
Cuaca panas di kamar Feby membuat ia membuka pintu balkon dan berjalan ke luar balkon untuk mencari angin segar di sana. Namun, ia menangkap sosok Haikal berdiri di tepi balkon kamar Haikal yang ada di sebelah kamarnya. Sepertinya Haikal juga sama-sama sedang mencari udara segar sepertinya.
"Ngapain melamun, Kak? Sedang mikirin Gadis, ya?" sindir Feby meledek seraya berjalan mendekati tepi balkon yang berdekatan dengan balkon kamar Haikal.
"Sok tahu ...!" cibir Haikal dibarengi tawa kecil.
"Oh ya, hubungan Kak Haikal dengan Gadis bagaimana, Kak? Tadi Gadis cerita, katanya dia mengalami musibah di Yogyakarta. Benar, Kak?" Setelah sampai di tepi pagar pembatas, kemudian Feby melakukan gerakan ingin melompati pagar balkon kamar menuju balkon kamar Haikal.
"Kamu mau apa, By?' hati-hati!" Haikal langsung mendekat dan membantu Feby menyebrang dari satu balkon ke balkon lainnya yang berjarak sekitar satu meter. " Jangan suka bertingkah konyol! Kalau jatuh ke bawah, bisa jadi, kamu tinggal nama!" sindir Haikal menegur tindakan Feby yang biasanya dilakukan oleh pria.
"Kalau aku tinggal nama, yang pertama kali aku datangani adalah Kak Haikal, karena Kak Haikal diam saja tidak mau membantuku." sahut Feby, kini dia yang tertawa.
"Lagipula, mau apa kamu lompat pagar segala?" tanya Haikal heran,
Setelah berhasil lompat ke balkon kamar Haikal, Feby duduk di kursi teras balkon dan menepuk sisi kosong di sebelah kursi, meminta Haikal duduk di sampingnya.
"Aku hanya ingin tahu, Kak Haikal itu sebenarnya suka tidak sama Gadis?" Feby mulai menyelidik, sebab informasi yang ia dapatkan dapat ia berikan kepada Gadis.
Haikal mendekat ke arah adik sepupunya sebelum duduk, ia mengacak rambut Feby dan berkata, "Mau tahu saja apa mau tahu banget?" tanyanya seraya terkekeh.
"Kepo banget lah ..." sahut Feby kemudian.
Haikal mengedikkan bahunya, ia pun lalu menjawab, "Entahlah, aku tidak mau terlalu tinggi menghayal, By." jawab Haikal.
"Gadis itu cantik, baik, kaya pula, jangan sampai Kak Haikal menyesal karena tidak menganggap perasaan Gadis, Kak. Jangan sampai Kak Haikal baru menyadari perasaan suka Kakak ke Gadis setelah Gadis menemukan pria lain yang lebih perduli dan menyukai Gadis ketimbang Kakak." Feby merasa sok tua sampai menasehati kakak sepupunya itu.
"Biarkan semua mengalir apa adanya, By. Gadis masih muda, aku juga masih ingin bekerja dan membahagiakan Bapak sama Ibu dulu, baru memikirkan masalah wanita." Haikal masih belum berani menyatakan perasaan yang sebenarnya pada Gadis di hadapan Feby.
Ddrrtt ddrrtt
Percakapan mereka terjeda saat ponsel di tangan Haikal berbunyi. Haikal langsung mengeryitkan keningnya saat melihat nomer telepon di layar ponselnya. Nomer yang dia ingat adalah milik Dicky. Seketika ia menoleh ke arah Feby. Sama seperti Airin dan yang lainnya, Feby juga belum tahu jika Om tiri Gadis itu berniat licik pada Gadis dan meminta dirinya untuk melakukan misi menjebak Gadis.
__ADS_1
"Halo?" Haikal memu tuskan menerima panggilan masuk tersebut di hadapan Feby.
"Halo, Haikal. Bagaimana, apa semua yang saya perintah sudah kamu jalankan?" Dicky langsung menanyakan soal tugas yang ia perintahkan pada Haikal.
"Saya sedang berusaha melakukannya, Pak." jawab Haikal, "Saya harap Bapak bisa bersabar jika semua akan terlihat aman." Haikal banyak belajar dari Gagah bagaimana cara menghadapi orang-orang seperti Dicky.
"Baiklah, kabari saya jika kamu sudah mulai bisa mempengaruhi Gadai, Haikal." ujar Dicky kemudian.
"Baik, Pak." sahut Haikal kemudian. Tak lama Dicky pun mengakhiri panggilan teleponnya.
"Siapa, Kak?" Feby merasa curiga dengan percakapan Haikal bersama seseorang di telepon yang tidak ia ketahui siapa orangnya.
"Bukan siapa-siapa." Haikal mengibaskan tangannya ke udara seakan menegaskan jika itu bukanlah hal penting yang perlu Feby ketahui.
***
Airin memakaikan baju Luna setelah memandikan putrinya itu. Dia belum bicara kepada anaknya soal rencana Wulan yang memintanya agar mengijinkan Luna menginap di rumah papa kandung Luna. Airin sendiri tidak yakin Luna akan menyetujui keinginan Wulan. Hatinya pun berat harus berpisah tempat dengan Luna meskipun mereka sama-sama berada di Jakarta.
Airin memansangkan pita di rambut Luna. Sangat menggemaskan melihat putrinya yang lucu dan cantik itu. Belum lagi tingkahnya yang kadang membuatnya tertawa. Airin senang, kebersamaannya bersama dengan Gagah dan keluarga Gagah, membuat sikap introvert Luna perlahan mulai mengikis. Luna kini lebih periang dibanding dulu.
"Luna, tadi malam waktu Luna bobo, Nenak Wulan telepon Mama. Nenek ingin Luna bobo di sana sama Papa Rey. Luna mau tidak?" Airin harus hati-hati bicara pada anakmya agar Luna dapat mengerti dengan maksud ucapannya.
"Mau, Ma. Cama Mama?" tanya Luna lugu, Tentu saja Luna tak mengerti jika kondisi orang tua kandungnya saat ini sudah tidak bersama lagi.
"Mama tidak bisa ikut ke sana, Nak." tepis Airin.
"Napa Mama ndak ikut?" tanya Luna ingin tahu.
"Luna, Mama sama Papa Rey sekarang sudah tidak bersama, Mama sudah tidak boleh bobo di rumah Papa Rey lagi." Airin agak bingung memberikan alasan yang tepat.
"Napa Mama ndak boleh bobo di lumah Papa Ley?" Luna ingin jawaban yang bisa diterima otaknya.
__ADS_1
"Karena Mama harus menemani Papa di sini." Gagah yang tanpa disadari Airin sejak tadi memperhatikan interaksi Airin dan Luna dari arah pintu kamar langsung menjawab pertanyaan anak sambungnya.
"Papa cama Mama ndak ikut? Luna cama capa?" Luna bingung sebab kedua orang tuanya tidak mau menemaninya.
"Nanti Luna ditemani sama Nenek Mira di rumah Papa Rey," jawab Gagah.
Airin sontak menolehkan pandangan ke arah Gagah. Dia tidak tahu kalau suaminya itu menyuruh Tante Mira menemani Luna.
"Mas menyuruh Tante Mira menemani Luna menginap di sana?" tanya Airin heran, sebab suaminya itu tidak berdiskusi dengannya lebih dulu. "Kok, Mas tidak kasih tahu aku dulu." Walau dari keluarganya, namun Airin tidak enak meminta bantuan Tante Mira dalam urusan Luna dan Rey.
"Sebenarnya aku minta bantuan Haikal untuk jaga Luna. Tapi, tadi pagi Haikal telepon kalau Tante Mira bilang kalau Tante Mira bersedia menemani menjaga Luna." Gagah menerangkan bagaimana akhirnya Tante Mira yang terpilih menjaga Luna di rumah Rey.
"Apa tidak mengganggu Tante Mira, Mas?" Airin merasa tak enak hati pada istri dari Om nya itu.
"Saat Tante Mira memutuskan sanggup membantu, aku yakin beliau sudah siap untuk melakukan hal itu, Ay." jawab Gagah.
Airin lalu menoleh ke arah Luna. Luna memang terbiasa ditinggal dengan Tante Mira, tentu tidak sulit bagi Luna jika ada Tante Mira yang akan menemani.
"Luna nanti sama Nenek Mira di sana, Luna mau, kan?" Airin bertanya kembali pada anaknya.
Namun, ternyata Luna menggelengkan kepala, tetap menolak ditemani oleh Tante Mira. Bocah itu pun langsung menjawab, "Ndak mau, Luna maunya cama Papa cama Mama."
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1