
Florencia mengepak pakaian ke dalam koper. Dia berniat kembali ke Amerika, meskipun waktu liburan kuliahnya masih cukup panjang. Florencia merasa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan di Jakarta. Berada di rumah orang tuanya dan melihat Mamanya akan membuat dirinya semakin bersalah, karena ia merasa dialah penyebab meninggalnya sang Papa.
Sebelumnya Farah sudah pernah menasehati Florencia untuk tidak bersikap egois dan tidak mengusik Gagah juga perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Gagah. Farah mengkhawatirkan kesehatan Bintang bahkan pernah mengatakan pada Florencia, jika Florencia ingin melihat Papanya lebih lama, hentikan ambisinya memiliki Gagah. Namun, karena terlalu terobsesi, ia langgar apa yang katakan oleh Farah, dan ternyata itu berakibat fatal untuknya juga keluarganya.
Selesai mengepak semua pakaian, Florencia keluar dari kamarnya. Dia memilih menemui Farah saat rumah mulai terlihat sepi, setelah tahlil hari ketiga dilaksanakan.
Tiga hari ini Florencia memang tidak berinteraksi dengan Mamanya. Dia tak menemui Farah, Farah pun tak berusaha menemui dirinya di kamar. Mereka seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu atap.
Tok tok tok
Florencia mengetuk pintu kamar Farah, berharap sang Mama masih terjaga. Dan setelah mengetuk pintu kamar kembali, akhirnya pintu kamar Farah terbuka. Florencia melihat Mamanya terkesiap mendapati dirinya berdiri di depan pintu kamar.
"Flo?" ucap Farah masih tak percaya dengan kemunculan Florencia di depan kamarnya.
"Ma, aku mau bicara," ucap Florencia dengan nada pelan.
"Masuklah ..." Daun pintu kamar Farah dibuka lebar lalu mempersilahkan anaknya itu masuk ke dalam kamar.
"Akhirnya keluar kamar juga kamu, Flo." ujar Farah, masih ada rasa kecewa di hati wanita itu. Meskipun ia menyadari jika ini sudah takdir yang menentukan suaminya harus tutup dunia, namun ia menyayangkan hal itu terjadi setelah berdebatan antara suami dan anak sulungnya itu.
"Ma, maafkan Flo, Ma. Ini semua gara-gara aku." Florencia menjatuhkan tubuhnya hingga duduk berlutut. Tangisnya pun pecah saat memeluk kaki Farah, menunjukkan jika ia sangat menyesali apa yang telah ia lakukan terhadap Papa dan keluarganya.
Farah menghela nafas panjang. Pilu rasa hatinya mengingat dia harus berpisah dari sang suami tercinta setelah bertengkar dengan Florencia.
"Sudahlah, Flo. Semua sudah terjadi, Papa tidak mungkin akan hidup kembali," lirih Farah mengusap air mata.
"Hiks ..." Florencia menangis semakin kencang dan tak berhenti. Sejujurnya ia tak sanggup hidup tanpa kehadiran sang Papa. Tak pernah terbayangkan olehnya jika harus kehilangan Papanya di saat dirinya masih butuh dan masih bergantung pada Papanya.
Melihat putrinya menangis tersedu, tak sampai hati Farah memarahi Florencia. Alih-alih memarahinya, Farah justru menuntun Florencia untuk bangkit dan memeluknya, hingga ibu dan anak itu menangis sambil berpelukan hingga beberapa saat.
"Sudahlah, Flo. Sekarang ini kita harus bangkit, ada harus kita pikirkan ke depannya." Farah membawa Florencia duduk di tepi tempat tidurnya
"Mama dan adikmu sudah berdiskusi. Dia akan mengambil alih mengurus perusahaan setelah tahlil tujuh hari selesai." Farah merasa perlu mengatakan apa yang sudah ia sepakati dengan Gadis pada Florencia, karena Florencia juga adalah anaknya dan berhak tahu atas keputusan itu. Apalagi dalam perdebatan terakhir dengan Bintang, Florencia berkeras ingin Papanya itu menjadikan dia sebagai CEO menggantikan Gagah karena Gagah tidak menerima cintanya.
"Gadis akan mengambil alih BDS?" Florencia terperanjat dengan keputusan Mama dan adiknya. Sejujurnya ia akui untuk mengelola perusahaan milik Papanya itu tidaklah mudah. Dan ia pun mengakui jika tak mempunyai keahlian dalam mengurus perusahaan meskipun kemarin sempat bersikeras menginginkan mengambil alih posisi Gagah.
"Apa Kak Gagah sudah tidak mau mengurus perusahaan Papa, Ma?" Justru Florencia menduga jika Gagah yang ingin mengundurkan diri dari perusahaan milik Bintang.
"Tidak, Gagah tidak mengundurkan diri. Gagah akan tetap di perusahaan dan membimbing Gadis," papar Farah.
"Gadis 'kan masih sekolah, Ma." Florencia menganggap Gadis tidak bisa mengurus perusahaan dan juga sekolah secara bersamaan.
"Gadis akan melanjutkan sekolahnya melalui homeschooling dan akan belajar mengurus perusahaan dari Gagah. Kebetulan sekarang ini dia sedang libur, jadi dia bisa menggunakan waktu liburnya untuk mengelola perusahaan dulu," jelas Farah kembali.
"Kenapa terlalu memaksakan Gadis bekerja, Ma? Kenapa tidak Kak Gagah saja?" Jika bicara jujur, Florencia harus mengakui hanya Gagah yang lebih pantas mengurus perusahaan retail milik Papanya itu.
"Jika Gagah yang masih memegang posisi tertinggi, Om kalian akan berusaha mengusik posisi CEO di sana. Namun kalau Gadis atau kamu yang akan mengambil alih, Om kamu tidak punya alasan untuk merebut perusahaan itu. Tapi ... mengingat apa yang sudah kamu lakukan terhadap Gagah, Mama tidak yakin kamu akan bisa menjalankan perusahaan dengan baik." Farah menjelaskan alasan kenapa mengambil keputusan jika Gadis yang akan mengurus perusahaan suaminya.
"Kamu juga harus hati-hati dengan Om Dicky dan Om Romi. Mereka ingin memanfaatkan kamu untuk mendapatkan perusahaan itu." Farah memperingatkan Florencia.
"Maksud Mama?" Kening Florencia berkerut tanda tak mengerti.
"Kemarin adikmu mendengar Om kalian mengatakan akan memaksa kamu mengambil alih perusahaan dari Gagah, setelah itu mereka akan memanfaatkan kamu untuk melakukan apa yang mereka inginkan, kamu akan dijadikan boneka oleh mereka." Farah merasa perlu memberitahu Florancia agar putri sulungnya itu lebih waspada.
"Besok aku akan kembali ke Amerika, Ma. Aku tidak akan ikut campur dengan urusan BDS." Florencia sudah bulat dengan keinginannya kembali ke Amerika
"Kenapa secepat itu, Flo? Papa baru saja meninggal, kamu sudah mau pergi?" Farah tidak menyetujui rencana kepergian Florencia.
"Rasa bersalah itu terus menghantui kalau aku tetap di sini, Ma." sesal Florencia.
"Setidaknya tunggulah setelah tujuh hari, Flo." Farah menahan Florencia, "Kamu anak Papa, apa kata orang kalau kamu pergi, sementara kita masih dalam suasana berduka dan masih melaksanakan tahlil," lanjut Farah.
Florencia tidak bisa menolak permintaan Farah, dia pun akhirnya setuju untuk kembali ke Amerika setelah acara tahlil tujuh hari selesai.
***
Airin janji bertemu dengan kedua sahabatnya pada jam makan siang. Airin sudah meminta ijin kepada suaminya dan Gagah juga sudah memberikan ijin kepada Airin. Rutinitas pertemuan antara Airin dengan Liliana dan Ambar sudah terjadi sejak lama, tidak mungkin Gagah melarang istrinya untuk berinteraksi dengan sahabat-sahabatnya, apalagi kedua sahabat Airin itu selalu mendukung hubungannya dengan Airin.
Airin bersama Luna diantar Sobirin bertemu di sebuah cafe. Airin tiba lebih dulu dibanding kedua sahabatnya itu. Sebab waktu dia lebih luang ketimbang kedua sahabatnya yang harus menyelesaikan pekerjaan mereka terlebih dahulu karena ini adalah weekday.
__ADS_1
"Selamat siang, mau pesan apa, Mbak?" Pelayan cafe menyodorkan buku menu pada Airin.
"Luna mau bulgel, Ma." Luna merequest makanan yang diinginkannya.
"Luna kepingin burger?" Airin lalu memilih menu burger yang diinginkan oleh Luna.
"Iya, Ma. Cama es klim," sahut Luna.
"Saya pesan chicken burger, chocolate ice cream, sama air mineral dua. Saya masih menunggu teman, Mbak." Airin menjelaskan akan memesan makanan kembali setelah kedua sahabatnya datang
"Baik, Mbak. Saya ulangi pesanan yang ini dulu. Satu chicken burger, satu chocolate ice cream dan dua air mineral. Mohon ditunggu sebentar, ya." Setelah mencatat pesanan Airin, pelayan cafe itu meninggalkan Airin guna menyiapkan pesanan Airin.
"Ateu Lili cama Ateu Ambal mana, Ma?" Luna menanyakan keberadaan kedua teman Mamanya, sebab Airin mengajaknya pergi dengan alasan ingin bertemu dengan Liliana dan Ambar. Luna menganggap dia akan bertemu dengan anak-anak Liliana dan Ambar hingga ia bisa bermain bersama.
"Tante Lili sama Tante Ambar sedang di jalan, sebentar lagi juga datang, kok." jawab Airin mengedar pandangan ke arah pintu masuk, berharap kemunculan kedua sahabatnya di sana. Namun, netranya kini menatap seorang wanita yang ia kenal datang bersama seorang pria paruh baya yang tidak ia ketahui siapa? Kedua orang itu berjalan masuk dari pintu cafe.
Kehadiran dua orang itu menarik perhatian Airin karena wanita tersebut adalah Joice. Namun pria yang datang bersama Joice bukanlah Rey, mantan suaminya dulu. Sikap Joice yang merangkulkan tangan di lengan pria paruh itu membuat kening Airin berkerut.
Awalnya Airin sempat berpikir, mungkin pria itu adakan ayah dari Joice. Namun saat dilihat Joice bergelayut manja pada pria itu, sama sekali tidak terlihat seperti hubungan ayah dan anak. Airin pun akhirnya menduga-duga, jika pria itu adalah mangsa baru Joice.
Netra Airin masih terus memperhatikan Joice. Sikap yang ditunjukkan Joice terhadap pria itu sama dengan sikap Joice terhadap Rey. Tanpa sadar sudut bibir Airin sedikit tertarik ke atas. Tak bisa ia bayangkan seandainya Rey tahu apa yang sedang dilakukan oleh Joice saat ini. Mungkin saja Rey akan menyesal telah menduakannya untuk wanita ja lang seperti Joice.
"Hai, Rin. Sorry kita telat." Liliana dan Ambar yang tiba-tiba muncul di hadapan Airin membuat Arina terkesiap.
Pandangan Airin yang sebelumnya terfokus pada Joice kini menoleh kepada kedua sahabatnya.
"Kok kalian datangnya bisa bersama?" Airin memeluk satu persatu sahabatnya itu.
"Tadi Lili jemput aku di kantor," jawab Ambar lalu di kursi depan Airin, "Halo, Luna ..." Ambar menyapa dengan mengusap wajah Luna.
"Pio, Al cama Patih mana, Ateu?" Luna mencari anak-anak Liliana juga Ambar.
"Mereka tidak ikut, Sayang. Tante Lili sama Tante Ambar 'kan sedang kerja." Liliana menjelaskan.
Luna lalu menoleh ke arah Mamanya, dan bertanya, "Mama 'kok ndak kelja juga?"
"Mama 'kan sudah tidak kerja, Luna," jawab Airin dengan mengusap kepala Luna.
"Mama Airin sekarang 'kan istri bos, Luna. Masa Mama Airin masih disuruh kerja saja!?" Ambar menimpali diakhiri dengan tawa kecil.
Luna menoleh ke arah Ambar, tak mengerti apa yang dimaksud oleh Ambar.
"Papa Gagah itu orang kaya, banyak uangnya, rumahnya besar, jadi Mama Airin tidak perlu bekerja. Cukup di rumah saja menemani Luna." Ambar menjelaskan agar Luna mengerti.
"Permisi ..." Pelayan cafe datang membawa pesanan milik Luna.
"Oh ya, kalian mau pesan apa?" tanya Airin, "Mbak saya minta buku menu." Airin meminta buku menu kepada pelayan cafe.
"Boleh, Bu. Sebentar saya ambilkan dulu ..." Pelayan cafe bergegas mengambilkan beberapa buku menu dan menyerahkannya pada Airin.
"Aku pesan spageti, minumnya blue ocean." Liliana menyebut menu pilihannya.
"Aku sama saja dengan dia, Mbak. Tapi minumnya ice lychee tea." Giliran Ambar yang memilih menu makanannya.
"Saya ayam katsu, Mbak." Airin juga menyebutkan menu yang dia pilih, tapi tak memesan minuman karena ia sudah memesan air mineral sebelumnya.
Setelah mengkonfirmasi pesanan makanan, pelayan cafe itu kembali meninggalkan Airin dan teman-temannya.
"Kalian percaya tidak, kalau wanita selingkuhan Papanya Luna itu ada di sini?" Airin lalu memberitahu kedua sahabatnya tentang keberadaan Joice di cafe yang sama dengan mereka.
"Hahh? Mana?"
"Di mana?"
Liliana dan Ambar bersamaan menjawab dengan pandangan mata mencari keberadaan orang yang dimaksud oleh Airin.
"Di belakang ada sebelah kanan dari arahku." Airin menunjuk arah di mana Joice dan pria itu duduk.
Liliana dan Ambar serentak menoleh ke arah yang Airin tuju hingga kini mereka menemukan keberadaan Joice.
__ADS_1
"Dia sama siapa?" tanya Liliana penasaran.
"Mana aku tahu." Airin mengedikkan bahunya.
"Gadun itu!?" Ambar bahkan menyebut istilah yang belakangan populer untuk menyebut pria hidung belang yang sudah berumur.
"Dia mainan baru di ja lang itu?" tanya Liliana.
"Entahlah ..." sahut Airin.
"Mam pus kau, Rey! Melepas Airin untuk wanita model begitu!" umpat Ambar hingga menggunakan kata-kata yang kasar.
Airin seketika menoleh ke arah Luna. Anaknya itu langsung menatap Ambar ketika Ambar menyebut nama Rey.
"Hati-hati menyebut nama di depan anakku, Bar!" tegur Airin, agar Ambar tidak terus melakukan umpatan terhadap Rey di depan anaknya.
"Eh, sorry, Rin." Ambar langsung menyampaikan permintaan maaf, apalagi saat melihat Luna menatapnya serius. "Maaf, Luna sayang." Ambar mengusap pipi Luna kembali.
"Apa si Joice sudah pisah dengan mantanmu itu, Rin?" Liliana memakai kata mantan untuk menyebut Rey agar Luna tidak memahami siapa yang mereka bicarakan.
"Aneh kamu, Li. Kenapa tanya sama aku? Tanya saja sama orangnya." Airin memutar bola matanya karena semua pertanyaan-pertanyaan Liliana tidak ia ketahui jawabannya. Kini dirinya bukan lagi istri Rey, dia tentu tidak tahu aktivitas yang dilakukan oleh mantan suaminya termasuk apakah Rey masih berhubungan dengan Joice atau tidak.
"Hahaha ..." Liliana justru tergelak mendengar jawaban Airin, "Aku setuju kata Ambar, mantanmu itu pasti akan menangis menyesali perbuatannya terhadapmu, Rin. Tapi, semua itu tidak ada gunanya, sebab kamu sudah bahagia dengan Pak bos sekarang," lanjut Liliana.
Airin seketika teringat akan pekerjaan suaminya ketika Liliana menyebut kata Pak bos.
"Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan pada kalian." Selama ini Airin selalu curhat dengan kedua sahabatnya, saat ini ia pun ingin memberitahu apa yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa, Rin? Kamu dan Pak bos baik-baik saja, kan?" Menyadari ada sesuatu yang dibalik perkataan Airin, Liliana langsung menanyakan hubungan Airin dengan Gagah.
"Jangan bilang kalian sedang bermasalah, Rin." Ambar juga tak ingin hal itu terjadi pada Airin.
"Aku dan Mas Gagah baik-baik saja, tapi ..." Airin menjeda ceritanya.
"Tapi apa?" Liliana dan Ambar berebut bicara melontarkan pertanyaan yang sama.
"Anak pemilik BDS yang kuliah di USA pulang ke Jakarta. Dia berusia sembilan belas tahun dan ternyata dia menyukai Mas Gagah. Dia bahkan rela memberikan perusahaan itu kepada Mas Gagah asal mau menjadi suaminya," cerita Airin memaparkan apa yang belakangan ini mengganggu pikirannya.
"Astaga ada calon pelakor jilid dua, Rin?" celetuk Ambar.
"Permasalahannya tidak hanya sampai di situ, Bar. Beberapa hari lalu Pak Bintang pemilik BDS meninggal dunia, beliau punya dua saudara tiri yang menginginkan BDS jatuh ke tangan mereka. Untuk menghalangi rencana kedua saudara tiri suaminya, istri Pak Bintang akan mengambil alih jabatan Mas Gagah dan menyerahkan kepada anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMA. Kamu bisa bayangkan seorang siswi SMA menjabat sebagai CEO?" Airin minta pendapat kedua sahabatnya.
"SMA? Apa bisa, Rin?" tanya Liliana ragu.
"Tentu saja tidak bisa, Li. Apalagi dia juga harus mengikuti homeschooling. Karena itu, Mas Gagah tetap akan bekerja di sana sebagai pendamping dan mengawasi anak bungsu Pak Bintang itu. Masalahnya aku tidak tahu apakah anak bungsu Pak Bintang menyukai Mas Gagah seperti kakaknya atau tidak? Tapi aku khawatir kalau Mas Gagah akan terjebak di sana." Airin mengungkap rasa cemasnya.
"Kenapa kamu tidak suruh suami kamu keluar dari sana, Rin?" tanya Liliana kembali.
Airin menghempas nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Liliana. Sebenarnya itu juga yang diharapkan oleh Airin.
"Untuk saat ini, sepertinya sulit, Li. Kamu bisa bayangkan akan seperti apa jika suamiku keluar dari sana? BDS akan goyah, mungkin banyak pemilik saham yang akan menarik sahamnya di sana. Karena kepemilikan saham milik Pak Bintang hanya sekitar enam puluh persen di BDS. Mereka pasti tidak berani berspekulasi dengan pemimpin yang baru. Belum lagi jika sampai saudara tiri Almarhum berhasil merebut BDD, bagaimana nasib istri dan anak-anak Almarhum? Itu yang masih menjadi alasan suamiku belum bisa meninggalkan BDS." Seperti yang didengar dari penjelasan suaminya, kepada kedua sahabatnya Airin pun memaparkan alasan Gagah tidak bisa keluar dari perusahaan retail tersebut.
"Apalagi Almarhum Pak Bintang sendiri sudah berpesan sebelum meninggal agar Mas Gagah mau membantu anak-anaknya mengurus perusahaan," sambung Airin.
"Rumit juga kalau begini," ujar Liliana saling pandang dengan Ambar, "Menurutmu gimana, Bar?" Liliana menanyakan pendapat Ambar.
"Kamu sudah bertemu dengan anak Pak Bintang itu, Rin?" Kemudian Ambar bertanya.
"Dengan anak sulungnya yang menyukai Mas Gagah sudah pernah bertemu, dia bahkan mengatakan kalau janda seperti aku tidak pantas mendapatkan pria single dan kaya raya seperti Mas Gagah." Airin menceritakan bagaimana buruknya sikap Florencia terhadap dirinya. "Tapi kalau dengan anak bungsunya aku belum pernah bertemu," lanjutnya.
"Astaga, belum pernah disumpel pakai cabe jab lay mulut itu bocah, sembarangan saja bicara!" umpat Ambar kesal mendengar penghinaan Florencia pada Airin meskipun bukan dia sendiri yang dihina.
"Kalau bisa kamu harus bertemu dulu sama anak Pak Bintang yang akan mengurus BDS, Rin. Tunjukan kalau kamu adalah istri sah Pak Gagah. Setidaknya dia harus tahu, jika saat ini kamu berhak atas Pak Gagah, jadi dia tidak sampai berani macam-macam sama suamimu. Meskipun anak itu tidak mempunyai perasaan terhadap suami kamu, kamu tetap harus harus waspada, jangan biarkan wanita lain berada di sekitar suami kita." Nasehat Ambar kemudian.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️