
Setelah kedatangan dokter ke rumah Prasetyo untuk memeriksa Luna, Airin kembali mencoba membujuk Luna agar mau makan. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan jika Luna tidak mengalami sakit secara medis, dan dokter hanya memberikan vitamin juga obat penurun demam karena suhu tubuh Luna menghangat.
Setelah berkali-kali dibujuk, akhirnya Luna mau juga menelan makanan yang disodorkan oleh Airin meskipun hanya beberapa suap saja. Sesudahnya Airin memberikan obat pada Luna dan membiarkan Luna untuk kembali beristirahat setengah jam setelah makanannya turun ke perut.
"Luna mau makan, Rin?" Widya masuk dari pintu kamar Luna lalu berjalan menghampiri tempat tidur Luna.
"Hanya beberapa suap saja, Ma." jawab Airin menunjuk nasi yang masih tersisa di piring.
"Tidak apa-apa, yang penting ada makanan yang masuk ke perutnya, kasihan kalau tidak makan sama sekali." Widya duduk di tepi tempat tidur Luna, lalu mengusap kening sampai ke belakang kepala Luna.
"Iya, Ma. Alhamdulillah ini juga ada makanan yang mau dia makan," sahut Airin.
"Gagah tadi cerita, katanya Papanya Luna mengalami musibah, Rin?" Sebelum berangkat ke kantor, Gagah sempat menitipkan Airin dan Luna pada Mamanya dan memberitahu soal musibah yang menimpa Papa kandung Luna.
"Iya, Ma. Tadi Om nya Luna telepon aku dan kasih kabar itu," jawab Airin membenarkan.
"Pantas saja sejak semalam Luna ngamuk terus, Rin. Memang ada yang sedang dirasakan Luna terhadap Papanya." Seperti Gagah, Widya pun menyampaikan pendapat yang sama.
"Iya, Ma. Sebelumnya aku sama sekali tidak berpikir sikap Luna semalam karena sesuatu yang buruk sedang menimpa Papanya." Airin mendesah.
"Bagaimanapun juga ikatan batin seorang anak kepada orang tuanya sangatlah kuat, Rin." Widya menimpali, "Oh ya, apa kalian akan membesuk Papanya Luna?" tanyanya kemudian.
"Aku masih menunggu kabar dari Mas Gagah, Ma. Siang ini rencananya Mas Gagah akan membesuk Papanya Luna dan mencari tahu kondisinya bagaimana." Airin menerangkan apa yang diputuskan oleh Gagah.
"Iya, sih, kalau lihat kondisi kamu yang sedang hamil juga kondisi Luna saat ini. Tapi, kalau kamu dan Luna tidak ke sana, Mama takut Bu Wulan punya pemikiran negatif, Rin. Mama tidak mau Bu Wulan beranggapan Gagah menghalangi Luna bertemu dengan Papanya. Umur seseorang itu tidak ada yang tahu, Rin. Naudzubillahi min dzalik kalau sampai Papanya Luna tidak ada usia, setidaknya Luna sempat bertemu dengan Papanya dulu." Widya punya pandangan yang berbeda dengan Gagah dalam menyingkapi masalah ini.
"Tapi aku tidak bisa memaksa ikut membesuk ke sana kalau Mas Gagah melarang, Ma." sahut Airin, sebenarnya Airin juga ingin membesuk, setidak menunjukkan sikap empati atas musibah yang menimpa Rey.
"Ya sudah, kita tunggu saja kabar dari Gagah." Widya akhirnya menyarankan Airin menunggu informasi dari Gagah. Dia tidak mau terlalu mengatur Airin, karena Gagah lah yang lebih berhak mengatur Airin. Dan tentu saja dia harus memberikan contoh pada Airin agar Airin patuh pada suami.
"Iya, Ma." sahut Airin kemudian.
***
Gagah merapihkan meja kerjanya termasuk mematikan laptop di atas meja. Dia akan segera ke rumah sakit untuk membesuk Rey. Gagah memutuskan pergi membesuk Rey sendirian tanpa mengajak Airin ataupun Luna, karena kondisi Luna yang masih saja rewel. Dia takut melihat kondisi Rey, Luna akan makin histeris.
"Kak Gagah mau ke mana?" tanya Gadis saat melihat Gagah keluar dari ruang kerjanya.
"Ada apa?" tanya Gagah.
"Aku mau tanya soal proposal ini, Kak." Gadis menunjuk berkas yang hendak ia tanda tangani.
"Nanti aku jelaskan soal ini." Gagah melirik arloji di tangannya, dia tidak ingin sampai ketinggalan waktu membesuk.
"Kak Gagah buru-buru sekali?" tanya Gadis heran.
"Aku mau membesuk Papa kandungnya Luna, semalam dia kecelakaan dan saat ini masih kritis di ICU." Gagah menjelaskan alasannya ingin meninggalkan kantor secepatnya.
"Papanya Luna kecelakaan?" Gadis terkejut mendengar kabar yang diinfo Gagah.
"Iya, saya ingin memantau kondisinya," ujar Gagah, "Saya pergi dulu." Gagah lalu melangkah menuju lift meninggalkan Gadis.
"Papanya Luna kecelakaan? Mungkin itu karma yang didapat dia karena berselingkuh dengan si nenek lampir." Gadis mengomentari apa yang dialami oleh Rey adalah balasan atas perbuatan Rey menyakiti hati Airin.
Gadis pun kemudian masuk kembali ke dalam ruangannya, menunggu Gagah kembali dari rumah sakit untuk menanyakan hal dalam proposal yang masih belum dia mengerti.
Sementara Gagah turun melalui lift menuju arah basement, sebab ia memarkirkan mobilnya di basement. Gagah lalu segera meninggalkan gedung perkantoran milik Bintang Departement Store.
Lebih dari setengah jam waktu yang dibutuhkan oleh Gagah untuk tiba di rumah sakit di mana Rey dirawat. Setelah bertanya pada pegawai resepsionis Gagah langsung menuju ruang ICU.
Di depan ruang ICU, Gagah melihat Wulan yang sedang duduk dengan menyandarkan kepalanya pada bahu seorang pria muda yang wajahnya mirip dengan wajah dalam foto profil orang yang menghubungi Airin tadi pagi.
"Assalamualaikum, Bu Wulan." Gagah menyapa Wulan saat dirinya sudah mendekat ke arah Wulan.
"Waalaikumsalam ..." Wulan dan juga pria di samping Wulan menjawab salam Gagah secara bersamaan.
"Nak Gagah?" Wulan terkejut saat melihat kehadiran Gagah di hadapannya, apalagi Gagah menyalami Wulan dengan sopan.
"Bagaimana kondisi Papanya Luna, Bu?" tanya Gagah duduk di samping Wulan.
"Masih belum sadar, Nak. Masih kritis," jawab Wulan sambil menyeka air matanya. Meskipun Wulan sangat marah terhadap Rey karena perbuatan Rey yang berselingkuh dan bercerai dari Airin, dia tetap saja merasakan sedih ketika mengetahui anaknya sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Ini Pak Gagah suaminya Mbak Airin?" tanya Robby pada Gagah.
"Benar, saya Gagah suami Airin." Gagah memperkenalkan diri.
"Saya Robby, Om nya. Luna." Robby pun memperkenalkan diri pada Gagah.
"Bagaimana kronologinya, Pak Robby? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Pak Rey?" tanya Gagah mencari informasi soal kecelakaan Rey.
"Bang Rey mengalami kecelakaan sekitar pukul sepuluh malam. Menurut saksi mata di tempat kejadian, ada mobil menyalip dari arah berlawanan dan mobil Bang Rey sedang dalam laju yang cukup kencang." Robby menceritakan apa yang terjadi pada kakaknya.
"Jam sepuluh malam?" Gagah mengeryitkan keningnya, memangnya apa yang dilakukan oleh Rey semalam itu? Saat masih lajang, jam sepuluh malam Gagah sudah beristirahat di kamarnya atau mungkin sudah terlelap. Apa Rey sedang bersenang-senang dengan wanita yang menjadi selingkuhannya itu hingga malam-malam masih beredar di luar? Gagah menduga-duga.
__ADS_1
"Rey sedang bersama wanita itu, Nak Gagah," cerita Wulan menampakkan wajah sedih. Dia berpikir, jika saja Rey masih bersama Airin, tidak mungkin Rey sampai mengalami musibah ini.
"Saat kejadian, Bang Rey sedang bersama teman wanitanya." Robby memperjelas ucapkan sang Mama.
Tepat dugaan Gagah, ternyata Rey memang sedang bersama Joice ketika mengalami kecelakaan.
"Lalu, bagaimana kondisi temannya itu, Pak Robby?" Gagah penasaran dengan kondisi wanita yang merebut Rey dari Airin.
"Dia meninggal seketika di TKP, Pak." jawab Robby.
"Innalillahi Wainnaillahi Roji'un ..." ucap Gagah, tak menyangka jika Joice sudah meninggal, padahal baru kemarin Gadis menceritakan pertemuannya dengan Joice hingga membuat Luna terjatuh, dan membuat dirinya menegur Rey, bahkan dirinya menyebut jika Joice berselingkuh. Tiba-tiba Gagah menduga jika Rey dan Joice sedang bertengkar soal laporan tentang perselingkuhan Joice hingga menyebabkan Rey melajukan mobil dengan kencang dan terjadilah kecelakaan itu.
"Saya turut prihatin atas apa yang menimpa Pak Rey, Bu Wulan." Gagah mengusap punggung Wulan mencoba memberi kekuatan pada orang tua Rey. Ada rasa bersalah di hati Gagah atas musibah yang terjadi pada Rey dan Joice.
"Terima kasih, Nak Gagah." Wulan kembali mengusap air matanya.
"Maaf Airin dan Luna belum bisa membesuk kemari, Bu. Semalam Luna terbangun, menangis dan mengamuk. Sampai tadi pagi pun dia nampak tak bersemangat dan tak mau makan, suhu badannya juga jadi hangat. Mungkin Luna bisa merasakan apa yang sedang terjadi pada Papanya. Sebab itu, saya belum mengijinkan Luna pergi-pergi." Gagah menjelaskan kenapa tak mengajak Airin dan Luna.
"Lalu Luna bagaimana sekarang, Nak Gagah?" Wulan merasa khawatir mendengar cerita Gagah tentang Luna.
"Sekarang sudah mau makan walau tidak banyak, tadi juga sudah diperiksa dokter dan suhu tubuhnya sudah normal," jawab Gagah setelah mendapat laporan dari istrinya.
"Kasihan Luna, semoga saja Rey tidak apa-apa, biar Luna tidak sedih," harap Wulan.
"Aamiin ..." sahut Gagah.
"Apa saya bisa melihat Pak Rey, Bu Wulan?" tanya Gagah.
"Rob, tolong antar Nak Gagah ke dalam." Wulan minta Robby untuk mengantar Gagah melihat Rey di ruang ICU.
"Iya, Ma." Robby bangkit dari duduknya, "Mari, Pak Gagah." Lalu mengajak Gagah masuk ke ruang ICU.
Gagah mengikuti langkah Robby yang masuk ke dalam ruang ICU. Dia mendapati kondisi Rey dengan perban di kepala, tangan dan kakinya. Seandainya Luna melihat kondisi Rey saat ini, mungkin Luna akan ketakutan menjadi histeris seperti semalam. Gagah menghela nafas panjang melihat kondisi Rey yang sangat memperhatinkan.
"Bagaimana menurut dokter, Pak Robby?" tanya Gagah.
"Bang Rey mengalami cidera parah di kepalanya dan kakinya, Pak Gagah. Jika Bang Rey sembuh, kemungkinan akan mengalami kelumpuhan," cerita Robby menjelaskan tentang kondisi kakaknya.
Gagah menghela nafas seraya memejamkan mata mendengar penjelasan kondisi Rey. Jika Rey tidak tergoda dengan wanita seperti Joice, mungkin Rey sedang menikmati kebahagiaan dengan keluarga kecilnya. Namun, Rey justru tergoda dengan kenikmati dunia dan kebahagiaan semu.
"Jika Allah SWT masih memberi kesempatan Anda untuk sembuh, saya berharap Anda dapat memperbaiki perbuatan Anda yang keliru selama ini," kata Gagah dalam hati berharap Rey akan bertobat dan menyadari kesalahan di masa lalunya.
"Lalu, bagaimana keluarga korban yang meninggal?" Gagah menanyakan soal keluarga Joice, karena jika keluarga Joice menuntut, Rey kemungkinan akan diproses hukum karena menyebabkan hilangnya nyawa seseorang meskipun itu terjadi bukan karena faktor kesengajaan.
"Saya merasa prihatin dengan musibah yang dialami oleh Pak Rey." Gagah menunjukkan rasa empatinya, "Saya harap Pak Rey bisa segera siuman dan semoga kondisi Pak Rey bisa lebih baik dari yang diprediksi oleh dokter." Gagah pun berharap Rey tidak sampai mengalami cacat.
"Aamiin, terima kasih, Pak Gagah." sahut Robby.
Setelah itu Gagah memilih keluar dari kamar ICU dan berpamitan kepada Wulan, ingin kembali ke kantor sebab masih banyak yang harus dia kerjakan.
"Bu Wulan, saya pamit dulu, saya harus kembali ke kantor. Semoga Pak Rey cepat sadar dan cepat membaik." Gagah memeluk Wulan memberi dukungan pada Nenek Luna agar tetap sabar dan tegar.
"Baik, Nak Gagah. Terima kasih sudah membesuk Rey." sahut Wulan.
"Sama-sama, Bu Wulan. Assalamualaikum ..." Gagah kemudian berpamitan.
"Waalaikumsalam ..." Wulan dan Robby menjawab salam yang diucapkan oleh Gagah.
***
Widya membuatkan stup roti keju coklat untuk Luna, agar Luna mau makan kembali, sebab Luna sudah terbangun dari tidurnya. Widya membuat stup roti itu semenarik mungkin agar Luna mau memakannya.
"Luna sudah bangun, ya?" Widya membawa stup roti itu ke kamar Luna. "Ini Nenek buatkan stup roti untuk Luna, ada coklat sama kejunya. Luna makan dulu, ya!" Widya menyerahkan wadah stup roti itu pada Airin.
"Tuh, Nenek buatkan stup roti, Luna makan, ya?" Airin menerima wadah stup roti dari tangan Widya. "Wah, enak sekali ini banyak keju sama coklatnya. Luna pasti suka." Airin memo tong stup roti menggunakan sendok lalu menyuapkan stup ke dalam mulutnya. "Hmmm, enak." Airin mencoba lebih dulu stup roti buatan Mama mertuanya itu sebelum dia berikan pada Luna.
"Sekarang Luna yang cobain ..." Kini Airin menyuapkan makanan itu pada Luna.
"Ndak mau, Ma." Luna menggelengkan kepala.
"Di makan dulu, Luna. Nenek buatkan ini untuk Luna, lho." Widya ikut membujuk Luna, "Oh ya, nanti mau ada Ica ke sini, mau main sama Luna. Kalau Luna tidak makan, Luna tidak bisa main sama Ica," lanjutnya. Widya sengaja memberitahu Ayuning dan Putri tentang kondisi Luna, dan meminta kedua menantunya untuk datang membawa anak-anak mereka menghibur Luna agar tidak sedih dan murung.
"Wah, Ica mau main ke sini, ayo Luna makan dulu stup rotinya." Airin kembali mendekatkan roti ke mulut.
Setelah dibujuk dengan kedatangan Ica akhirnya Luna mau juga membuka mulutnya dan menerima suapan stup roti dari Airin.
"Alhamdulillah, akhirnya habis juga." Airin menarik nafas lega karena Luna mau menghabiskan stup roti buatan Widya.
"Nenek senang Luna mau makan." Widya mengambil tempat stup roti yang sudah kosong kemudian dia keluar kamar Luna untuk menaruh ke dapur.
"Luna mau turun ke bawah?" Airin menawarkan Luna keluar kamar menunggu Clarrisa datang.
"Luna mau telepon Papa, Ma." Luna justru ingin berbicara dengan Papanya. Dan Airin menduga jika Papa yang dimaksud Luna adalah Gagah.
__ADS_1
"Luna mau telepon Papa?" Airin bangkit mengambil ponselnya dan segera mengirimkan pesan pada Gagah terlebih dahulu, untuk mengetahui Gagah sedang sibuk atau tidak, sebab ia tidak ingin mengganggu waktu kerja sang suami.
"Assalamualaikum, Mas. Sedang sibuk, tidak? Luna ingin telepon Mas."
Kurang dari satu menit dari pesan yang ia kirim, dering ponsel Airin berbunyi. Gagah tak membalas pesan dari Airin tapi langsung melakukan panggilan video call.
"Papa video call ini, Nak. Luna katanya mau telepon Papa." Airin lalu mengangkat panggilan video dari Gagah.
"Assalamualaikum, Pa." Airin duduk di samping Luna dan memperlihatkan layar ponselnya yang saat ini menampilkan wajah Gagah.
"Waalaikumsalam, Luna sudah bangun, ya? Luna kangen Papa?" tanya Gagah dengan tersenyum sebab Luna ingin meneleponnya.
"Ma, Luna mau telepon Papa Ley." Luna memperjelas keinginannya yang sesungguhnya jika Papa yang dia maksud adalah Rey bukan Gagah.
Airin terkesiap mendengar permintaan Luna, kenapa dia tidak peka dengan permintaan Luna, padahal sejak semalam Luna sedang merasakan kegelisahan karena Rey sedang mendapatkan musibah.
"Hmmm, Mas ..." Airin minta bantuan sang suami untuk menjawab permintaan Luna sebab dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa atas keinginan putrinya itu.,
"Luna mau telepon Papa Rey?" Pertanyaan Gagah dijawab anggukkan kepala Luna.
"Mas sudah membesuk?" tanya Airin.
"Sudah, ini aku baru sampai di mobil," jawab Gagah.
"Bagaimana kondisinya, Mas?" Penasaran juga Airin terhadap kondisi mantan suaminya itu.
"Dia kecelakaan bersama wanita itu, malangnya wanita itu meninggal seketika di tempat, sementara dia masih koma, dan jika dia melewati masa kritis dan siuman, dokter mengatakan kemungkinan dia akan mengalami kelumpuhan." Gagah menjelaskan apa yang akan terjadi pada Rey.
"Innalillahi Wainnaillaihi roji'un ..." Airin tidak menyangka jika wanita yang menyebabkan keretakan rumah tangganya dengan Rey meninggal dunia. Apalagi tentang kondisi Rey, tak bisa ia bayangkan jika mantan suaminya itu akan mengalami kelumpuhan.
"Jadi aku harus gimana ini, Mas? Luna ingin telepon Papanya." Airin bingung menjawab permintaan Luna.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan hubungi Pak Robby, nanti kamu coba saja video call ke Om nya Luna." Gagah akan mencoba minta bantuan Robby untuk menerima telepon dari Airin, dan mengatakan jika Rey sedang sakit tanpa harus memperlihatkan kondisi Rey yang sebenarnya pada Luna.
"Ya sudah, Mas." Airin menuruti apa yang disarankan suaminya.
"Nanti kamu tunggu pesan dari aku," sambung Gagah.
"Iya, Mas. Assalamualaikum ..." Airin mengakhiri panggilan video call sambil menunggu kode dari Gagah kapan menghubungi Robby.
"Waalaikumsalam ..." Setelah Gagah menjawab, panggilan telepon itu terpu tus.
"Nanti Papa mau tanya Papa Rey dulu, Papa Rey sedang sibuk apa tidak? Kalau Papa Rey tidak sibuk, Luna bisa telepon sama Papa Rey." Airin masih memberi alasan kesibukkan Rey pada Luna agar Luna mau mengerti. Dan Luna mengangguk mengerti.
Tak beberapa lama, Gagah mengirim pesan memberitahu Airin untuk langsung melakukan video call dengan Robby. Dan Airin pun langsung menghubungi Om dari Luna.
"Assalamualaikum, Om Robby. Om Robby, Luna mau bicara sama Papa Rey, Papa Rey sedang apa, Om?" Saat terlihat wajah Robby di layar ponselnya, Airin lalu menyapa Robby.
"Waalaikumsalam ... Halo, Luna. Luna apa kabar? Luna mau liat Papa, ya?" Robby menjawab.
"Om Lobi, Papa Ley mana?" tanya Luna.
"Papa Luna sedang sakit, Sayang. Sekarang sedang tidur Papa Rey nya." Robby menjelaskan.
"Papa Ley cakit apa, Om?" tanya Luna.
"Papa Luna kecapean karena banyak bekerja, nanti kalau Papa Luna sudah sembuh, Om suruh Papa telepon Luna." Robby menjanjikan jika Rey akan menelpon Luna jika sudah sembuh untuk menyenangkan hati Luna.
"Iya, Om." jawab Luna.
"Katanya Luna tidak mau makan, ya? Luna harus makan, biar Luna tidak sakit kayak Papa. Luna makan nanti ya, Sayang." Robby pun menasehati Luna agar tidak mogok makan.
"Iya, Om," sahut Luna kembali.
"Ya sudah, Om tutup dulu teleponnya, ya. Assalamualaikum." Takut Luna banyak bertanya tentang Rey, Robby memilih mengakhiri sambungan video call.
"Waalaikumsalam ..." sahut Airin lalu menaruh ponselnya. "Luna dengar kata Om Robby, kan? Luna harus makan supaya Luna tidak sakit seperti Papa." Airin kembali mengulang kata-kata Robby menasehati Luna yang tidak bernaf su untuk makan.
*
*
*
Bersambung ...
* Kenapa Joice dibuat mati sih, Thor? Belum puas liat Joice menderita, nih!
Othor udah kasih balasan yang paling ga enak buat Joice, sebab Othor ga kasih Joice kesempatan buat bertobat dulu memperbaiki kesalahannya tapi langsung dimatikan saja, apalagi Joice baru aja hiya-hiya sama teman kencannya, kurang kejam apa coba si Othor ini?🤭🤭
Kalau Rey dibikin koma, sebab ada yang harus dipertanggung jawabkan Rey terhadap perbuatannya dulu karena telah menyakiti hati Airin juga Luna. Jadi ga adil kalo Rey langsung dibikin mati juga, kan? 😁😁
Happy Reading❤️
__ADS_1