
Di tengah suara musik dari area permainan yang terdengar kencang, telinga Airin samar-samar seperti mendengar suara tangisan Luna. Mungkin karena dia terlalu mengkhawatirkan Luna yang saat ini ada di tangan Rey sehingga membuat pendengarannya sangat peka dengan suara Luna.
"Ada apa?" tanya Gagah melihat Airin bangkit dari duduknya.
"Aku seperti mendengar Luna menangis, Mas." ujar Airin.
Gagah menoleh ke arah area Kidz Zone. Namun, ia tak mendengar suara yang disebutkan oleh Airin tadi.
"Kita lihat ke sana." Gagah pun bangkit dan mengajak Airin menghampiri area permainan anak itu.
Benar saja dugaan Airin saat Gagah bicara pada petugas yang berjaga untuk memberinya jalan masuk, ia melihat Luna menangis dalam gendongan Rey.
"Luna ...!" Airin bergegas mendekati Rey dan mengambil Luna dari tangan Rey.
"Mama ... huwaaaa ..." Luna masih belum berhenti menangis.
"Kenapa Luna bisa menangis?" tanya Airin pada Rey. Padahal setiap bermain bersama Gagah, anaknya itu tidak pernah bersedih apalagi sampai menangis, bahkan yang ada justru tawa dan keceriaan.
"Hmmm, tadi ada anak yang mendorong Luna sampai Luna jatuh," jawab Rey menjelaskam apa yang terjadi.
"Ada yang mendorong Luna? Memangnya Luna tidak diawasi? Lalu untuk apa menemani Luna kalau tidak mengawasi Luna bermain?" Nada ketus terdengar dari mulut Airin. Dia merasa geram karena Luna tidak diawasi dengan baik oleh Rey.
"Aku tadi ... tadi aku terima telepon dari kantor, makanya aku tidak melihat ada orang yang mendorong Luna." Rey melakukan pembelaan dengan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tanpa dia sadari jika dia sudah membuka kenyataan jika dia tidak Ida mengawasi Luna dengan baik.
"Kalau memang sibuk, kenapa memaksa ingin menemani Luna bermain?!" Kesal hati Airin menganggap Rey tidak becus mengurus putri semata wayang mereka.
Airin lalu berjalan ke luar area permainan anak itu. Dia ingin menangkan Luna yang masih menangis. Sementara Gagah memperhatikan Rey yang terlihat kecewa karena Airin mengambil Luna. Gagah berjalan ke arah Rey lalu menepuk pundak pria itu.
"Sebaiknya Anda teruskan saja pekerjaan Anda, Pak Rey. Biar Luna kami yang menjaga. Anda tidak perlu khawatir, Luna aman bersama kami," ucap Gagah dengan menarik sudut bibirnya seolah mencibir sikap Rey. Gagah sepenuhnya menyadari jika Rey hanya ingin menunjukkan kepadanya jika bisa menjadi Papa yang baik bagi Luna. Namun, hasilnya justru Luna tidak terawasi dengan baik oleh Rey.
"Saya duluan, Pak Rey." Gagah berpamitan dan meninggalkan Rey untuk menyusul istrinya dan juga Luna.
Luna tidak juga menghentikan tangisannya. Rasa terkejut karena diperlakukan kasar oleh orang lain membuat Luna tidak juga berhenti menangis belum lagi rasa sakit yang dia rasa di tubuhnya akibat terjatuh meskipun lantai area permainan anak itu dilapisi oleh playmat.
Gagah mendekati Airin yang masih kerepotan menenangkan Luna. Dia lalu mengambil Luna dari Airin. Dan menggendong Luna dengan satu lengannya.
"Mana yang sakit? Sini Papa lihat?" Gagah mengusap bagian kaki Luna lalu meniupnya.
"Olang itu nakal, Pa." Luna menunjuk ke arah Kidz Zone seolah mengadu jika seseorang telah berlaku kasar terhadapnya.
"Bukan nakal, Luna. Mungkin tadi Luna kesenggol jadi jatuh." Biarpun Gagah tidak mengetahui kejadian aslinya. Namun, ia tidak ingin menuduh orang itu dan tidak juga membenarkan apa yang Luna katakan. Gagah justru memilih mengatakan jika tindakan anak tersebut karena unsur ketidaksengajaan agar Luna tidak berburuk sangka terhadap orang lain. Apa yang diajarkan Gagah sangat bertolak belakang dengan apa yang diajarkan Rey tadi kepada Luna.
__ADS_1
"Luna makan dulu saja, ya. Luna mau makan apa?" tanya Gagah.
"Luna mau makan es klim, Pa." Luna menyebut apa yang ingin dimakannya masuk d egan tersedu.
"Masa makan ice cream? Makan ice cream itu nanti kalau perut Luna udah diisi sama nasi atau roti." Dengan gemas Gagah menciumi pipi Luna.
"Luna mau makan apa?" Gagah menoleh Airin di sebelahnya.
"Makan yang berkuah saja, Mas. Kita cari yang sup atau soto," jawab Airin.
"Ya sudah, kita cari di restoran menu Nusantara saja." Gagah merangkul pundak Airin kemudian menjauh dari area Kidz Zone.
Tak jauh dari mereka, Rey menatap kepergian dua orang di hadapannya itu seraya mendengus kasar. Dia merasa kesal dan marah terhadap Gagah, akan tetapi, dia tidak dapat menyalurkannya kemarahannya itu pada orang yang membuatnya marah.
***
Airin mengusap punggung Luna sambil membacakan sholawat seperti biasanya, saat ia hendak menidurkan putrinya itu. Setiap malam, tugas Airin memang menidurkan putrinya terlebih dahulu sebelum ia bergabung dengan Gagah di tempat tidur di kamar sebelah.
Luna pun yang sudah terbiasa tidur sendiri, Dengan iming-iming akan diberi adik, bocah itu tidak pernah ketakutan tidur di kamar tanpa ada yang menemani. Bahkan, hampir tidak pernah Luna terbangun pada waktu malam. Gagah benar-benar membuat Luna merasa nyaman di kamarnya itu.
"Ma ...."
"Kok, Papa Ley ndak pacalan lagi cama Mama?" Mungkin Luna mulai menyadari perbedaan interaksi Airin dengan Rey dulu dan sekarang.
Airin membulatkan bola matanya mendengar pertanyaan Luna yang tak terduga. Entah kenapa anaknya itu tiba-tiba menanyakan soal tersebut, yang membuatnya bingung harus menjawab apa.
"Kok, Mama ndak bobo cama Papa Ley lagi? Bobonya cama Papa Gagah telus ..." Luna melontarkan pertanyaan kritis.
"Hmmm., itu karena ... karena Mama sudah punya Papa Gagah," jawab Airin memberi alasan yang tidak membuat Luna bingung.
"Ma, Luna main pelosotannya cama Papa Gagah aja, Papa Ley ndak mau main pelosotan cama Luna." Tiba-tiba Luna membicarakan soal keinginan bermain dengan Gagah dengan nada mengeluh, sepertinya anaknya itu sudah dapat merasakan perbedaan ketika bersama Gagah dan Rey, sehingga dia bisa memilih dengan siapa lebih nyaman bermain.
"Ya sudah, sekarang Luna tidur dulu. Nanti kalau Papa libur kita main perosotan lagi." Airin memperbaiki posisi tidur anaknya dan menyuruh anaknya untuk segera memejamkan matanya.
"Luna mau bobo di sana." Luna menunjuk kamar sebelah, "Luna mau bobo cama Papa cama Mama," lanjutnya.
"Luna bilang dulu sama Papa kalau nanti mau bobo di sana," ujar Airin.
Selesai Airin mengucapkan kalimatnya, Luna bangkit dan turun dari tempat tidurnya.l
"Luna mau ke mana?" tanya Airin.
__ADS_1
"Mau ke papa ..." Luna berlari dengan tangan masih memegang botol su sunya. Hingga membuat Airin pun menyusul anaknya itu ke kamar sebelah.
"Papa ...!"
Gagah sedang fokus dengan ponselnya. Dia langsung menaruh ponselnya itu di atas nakas saat melihat kemunculan Luna di kamarnya.
"Lho, Luna belum bobo?" Gagah merentangkan tangannya menyambut Luna dan memangku Luna di atas pahanya.
"Luna mau bobo di cini cama Papa. Boleh, Pa?" tanya Luna meminta ijin agar Gagah mengabulkan permohonannya.
"Oke, Luna bobo di sini sama Papa. Tapi, Luna harus cepat bobo." Gagah menyingkap selimut lalu menjatuhkan tubuh Luna di atas tempat tidur lalu menyelimutinya.
"Ayo, sekarang bobo!" Gagah membaringkan tubuhnya menghadap Luna dan tangan memeluk tubuh kecil Luna.
Melihat putrinya begitu dekat dengan Gagah, senyuman langsung melengkung di bibirnya. Inilah yang sesungguhnya ia inginkan, kehangatan keluarga yang diberikan oleh Gagah kepada Luna.
Airin duduk di tempat tidur. Dia melihat putrinya itu menatap intens ke arah Gagah. Dengan tangan kanan memegang botol su su sementara tangan lainnya menyentuh cambang halus di rahang Gagah. Airin merasa jika Luna sudah jatuh hati pada sosok papa sambungnya, karena Gagah memberikan apa yang dibutuhkan Luna sebagai seorang anak.
Tak sampai lima menit, Luna sudah terlelap dan sudah mulai masuk ke alam mimpinya. Luna lalu menyibak kembali kain yang menyelimuti Luna.
"Mas, tolong Mas saja yang pindahin Luna ke kamarnya." Airin minta bantuan Gagah untuk membawa Luna ke kamar sebelah.
"Biarkan saja dia tidur di sini." Namun Luna membiarkan Luna tidur bersama mereka.
"Tidak apa-apa Luna tidur di sini?" tanya Airin ragu.
"Tentu saja, memangnya kenapa tidak boleh?" sahut Gagah.
Airin langsung tersenyum. Keberadaan Gagah di kamarnya membuat dirinya aman dari serangan sang suami.
"Kalau Luna sudah terlelap, kita bisa pakai kamar Luna agar kita untuk beraktivitas." Gagah mengedipkan matanya membuat senyum yang tadi mengembang di bibirnya seketika menyurut.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1