JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Akan Menunggu Sampai Kamu Siap


__ADS_3

Airin akhirnya mendapat jawaban secara tidak langsung dari penjelasan Gagah tadi kepada Widya kenapa orang tua Gagah terkesan kaget melihat kedatangannya di rumah mereka. Sementara Widya langsung teringat cerita Ayuning tentang rencana makan malam Gagah berserta kakak beserta ipar Gagah bersama Airin.


Widya pun berpura-pura tidak tahu tentang rencana mereka. Karena dia sudah cukup bahagia karena Gagah sudah mulai terbuka tentang kedekatannya dengan Airin dan Luna kepadanya juga suaminya.


"Kalian mau berangkat sekarang?" tanya Widya setelah mendengar penjelasan Gagah.


"Iya, Ma." jawab Gagah.


"Kenapa buru-buru sekali, Gah? Kalian baru saja sampai." Prasetyo pun ikut bertanya.


"Aku takut telat, Pa. Tidak enak jika mereka harus menunggu lama." Sebagai seorang yang perfeksionis, tentu saja Gagah sangat menghargai waktu, terutama ketika dia berjanji bertemu dengan seseorang, dia selalu hadir tepat waktu, alias tidak pernah membuat orang lama menunggunya.


"Ya sudah, tapi kamu harus lebih sering ajak Airin dan Luna main ke sini!" Widya meminta sesuatu yang harus dipenuhi oleh Gagah.


"Mama jangan bilang sama aku, tapi sama Airin. Dia yang susah kalau aku ajak pergi." Gagah mengadukan sikap Airin yang ogah-ogahan terhadapnya.


Pengadukan Gagah terhadap Widya membuat Airin terbelalak, karena dia merasa dituduh bersalah oleh Gagah, tentu saja hal tersebut membuat dia malu terhadap Widya dan Prasetyo.


"Kamu harus sering main kemari Airin. Nanti janjian saja dengan Ayuning, agar Luna bisa bermain dengan Ica," pinta Widya yang berharap hubungannya dengan Airin semakin dekat dan akrab seperti dengan kedua menantunya, Ayuning dan Putri.


"Hmmm, Insya Allah, Tante." Tak mungkin Airin menolak apa yang diminta oleh Widya.


"Panggil Mama saja seperti Gagah, Rin. Jangan panggil Tante. Kamu ini 'kan calon istrinya Gagah, calon menantu kami." Widya bahkan menyuruh Airin berhenti memanggilnya Tante, karena menganggap Airin dan Gagah akan segera menikah.


Airin seketika menoleh ke arah Gagah ketika mendengar ucapan Widya, begitu juga sebaliknya. Wajah Airin bahkan langsung merona saat Widya menyebut Airin sebagai calon istri Gagah.


Airin bingung harus menjawab apa. Jika yang meminta adalah Gagah, dia mungkin akan mudah menolak permintaan itu. Namun, yang meminta adalah Widya sendiri. Tidak enak Airin berani menentang dan menolak permintaan Widya, meskipun hal itu tidak sejalan dengan keinginannya.


"Hmmm, iya, Bu." Airin memilih memanggil Ibu kepada Widya, berharap Widya dapat mengerti posisinya.


"Kami pamitan dulu, Ma. Pa." Gagah mencium pipi Mamanya lalu bersalaman dengan Papanya.


"Ya sudah, hati-hati," sahut Widya.


"Saya permisi dulu, Bu." Airin pun berpamitan kepada Widya dan Prasetyo, lalu bersama Gagah meninggalkan rumah orang tua Gagah menuju ke tempat acara makan malam bersama keluarga kakak dari Gagah.


"Memang kita akan makan malam di mana, Pak?" tanya Airin saat mereka sudah ada di dalam mobil.


"Kita akan Golden Caffe, Kakakku sudah memilih tempat di sana," jawab Gagah.


Airin tahu jika cafe itu adalah cafe yang biasa dikunjungi oleh eksekutif muda, karena dia juga dulu pernah menemani Rey ke cafe itu ketika Rey mendapat undangan wedding party dari klien di perusahaan tempat Rey bekerja.


"Orang tua saya sangat berharap kamu menjadi menantu mereka, saya harap kamu bisa mempertimbangkan hal itu." Gagah semakin menegaskan jika niat dia dan keluarganya memilih Airin untuk menjadi anggota baru keluarganya tidaklah main-main.


Airin hanya bisa terdiam. Seharusnya dia merasa beruntung, dengan status dia saat ini, masih ada pria single bersama keluarga besarnya mau menerima dia layaknya seorang gadis perawan.


Hembusan nafas terdengar dari mulut Airin, mengisyaratkan kebimbangan di dalam hatinya. Sejujurnya Airin masih ingin sendiri setelah kegagalan rumah tangganya kemarin. Namun, jika dilihat bagaimana sikap Gagah dan keluarganya, dia tidak yakin dia akan bertahan lama dengan prinsipnya itu.


"Mama, mau pelgi ke mana, cih? Kok ndak pelgi ke tempat mainan?" Luna yang sejak tadi hanya diam menanyakan tujuan mereka pergi, karena dia mengira akan diajak ke tempat permainan anak.


"Kita mau makan, Luna." Gagah yang menjawab pertanyaan Luna


"Tapi Luna udah makan, Om. Luna ndak lapel, Luna mau mainan pelosotan cama tampolin." Luna menyebutkan apa yang dia inginkan.


"Mama tadi sudah bilang kalau Mama ada perlu sama Om Gagah. Makanya tadi Mama larang Luna untuk ikut," ucap Airin menegur Luna.


"Luna ingin ke tempat permainan?" Namun, Gagah justru menawarkan Luna pergi ke tempat yang diinginkan oleh Luna.


"Mau Om ..." jawab Luna lantang.


"Bagaimana kalau besok kita pergi ke tempat permainan? Nanti kita ajak Ica juga, biar Luna ada teman." Gagah merencanakan mengajak Luna pergi jalan-jalan bersama dengan keponakannya.


Airin langsung menoleh ke arah Gagah, karena Gagah selalu menuruti apa yang diminta oleh Luna.


"Acik ...! Luna mau Om ..." Luna menyambut dengan antusias.


"Sebaiknya Bapak jangan terlalu sering menuruti semua apa yang diinginkan Luna. Nanti dia akan menjadi manja." Airin memprotes sikap Gagah yang selalu menuruti semua kemauan Luna.


"Tidak apa-apa, Airin. Kita boleh mendidik anak tapi jangan terlalu keras, apalagi Luna masih kecil." Gagah menegur Airin yang dia anggap terlalu banyak melarang Luna.


Airin langsung memberengut karena teguran Gagah. Dia merasa seperti seorang istri yang kena teguran sang suami karena terlalu keras mendidik anak mereka.


"Mama Luna senang cemberut ya, Luna?" Melihat wajah masam Airin, Gagah langsung meledek Airin, lalu dia melanjutkan berkata, "Tapi tetap cantik, kok."


Airin membuang pandangan ke luar jendela, karena godaan yang dilakukan oleh Gagah sukses membuat wajahnya merona.


Dua puluh menit dari rumah keluarga Prasetyo, waktu yang dibutuhkan oleh Gagah untuk sampai di Golden Caffe, untuk menjumpai kakak dan iparnya.


Saat turun dari mobil, Gagah tetap membawa Luna di lengannya. Luna pun terlihat sangat nyaman bersama dengan Gagah, hingga akhirnya mereka tiba di meja yang sudah dipesan untuk mereka.


Bagus dan Tegar beserta istrinya sudah tiba lebih dulu. Karena kedua saudara Gagah itu tahu jika adiknya seorang yang tepat waktu, hingga mereka tidak pernah telat jika membuat janji dengan Gagah.


"Assalamualaikum ..." Gagah menyapa keluarganya sambil melirik arloji di tangannya. Kurang lima menit dari waktu yang dijanjikan, dia tiba di cafe.


"Waalaikumsalam ..." Kakak dan juga ipar Gagah menjawab salam bersamaan.


"Hai, Airin. Apa kabar?" Ayuning berdiri menyambut Airin. Bahkan, istri dari kakak pertama Gagah itu langsung memeluk Airin.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mbak." Airin menjawab agak sedikit gugup berkumpul dengan saudara-saudara Gagah.


"Hai, Rin." Putri juga melakukan hal yang sama dengan Ayuning.


"Halo, Luna." Kini Ayuning menyapa Luna, karena Ayuning pernah bertemu dengan Luna.


"Luna, ayo kasih salam sama Tante." Airin meminta Luna memberi salam kepada Ayuning dan yang lainnya setelah Gagah menurunkan Luna.


"Curang kau, Gah. Kau menyuruh kami tidak membawa anak, kau sendiri membawa calon anak tirimu," sindir Tegar, karena Gagah melarangnya membawa anak-anak malam ini.


Jelas saja Airin merasa tidak enak hati dengan sindiran Tegar, karena hanya dia yang membawa anak kecil. Airin tidak tahu jika apa yang diucapkan Tegar hanya bercanda, karena Airin tidak terbiasa dengan candaan-candaan Tegar.


"Luna pengecualian," sahut Gagah melakukan pembelaan.


"Ya, ya, ya, karena kau ngebet sama Mamanya," celetuk Tegar kembali.


"Mas, jangan suka iseng mulutnya!" Putri menegur Tegar yang masih saja menyindir-nyindir Gagah dan Airin. Apalagi saat dia melihat wajah Airin yang memerah karena menahan malu.


"Airin, perkenalkan ini Kakak sulung saya, Mas Bagus. Mas Bagus ini suaminya Mbak Ayu, Papanya Ica." Gagah lalu memperkenalkan Airin pada Bagus.


Sejak kemunculan Airin, Bagus memperhatikan wanita yang diharapkan keluarganya menjadi istri Gagah. Harus dia akui, calon adik iparnya itu sangat cantik, tak heran jika sang adiknya yang perfeksionis saja sampai bisa terpikat pada Airin.


"Saya Airin, Pak." Airin memperkenalkan dirinya pada Bagus.


"Ayu banyak cerita tentang kamu," sambut Bagus. Berbeda dengan Tegar, Bagus lebih dewasa dalam bertutur kata.


Bagi Airin, ucapkan Tegar dan Bagus sama-sama membuat dirinya malu, walaupun ucapan Bagus tidak bermaksud menyindirnya.


"Apa yang aku ceritakan semua hal baik kok, Rin." sambung Ayuning merespon ucapan Bagus, agar Airin tidak salah paham.


"Kamu duduklah di sini!" Gagah menarik kursi untuk Airin.


"Terima kasih, Pak." sahut Airin lalu mengangkat tubuh Luna hingga duduk di pangkuannya.


"Hei, kenapa kamu masih memanggil dia Pak? Dia itu calon suami kamu, Airin." Tegar memprotes cara memanggil Airin pada Gagah yang terkesan formal.


Airin tersenyum kikuk mendengar ucapan Tegar.


"Luna biar duduk di sini saja." Gagah mengabaikan pertanyaan Tegar, kemudian menarik kursi untuk Luna duduk di sebelah Airin, kemudian memindahkan Luna dari pangkuan Airin ke kursi yang sudah dia sediakan. Sementara dia sendiri menarik kursi di samping Luna. Saat ini Luna berada di antara Gagah dan Airin. Mereka sudah terlihat seperti keluarga kecil.


"Airin, sebaiknya kamu cepatlah menerima adikku yang sudah kebelet kawin ini. Kalian itu sudah pantas menjadi sebuah keluarga." Gagah dan Airin benar-benar menjadi bulan-bulanan Tegar.


"Mas!" Tangan Putri bahkan kini mulai mencu bit paha Tegar, karena suaminya itu tidak dapat menahan mulutnya. "Bisa, tidak? Tidak selalu buat onar!?" kesal Putri menghadapai sikap Tegar.


"Bercanda saja, kok!" kilah Tegar.


"Maaf, Mbak. Tadi Luna merengek minta ikut," jawab Airin merasa tak enak hati.


"Oh, tidak apa-apa, Rin." ujar Ayuning. "Jam berapa Luna biasa tidur?" tanyanya kemudian.


"Di bawah jam sembilan, Mbak." sahut Airin.


"Kamu tidak usah merasa bersalah karena membawa anakmu sekarang ini, Airin. Asal jangan membawa anakmu ketika kalian honeymoon nanti." Dibarengi dengan tawa meledek, Tegar kembali melontarkan kalimat-kalimat usilnya.


Sejujurnya, Airin merasa tidak nyaman berada dekat Tegar. Kalau saja bisa, dia ingin pergi saja dari tempat itu.


Sementara Gagah langsung menoleh ke arah Airin. Dia mendapati ketidaknyamanan Airin atas sindiran-sindiran yang dilemparkan Tegar. Dia saja yang sudah terbiasa dengan sikap Tegar kadang suka merasa kesal, apalagi Airin yang tergolong baru mengenal Tegar.


"Jangan terlalu dianggap serius, ucapan Mas Tegar, Airin." Gagah mencoba menenangkan Airin agar tidak terpengaruh dengan segala sindiran yang dilakukan Tegar.


"Tolong jaga bercandamu, Tegar! Tidak semua orang bisa menerima selera humormu!" Bagus pun menegur adiknya.


"Maafin Mas Tegar, Rin. Dia kalau bercanda memang begitu." Putri merasa tidak enak karena sikap suaminya, dia pun langsung menyampaikan permohonan maafnya.


"Airin itu 'kan calon anggota baru keluarga besar Hadiningrat, Mas. Jadi dia harus terbiasa dengan sikap aku yang seperti ini, dong, Mas." Tegar melakukan pembelaan.


"Airin tidak harus terbiasa dengan sikap Mas Tegar. Kalau kami menikah nanti, aku akan jauhkan Airin darimu, Mas!" Gemas dengan sikap Tegar, Gagah langsung memberi statement yang mengagetkan.


Airin seketika menundukkan kepala ketika Gagah bicara seperti tadi. Dia sungguh sangat malu. Malu karena disinggung soal pernikahan, juga soal Gagah yang akan menjauhkan dirinya dari Tegar. Dia merasa telah membuat hubungan kakak beradik itu menjadi berselisih paham.


Tegar justru tertawa mendengar pernyataan Gagah, dia pun kembali mencibir, "Apa kau ingin mengurung dia sehingga tidak bisa berinteraksi dengan kami?"


"Bukan kami, tapi hanya Mas!" Putri justru yang menjawab pertanyaan suaminya.


"Sudahlah, jangan ribut-ribut. Kita berkumpul di sini karena ingin mengenal calon dari Gagah. Kalau melihat perdebatan kalian, jangan salahkan jika Airin berpikir ulang untuk menjadi anggota keluarga besar kita." Sebagai kakak tertua dan berpikiran dewasa, Bagus berusaha melerai perdebatan adik-adiknya.


"Airin, saya harap kamu tidak tersinggung dengan perkataan-perkataan Tegar. Dia hanya bermaksud agar kamu bisa akrab dengan keluarga besar kami," lanjut Bagus mencoba mengklarifikasi sikap Tegar tadi.


"Nah, itu baru benar," celetuk Tegar.


"I-iya, Pak." jawab Airin grogi.


"Permisi ..." Beberapa pelayan caffe tiba di meja membawakan pesanan makanan yang sudah dipesan sebelumnya. Dan mereka pun mulai menyantap makanan yang sudah tersaji di atas meja.


"Mama, Luna mau pup." Ketika sedang menikmati makanan, tiba-tiba Luna berkata ingin buang air besar. Sontak Airin membulatkan matanya. Ketika yang lain menikmati makanan, Luna justru mengatakan hal yang mungkin bagi sebagian orang membuat selera makan hilang.


"Hmmm, maaf." Dengan rasa bersalah Airin bangkit dan buru-buru membawa Luna menjauh dari mereka, menuju arah toilet.

__ADS_1


"Mama bilang juga apa!? Luna tidak mau dengar Mama, sih!" Airin merasa kehadiran Luna membuat acara makan malam sedikit terganggu. Airin lalu mendudukkan Luna di kloset dan menemani Luna buang hajat.


"Hoaammm ... Mama, Luna ngantuk, mau bobo ..." Setelah menyelesaikan buang hajatnya, mulut Luna kini menguap karena rasa kantuk mulai menyerangnya.


Airin mende sah menanggapi apa yang dikatakan oleh putrinya itu.


"Coba Luna tidak memaksa ikut sama Mama. Enak juga di rumah sama Nenek, bisa nonton tivi, bisa tidur enak." Airin mengelap peluh di kening Luna.


"Mama, pulang, yuk!" Kini Luna justru mengajak pulang, padahal acara makan malam belum selesai.


"Nanti kalau makannya sudah selesai baru kita pulang." Airin tidak mungkin pulang lebih dulu, karena mereka juga baru saja tiba di sana.


"Tapi, Luna ngantuk, Ma." Luna sudah mulai merengek.


"Sabar, Sayang. Luna harus nurut sama Mama. Kalau Luna tidak menurut sama Mama, nanti Luna tidak diajak Om Gagah pergi ke permainan besok." Airin justru mengancam Luna, dengan alasan membatalkan rencana mereka jalan-jalan bersama Gagah besok.


"Luna besok mau jalan-jalan tidak sama Om Gagah?" Tanpa sadar Airin memakai alasan jalan-jalan dengan Gagah agar Luna tidak terus merengek minta pulang.


"Mau, Ma." jawab Luna tak bersemangat karena dia sudah mengantuk dan menyandarkan kepala di bahu Airin.


"Ya sudah, Luna harus sabar nunggu Mama selesai makan sama saudaranya Om Gagah, ya!" Airin Lalu kembali ke meja tadi dia berkumpul bersama keluarga Gagah.


"Sudah selesai, Rin?" tanya Ayuning saat Airin kembali.


"Sudah, Mbak. Hmmm, saya minta maaf kalau membuat tidak nyaman." Airin sangat tahu diri hingga menyampaikan permohonan maafnya. Dia merasa telah membuat kacau karena membawa Luna ikut bersamanya datang ke jamuan makan malam itu.


"Tidak apa-apa, Rin." balas Ayuning.


"Luna sudah mengantuk, ya?" tanya Putri, melihat Luna bersandar di bahu Airin dengan mata setengah terpejam.


"Iya, Mbak." jawab Airin.


"Kemarikan Luna, biar saya yang pangku. Kamu lanjutkan saja makanmu." Gagah meminta Luna dari Airin.


"Tidak usah, biar saya saja." Airin menolak. Namun, Gagah langsung berdiri dan mengambil tubuh Luna dari tangan Airin.


"Luna sama Om, ya!" ucap Gagah lalu mendekap tubuh Luna, membiarkan Luna tertidur di pangkuannya.


"Kamu lihat adikku ini, Airin. Dia itu limited edition, sudah tidak produksi lagi dari pabriknya setelan yang seperti dia. Makanya kamu janga ragu menerima Gagah untuk menjadi suamimu dan Papa sambung untuk anakmu." Mulut Tegar sepertinya gatal jika tidak berkata yang membuat orang salah tingkah.


Airin terdiam, karena dia merasa disalahkan karena selalu bersikap ketus kepada Gagah.


"Kita harus sering bertemu seperti ini, Airin. Sama anak-anak juga, biar kita bisa semakin akrab," ujar Ayuning berharap bisa berkumpul bersama kembali.


"Tapi khusus wanita saja." Putri lalu melirik ke arah Bagus, lalu dia berkata, "Maaf ya, Mas Bagus. Maksudku, agar suamiku ini tidak jadi pengacau." Putri menjelaskan pada Bagus, dan berharap Bagus tidak tersinggung dengan ucapannya tadi.


Bagus menganggukkan kepalanya, karena dia mengerti maksud ucapan Putri. Sementara Tegar langsung melirik kepada sang istri karena aturan yang dibuat Putri.


Mereka pun melanjutkan makan malam mereka dan berbincang ringan sampai akhirnya Gagah berpamitan kepada kakak dan iparnya untuk membawa Airin dan Luna pulang.


"Kenapa terburu-buru, Gah?" tanya Bagus ketika Gagah berpamitan.


"Kasihan Luna, Mas. Tidurnya tidak nyaman kalau begini." Gagah melirik tubuh Luna yang berada di antara lengan kekarnya.


"Saya permisi dulu. Maaf jika membuat acaranya menjadi tidak nyaman." Airin kembali meminta maaf.


"Tidak apa-apa, Rin." sahut Ayuning memaklumi.


Setelah berpamitan, Gagah lalu membawa Airin meninggalkan kakak-kakaknya.


"Maaf, kalau acara makan malam tadi tidak sesuai dengan harapan Bapak." Meskipun Gagah tidak menunjukkan sikap kecewa, namun Airin tetap merasa bersalah karena ikutnya Luna terasa mengganggu acara makan malam yang diadakan saudara-saudara Gagah.


"Memangnya kamu pikir apa yang saya harapkan?" Gagah justru melempar pertanyaan kepada Airin.


Airin menoleh ke arah Gagah yang menatapnya, ketika Gagah baru menyalakan mesin mobilnya dan bersiap pergi dari cafe itu.


"Yang saya harapkan adalah kamu bisa menerima permintaan saya, Airin. Saya pastikan, saya tidak akan mengecewakanmu." Gagah menatap lekat wajah Airin. Wajah yang membuatnya tak bisa memalingkan pandangannya sejak awal mereka berjumpa.


Airin langsung memutuskan pandangan dengan Gagah. Seketika itu ada rasa bersalah akan sikapnya selama ini pada Gagah. Tapi, sebagai seorang yang baru saja gagal dalam pernikahan, dia rasa apa yang dia lakukan adalah wajar.


"Saya harap Bapak bisa memberikan waktu untuk saya berpikir, karena tidak mudah bagi saya untuk memulai hubungan yang serius setelah kegagalan rumah tangga saya sebelumnya." Airin meminta pengertian Gagah.


"Tentu saja, saya akan menunggu sampai kamu siap, Airin. Tapi, saya mohon agar kamu tidak menutup pintu hati kamu untuk saya," harap Gagah.


Airin tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menganggukkan kepalanya pelan, menandakan dia menyetujui apa yang diminta oleh Gagah padanya.


Senyuman langsung mengembang di bibir Gagah saat melihat reaksi Airin. Walau Airin belum memastikan jika dia mau menerimanya, namun dari bahasa tubuh yang dilakukan Airin, menandakan jika apa yang diinginkan olehnya cepat atau lambat akan menjadi kenyataan.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2