JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Luna Mau Om Gagah Jadi Papa Baru Luna?


__ADS_3

Tante Mira baru bersantai setelah anggota keluarganya berangkat beraktivitas, hanya menyisakan dirinya, Luna dan ART saja di rumahnya. Dia menemani Luna yang terlihat mulai asyik bermain dengan kitchen set mainannya yang dibelikan Gagah kemarin, juga senang kedua boneka barunya, Mona dan Nola.


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel Tante Mira tiba-tiba berbunyi, membuat ia meraih benda pipih yang dia letakan di samping dia duduk di atas permadani kamar Airin.


Kening Tante Mira berkerut melihat nama Widya yang muncul di layar ponselnya saat ini. Dia pun segera mengangkat panggilan masuk dari sahabatnya lamanya itu.


"Assalamualaikum, ada apa, Mbak Widya?" tanya Tante Mira saat mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Waalaikumsalam, Mir. Aku ada kejutan untuk kamu, nih." Suara Widya terdengar begitu antusias merespon sapaan Tante Mira.


"Wah, ada kejutan apa pagi-pagi, nih, Mbak?" tanya Tante Mira merasa penasaran dengan kejutan yang dimaksud oleh sahabatnya itu.


"Gagah ingin melamar Airin nanti malam, Mir." jelas Widya, menyampaikan kabar gembira itu.


"Hahh? Nanti malam?" Tante Mira terkesiap mendengar berita yang disampaikan oleh Widya.


"Kamu kaget ya, Mir? Aku juga kaget waktu Gagah menyampaikan keinginannya itu semalam. Menurut kamu gimana, Mir?" tanya Widya meminta pendapat dari Tante Mira.


"Aku sih, setuju, Mbak. Tapi, aku khawatir Airin masih ragu atau menolak Gagah, Mbak. Aku rasa Airin masih membutuhkan waktu untuk memutuskan apakah akan menikah lagi dalam waktu dekat ini atau tidak." Tante Mira menyampaikan pendapatnya.


"Benar juga, Mir. Tapi, anakku sudah kadung terpikat dengan keponakanmu, jadi gimana, dong?" tanya Widya. "Apa Airin tidak mengatakan apa-apa kepadamu, Mir?" tanyanya kembali.


"Tidak, Mbak. Airin semalam hanya cerita bertemu dengan mantan suaminya ketika bersama sedang bersama Gagah, itu saja." Tante Mira menceritakan apa yang dikatakan oleh Airin padanya semalam.


"Airin bertemu mantan suaminya? Jangan-jangan itu yang membuat Gagah ingin segera menikahi Airin, karena dia takut Airin akan kembali dengan mantannya itu, Mir?" tebak Widya menduga-duga.


"Itu tidak mungkin, Mbak. Kemarin Airin bertemu dengan mantan suaminya dan wanita yang merebut suaminya itu. Tidak mungkin Airin punya keinginan untuk rujuk kembali," bantah Tante Mira.


"Jadi enaknya bagaimana, ya, Mir?" Widya mendadak bingung.


"Apa tidak bisa ditunda dulu, Mbak? Kalau nanti malam kayaknya terlalu cepat, deh! Airin sendiri belum tahu rencana ini, kan?" Tante Mira meminta waktu untuk membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada Airin sebelum Gagah benar-benar datang malamar Airin.


"Aduh, Mir. Kamu tahu anakku itu wataknya seperti apa, kan? Kalau aku yang ngomong, kayaknya dia tidak akan mendengar, deh! Hmmm, bagaimana kalau kamu saja yang bicara sama Gagah?" Widya meminta bantuan Mira agar mau bicara pada Gagah agar Gagah menunda waktu untuk melamar Gagah.


"Ya sudah, Mbak." Tante Mira pun menyetujui permintaan Widya.


"Aku jemput kamu satu jam lagi, Mir. Kita ke kantor Gagah sekarang." Widya berencana bertemu langsung dengan Gagah dan tidak melalui sambungan telepon.


"Kita ke kantor Gagah, Mbak?" Tante Mira terkejut saat Widya mengajaknya ke kantor Gagah sekarang.


"Iya, Mir. Lebih baik kita bicara langsung dengan Gagahnya biar enak," ujar Widya. "Kamu sedang repot tidak?" tanyanya kemudian.


"Hmmm, tidak, Mbak. Tapi, saya bawa Luna tidak apa-apa, Mbak?" tanya Tante Mira karena dia tidak mungkin meninggalkan Luna sendirian di rumah dengan ART saja.


"Tidak apa-apa, dong, Mir! Luna itu sudah dekat sekali dengan Gagah, kan? Gagah juga pasti senang kalau Luna ikut dengan kita." Widya memberikan ijin Luna ikut. "Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya, biar kamu juga bisa siap-siap, satu kamu lagi aku jemput kamu, Mir. Assalamualaikum ..." Widya mengakhiri panggilan teleponnya.


"Waalaikumsalam ..." sahut Tante Mira, lalu dia menutup sambungan teleponnya.


"Luna, ayo bereskan lagi mainannya. Nenek sama Mamanya Om Gagah mau ketemu Om Gagah. Luna mau ikut tidak?" Tante Mira membantu Luna merapihkan kembali mainannya.


"Ketemu Om Gagah, Nek?" Luna terlihat senang saat Tante Mira mengajaknya bertemu Gagah.


"Iya, Luna mau ikut tidak?" tanya Tante Mira kemudian.


"Mau, Nek." Luna bersorak seraya melompat-lompat.


"Kalau begitu, bantu Nenek merapihkan mainannya lalu Luna ganti baju," ujar Tante Mira.


"Iya, Nek." Luna pun segera menuruti apa yang diminta oleh Tante Mira.


***


"Selamat siang, Bu." Dewi bangkit dari kursi dan menyapa Widya saat melihat kedatangan orang tua dari bosnya di hadapannya saat ini.


"Wi, Gagah ada di ruangannya? Apa dia sedang ada tamu?" tanya Widya pada Dewi.


"Pak Gagah ada ruangan dan tidak sedang ada tamu, kok, Bu." Dewi bergegas ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk Widya.


"Biar saya saja, kamu kembali meneruskan kerjamu saja, Wi." Widya menyuruh Dewi meneruskan pekerjaannya.


"Baik, Bu." Dewi kembali ke mejanya sesuai perintah dari Widya.


"Ayo, Luna. Kasih kejutan untuk Om Gagah. Nanti Luna yang masuk dulu ke ruangannya Om Gagah, ya!" Widya ingin memberikan kejutan untuk Gagah dengan membiarkan Luna masuk lebih dahulu ke ruangan Gagah.


"Iya, Nek." sahut Luna.


Sementara di dalam ruangan kerjanya, Gagah sedang memeriksa laporan omzet penjualan dari beberapa cabang di laptopnya. Dia ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya agar dia bisa pulang lebih awal, karena dia ingin mempersiapkan untuk rencana lamarannya pada Airin.


Tok tok tok


Gagah menoleh ke arah pintu saat pintu ruangan kerjanya diketuk dari luar. Keningnya berkerut, karena dia tidak melihat seseorang yang muncul dari balik pintu ketika daun pintu terbuka.


"Om Gagah ...!"


Gagah bangkit dari duduk saat mendengar suara Luna dalam ruangannya. Karena tubuh mungil Luna yang muncul dari pintu tidak terlihat olehnya saat dia duduk tadi.


"Luna? Luna sama siapa kemari?" Gagah segera berjalan menghampiri Luna.

__ADS_1


"Sama nenek." Luna menunjuk ke arah pintu yang kini terbuka lebar.


"Mama? Tante?" Gagah semakin terkejut dengan kemunculan Mamanya dan Tante dari Airin di kantornya.


"Ada apa Mama dan Tante kemari? Kenapa tidak kasih kabar dulu?" Gagah mengangkat Luna dan mendudukkan di lengannya kemudian dia memeluk dan mencium pipi Widya juga menyalami Tante dari Airin.


"Ayo, duduk dulu, Tante." Gagah mempersilahkan Tante Mira duduk di sofa, karena Widya sudah terbiasa datang ke kantor Gagah. Dan benar saja, tanpa diminta Gagah, Widya sudah duduk lebih dahulu di sofa.


"Terima kasih, Gagah." Tante Mira duduk di sebelah Widya.


"Luna ke kantor Om Gagah kok tidak kasih tahu Om, sih?" Gagah mencium pipi Luna dengan gemas.


"Om Gagah kelja di sini, ya?" Luna memperhatikan ruangan kerja Gagah.


"Iya, Om kerja di sini," jawab Gagah lalu mendudukkan Luna di sampingnya.


"Ada apa, Ma?" tanya Gagah kemudian.


"Tante Mira mau bicara sama kamu, tuh!" Widya menunjuk ke arah Tante Mira dengan gerakan matanya.


"Ada apa, Tante?" Kini Gagah bertanya kepada Tante Mira.


"Begini, Gagah. Mama kamu sudah bilang ke Tante soal rencana kamu yang ingin melamar Airin nanti malam." Tante Mira terlihat hati-hati dalam menyampaikan maksudnya. Dia tidak ingin membuat Gagah tersingung dengan ucapannya.


Gagah sontak melirik ke arah Mamanya. Dia menduga sang Mama sudah menyampaikan niatnya terhadap Airin kepada Tante Mira.


"Iya, Tante. Saya sudah mengambil keputusan itu!" tegas Gagah memastikan. "Saya harap, Tante mendukung saya," harap Gagah.


"Tentu saja Tante mendukung kamu Gagah. Tapi, apa waktunya tidak terlalu cepat? Airin masih gamang. Dia masih trauma dengan kegagalannya." Tante Mira menyampaikan rasa khawatirnya jika Airin sampai menolak.


"Kalau kamu khawatir akan ada pria lain yang akan mendahului kamu untuk meminang Airin, Tante rasa kamu tidak usah mengkhawatirkan tentang hal itu." Tante Mira mencoba meyakinkan Gagah agar tak perlu khawatir Airin akan jatuh cinta pada pria lain.


"Setidaknya kamu sudah memenangkan hati Luna. Luna sudah sangat nyaman dengan kamu, Gagah." ujar Tante Mira kembali.


"Semalam Airin banyak cerita ke Tante soal pertemuan kalian dengan mantan suami Airin dan wanita yang merebut Papa Luna dari Airin. Airin juga cerita, bagaimana kamu melindungi dia dan juga Luna dari mereka. Percayalah, Gagah. Airin hanya membutuhkan sedikit waktu untuk meyakinkan hatinya agar dia bisa menerima kamu," lanjut Tante Mira membesarkan hati Gagah.


"Mama setuju dengan apa yang dikatakan Tante Mira, Gagah. Jangan sampai Airin menjadi merasa tertekan dengan niat baik kamu itu." Widya setuju dengan pendapat Tante Mira.


Gagah mengusap rahangnya yang ditumbuhi cambang halus. Dia pun menyadari apa yang dikatakan Tante Mira ada benarnya. Hatinya yang sudah terlanjur terpikat dengan janda muda nan cantik jelita itu dan rasa khawatir karena takut tersaingi, membuatnya ingin segera memiliki Airin seutuhnya tanpa berpikir panjang akan membuat Airin ketakutan atau bahkan menolaknya.


"Jika kamu memang benar-benar ingin mengambil hati Airin, kamu harus bisa mendekati dan mengambil hati orang-orang terdekat Airin." Tante Mira kembali memberikan saran.


"Oh ya, Tante. Di mana alamat rumah orang tua Airin? Saya ingin bertemu dengan mereka." Mendengar saran Tante Mira, Gagah pun terpikirkan untuk bertemu dengan orang tua Airin yang ada di luar kota.


"Kamu ingin bertemu dengan orang tua Airin, Gagah?" tanya Widya terkesiap.


"Orang tua Airin tinggal di Jogya," sahut Tante Mira.


"Maksud kamu, kamu ingin membawa Luna secara diam-diam, Gagah? Tidak, Mama tidak setuju, Gagah! Bagaimana kalau nanti Airin tahu? Dia pasti akan marah terhadap kamu!" Widya tidak setuju dengan rencana putranya itu.


"Ma, aku tidak menculik Luna. Aku hanya ingin bertemu dengan orang tua Airin, artinya membawa Luna ke rumah kakek dan neneknya. Salahnya di mana?" Gagah tetap berpendapat apa yang dilakukannya tidaklah salah.


"Kamu tidak meminta ijin membawa Luna pada Airin, itu letak kesalahannya, Gagah! Kamu akan dianggap lancang karena membawa pergi Luna dari orang tua kandungnya!" Widya menegaskan apa yang salah dari rencana Gagah itu.


"Ma, aku tidak pergi berdua dengan Luna, ada Tante Mira juga." Gagah berkelit.


"Bagaimana menurutmu, Mir?" Widya bertanya pada Tante Mira meminta pendapat sahabatnya itu.


"Hmmm, aku harus berdiskusi dengan suamiku dulu, Mbak. Keluarga Airin itu 'kan dari pihak suamiku, jadi aku harus minta pendapat Mas Fajar dulu." Tante Mira tidak ingin disalahkan oleh Airin dan pihak keluarga Airin karena membiarkan Luna ikut bersama Gagah pergi ke Jogya.


"Kamu dengar sendiri, kan? Kamu jangan cari masalah, deh, Gah! Kalau kamu ingin menemui orang tua Airin, kamu bisa datang sendiri, Tanpa harus melibatkan Tante Mira juga Luna. Kalau orang tua Airin kurang percaya dan yakin terhadap kamu, kamu bisa telepon Tante Mira dan Luna saat di Jogya nanti, kan?" Widya menasehati Gagah untuk tidak bertindak gegabah.


Gagah mendengus kasar. Sebenarnya niat dia membawa Luna, agar orang tua Airin dapat melihat kedekatannya dengan Luna, dan agar lebih mudah mendapatkan restu dari kakek nenek Luna dari pihak Airin. Namun, rencananya ditentang oleh Mamanya.


"Om Gagah, kata Ateu Peby, Om Gagah mau jadi Papa balu Luna, ya?" Di tengah-tengah perdebatan Gagah dan Widya, tiba-tiba Luna mengatakan hal yang membuat semua orang yang ada di sana terkesiap, terutama Gagah yang langsung mendudukkan Luna di pangkuannya.


"Luna mau Om Gagah jadi Papa baru Luna?" tanya Gagah merasa surprise dengan pertanyaan Luna.


"Mau, Om." Luna menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Betapa bahagianya hati Gagah mendengar jawaban Luna. Bagi Gagah itu adalah modal penting untuk meluluhkan hati Airin. Dan apa yang dikatakan Tante Mira tadi benar, dia sudah memenangkan hati Luna, hanya selangkah lagi dia mendapatkan hati Mamanya Luna.


***


"Rin, dipanggil Pak Andika!" Fany yang baru saja menerima telepon, memberitahu Airin, jika Airin diminta menghadap sang bos.


Airin membulatkan bola matanya saat mendengar Fany menyampaikan kabar dirinya disuruh menghadap pimpinan Central Bank tempatnya bekerja.


Airin menatap ke arah Fany dan bertanya, "Ada apa, ya, Fan?"


"Mana aku tahu." Fany mengedikkan bahunya. "Mau membicarakan soal Pak Gagah kali, Rin." Fany kemudian terkekeh menyahuti.


"Buruan, deh! Samperin dulu saja. Siapa tahu mau naik jabatan, Rin." Fany masih saja menggoda Airin, membuat Airin mendelik ke arah Fany.


Airin pun lalu bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah lift menuju ruangan kerja Pak Andika.


"Pak Andika memanggil saya, Mbak?" tanya Airin pada Melly, sekretaris Andika.


"Iya, Rin. Masuk saja!" Melly menyuruh Airin langsung masuk ke dalam ruangan Pak Andika.

__ADS_1


"Baik, Mbak. Makasih." Airin lalu berjalan ke arah pintu masuk ruangan Andika.


Tok tok tok


Airin mengetuk pintu kaca ruangan bosnya itu sebelum masuk.


"Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Airin saat masuk ke dalam ruangan Andika.


"Masuklah, Airin." Andika menutup buku yang sedang dibacanya lalu mempersilahkan Airin duduk di hadapannya.


"Maaf, ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Airin santun setelah duduk di kursi di depan meja Andika. Sementara jantung Airin berdebar kencang merasa penasaran dengan hal yang ingin disampaikan oleh Andika kepadanya. Dia khawatir jika Andika menyinggung soal Gagah.


"Hmmm, begini, Airin. Saya hanya ingin bertanya soal kedekatan kamu dengan Pak Gagah." Andika sudah mulai menyebutkan hal yang membuat dirinya memanggil Airin.


Airin menarik nafas cukup berat saat Andika menyinggung hubungannya dengan Andika, justru itulah yang dikhawatirkan Airin.


"Saya mendengar selentingan jika Pak Gagah sering datang kemari menjemput kamu, selain ketika beliau datang ke sini meminta ijin membawa kamu pergi pada saya." Andika bukan bermaksud ikut campur dengan masalah pribadi Airin. "Begini, Airin. Kamu tahu keributan yang terjadi beberapa waktu lalu yang menimpa rekan kamu di bagian teller, kan? Saya tidak ingin hal serupa terjadi lagi di sini. Itu akan mencoreng nama baik bank ini. Apalagi ini berhubungan dengan nasabah penting Central Bank, Airin." Andika menjelaskan maksudnya membicarakan hal tersebut pada Airin.


"Saya mengerti, Pak. Mungkin saya belum memberitahu secara langsung dari mulut saya, jika saya sudah bercerai dengan suami saya. Dan, itu tidak ada hubungannya dengan Pak Gagah, Pak. Saya baru bertemu dan kenal dengan Pak Gagah sekitar satu bulan ini, sedangkan saya bercerai dari suami saya sudah sejak empat bulan yang lalu." Airin memberi klarifikasi dan menjelaskan pada bosnya tentang status yang dia sandang saat ini.


"Oh, begitu ..." Andika terkejut dengan pengakuan yang disampaikan oleh Airin soal status wanita itu saat ini. Dia memang belum mendengar kabar jika Airin sudah bercerai. Dia hanya mendengar gosip soal pria kaya raya yang sering menjemput Airin yang dia dengar jika itu adalah bos retail ternama, apalagi Gagah pernah secara terang-terangan meminta ijin kepadanya.


"Maaf jika hal ini membuat masalah di Central Bank, Pak." Airin merasa tak enak karena sampai ditegur oleh Andika.


"Tidak, tidak apa-apa, Airin. Justru saya yang minta maaf karena tidak tahu masalah yang sebenarnya tentang perceraian kamu." Andika meminta maaf karena dia salah menduga.


"Ngomong-ngomong, soal hubungan kamu dengan Pak Andika, apa kalian benar-benar menjalin hubungan?" Kadung menyinggung masalah pribadi Airin, Andika merasa penasaran dengan kedekatan Airin dengan Gagah.


Airin menurunkan pandangannya dengan wajah bersemu merah ketika Andika menyinggung hubungannya dengan Gagah.


"Saya dengar Pak Gagah memang belum menikah dan sedang mencari pendamping hidup," lanjut Andika kembali.


"Hmmm, saya tidak tahu, Pak." Airin malu mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi.


"Jika kamu memang sudah tidak punya ikatan pernikahan dengan suami kamu, saya rasa tidak ada salahnya kamu menjalin hubungan serius dengan Pak Gagah. Dia orang baik dan pengusaha yang sukses." Andika seolah mempromosikan Gagah pada Airin


Airin membulatkan bola matanya. Dia tidak menyangka jika bosnya sendiri pun mendukung dia menjalin hubungan serius dengan Gagah. Sepertinya seluruh semesta mendukungnya dengan Gagah terkecuali Rey dan wanita selingkuhannya itu.


***


Fany mendekat ke arah Airin ketika melihat Airin kembali ke mejanya. Tentu saja dia merasa penasaran apa yang dibicarakan Airin dan bosnya itu.


"Gimana, Rin? Kenapa Pak Andika manggil kamu?" tanya Fany.


"Seperti dugaanmu, Fan." sahut Airin.


"Kamu naik jabatan?" tebak Fany terkekeh meledek.


"Pak Andika menanyakan


soal hubunganku dengan Pak Gagah. Sepertinya Pak Andika mendengar gosip yang beredar di sini, deh." Airin mendesah, malu rasanya sampai menjadi perbincangan rekan sekantor apalagi sampai terdengar oleh bosnya sendiri.


"Lalu, Pak Andika menegur kamu?" tanya Fany penasaran.


"Pak Andika justru mendukung aku sama Pak Gagah," sahut Airin jujur.


"What?? Hahaha ..." Fany tertawa kencang mendengar pengakuan Airin. "Sudahlah, Rin. Mungkin itu memang kode untuk kamu, jika kamu memang ditakdirkan berjodoh dengan Pak Gagah. Apalagi yang dicari? Pak Gagah itu ganteng, kaya, sayang dan perhatian sama kamu dan Luna. Sikat saja, Rin! Kalau aku jadi kamu, sudah aku terima Pak Gagah itu dengan senang hati sekalian bisa skakmat Mas Rey." Fany menyarankan agar Airin cepat menerima Gagah.


"Kemarin aku bertemu Mas Rey dengan sekingkuhannya waktu aku dan Luna pergi dengan Pak Gagah, Fan." Airin menceritakan pertemuannya dengan Rey pada Fany.


"Serius? Lalu gimana? Mas Rey lihat kamu sama Pak Gagah tidak?" Fany terkesiap hingga merasa penasaran.


"Lihatlah, malah kita satu meja," jawab Airin.


"Kok, bisa?" tanya Fany heran.


"Mas Rey kaget waktu lihat aku bersama Pak Gagah, apalagi ternyata Mas Rey mengenal Pak Gagah. Dan Mas Rey tahu kalau Pak Gagah itu seorang CEO mall besar," cerita Airin.


"Wah, kebayang gimana panasnya hati Mas Rey lihat kamu mendapatkan pria yang lebih oke dari dia." Fany tersenyum mencibir Rey.


"Ya, seperti itulah. Dia malah menyalahkan aku karena melihat Luna dekat dengan Pak Gagah," lanjut cerita Airin.


"Dih, apa urusannya!? Kamu sudah bebas dari dia, kamu berhak mencari pendamping dan berusaha mengenalkan juga mendekatkan Luna dengan calon pendamping kamu yang baru. Sayang aku tidak ada di sana, Rin. Rasanya aku ingin tertawa puas melihat wajah Mas Rey yang geram melihat kamu dan Luna dekat dengan Pak Gagah." Tentu Fany merasa penasaran akan ekspresi menyesal Rey karena telah mengkhianati Airin.


"Sudah, deh! Jangan ngobrol terus! Kerja, kerja, kerja!" Airin tertawa kecil menyindir Fany yang mengajaknya bergosip.


"Hahaha ..." Namun, Fany menanggapinya dengan tertawa kecil.


Airin lalu mengambil ponselnya, dia ingin mengecek apakah ada pesan masuk di teleponnya itu. Dan benar saja, ada pesan dari Gagah yang masuk ke ponselnya. Airin pun langsung membuka pesan dari Gagah yang masuk sekitar sepuluh menit yang lalu.


"Assalamualaikum, Airin. Pak Andika bicara apa tadi?"


Airin terbelalak membaca pesan masuk dari Gagah. Sontak dia mengedar pandangan mencari keberadaan Gagah di sana. Namun, dia tidak menemukan sosok Gagah di kursi tunggu customer service ataupun di teller. Lalu bagaimana Gagah bisa tahu jika dirinya baru saja dipanggil oleh Andika? Hal itu sontak membuat Airin bertanya-tanya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2