
Airin memperhatikan Widya yang sedang merawat tanaman hiasnya. Widya nampak telaten merawat tanaman-tanaman itu tanpa takut dengan kotor, meskipun Widya seorang wanita kaya raya.
Airin merasa jika Mama mertuanya itu adalah sosok wanita yang bersahaja. Tidak seperti kebanyakan wanita yang mempunyai status sosial atas yang kadang memilih dalam berteman dan berhubungan dengan orang lain.
"Mama suka dengan tanaman, ya?" Airin berjalan mendekati Widya.
"Airin?" Widya terkejut saat Airin tiba-tiba muncul di hadapannya, "Ya, seperti inilah, Rin. Sejak menikah dengan Papa, Mama tidak punya pekerjaan lain selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi, ada ART juga yang membantu urusan pekerjaan rumah. Jadi, Mama cari kesibukan sendiri dengan kegiatan seperti ini untuk mengusir kejenuhan," tutur Widya menjelaskan aktivitas yang dijalani olehnya sejak bertahun-tahun menjadi istri Prasetyo.
"Kamu juga, Rin. Harus mencari aktivitas positif agar tidak merasa jenuh di rumah setelah resign. Kamu ini biasa bekerja, kan? Pasti akan terasa perbedaannya dulu dan sekarang. Cari kesibukan yang tidak mengganggu waktu kamu dalam mengurus suami dan anak." Widya memberika saran kepada menantunya.
"Iya, Ma." sahut Airin, sementara pikirannya teringat dengan rencana Gagah yang ingin memintanya mengelola perusahaan baru yang akan didirikan suaminya itu.
"Hmmm, apa Mas Gagah sudah cerita sama Mama soal rencana mendirikan usaha baru, Ma?" Awalnya ragu, namun Airin memberanikan diri untuk bertanya.
Widya berjalan ke arah kran air untuk mencuci tangannya, berniat mengakhiri aktivitas dengan tanaman hiasnya.
"Papa sudah cerita sama Mama. Baguslah kalau mereka punya pikiran ke sana, untuk jaga-jaga masa depan mereka." Widya sependapat dengan anak-anaknya.
Airin terdiam, dia ingin menceritakan soal rencana Gagah yang ingin mengangkatnya sebagai direktur utama, namun dia takut dianggap lancang oleh Gagah. Belum tentu suaminya itu sudah mengungkapkan niatnya kepada Widya dan Prasetyo.
"Kenapa, Rin? Apa kamu tidak setuju dengan rencana Gagah?" Melihat kegelisahan di wajah Airin, Widya bertanya. Mendirikan usaha pasti akan memerlukan dana yang tidak sedikit. Mungkin saja Airin kepikiran soal hal tersebut.
"Ah, tidak, Ma. Bukan seperti itu. Saya terserah baiknya saja. Hanya saja ..." Sambil menggigit bibirnya, Airin menjeda kalimatnya.
"Hanya apa, Rin? Apa ada yang mengganjal di hati kamu?" Widya merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Airin.
"Hmmm, itu, Ma. Mas Gagah ..." Masih terlihat ragu Airin mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Ada apa, Airin? Cerita saja sama Mama kalau memang ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan." Inilah hal yang membuat Widya menjadi mama mertua idaman. Dia tidak ingin mengatur menantunya, justru ingin menjalin hubungan yang hangat dengan menjadi pendengar yang baik untuk istri-istri dari ketiga anak lelakinya.
"Itu, Ma. Kemarin Mas Gagah bilang kalau Mas Gagah ingin menunjuk saya sebagai direktur di perusahaan itu, Ma. Saya 'kan tidak mengerti apa-apa di bidang usaha itu, Ma." Akhirnya Airin menceritakan apa yang direncanakan Gagah.
"Gagah menyuruh kamu bekerja?" Widya terkesiap mendengar apa yang direncanakan anaknya. "Bagaimana, sih, anak itu!? Menyuruh kamu resign dari pekerjaan kamu, malah suruh kamu urus perusahaannya sendiri." Widya pun terlihat kurang setuju dengan dengan keputusan Gagah.
"Mas Gagah bilang, saya tidak harus pergi bekerja tiap hari, karena pekerjaan bisa dipantau dari rumah. Tapi, saya takut, Ma. Saya benar-benar tidak ahli dengan profesi itu. Apa Mama bisa membantu saya, untuk membujuk Mas Gagah agar membatalkan rencananya itu?" Airin tentu sangat berharap Mama mertuanya mau membantunya.
"Ya sudah, nanti Mama akan bicara dengan Papa. Biar Papa saja yang bicara pada Gagah. Kalau Papanya yang bicara, pasti akan lebih didengar oleh Gagah." Widya sangat paham sikap anak bungsunya sehingga perlu bantuan sang suami untuk mengatasi putranya itu.
Tin Tin ....
Suara klakson mobil dibarengi dengan suara deru mobil terdengar mendekat ke arah mereka, hingga terlihat sebuah mobil mewah berhenti di depan halaman teras rumah Prasetyo.
Widya dan Airin saling berpandangan, bahkan kening Widya seketika berkerut dengan kemunculan mobil yang tidak ia ketahui siapa yang membawa mobil tersebut.
"Hai, Tante." Terdengar suara bersamaan dengan munculnya seorang wanita muda dari mobil tersebut.
"Florencia?" Meskipun penampilan Florencia telah berubah dari terakhir kali dia melihatnya, namun Widya masih mengenali wanita itu.
Sedangkan Airin seketika membulatkan bola matanya saat nama seorang wanita yang belakangan ini mengusik pikirannya tiba-tiba disebut oleh Widya, yang artinya, wanita yang beberapa hari lalu menelepon suaminya itu kini muncul di hadapannya.
"Tante masih ingat aku?" Florencia langsung menghampiri Widya dan memeluk Mama dari Gagah.
"Tentu saja masih ingat. Kamu kapan datang dari LA, Flo?" Widya menyambut ramah Florencia, karena menghormati Bintang sebagai pemilik perusahaan di tempat Gagah berkerja,
__ADS_1
Airin memicingkan matanya melihat keakraban Widya dengan Florencia. Dia tidak menyangka jika Mama mertuanya itu sangat dekat dengan Florencia. Namun, hal tersebut membuat hatinya sedikit lega. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Gagah jika kedekatan Florencia dengan Gagah seperti keluarga karena Gagah menjadi CEO di perusahaan Bintang Gumilang.
"Aku datang beberapa hari lalu, Tante." sahut Florencia dengan ekor mata melirik ke arah Airin yang tidak ia kenal sebelumnya.
Mendapati tatapan mata Florencia mengarah pada Airin, Widya pun mengenalkan Airin pada Florencia.
"Oh ya, Flo. Kenalkan, ini istri Gagah, namanya Airin ...."
Sama seperti Airin ketika mendengar nama Florencia, Florencia pun sama terkejutnya saat Widya mengenalkan Airin sebagai istri Gagah. Tatapan wanita itu semakin tajam menunjukkan ketidaksukaannya pada Airin.
Airin berusaha tersenyum ramah menyapa Florencia dengan mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman Florencia.
"Kak Gagah sudah menikah, kenapa tidak bilang-bilang, Tante?" Tak menghiraukan uluran tangan Airin, Florencia justru serius bertanya pada Widya soal pernikahan Gagah.
"Itu memang kemauan Gagah dan Airin," sahut Widya, ia heran melihat uluran tangan Airin tak dianggap oleh Florencia.
Airin menurunkan tangan hingga kini meremas rok bawahnya. Dia tak menyangka jika Florencia mengacuhkan jabat tangan perkenalannya darinya. Pikiran buruk pun mulai berkelebat di benak Airin. Kecemasannya tentang Florencia yang sebelumnya sempat singgah di hatinya kembali menyeruak. Dia menduga jika keberadaannya sebagai istri Gagah tidak disukai oleh Florencia.
"Mama ...!" Di tengah suasana tak kondusif dengan sikap Florencia, tiba-tiba Luna muncul dari dalam rumah langsung memeluk paha Airin. Luna tadi sedang menonton acara televisi di ruangan keluarga ditemani Bi Darsih, yang menyuapi Luna buah-buahan.
Kening Florencia berkerut melihat kedatangan Luna yang menyebut Airin dengan panggilan Mama.
"Anak itu siapa, Tante?" Florencia menunjuk ke arah Luna.
"Oh, ini Luna. Luna itu anak Airin juga Gagah." Bagi Widya, saat ini Luna sudah bukanlah orang lain bagi Gagah. Sehingga dia pun mengenalkan Luna sebagai anak dari Airin dan Gagah.
"Hahh? Anak Kak Gagah? Kak Gagah 'kan baru menikah, Tante. Kok, tiba-tiba Kak Gagah sudah punya anak sebesar ini? Apa Kak Gagah dulu pernah menghamili wanita itu?" Tanpa ada sopan santun Florencia menunjuk Airin dan melemparkan tuduhkan pada Gagah dan Airin.
"Ya ampun, Flo. Gagah itu pria baik-baik dan pria yang bertanggungjawab. Tidak mungkin Gagah melakukan hal be jat seperti itu!" tepis Widya mematahkan semua tuduhan yang dilemparkan Florencia terhadap putra bungsunya.
Widya spontan melirik ke arah Airin. Terlihat menantunya itu langsung menurunkan pandangan dan mendekap Luna. Widya tak enak hati mendengar ucapan Florencia yang ia anggap tidak sopan.
"Kok bisa Kak Gagah memilih janda sebagai istri? Kak Gagah itu 'kan bujangan, ganteng, punya jabatan CEO. Masa cari istri asal-asalan saja!?" Florencia melampiaskan kekesalannya karena pernikahan Gagah dengan menghina status Airin sebelumnya.
Terasa dii ris hati Airin mendengar kalimat penghinaan dari Florencia. Seandainya bisa, dia juga tidak ingin rumah tangganya berantakan dan menjadi seorang janda. Tapi, siapa yang bisa mengelak? Daripada terus dikhianati, lebih baik dia memutuskan untuk berpisah. Mungkin, banyak wanita lain yang akan mengambil keputusan yang sama seperti dirinya saat ini jika mengalami kasus yang sama.
"Flo, tolong jangan bicara seperti itu! Apa yang salah dengan status Airin sebelumnya? Gagah sudah menetapkan pilihan kepada Airin, pasti karena Gagah tahu jika Airin adalah wanita baik." Tidak saja Widya sampai mengatakan justru dialah yang awalnya menjodohkan Airin dengan Gagah.
"Iiihh, Tante. Kenapa malah kasih ijin Kak Gagah menikah sama dia, sih? Harusnya Tante menyadari kalau aku ini suka sama Kak Gagah. Coba kalau Kak Gagah tidak buru-buru nikah sama dia, Tante itu bisa mendapat menantu seperti aku. Bahkan perusahaan papa yang dipegang Kak Gagah juga bisa jadi milik Gagah sendiri." Florencia seperti hilang urat malu, tak memperdulikan saat ini dia berhadapan dengan istri Gagah.
"Flo, kamu ini bicara apa? Kamu ini masih anak-anak, sedangkan Gagah itu pria dewasa dan sudag berusia matang." Widya dibuat geleng-geleng kepada dengan ulah Florencia.
"Aku ini sudah sembilan belas tahun. Aku bukan anak-anak lagi, Tante. Aku sudah pantas, kok. Jika menikah dengan Kak Gagah." Dengan cuek Florencia mengucapkan kalimatnya tanpa khawatir Airin akan tersinggung dengan ucapannya.
Hati Airin semakin terasa terbakar. Di hadapannya, Florencia berani mengatakan jika wanita itu menyukai Gagah, pria yang sudah sah menjadi suaminya. Ketakutannya benar-benar menjadi kenyataan. Florencia tidak menganggap Gagah hanya sebagai kakak, seperti Gagah menganggap Florencia sebagai seorang adik.
Sungguh Airin tidak ingin kembali mengalami kegagalan dalam pernikahan dengan masalah yang sama. Jika itu sampai terjadi kali ini mungkin selamanya ia akan menutup hati untuk pria mana pun juga.
"Airin, sebaiknya kamu bawa Luna masuk." Suasana makin memanas dengan sikap Florencia yang semakin menjadi, membuat Widya menyuruh Airin untuk masuk, agar tak terus menerus mendengar ucapan Florencia yang semakin ngawur.
"I-iya, Ma." Airin segera menggendong Luna, dan membawa anaknya itu ke dalam rumah.
"Flo, Tante rasa, sebaiknya kamu pulang saja, situasinya tidak kondusif sekarang ini." Daripada dibuat semakin pusing dengan sikap Florencia, Widya menyuruh Florencia untuk pulang.
__ADS_1
"Tante ngusir aku?" tanya Florencia tak terpercaya dan kecewa.
"Bukan seperti itu, Flo. Kamu harus mengerti, Gagah itu sekarang sudah mempunyai istri. kamu tidak bisa bicara seperti itu. Kamu harus menjaga perasaan istri Gagah." Widya menegur Florencia, agar tidak asal bicara yang menyakiti hati Airin.
"Tante tidak ingin kamu sampai menghina Airin seperti tadi. Bagaimanapun juga Airin adalah menantu Tante, wanita yang dipilih Gagah untuk menjadi pendamping hidupnya. Kamu tahu, Gagah itu tidak mudah tertarik dengan sembarangan wanita. Jika Airin yang dipilih oleh Gagah, berarti memang Airin adalah wanita yang sangat istimewa. Kamu harus memahami itu!" Widya membela Airin, karena dia tahu apa yang dilakukan Florencia adalah salah.
Florencia mendengus kesal, karena menganggap Widya tidak berpihak kepadanya. Justru membela Airin. Dengan bersungut-sungut tanpa berpamitan, Florencia meninggalkam Widya dan rumah milik orang tua Gagah itu.
***
Airin bergegas meninggalkan teras rumah Prasetyo ketika Widya menyuruhnya masuk ke dalam, untuk menghindari Florencia yang terus mengeluarkan kata-kata penuh sidiran dan kebencian.
Hatinya terasa bergemuruh, rasa marah dan kecewa ia rasakan saat ini, hingga membuat bola matanya mulai mengembun karena hawa panas yang menyerangnya.
Airin tak mengerti, mengapa orang selalu merendahkan statusnya sebelum menikah dengan Gagah. Apa salahnya dengan status janda? Berdosakah wanita berstatus janda, sampai Florancia mencibirnya seperti tadi. Apakah wanita berstatus janda tidak boleh merasakan kebahagiaan dan mendapatkan cinta seorang pria yang tulus mencintai seperti Gagah.
Tiba-tiba saja timbul ketahuan di hati Airin. Apa Gagah benar tulus kepadanya? Kenapa Gagah tidak menceritakan jika Florencia menyukai Gagah, bahkan berambisi ingin menjadi istri Gagah? Kenapa Gagah harus menyembunyikan darinya? Isi kepala Airin sudah berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, hingga membuat air matanya tak terasa menetes di pipi. Bukan hanya karena kata-kata menyakitkan dari Florencia, tapi juga karena Airin masih sangat trauma dengan kemunculan wanita lain dalam rumah tangganya.
"Mama napa nangis?" tanya Luna melihat air mata meleleh di pipi Airin. Tangan mungilnya bahkan mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi sang Mama.
"Mama tidak menangis, kok." Airin segera menghapus air matanya.
"Ateu tadi nakalin Mama, ya?" Bocah kecil itu seakan tahu jika kehadiran Florencia sudah membuat mamanya bersedih.
Airin tersenyum getir, di saat hatinya bersedih, hanya Luna yang seakan mengerti apa yang dia rasakan.
"Mama jangan nangis. Nanti Luna bilang Papa, bial Ateu itu dimalahin cama Papa, coalnya nakalin Mama," ujar Luna kembali, tak ingin melihat sang Mama terus bersedih.
Ucapan Luna tak menghentikan air mata Airin, justru membuat wanita cantik itu terisak dengan memeluk putrinya, hingga Luna pun ikut menangis.
"Airin ..." Suara Widya terdengar dari pintu kamar Luna.
Airin segera menyeka air matanya saat melihat kemunculan sang Mama mertua.
"Airin, maafkan apa yang dikatakan Florencia tadi, ya. Mama tidak mengira Flo akan senekat itu. Mamanya juga tidak menyangka jika Flo terobsesi dengan Gagah." Setelah mengusir Florencia dari rumahnya, Widya bergegas menemui Airin, karena ia tahu, Airin pasti akan bersedih mendengar semua perkataan Florencia yang sangat menyakitkan hati.
"Nenek, Ateu tadi jahat nakalin Mama, Mama jadi cedih." Dengan tersedu Luna mengadu pada Widya.
"Nenek sudah suruh pulang Tantenya." Widya mengusap kepala Luna, juga menyeka air mata Luna. "Luna jangan ikut nangis, kalau Luna nangis, nanti Mama nangis terus, tidak berhenti-berhenti nangisnya." Widya mengambil Luna dari Airin hingga kini tubuh bocah itu berada di pangkuannya.
"Jangan diambil hati ucapan Flo tadi, Airin. Mama dan Gagah juga tidak mempermasalah tentang status kamu dulu, kan? Yang penting saat ini kami semua menerima kamu. Abaikan semua komentar negatif orang-orang yang tidak senang melihat kamu bahagia." Widya menasehati Airin agar Airin tidak menjadi down atas sikap Florencia tadi.
Airin menyeka kembali air mata yang seolah sulit untuk ia bendung. Namun, setidaknya kata-kata yang diucapkan Widya sedikit menegarkan hatinya, karena Mama mertuanya itu membelanya, tak terpengaruh dengan provokasi yang dilakukan oleh Florencia tadi.
Widya memang memerankan tugasnya sebagai Mama mertua dengan sempurna. Ia membela wanita yang saat ini berstatus sebagai menantunya. Baginya, siapa pun wanita yang menjadi istri anaknya adalah bagian dari keluarganya, sehingga dia wajib membela anggota keluarganya dari orang-orang yang mencoba mengusik kebahagian anggota keluarga besar Prasetyo Hadiningrat.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️