JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Setia Pada Wanita Yang Dicintai


__ADS_3

Airin keluar dari kamarnya. Dia ingin ke kantor suaminya untuk menjemput Luna. Airin berjalan ke arah dapur setelah menuruni anak tangga. Dia tadi sempat memasak menu makan siang untuk suaminya dan sudah disiapkan oleh Bi Darsih ke wadah bekal makan. Airin yakin, Gagah lebih senang jika dia bawakan makanan hasil olahannya sendiri daripada beli di restoran.


"Bi, sudah disiapkan semua? Mana yang untuk Mas Gagah dan mana yang untuk Luna?" tangan Airin pada Bi Darsih.


"Yang punya Neng Luna di wadah yang pink, Mbak. Lainnya punya Mas Gagah dan Mbak Airin," jawab Bi Darsih.


"Puding untuk Luna juga sudah dimasukan, Bi?" tanya Airin memastikan tidak ada yang tertinggal.


"Sudah semua di tas itu, Mbak. Orange juice untuk Neng Luna juga sudah dibawa," sahut Bi Darsih.


"Ya sudah, makasih ya, Bi." Airin berterimakasih sebab sudah dibantu oleh Bi Darsih mengenas makanan yang akan ia bawa. "Pak Birin di mana, Bi? Saya mau minta antar ke kantor BDS, setelah itu ditinggal saja tidak apa-apap. Saya nanti pulangnya sama Mas Gagah saja," ujar Airin.


"Birin ada di belakang, Mbak. Lagi dengerin radio, nanti Bibi panggilkan dulu." Bi Darsih ingin memanggil Sobirin.


"Tolong bilang saya tunggu di depan, ya, Bi." Airin mengangkat tas berisi bekal makan untuk dirinya, suaminya dan juga anaknya.


"Biar tas ini Birin saja yang bawa, Mbak." Bi Darsih kasihan melihat Airin menjinjing tas berisi bekal makan.


"Ini tidak berat, Bi. Biar saya sendiri saja." Airin lalu berjalan meninggalkan dapur menuju teras rumah sambil menunggu Sobirin menyiapkan mobil.


"Kamu mau ke kantor Gagah, Rin?" tanya Widya yang Airin temui di ruang tamu.


"Iya, Ma." sahut Airin.


"Makin sayang Gagah sama kamu kalau kamu perlakukan kamu seperti ini, Rin." Widya terkekeh seraya merangkul punggung Airin.


Airin tersenyum mendengar Mama mertuanya memujinya.


"Aahh, Mama. Biasa saja, Ma." ucap Airin malu-malu.


"Mama senang kalian makin harmonis, Rin." ujar Widya kembali.


"Alhamdulillah, Ma. Ini juga atas dukungan Mama." Airin tidak menampik peran Widya dalam menyatukan dirinya dengan Gagah.

__ADS_1


Setelah berbincang ringan dengan Mama mertuanya, kurang dari sepuluh menit mobil yang dikendarai Sobirin berhenti di depan teras rumah dan siap mengantar Airin ke kantor BDS.


"Aku pergi dulu, Ma. Assalamualaikum ..." Airin berpamitan pada Widya.


"Waalaikumsalam ..." Widya mengantar Airin sampai ke teras.


Sobirin berlari menghampiri Airin untuk mengambil tas di tangan Airin.


"Tasnya saya saja yang bawa, Mbak." Sobirin menawarkan bantuan membawakan tas bekal dari Airin.


"Tidak usah, Pak. Biar saya saja." tolak Airin berjalan menghampiri mobil.


Melihat Airin berjalan ke arah mobil, Sobirin pun bergegas membukakan pintu mobil untuk Airin.


"Kita ke kantor Mas Gagah, Mbak?" Setelah duduk di depan kemudi dan menyalakan mesin mobil, Sobirin memastikan tujuan Airin adalah kantor BDS.


"Iya, Pak. Kita ke sana, soalnya Luna tadi dibawa sama Mas Gagah," jawab Airin.


"Iya, Pak. Tadi pagi Luna pergi membesuk Papanya diantar Mas Gagah," jawab Airin tak ada yang ditutupi.


"Oh, pantesan tadi Mas Gagah pergi pakai Pak Mamat, ternyata Neng Luna ikut, ya?" Sobirin baru memahami alasan Pak Mamat mengendarai mobil untuk Gagah.


"Iya, Pak." jawab Airin.


"Mas Gagah memang luar biasa, Mbak. Mau mengantar Neng Luna ke tempat Papa Neng Luna. Jarang sekali laki-laki kayak Mas Gagah, Mbak Airin ini beruntung dapetin Mas Gagah. Saya juga bersyukur, Mas Gagah dapat istrinya kayak Mbak Airin yang ndak neko-neko. Memang Mbak Airin dan Mas Gagah itu sudah jodoh. Gusti Allah sudah sangat tepat menjodohkan Mas Gagah dengan Mbak Airin. Soalnya Mas Gagah itu orang baik, walau kadang agak kaku. Karena saya juga tidak rela kalau Mas Gagah dapat istrinya yang banyak gaya."


Sobirin berkata panjang lebar, sikap Airin yang humble pada ART yang bekerja di rumah Prasetyo, membuatnya bisa akrab mengobrol ringan dengan Airin. Bahkan diantara ketiga menantu keluarga Prasetyo dan Widya, Airin lah yang paling sering berbincang dengan, selain karena Airin tinggal di rumah yang sama, juga karena Airin senang mengajak ngobrol para ART di sana. Airin sama sekali tidak pernah merendahkan para pekerja di rumah itu, sehingga para pekerja di rumah Prasetyo merasa nyaman jika berkomunikasi dengan Airin.


"Saya ingat waktu disuruh Mas Gagah ambil dan antar motor Mbak Airin yang bocor dulu ketika Mbak Airin masih kerja di bank. Saya kaget ternyata itu motor punya wanita cantik. Bahkan ketika sampai di rumah, aku, Bi Darsih sama Bi Junah, kami bergosip kalau Mas Gagah punya kenalan wanita cantik. Bahkan Bu Widya juga sampai mendengar gosip yang sedang kami bicarakan. Pokoknya Mbak Airin sudah menjadi trending topik hari itu." Pak Sobirin menceritakan apa yang terjadi setelah ia mendapat tugas dari Gagah.


Airin terkesiap mendengar penjelasan Sobirin, dia tidak pernah tahu jika dia langsung menjadi gosip kala itu di rumah Prasetyo.


"Hahh?? Serius, Pak Birin?" Airin merasa malu sendiri ternyata dirinya pernah menjadi bahan perbincangan.

__ADS_1


"Benar, Mbak. Apalagi tanggapan Bu Widya begitu antusias waktu saya bilang saya habis disuruh Mas Gagah antar motor seorang wanita cantik yang kerja di bank. Bu Widya sampai menunjukkan foto Mbak Airin dari ponselnya, untuk memastikan apakah pemilik motor itu adalah orang yang sama," papar Sobirin menjelaskan.


"Lalu?" Airin menjadi panasaran.


"Bu Widya kelihatan senang banget waktu tahu ternyata memang foto di ponsel ibu memang sama dengan Mbak Airin yang saya temui," lanjutnya.


"Ya ampun, saya jadi malu, Pak." Airin menangkup wajahnya dengan pipi bersemu.


"Saya kaget, Mbak. Soalnya Mas Gagah itu jarang dekat dengan wanita," ujar Sobirin.


"Hmmm, bukannya Mas Gagah dulu dekat sama wanita anak dari relasi bisnisnya Mas Bagus, Pak?" Airin menyinggung soal Adinda yang pernah ia temui saat pergi ke mall bersama Gagah.


"Ah, itu beda, Mbak. Kalau saya amati, Mas Gagah itu tidak ada rasa sama perempuan itu, perempuan itu saja yang terlalu pede." Sobirin bahkan yakin jika Gagah tidak pernah menyukai Adinda, berbeda dengan Airin.


"Pak Birin tahu, berapa lama Mas Gagah dekat dengan wanita itu?" selidik Airin, tiba-tiba ingin tahu soal kedekatan Gagah dengan Adinda dulu, sebab dia pasti tidak akan menemukan jawaban jika dia bertanya pada suaminya.


"Kayaknya tidak lama, Mbak." jawab Sobirin, "Mbak Airin tidak usah khawatir soal perempuan itu lagi. Biasanya orang yang tidak mudah jatuh cinta seperti Mas Gagah itu akan setia pada wanita yang dicintai," sambung Sobirin mencoba meyakinkan Airin agar tidak perlu khawatir tentang masa lalu Gagah, sebab sejak dia ikut bekerja dengan keluarga Prasetyo, dia melihat belum ada wanita spesial di hati Gagah selain Airin.


Airin mengembang senyuman mendengar penjelasan Sobirin, tentu saja kata-kata yang diucapkan Sobirin tentang perasaan Gagah terhadapnya membuat hatinya berbunga-bunga. Bahkan Pak Sobirin saja punya penilaian seperti itu terhadap Gagah, artinya Gagah memang benar-benar mencintainya.


"Iya, Pak Doakan rumah tangga kami tetap langgeng dan harmonis, Pak." Airin pun butuh dukungan dari orang-orang di sekitar mereka untuk mendoakan kebaikan rumah tangganya


"Sudah pasti itu, Mbak." sahut Sobirin menjawab lantang.


*


*


*


.Bersambung ....


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2