wajahya,
Gagah menolehkan pandangan ke arah meja customer service, mencari wanita yang telah berhasil meluluh lantahkan hatinya, hingga mema tahkan prinsipnya yang ingin mendapatkan pendamping seorang
wanita yang masih perawan. Namun, pandangannya tak menemukan wanita yang dicarinya saat ini.
Gagah mendapati Fany yang menunjuk ke arah toilet yang berada di samping kanan customer service. Ia pun menganggukkan kepalanya, tanda mengerti dengan kode yang diberikan oleh Fany.
Pria berdarah biru itu melanjutkan langkahnya ke arah lift untuk bertemu dengan Andika, sesuai tujuan dia datang ke Central Bank.
"Selamat siang, Pak Gagah." Melihat kehadiran Gagah, Dewi bangkit dari kursinya. Dia terkejut dengan kemunculan Gagah, karena bos retail itu tidak membuat janji bertemu terlebih dahulu.
"Apa Pak Andika ada di tempat?" tanya Gagah.
"Ada, Pak." Dewi pun berjalan ke arah pintu ruang kerja bos Central Bank tersebut, untuk memberitahu Andika tentang kedatangan Gagah di kantor itu. "Silahkan, Pak." Dewi mempersilahkan Gagah masuk ke dalam ruangan kerja bosnya, kemudian kembali ke meja kerjanya setelah Gagah masuk ke dalam ruangan Andika.
"Selamat siang, Pak Andika. Apa kabar?" sapa Gagah dengan berjabat tangan dengan Andika.
"Siang, Pak Gagah. Seperti yang Pak Gagah lihat sendiri, masih sehat wal Afiat, Alhamdulillah. Mari silahkan duduk." Andika mengajak Gagah berbicang di sofa. "Ada apa gerangan Pak Gagah tiba-tiba datang kemari?" Sebenarnya Andika menduga, jika kedatangan Gagah pasti ada hubungannya dengan Airin. Karena bukan rahasia umum lagi, jika Gagah sering mengantar dan menjemput Airin. Hal itu menjadi perbincangan hangat para karyawan di bank itu.
"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada Pak Andika." Tanpa banyak berbasa-basi, Gagah ingin langsung mengatakan tujuan ia datang ke tempat itu bertemu Andika.
"Tidak, Pak Andika. Bukan itu. Sebagai nasabah Central Bank, saya sudah sangat puas dengan layanan dan fasilitas yang tersedia di sini," ujar Gagah menepis anggapan Andika yang menyangka dia ingin mengeluhkan permasalahan soal ketidakpuasannya sebagai nasabah besar di bank tersebut.
"Saya kemari karena saya ingin meminta ijin pada Pak Andika untuk memberikan cuti pada Airin beberapa hari ke depan." Gagah menyebut alasan kedatangannya bertemu dengan Andika. "Karena rencananya, jika tidak ada aral melintang, insya Allah saya akan menikahi Airin akhir pekan ini, Pak Andika." lanjut Gagah menuturkan, kenapa ia meminta Andika memberikan Airin cuti beberapa hari.
Andika mengangkat kedua alisnya saat Gagah mengatakan akan menikah dengan Airin. Kecurigaan jika memang ada hubungan serius di antara karyawannya dengan Gagah kini terbukti benar. Meskipun sempat ditampik oleh Airin saat itu.
"Oh, wah ... ini suatu kejutan bagi saya mendengar Anda akan menikah dengan salah satu karyawan saya, Pak Gagah." ujar Andika tertawa kecil.
"Saya tidak pernah menduga ini sebelumnya, Pak Gagah," sambung Andika sedikit berbohong, "Jika boleh tahu, sudah berapa lama Pak Gagah ini dekat dengan Airin? Karena seingat saya, saat itu Pak Gagah datang kemari meminta ijin pada saya untuk membawa Airin pergi."
Andika iseng menanyakan kedekatan antara Gagah dan Airin. Karena, Airin sendiri seolah menutupi darinya. Ketika wanita itu ditanya beberapa waktu lalu, Airin hanya menyebut jika antara Airin dan Gagah hanya sekedar kerabat semata. Dan kini, Gagah mengatakan jika akan menikah dengan Airin dalam waktu dekat ini.
"Sebenarnya kami dijodohkan, Pak Andika. Mama saya dan Tante dari Airin adalah kawan lama. Memang awalnya Airin menolak karena ia baru saja bercerai. Karena itulah saya sering datang kemari menemui dia untuk meyakinkan dia jika saya memang serius terhadapnya."
Gagah gengsi mengakui jika dialah yang dulu sempat menolak Airin, ketika pertama kali diperlihatkan foto Airin oleh Widya.
"Oh, seperti itu ... baiklah Pak Gagah. Kapan rencananya Airin akan mulai mengambil cuti?" tanya Andika, tak mungkin ia menolak permintaan Gagah, meskipun ini bersifat mendadak.
"Mulai H-2 saja, Pak Andika. Rencananya pernikahan kami dilaksanakan hari Minggu." Gagah memilih waktu yang tepat bagi Airin untuk cuti.
"Baiklah, Pak Gagah. Nanti saya akan sampaikan ke bagian HRD soal ini," sahut Andika, "Saya ucapkan selamat dan turut berbahagia dengan rencana pernikahan Pak Gagah bersama Airin." Tak lupa Andika pun menyampaikan ucapan selamat kepada Gagah.
"Oh ya, rencananya akan diadakan di mana wedding party nya, Pak Gagah? Jangan lupa undang saya." Andika terkekeh, karena sebenarnya ia yakin jika dirinya akan diundang dalam acara pernikahan Gagah, sebab dia adalah bos dari Airin. Tidak mungkin jika ia sampai tidak diundang dalam acara pernikahan itu.
"Kebetulan kami belum akan menyelenggarakan resepsi dulu, Pak Andika. Karena perceraian Airin dengan mantan suaminya baru saja terjadi beberapa bulan lalu, dan dia masih belum siap jika pernikahan kami dibuka lebih luas pada publik dalam waktu dekat ini. Jadi, sementara ini akan kami laksanakan akad nikahnya dulu, dan mengundang kerabat terdekat saja. Tapi, Pak Andika sudah pasti akan kami undang untuk menjadi saksi pernikahan kami juga." Gagah memaparkan bagaimana rencana pernikahannya dengan Airin, yang mungkin tidak seperti dengan yang dibayangkan oleh Andika.
"Baiklah, Pak Gagah. Insya Allah, saya akan datang ke acara pernikahan Anda nanti." Andika lalu bangkit dari sofa. Ia berjalan ke arah meja untuk berbicara dengan sekretarisnya melalu intercom.
__ADS_1
"Mel, tolong Airin suruh menghadap saya sekarang!" Setelah memberikan perintah, Andika kembali duduk di sofa seperti semula.
"Terima kasih, Pak Andika." Mengetahui Andika memanggil Airin untuk ikut bergabung dengan mereka, berbincang di ruangan Andika, Gagah langsung berterima kasih.
"Sama-sama, Pak Gagah." sahut Andika.
Sementara itu di bawah ...
"Arjunamu datang, Rin." bisik Fany, ketika Airin baru kembali dari toilet.
Airin refleks menolehkan pandangan ke arah pintu kantor, mencari keberadaan Gagah. Namun, netranya tak menemukan sosok pria tampan yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya dalam beberapa hari ke depan.
"Di mana, Fan?" tanya Airin.
"Kayaknya sih, ke ruangannya Pak Andika, deh!" Fany menunjuk dengan gerakan matanya, "Jangan-jangan, Pak Gagah mau minta ijin ke Pak Andika, karena kalian akan menikah, Rin." lanjut Fany terkekeh. Seperti halnya dengan Liliana dan Ambar, Fany juga sudah Airin beritahu soal rencana pernikahannya dengan Gagah. Dan Fany merespon positif rencana pernikahan Airin dengan Gagah. Sudah pasti, karena selain ia bagaikan mata-mata bagi Gagah, Fany pun ingin melihat Airin mendapatkan kebahagiannya setelah disakiti oleh Rey
"Sssttt, jangan ribut-ribut dulu, Fan." Airin tidak ingin berita pernikahannya menjadi heboh terlebih dahulu di kantornya.
"Sorry, Rin." Fany segera menutup mulutnya.
"Rin, disuruh menghadap Pak Andika." Dini yang baru saja menerima telepon, memberitahu Airin soal perintah yang disampaikan melalui Dewi via telepon.
Seketika Airin menolehkan pandangannya pada Fany, guratan halus pun terlihat di kening Airin. Dugaan rekan sekerjanya itu ternyata benar. Sepertinya Gagah bertemu dengan Andika memang membicarakan soal rencana pernikahan mereka.
"Sudah sana! Temui dulu pangeranmu itu." Fany menyuruh Airin segera menghadap Andika. Ia yakin jika Gagah ada di sana saat ini.
Airin akhirnya beranjak meninggalkan Fany menuju lift untuk menghadap Andika dan tentu juga Gagah yang dipastikam ada di sana.
Airin melangkah menghampiri Melly setelah keluar dari lift. Sebagai sekretaris bosnya, tentu Airin tak melewati Melly begitu saja.
"Pak Andika memanggil saya, Mbak?" tanya Airin.
"Oh iya, Rin. Masuk saja, deh. Ada Pak Gagah juga di sana, tuh." Melly menjawab dengan senyuman yang membuat kening Airin berkerut.
"Oke, Mbak. Makasih ..." Tak ingin mencari tahu arti senyum Melly, Airin memilih melanjutkan langkahnya menuju ruangan kerja Andika.
Tok tok tok
"Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Airin, lalu pandangan matanya melirik pada Gagah. Pria itu pun melempar pandangan kepadanya.
"Masuklah, Airin. Silahkan duduk!" Andika mempersilahkan Airin bergabung duduk dengan mereka.
"Hmmm, iya, Pak." Airin memilih duduk berseberangan dengan Gagah. Agak berdebar jantungnya karena dirinya saat ini berada di hadapan dua petinggi perusahaan dari dua perusahaan berbeda. Rasanya seperti hendak disidang saat ini, hingga membuatnya tegang dan tidak dapat bersikap rileks.
"Duduklah dengan Pak Gagah, Airin. Pak Gagah bilang jika kamu akan segera menikah dengan beliau." Pak Andika mengerti, sehingga menyuruh Airin duduk berdampingan dengan Pak Gagah.
Bola mata indah Airin melirik ke arah Gagah kembali. Terlihat betapa santainya pria itu, tanpa merasakan jika saat ini dia sedang merasakan nervous berhadapan dengan Pak Andika, setelah bosnya itu tahu jika memang ada hubungan spesial antara dirinya dengan Gagah.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1