
Di ruang kerja Prasetyo, ayah dari tiga pria tampan itu sedang berbincang dengan Tegar. Tegar membicarakan proyek baru yang didapat oleh perusahaan tempatnya bekerja. Juga rencananya ingin membuat usaha sendiri yang akan dia tawarkan pada Bagus dan juga Gagah.
Ketiga anak Prasetyo semuanya bekerja pada orang lain, Tegar dan Gagah di perusahaan swasta, sementara Bagus di Badan Usaha Milik Negara. Namun, ketiga anaknya itu mempunyai jabatan yang sangat lumayan di perusahaan masing-masing, terutama Gagah yang mendapatkan jabatan paling bergensi sebagai CEO di sebuah perusahaan retail ternama.
Sementara Prasetyo sendiri memiliki usaha industri manufaktur makanan dan minuman dalam kemasan yang banyak dikonsumsi masyarakat umum dan sudah berdiri puluhan tahun.
Selepas berbincang dengan Papanya, Tegar turun ke bawah, dia ingin menemui Gagah untuk membicarakan soal bisnis. Ketika ia keluar dari ruanga kerja Prasetyo matanya menangkap bayangan sosok Gagah masuk ke arah dapur membuat ia menyusul adiknya itu.
"Oh ya, tolong jangan cerita pada Airin soal noda lipstik itu, Bi."
Ucapan Gagah menghentikan langkah Tegar yang baru akan masuk ke pintu dapur, hingga bersembunyi di balik dinding yang menghalangi ruang makan dengan dapur.
Tentu saja kata-kata Gagah mengundang kecurigaan Tegar yang senang menggoda adik bungsunya itu. Apalagi ini menyangkut wanita lain selain Airin. Senyuman pun langsung melengkung di sudut bibir pria tampan itu. Apalagi mendengar penjelasan Gagah tentang siapa pemilik lipstik di blazer adiknya itu.
Tegar mengenal Florencia. Hampir seluruh keluarganya mengenal Florencia. Dia tahu jika Gagah sangat dekat dengan putri pemilik perusahaan yang dikelola Gagah. Namun, ia tidak berpikir jika Florencia menyukai Gagah, karena saat itu Florencia masih duduk di bangku SMA. Tapi saat ini, tentulah Florencia sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang pasti sangat menggoda.
"Siapa yang tadi datang ke kantor? Dan siapa wanita yang telah meninggalkan lipstiknya di blazermu itu, Gah?" Sengaja Tegar keluar dari persembunyiannya untuk mencari tahu lebih detail soal noda lipstik yang menempel di blazer Gagah.
Gagah dan Bi Junah sontak menolehkan pandangan ke asal suara Tegar.
"Apa diam-diam kamu punya penggemar?" Tegar mendekat, tangannya menyingkap blazer di tangan Bi Junah untuk melihat noda yang menempel bergambar lipstik itu. Matanya kini melirik menatap Gagah dengan seringai tipis bibirnya.
"Hei, kau ini baru menikah, Gah. Jangan nakal lah ... aku saja setelah menikah insyaf. Kau jangan sebaliknya, sudah menikah tapi masih mencari kepuasan dengan wanita lain," sindir Tegar terkekeh.
"Jangan senang menduga-duga hal yang tidak sebenarnya terjadi, Mas. Aku bukan Mas Tegar yang sedang membagi cinta pada banyak wanita." Gagah membalas sindiran Tegar, dengan menyinggung masa lalu Tegar yang terkenal bad boy saat masih muda.
"Hei, jangan mengungkit masa lalu. Nyatanya saat ini aku sudah insyaf, kan?!" kilah Tegar masih dengan tertawa kecil.
"Bagaimana rupa anak Pak Bintang sekarang? Pasti makin cantik, ya?" Sengaja Tegar menggoda Gagah dengan menyebut soal Florencia.
"Bagaimanapun penampilan dia sekarang, tidak penting untukku, Mas." Gagah tidak ingin terpengaruh dengan jebakan pertanyaan sang kakak.
"Hahaha ... apa kamu lupa jika dia adalah calon pewaris usaha Pak Bintang? Bagaimana kau bilang dia itu tidak penting, Gah?"
Gagah mendelik ke arah Tegar.
"Lalu, apa hubungannya denganku?" Tak suka dengan pertanyaan kakaknya yang ia anggap tak bermutu, Gagah melempar pertanyaan bernada ketus.
"Tentu saja ada hubungannya, Gah. Dia itu bisa membahayakan posisimu saat ini sebagai CEO di sana. Jika dia mau mengambil posisi itu darimu, atau ... jika dia menikah dan suaminya itu yang akan menggantikan posisimu sebagai direktur utama di sana." Tegar berpikir realistis, karena perusahaan yang Gagah kelola bukan perusahaan keluarga mereka.
"Aku sudah tahu, Mas. Aku tahu perusahaan itu bukan milikku pribadi. Dan aku sudah mengantisipasi hal tersebut," sahut Gagah, tak mempermasalahkan apa yang dikhawatirkan oleh kakaknya.
"Bi, tolong cepat cuci pakaian saya itu dan ingat apa yang saya ucapkan tadi." Gagah kembali mengingatkan Bi Junah yang masih berdiri mendengarkan perdebatan antara Gagah dan Tegar.
"Baik, Mas." Bi Junah meninggalkan kedua kakak beradik itu.
"Apa ada yang ingin Mas Tegar tanyakan lagi? Aku ingin kembali ke kamar." Gagah ingin kembali ke kamarnya, bergabung dengan Airin dan Luna. Tak ingin membuat istrinya itu curiga karena ia terlalu lama meninggalkan mereka di kamar.
"Hahaha ... pengantin baru, inginnya masuk kamar terus. Tunggulah sebentar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Tegar menahan langkah Gagah yang ingin meninggalkannya.
"Tentang apa?" tanya Gagah.
"Soal peluang bisnis. Aku ingin membuat usaha jasa ekspedisi untuk mengangkut barang subsidi dari perusahaan milik negara. Akhir tahun ini rencananya akan diadakan tender untuk pengangkutan produk mereka. Aku ingin mencoba masuk ke sana. Karena itu aku ingin membuka bendera jasa angkutan. Kita tidak perlu pusing memikirkan cari kerjaan, pekerjaan kita sudah pasti jika kita terikat kontrak dengan mereka." Tegar menyampaikan rencananya pada Gagah.
"Kita bicara di ruang sebelah saja." Gagah mengajak Tegar bicara di ruang keluarga. Hingga mereka berdua beranjak ke ruang di sebelah ruangan makan keluarga Prasetyo.
Gagah duduk di sofa dengan menyilang satu kakinya.
__ADS_1
"Apa kita akan membuat perusahaan sendiri?" tanya Gagah merespon rencana kakaknya. Tak ada salahnya ia mengambil peluang itu untuk berjaga-jaga jika ia tidak menjabat CEO di perusahan milik Bintang Gumilang.
"Kita harus buat badan usaha lebih dahulu, berbentuk perseroan terbatas. Setelah ini kita cari lokasi tempat usaha dan mencari armada untuk beroperasi. Beberapa rekan bisnisku ada yang ingin menjual beberapa unit kendaraannya, kondisinya masih bagus. Sementara ini, kita tidak usah membeli unit yang baru, yang second saja asal kondisi masih oke." Tegar memaparkan lebih lanjut apa saja yang diperlukan untuk menjalankan usaha ekspedisi yang ia maksud.
"Berapa modal yang diperlukan untuk menjalankan usaha itu, Mas?"" tanya Gagah ingin tahu estimasi modal yang diperlukan untuk mendirikan perusahaan tersebut.
"Mungkin sekitar dua puluh atau dua puluh lima milyar. Minimal kita harus mempunyai dua puluh lima unit kendaraan," jelas Tegar, "Setelah usaha kita jalan, kita bisa menambah kendaraan dengan mengambil pekerjaan yang lainnya di luar kerjaan utama kita dengan BUMN," lanjut Tegar.
"Mas Tegar punya perkiraan, berapa omzet yang bisa kita peroleh dari usaha itu?" tanya Gagah tertarik dengan peluang usaha yang ditawarkan kakaknya.
"Sekitar lima ratus sampai enam ratus juta, bahkan bisa lebih. Dengan estimasi keuntungan bersih kisaran enam sampai tujuh puluh juta perbulannya Tergantung hasil tender yang didapat. Itu sudah bersih, lho." Tegar menerangkan secara detail.
"Mas sudah diskusi dengan Papa atau Mas Bagus?" Untuk memutuskan urusan bisnis, Gagah selalu berkonsultasi dan bertukar pikiran dengan Papanya.
"Aku sudah bicara dengan Papa dan Mas Bagus. Papa malah menawarkan dana jika memang kita membutuhkan modal. Tapi, kalau kamu menyanggupi mendanai tiga perempat dari modal yang dibutuhkan, sepertinya kita tidak perlu suntikan dana dari Papa untuk usaha ini." Tegar sudah memperhitungkan dengan matang.
"Oke, nanti aku diskusi lagi dengan Papa, Mas." Gagah bangkit dan berjalan meninggalkan Tegar menuju kamarnya, "Aku ke kamar dulu," pamitnya.
"Nanti kabari kalau sudah oke, Gah." Tegar sedikit berteriak karena Gagah sudah melangkah menaiki anak tangga.
***
Airin memperlihatkan aktivitas Luna yang bermain di playground di kamar putrinya pada Ambar dan Liliana dari kamera ponselnya. Sejak menikah dengan Gagah, Airin baru mempunyai kesempatan berkomunikasi dengan sahabatnya itu. Karena selama cuti, Gagah hampir selalu ada di sampingnya, membuat ia tidak enak hati berbincang apalagi bergosip dengan kedua sahabatnya itu.
Kepada kedua sahabatnya, Airin bercerita betapa Gagah sangat memperdulikan dan menyanyangi Luna, hingga menyiapkan kamar tersendiri yang nyaman untuk Luna.
"Ya ampun, Rin. Kamar Luna seluas itu?" Liliana tercengang melihat setiap sudut kamar Luna yang diperlihatkan Airin dari ponselnya.
"Bikin envy banget, Rin." celetuk Ambar menimpali.
"Iya, Luna serasa putri di rumah ini, Li, Bar." Airin tersenyum senang, karena anaknya diterima sangat baik di keluarga suaminya.
"Alhamdulilah, Bar."
"Luna, senang ya, punya banyak mainan di rumah Papa Gagah?" tanya Liliana pada Luna yang tidak mendengar suaranya karena Luna asyik bermain melompat di atas trampolin.
"Luna, Tante Lili tanya, Luna senang tidak punya kamar yang ada mainannya dari Papa Gagah?" Airin menyampaikan pertanyaan Liliana pada putrinya, seraya mengarahkan kembali kamera ponselnya pada Liliana.
"Ateu Lili ...!" Luna melambaikan tangannya ke arah ponsel Mamanya.
"Iiih ... Kok, Tante Lili saja yang dipanggil? Tante Ambar tidak dipanggil?" protes Ambar karena tidak disapa oleh Luna.
"Ateu Ambal ..." Kini giliran Ambar yang disapa Luna.
"Luna, Tante ikut main di sana boleh tidak?" tanya Liliana.
"Cini, Ateu. Pio, Patih cama Al mana, Ateu?" Luna menanyakan teman-temannya, yang tak lain anak Liliana dan Ambar.
"Ada sedang nonton televisi, Sayang." sahut Liliana.
"Aduh, gawat ini. Jangan sampai anakku tahu Luna punya kamar begini, yang ada nanti dia minta dibuatkan kamar kayak Luna lagi."? Komentar berbeda diberikan Ambar menanggapi pertanyaan Luna, membuat Airin dan Liliana tertawa mendengar jawaban Ambar tadi.
***
Gagah mendengar suara tawa Airin yang terdengar sangat renyah dari kamar Luna. Dia menduga jika Airin sedang berbicara dengan teman-temannya di telepon. Jarang sekali dirinya mendapati sang istri tertawa seolah tanpa beban.
Gagah mengintip ke arah kamar Luna, terlihat Luna sedang melompat-lompat di trampolin mini. Ia pun melangkahkan kaki mendekat ke arah Airin.
__ADS_1
Melihat kehadiran Gagah di kamar Luna, Airin menghentikan tawanya. Ia yang sedang berada dalam sambungan video call dengan Liliana dan Ambar berniat mengakhiri sambungan telepon dengan kedua sahabatnya itu.
"Li, Mbar. Kita lanjut teleponnya lain kali, ya. Assalamualaikum ..." Airin segera mengakhiri sambungan video call mereka, tak enak diperhatikan oleh sang suami.
"Oke, Rin. Waalaikumsalam ..." balas Liliana dan Ambar bersamaan sebelum sambungan video call mereka berhenti.
"Kalian sedang bicara apa? Sepertinya asyik sekali." Gagah ikut bergabung duduk di sebelah Airin.
"Hanya menyapa saja, Mas." sahut Airin. Tentu saja dia malu jika mengatakan hal yang sedang mereka bicarakan tadi.
"Papa ...!" Sambil melompat di atas trampolin, Luna berteriak memanggil Gagah.
"Pelan-pelan, Luna. Hati-hati lompat-lompatnya." Gagah menegur Luna agar berhati-hati.
"Iya, Pa." sahut Luna, tak menghentikan lompatannya di atas trampolin.
"Mas dari mana?" Gagah terlalu lama meninggalkan Airin, hingga membuat wanita itu bertanya. Sebab, biasanya Gagah selalu membawanya ikut bergabung jika Gagah berkumpul atau berbicang di bawah bersama Prasetyo dan Widya.
"Apa kamu mulai kesepian saya tinggal tadi?" Dengan menyeringai Gagah menggoda Airin.
Tak menjawab kalimat menggoda suaminya, Airin memilih mengalihkan pandangan menatap Luna yang kini sudah berpindah bermain mandi bola.
"Saya tadi berbincang dengan Mas Tegar. Dia menawarkan peluang bisnis ke saya." Gagah menceritakan apa yang dibicarakannya dengan Tegar kepada Airin.
"Pekerjaan yang saya pegang saat ini bukan usaha pribadi saya ataupun usaha Papa. Suatu saat nanti bisa saja saya tidak dibutuhkan lagi di sana. Mungkin saat Florencia sudah mampu menjalankan usaha Papanya sendiri, atau saat dia menikah dan suaminya yang akan melanjutkan usaha Pak Bintang. Siapa yang akan tahu, kan? Jadi mulai sekarang saya harus prepare mengolah keuangan saya agar dapat menghasilkan keuntungan." Gagah memaparkan alasannya ingin menerima rencana Tegar membuat usaha berbadan hukum di bidang jasa.
"Apa kabar dengan Florencia?" Di antara kalimat panjang yang diucapkan oleh suaminya, Airin lebih penasaran dengan nama Florencia. Sejak menelepon Gagah beberapa hari lalu, tak pernah ada kabar tentang wanita itu dari Gagah. Apakah Florencia masih menghubungi suaminya atau tidak.
"Tidak usah membahas soal dia. Jangan ambil pusing juga soal dia." Gagah malas membahas soal Florencia, padahal ia sendiri yang mulai menyebut nama Florencia.
Airin membuang pandangan, dia kurang puas dengan jawaban Gagah, karena ia sendiri masih penasaran. Dia takut kehadiran wanita bernama Florencia itu akan mengganggu keutuhan rumah tangganya dengan Gagah yang baru dibina.
"Oh ya, bagaimana pendapat kamu soal rencana saya mendirikan usaha baru?" Gagah tidak mengindahkan kekecewaan Airin, karena tidak mendapatkan jawaban yang ingin Airin ketahui.
"Terserah saja, apa yang menurut Mas baik." Namun, Airin masih dapat mengendalikan rasa kecewanya dengan bicara dengan nada bicara yang tenang dan tidak ketus.
"Kalau kamu setuju, saya ingin angkat kamu sebagai direktur utama di perusahaan itu nantinya," ucap Gagah.
"Hahh??" Seketika Airin tercengang hingga membuka mulutnya, saking kaget dengan keputusan Gagah yang ingin memberikannya jabatan sebagai direktur utama pada perusahaan yang akan didirikan Gagah.
"Kenapa saya, Mas?" Airin masih tidak percaya Gagah ingin memberikan tugas sebagai direktur utama dalam usaha yang akan dibentuk oleh Gagah. Bukan hanya karena dirinya tidak terlalu ahli dalam usaha jasa., Tapi, dia pun merasa tidak enak, sebab dirinya adalah anggota baru di keluarga Gagah, kenapa bukan yang lain saja yang mendapatkan posisi tersebut. Belum lagi tanggung jawab yang akan dia terima tentunya tidak akan ringan, tidak seperti saat dia bertugas sebagai customer service di Central Bank.
"Saya, Mas Bagus dan Mas Tegar punya aktivitas masing-masing. Jadi kami butuh orang yang bisa menghandle pekerjaan itu." Gagah menjelaskan kenapa dirinya memilih Airin.
"Kamu tidak usah khawatir, nanti ada orang yang akan membantu kamu. Kamu juga tidak harus pergi ke kantor setiap hari, kamu bisa memantau pekerjaan dari rumah saja, jadi kamu tidak terlalu repot. Kamu juga bisa sambil bisa menjaga Luna." Gagah tentu tidak sepenuhnya melepas tanggung jawab pada Airin. Dia sengaja memberikan tugas itu kepada Airin, agar Airin tidak merasa jenuh di rumah seharian hingga menunggunya pulang dari kantor. Dan Gagah pun akan mempekerjakan staf yang ahli dalam urusan jasa ekspedisi di perusahaannya nanti.
"Hmmm, kenapa bukan Mbak Ayu atau Mbak Putri saja, Mas?" tanya Airin.
"Mbak Ayu dan Mbak Putri sudah lama tidak berkecimpung dalam urusan kantor, sementara kamu baru saja resign." Gagah menuturkan alasannya.
"Tidak usah cemas, saya akan tetap memantau pekerjaan yang kamu pegang." Gagah merangkulkan tangannya di pundak Airin dan mengoyangkan tubuh Airin, mencoba meyakinkan Airin jika keputusan yang dia ambil dengan memilih Airin sebagai direktur utama bukanlah hal yang salah. Dan ia meyakini jika Airin mampu melakukan tugasnya dengan baik.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️