JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Memfitnah Airin


__ADS_3

Di ruang kerja CEO Bintang Departement Store, Gagah menerima tamu dari koleganya. Usaha retail yang ingin pimpin saat ini ingin melakukan ekspansi, melebarkan sayapnya, dengan membuka cabang-cabang baru di luar pulau Jawa.


Gagah memang begitu piawai dalam menjalankan usaha retail yang ia geluti sekarang ini. Tak heran jika Bintang Gumilang begitu mempercayainya sebagai direktur utama menggantikannya, meskipun saat itu Gagah masih berusia sangat muda. Bahkan, mungkin Gagah adalah karyawan paling muda yang menjabat posisi elit di perusahaan milik Bintang Gumilang tersebut.


Saat asyik berbincang, netra Gagah berkali-kali mengarah pada meja kerjanya, karena ia merasakan getaran ponsel yang ia taruh di atas meja kerjanya. Namun, ia enggan meninggalkan tamunya begitu saja, hingga ia mengabaikan panggilan masuk di ponselnya tersebut.


Setelah ia mengakhiri perbincangan dengan para koleganya, dan mereka berpamitan, barulah Gagah mengecek siapa yang sejak tadi menghubunginya.


Guratan terlihat di kening pria tampan berusia tiga puluh tahun itu saat ia mendapati nama Widya yang melakukan beberapa panggilan yang tak terjawab olehnya.


"Mama? Ada apa Mama meneleponku berkali-kali?" Curiga ada sesuatu yang penting, akhirnya Gagah menghubungi nomer telepon Mamanya tersebut.


"Assalamualaikum, ada apa, Ma?" Gagah langsung bertanya saat panggilan teleponnya terhubung dengan nomer Widya.


"Waalaikumsalam. Gah, tadi Florencia ke sini. Dia bikin kacau suasana. Dia ...."


"Flo ke rumah?" Gagah memo tong ucapan sang Mama. "Apa yang dia lakukan, Ma?" Kecemasan seketika melanda hati Gagah. Tentu saja yang ia khawatirkan adalah Airin, karena Florencia membenci Airin.


Melihat bagaimana sikap Florencia terhadapnya kemarin di kantor, Gagah sudah pasti cemas jika gadis itu akan berbuat nekat pada Airin.


"Dia tadi ketemu Airin. Dia marah saat tahu Airin adalah istri kamu dan dia bahkan menghina status Airin sebelumnya." Widya menceritakan semuanya tanpa ada yang perlu ditutupi.


Gigi pria tampan itu mengerat hingga membentuk rahangnya yang mengeras. Tangannya pun sudah mengepal menahan emosi akibat ulah Florencia yang berindikasi bisa membuat rumit keadaan.


"Gah, Flo bilang dia menyukai kamu. Apa kamu tahu kalau Flo itu menyukai kamu sebelumnya?" Dulu Widya menganggap kedekatan Florencia dengan Gagah adalah hal yang wajar. Gagah sudah mengenal Florencia saat gadis itu berusia di bawah sepuluh tahun, hingga tak membuat dirinya curiga jika gadis itu diam-diam mengharapkan Gagah dan berniat menjadi istri Gagah.


Suara dengusan nafas Gagah terdengar kencang.


"Ya, Ma. Kemarin dia bahkan datang ke kantor dan mengatakan hal gila." Gagah memijat pelipisnya.


"Kamu harus bertindak tegas, Gagah. Mama kasihan melihat Airin menangis gara-gara perbuatan Florencia." Widya tak enak hati pada menantunya, karena sikap dan perkataan Florencia sampai membuat Airin menangis.


"Mama tidak ingin keberadaan anak itu mengganggu rumah tangga kamu dengan Airin, Gah." Widya khawatir, tak ingin masalah Florencia sampai mempengaruhi rumah tangga Gagah dan Airin. Dirinya akan malu pada orang tua Airin atau Tante Mira jika mereka tahu Airin disekati oleh wanita yang menyukai Gagah.


"Iya, Ma. Aku tahu," sahut Gagah, "Airin di mana sekarang, Ma?" tanyanya kemudian.


"Ada di kamarnya, coba kamu hubungi Airin agar dia tidak terus bersedih." Widya menyarankan Gagah menelepon dan menenangkan Airin, agar Airin tidak terus bersedih. "Sebab Airin tadi sampai menangis," lanjut Widya


"Ya sudah, aku tutup teleponnya, Ma. Assalamualaikum ..."Gagah ingin segera menghubungi Airin, untuk menenangkan istrinya agar tidak memikirkan apa yang dikatakan oleh Florencia.


"Waalaikumsalam ...."


Setelah Widya menjawab salamnya, Gagah segera memutuskan sambungan telepon dengan Mamanya.


Gagah kemudian mencari nomer Airin untuk melakukan panggilan telepon dengan sang istri. Namun, beberapa kali ia hubungin, Airin sama sekali tak merespon panggilan teleponnya itu.


Gagah menaruh ponsel di dalam saku blazer. Dia pun segera merapihkan meja dan mematikan laptopnya. Secepatnya ia harus menemui Airin. Sebab, dia takut jika sampai Airin marah terhadapnya lalu wanita itu akan pergi meninggalkannya.


"Bapak mau ke mana?" tanya Dewi saat melihat Gagah terburu-buru ke luar dari ruangannya.


"Wi, saya mau ada perlu sebentar," sahut Gagah tanpa menghentikan langkahnya menuju arah lift.


"Tapi, Bapak ada jadwal bertemu dengan bos dari PT. Dwi Sentosa setengah jam lagi, Pak." Dewi mengingatkan jadwal kerja Gagah yang belum selesai hari ini.


"Apa Pak Erlan tidak bisa menghandle pekerjaan saya?" tanya Gagah. Sebab pertemuan dengan perusahaan Dwi Sentosa juga sangat penting.


"Pak Erlan baru saja ke BDS cabang Bekasi, Pak." jawab Dewi.

__ADS_1


Gagah melirik arloji di tangannya. Sepertinya dia tidak akan bisa sampai kembali ke kantor dalam waktu tiga puluh menit ke depan. Dia tidak bisa meninggalkan tamunya yang akan hadir beberapa menit lagi.


"Oke." Gagah kembali ke dalam ruangannya, karena ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang sudah terjadwal. Dan pun harus menahan keinginannya untuk segera menemui Airin.


***


Rey mengecek billing credit card yang masuk di alamat emailnya. Matanya terbelalak saat mengetahui pemakaian kartu kreditnya hampir menyentuh pagu kredit sebesar lima puluh juta rupiah.


Satu persatu transaksi yang tercetak di e-billing dia amati. Hampir semua transaksi pembelanjaan e-commerce adalah barang-barang kebutuhan wanita. Tentu saja yang melakukan transaksi itu tak lain adalah Joice.


Rey mendengus kasar. Gaya hidup Joice yang terkesan glamor, benar-benar berbanding terbalik dengan Airin. Jika ingin membeli sesuatu yang dipakai untuk kepentingannya sendiri seperti tas atau sepatu untuk bekerja, Airin menggunakan uang tabungan dari gaji yang Airin terima setiap bulannya.


Rey mengusap kasar wajahnya. Sungguh ia menyesal telah menyia-nyiakan mantan istrinya itu. Dia yang sudah dibutakan oleh hawa nafsu, tak segera sadar akan kesalahannya, justru semakin terlena dan terbelenggu dengan rayuan dan juga layanan Joice di atas ranjang yang memabukkan hingga menghancurkan rumah tangganya.


Mengingat soal Airin, tiba-tiba rasa cemburunya kembali terpercik. Dia masih terpengaruh dengan ucapan Joice yang mengatakan jika Airin sudah berselingkuh dengan Gagah sejak masih menjadi istrinya.


"Si al! Semua wanita sama saja! Dekat dengan pria hanya ingin memanfaatkan materi saja! Tidak Joice, tidak juga Airin!" umpat Rey kesal, karena menganggap Airin berselingkuh dengan Gagah karena Gagah pria kaya raya.


Rey membuka kontak telepon di ponselnya. Dia mencari nomer Mamanya untuk menjelaskan jika Airin tidak sebaik yang mamanya itu pikirkan.


Dua panggilan masuknya ditolak oleh Wulan. Mamanya itu sepertinya benar-benar marah kepadanya.


"Ayolah, Ma. Angkat teleponnya. Mama harus bersikap adil. Aku ini anak Mama." Rey mengetikkan pesan pada Mamanya, membujuk agar Mamanya itu mau mengangkat teleponnya.


Pesan yang ia kirim dibaca oleh Wulan, membuat Rey mengembangkan senyuman, karena ia yakin Mamanya mau mengangkat panggilannya kali ini.


Rey kembali mencoba menghubungi nomer telepon Wulan. Benar saja, untuk panggilannya kali ini, Wulan merespon dengan mengangkat panggilan telepon darinya.


"Halo, Ma. Ma, tolong dengarkan aku untuk kali ini." Rey merayu Mamanya agar mau memberi kesempatan untuk menjelaskan. Dia ingin membersihkan namanya, agar kedua orang tuanya mau memaafkan dirinya.


"Apa lagi yang ingin kamu jelaskan, Rey? Mama sudah sangat kecewa terhadap kamu, Rey!" Wulan masih belum memaafkan kesalahan fatal Rey yang berselingkuh.


"Apa katamu, Rey? Mama terlalu menyalahkan kamu? Astaga, Rey. Apa kamu tidak menyadari jika apa yang kamu lakukan itu salah? Apa kamu tidak menyadari jika yang kamu lalukan dengan wanita itu adalah sebuah dosa?" Geram rasa hati Wulan mendengar Rey seolah bersikap bebal tak ingin disalahkan.


"Ma, Airin itu tidak sebaik apa yang Mama pikirkan, Ma!" Rey yang terpengaruh Joice dan terbakar rasa cemburu dengan pernikahan Airlrin, membuat Rey dengan tega menjelekkan Airin pada Mamanya. "Airin itu diam-diam selingkuh di belakangku, Ma." Bahkan Rey mulai mempengaruhi Wulan dengan menfitnah Airin.


Wulan benar-benar dibuat marah oleh Rey,


"Apa wanita simpananmu itu lelah meracuni otakmu? Sampai kamu tidak dapat berpikir menggunakan akal sehat? Mama menyesal sudah mengangkat telepon kamu." Suara Wulan mulai terdengar menjauh dari telinga Rey.


Merasakan Wulan ingin menutup sambungan telepon darinya, Rey berusaha menahan Mamanya.


"Airin sudah menikah lagi, Ma." Rey ingin mamanya tahu agar tidak terus membela Airin. Juga memberitahu jika Airin telah berselingkuh sebelum perseraian. Rey yakin hal ini akan membuat Mamanya syok dan pada akhirnya akan berpihak kepadanya.


"Dia sudah menikah dengan pria selingkuhannya dan Mama masih saja menyalahkan dan menghukum aku!?" Rey menggunakan pernikahan Airin dengan Gagah sebagai kartu truf nya.


"Mama heran sama kamu, Rey! Tega sekali kamu menuduh Airin seperti itu! Airin itu wanita baik-baik, Rey!" Tak mudah bagi Wulan mempercayai apa yang dikatakan oleh anaknya.


"Apa yang aku katakan itu benar, Ma. Kalau Mama tidak percaya, Mama bisa menanyakan pada orang tua Airin atau Om dan Tantenya." Rey mempersilahkan Mamanya untuk mencari bukti yang absah jika Airin memang sudah menikah lagi.


"Kamu sudah gila, Rey! bagaimana Mama bisa bertanya kepada mereka? Mama sudah kehilangan muka di hadapan keluarga Airin karena perselingkuhan kamu yang menjijikan itu!" Saran yang diberikan oleh Rey adalah hal yang tidak masuk akal menurut Wulan.


"Tapi itu benar, Ma. Airin sudah menikah dengan seorang CEO perusahaan retail Bintang Departement Store. Dan Airin sudah mempengaruhi Luna untuk tidak dekatku lagi." Mata dan hati Rey sudah diselimuti kebencian dan tidak berpikir jika wanita yang difitnah adalah ibu dari darah dagingnya sendiri.


"Mama tidak tahu, kan? Airin melarang aku membawa Luna ke Bali? Padahal waktu itu aku bilang ingin membawa Luna untk menemui Mama dan Papa. Tapi, Airin sama sekali tidak memberi ijin." Rey teringat saat Airin menolak permintaannya membawa Luna pergi. Dia ungkap hal tersebut pada Mamanya agar imej buruk itu makin melekat pada Airin.


Hening ...

__ADS_1


Tak ada jawaban dari mulut Wulan terdengar di telinga Rey. Hanya helaan nafas panjang Wulan yang keluar dari ponsel miliknya.


Tut ... tut ... tut


Tak lama justru suara telepon ditutup terdengar di telinga Rey. Rey menatap alat komunikasinya. Kali ini dirinya yang mendengus kasar, karena Mamanya memutus sambungan secara sepihak. Dia tidak tahu apa yang ada di pikiran Wulan. Apakah Mamanya itu menutup sambungan telepon karena marah kepadanya atau karena kaget mengetahui Airin tidak sebaik dugaannya.


***


Setelah menyelesaikan tugasnya, Gagah bergegas pergi dari kantor. Dia ingin segera pulang untuk bertemu dengan Airin, untuk menjelaskan pada Airin agar wanita itu tidak terus berpikiran dirinya akan berpaling pada wanita lain seperti Florencia.


Gagah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Rasa khawatir kembali merayap di hatinya saat ia tak mendapati Airin di dalam kamar mereka. Gagah berpindah ke ruangan sebelah, mencari istrinya itu di kamar Luna. Ternyata Airin dan Luna pun tak ada di sana.


"Airin ...! Luna ...!" Gagah keluar dari kamarnya, berteriak mencari sang istri. "Bi, Airin sama Luna di mana?" Saat menuruni anak tangga, Gagah melihat Bi Junah membawa makanan dan minuman dengan baki di tanganganya.


"Mbak Airin sama Neng Luna sedang lihat ikan di aquarium teras samping rumah, Mas." jawab Bi Junah


Tarikan nafas lega langsung dirasakan Gagah saat mengetahui Airin dan Luna masih berada di rumah itu.


"Oke, Bi." Gagah segera beranjak ke arah yang dimaksud oleh Bi Junah, hingga ia mendapati Airin yang sedang duduk di kursi teras memandang Luna yang terlihat asyik memperhatikan ikan hias di aqurium besar milik Prasetyo.


"Assalamualaikum ..." Gagah menyapa dengan mengucap salam pada Airin.


Airin spontan menoleh ke arah suara Gagah berasal. Mata Airin sedang memperhatikan Luna, namun pikirannya sedang gelisah dengan kejadian yang baru saja menimpanya, sebelum akhirnya suaminya itu datang.


"Waalaikumsalam ..." Airin bangkit dan mendekat. Meraih tangan Gagah dan mencium punggung tangan sang suami sebagai bentuk rasa hormat terhadap suaminya itu.


Gagah membalas dengan membelai kepala Airin dan menyematkan sebuah kecupan di kening Airin.


"Papa ...!" Luna berlari ke arah Gagah yang disambut oleh Gagah dengan merentangkan tangan lalu memeluk dan mengangkat tubuh Luna.


"Anak Papa sedang apa?" Gagah mencium pipi chubby Luna yang menggemaskan.


"Lagi liat ikan, Pa. Ikannya udah besal-besal, Pa. Nanti ikannya mau digoleng buat makan, ya, Pa?" celoteh Luna dengan kepolosannya.


Gagah tertawa lebar mendengar pertanyaan Luna yang sangat polos.


"Ini ikan hias, Luna. Bukan untuk dimakan tapi untuk dirawat dan dilihat saja." Gagah menerangkan kepada putri sambungnya.


"Ikan hias itu apa, Pa?" tanya Luna tak mengerti. Menurutnya ikan yang ia ketahui adalah yang biasa dipancing dan dimasak untuk dimakan.


"Ikan hias itu untuk dipelihara, dirawat, dipajang, sebab orang-orang suka melihat bentuk dan warnanya yang indah. Coba Luna lihat. Ikan hias bentuknya lucu-lucu dan warna-warni, kan? Bikin orang yang melihat jadi senang. Luna senang tidak melihat ikannya berwarna begini?" Gagah membawa Luna mendekat ke aquarium milik sang Papa yang mempunyai hobi memelihara ikan hias


"Cenang, Pa. Ikannya bagus ..." sahut Luna.


"Mas kok, sudah pulang?" Sementara Airin bertanya karena suaminya itu pulang lebih awal dari jam kantor seperti biasanya.


"Saya sengaja pulang lebih awal. Mama tadi menelepon, Mama memberitahu jika tadi Florencia datang dan bikin kekacauan di sini." Gagah menjelaskan alasannya pulang lebih cepat dari biasanya.


Airin sontak membuang pandangan saat suaminya itu menyinggung soal kedatangan Florencia. Rasa kecewa dengan kedatangan dan ucapan Florencia tak bisa ia tutupi saat ini.


"Kita bicara di kamar," bisik Gagah dengan merangkulkan tangannya di pundak Airin membuat Airin terkesiap.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2