JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Ikut Ke Jogya


__ADS_3

Dering suara ponsel Gadis berbunyi tepat ketika Gadis masuk ke dalam kamar seusai ia menyantap sarapan pagi bersama Mamanya. Gadis berlari kecil menuju nakas, di mana ia menaruh alat komunikasinya untuk segera mengetahui siapa yang menghubungi pagi ini.


Gadis agak terkejut saat melihat nama Gagah yang muncul di layar ponselnya, hingga membuatnya bertanya-tanya, ada apa Gagah meneleponnya pagi ini? Apa ada hal penting sehingga membuat Gagah menghubunginya? Tanya Gadis dalam hati.


"Halo, Kak. Ada apa?" tanyanya saat mengangkat panggilan telepon dari Gagah.


"Gadis, hari ini saya ingin pinjam Haikal. Dia akan mengantar Airin ke Jogya," jawab Gagah.


Gadis melebarkan bola matanya mendengar ucapan Gagah. "Kak Haikal ingin mengantar Kak Airin ke Jogya? Kapan, Kak?" tanyanya kemudian.


"Hari ini, dia tidak menginap, sore ini juga kembali ke Jakarta," ujar Gagah.


"Kak Haikal akan ke Jogya pulang pergi? Hmmm, kalau Kak Haikal ke Jogya, berarti aku tidak bisa ketemu lama sama Kak Haikal, dong!?" batin Gadis. Rasanya ia berat untuk memberikan ijin, tapi tak mungkin juga ia menolak permintaan Gagah. Hingga ia pun mengambil keputusan untuk ikut menemani Airin ke Yogyakarta bersama Haikal.


"Hmmm, aku juga ingin ikut mengantar Kak Airin ke Jogya, dong, Kak." ucapnya. Dia melupakan pesan sang Mama agar bisa mengendalikan perasaannya dan tidak terlalu terang-terangan menunjukkan rasa sukanya terhadap Haikal.


"Memangnya ada apa kamu mau ikut ke sana?" tanya Gagah menanggapi permintaan Gadis, walau hal itu sudah ia prediksi sebelumnya.


Gadis seakan tersadar dengan pertanyaan Gagah atas keinginannya yang terucap secara spontan.


"Hmmm, a-aku mau ikut antar Kak Airin ke Jogya, Kak." Sudah terlanjur basah, Gadis dengan malu-mali menyebutkan keinginannya.


"Lalu bagaimana dengan sekolah kamu? Hari ini kamu ada jadwal homeschooling, kan?" tanya Gagah kembali.


"Nanti aku bisa hubungi Bu Siska kalau hari ini aku tidak belajar, Kak." Mudah bagi Gadis mengatur jadwal belajarnya, sehingga alasan harus mengikuti pelajaran dengan metode homeschooling yang sedang dijalaninya saat ini bukanlah halangan untuk ikut pergi ke Yogyakarta menemani Airin dan ikut mendampingi Haikal, itulah alasan utamanya.


"Apa Bu Farah akan mengijinkan?" Meskipun Gagah berharap Gadis akan mengikuti rencananya, namun ia ingin memastikan jika Gadis mendapat ijin dari Farah, sebab Gadis pergi bukan untuk urusan pekerjaannya.


"Kak Airin tidak menginap, kan? Mama akan kasih ijin, kok, Kak. Ada Kak Airin dan Kak Haikal yang menemani, Mama pasti tidak akan khawatir." Mengingat sang Mama sudah memberi lampu hijau kepadanya untuk dekat dengan Haikal beserta keluarganya. Gadis yakin jika sang Mama tidak akan menghalangi niatnya itu.


"Ya sudah kalau kamu tetap ngotot ingin mengantar. Tapi pastikan dulu Mama kamu memberikan ijin," tegas Gagah, ia tentu tidak ingin disalahkan oleh Farah.


"Oke, Kak. Ya sudah aku tutup teleponnya dulu, aku mau bilang ke Mama." Gadis kemudian mengakhiri percakapannya dengan Gagah. Dia memutar tubuh dan berlari ke luar kamar untuk meminta ijin sang Mama.


"Ma ...!" Gadis berteriak menuruni anak tangga memanggil Farah, yang tadi ada di dapur saat ia meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"Mau berangkat sekarang?" Suara yang muncul dari arah dapur membuat Gadis terkesiap. Ternyata orang yang menjadi alasan ingin ikut ke Yogyakarta sudah muncul di hadapannya saat ini.


"Kak Haikal sudah datang?" Tanpa bisa ditahan, serbuan rona merah muda menghiasi pipi wanita cantik itu. Gadis teringat isi chat semalam antara dirinya dengan Haikal. Debaran jantungnya tak terkendali ketika jarak mereka semakin dekat. "Kak Haikal kok' ada di sini? Katanya mau mengantar Kak Airin ke Jogya?" Dia mengira jika Haikal sudah diberitahu tugasnya oleh Gagah.


"Antar Mbak Airin ke Jogya?" Tentulah Haikal terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Gadis, sebab dia belum mendapat informasi apa-apa tentang rencana pergi ke Yogyakarta dari Airin ataupun Gagah.


Ddrrtt ddrrtt


Suara panggilan telepon ponsel Haikal terdengar dari dompet HP yang ada di pinggangnya. Haikal segera mengambil ponselnya itu. Setelah ia mendengar informasi yang disampaikan oleh Gadis, ia menduga yang menghubunginya saat ini adalah Gagah. Dan benar saja, ketika ia melihat layar ponselnya, nama Gagah lah yang muncul di sana.


"Assalamualaikum, ada apa, Kak?" Dengan cepat Haikal mengangkat panggilan masuk dari kakak iparnya.


"Waalaikumsalam, kamu ada di mana sekarang, Kal? tanya Gagah.


"Aku di rumah Bu Farah, Kak." jawab Haikal sambil melirikkan matanya ke arah Gadis yang masih berdiri di depannya.


"Kal, kamu langsung ke rumah sekarang. Kakak minta tolong antar Kakakmu dan Luna ke Jogya." Gagah menyebut permintaannya pada adik iparnya itu.


"Memangnya ada apa Mbak Airin ke Jogya, Kak?" Haikal cemas mendengar rencana kepergian kakaknya yang sangat mendadak.


"Ya ampun, Mbak Airin ada-ada saja." Untung saja kakak iparnya itu begitu mencintai kakaknya, sehingga Gagah bersedia mengabulkan permintaan Gadis.


"Tidak apa-apa, Kal. Namanya juga ibu hamil sedang mengidam." Gagah sangat memaklumi keinginan istrinya itu. "Kamu langsung ke rumah saja sekarang, nanti aku suruh Dewi pesankan tiketnya," lanjut Gagah.


"Hmmm ..." Haikal kembali melirik ke arah Gadis, karena saat ini dia adalah asisten dari Gadis. Dia bingung harus menjawab apa atas perintah yang diberikan oleh sang kakak ipar. Meskipun tadi Gadis sendiri sudah menyinggung soal rencana kepergian ke Yogyakarta.


"Aku sudah bilang ke Gadis, dia sudah mengijinkan." Seperti mengerti keraguan Haikal, Gagah menjelaskan jika ia sudah menghubungi Gadis sebelumnya.


"Oh, ya sudah, nanti aku ke sana, Kak." Haikal tidak punya pilihan selain menuruti apa yang diperintahkan Gagah kepadanya, apalagi orang yang ia antar adalah kakaknya sendiri.


"Oke, jaga kakakmu baik-baik, Kal. Assalamualaikum ..." Gagah mengakhiri sambungan telepon mereka.


"Iya, Kak. Waalaikumsalam ..." sahut Haikal.


"Kak Haikal jadi pergi ke Jogya, kan? Aku tadi sudah bilang ke Gagah, kalau aku juga mau ikut menemani Kak Airin ke Jogya." Sedari tadi Gadis hanya memperhatikan dan mendengarkan Haikal yang berbincang di telepon dengan Gagah. Setelah sambungan telepon mereka berakhir, barulah Gadis menyampaikan niatnya pada Haikal.

__ADS_1


Mata Haikal terbelalak, ia terperanjat mendengar keinginan Gadis yang ingin menemani Airin pergi ke luar kota. Apa yang dia lakukan bukan pekerjaan kantor dan tidak ada hubungannya dengan Gadis, kenapa Gadis justru ingin ikut pergi juga ke Yogyakarta.


"Untuk apa kamu ikut?" tanya Haikal spontan. Pertanyaan yang sama seperti yang dilontarkan Gagah tadi.


Pertanyaan Haikal direspon dengan tatapan tajam Gadis, yang menganggap dirinya tidak berhak ikut menemani Airin.


"Memangnya kenapa? Kak Gagah saja tidak melarang aku ikut menemani Kak Airin, kok!" Gadis melipat tangan di dadanya dengan mulut mencebik.


"Hmmm ... maksud saya, bagaimana dengan pekerjaan kamu di kantor?" Haikal mengklarifikasi ucapannya agar Gadis tidak salah paham dengan kata-katanya tadi.


"Kehadiran aku di kantor itu hanya pelengkap saja, tidak sepenting Kak Gagah, jadi biarkan saja." Tangan Gadis mengibas ke udara, seakan mengatakan jika tanpa kehadirannya di kantor  bukan masalah besar bagi BDS.


"Tapi nanti saya akan menginap di sana, apa kamu mau ikut menginap juga?" tanya Haikal bingung karena harus membawa dan mengurus anak gadis orang yang jauh dari Jakarta.


"Kak Gagah bilang Kak Airin akan pulang-pergi." Ternyata apa yang disampaikan Gagah kepadanya berbeda dengan apa yang dikatakan Gagah pada Haikal.


"Kak Gagah tidak ingin Mbak Airin kelelahan jadi menyuruh Mbak Airin menginap, besok pagi baru kembali ke Jakarta," jelas Haikal seperti apa yang dikatakan oleh Gagah kepadanya.


Gadis terdiam, dia tidak tahu apakah Mamanya akan mengijinkan dirinya jika ia tidak pulang ke rumah. Tapi keinginannya untuk bisa menemani Haikal mengantar Airin begitu kuat sehingga ia pun bergegas mencari sang Mama untuk meminta ijin.


Kening Haikal berkerut, merasa heran melihat Gadis yang berlari meninggalkannya. Entah apa yang ingin dilakukan oleh Gadis, dia tidak tahu.


"Kenapa anak itu?" gumam Haikal seraya menggelengkan kepalanya.


*


*


*


Bersambung ...


Yang kangen kisahnya Kayra❤️Erlangga, ada bonus chapter terbaru, yang belum pernah baca silahkan mampir di sini 👇 makasih🙏


__ADS_1


__ADS_2