JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Huwaaaaa ... Papaaaa ...."


Telinga Airin samar tapi pasti mendengar suara tangisan Luna, seketika dirinya terjaga. Airin bangkit dari tidurnya ingin menghampir kamar Luna karena sepertinya Luna terjaga karena mimpi buruk.


"Ada apa?" Merasakan istrinya terbangun dan turun dari tempat tidur, Gagah pun ikut terjaga. Pendengaran menangkap suara tangis Luna yang terdengar jelas dari kamar sebelah. Gagah sontak melompat dari tempat tidur bahkan mendahului Airin berlari menghampiri kamar Luna.


"Papaaaa ... huwaaaa ..." Dilihat oleh sepasang suami istri itu Luna menangis dengan terduduk di tempat tidur sambil mengusap-usap matanya.


"Luna kenapa, Sayang? Ini Luna sama Papa " Gagah mendekati Luna, mengangkat tubuh Luna hingga menggendongnya.


"Luna mimpi buruk, ya, Nak?" Airin mengusap punggung Luna mencoba menenangkan Luna agar berhenti menangis.


"Luna jangan menangis, ada Papa sama Mama di sini." Gagah juga mencoba membuat Luna tenang dengan menciumi kening dan mengusap kepala Luna, tapi Luna tidak juga mau menghentikan tangisannya, bahkan Luna menjadi histeris, sambil memanggil kata 'Papa'.


"Astaghfirullahal adzim ..." Airin beristighfar, tak biasanya Luna menangis histeris seperti saat ini. "Luna kenapa, ya, Mas?" Airin cemas, dia takut ada sesuatu yang mengganggu putrinya itu.


"Apa tadi siang dia terjatuh?" tanya Gagah, takut Luna terjatuh dan ada sakit yang dirasakan oleh Luna.


"Tidak, Mas." Airin menggelengkan kepala dengan cepat.


"Luna tidur di kamar kita saja." Gagah membawa Luna pindah ke kamarnya disusul oleh Airin di belakangnya.


"Papaaaa ... Hiks ... Hiks ..." Luna terus saja memanggil-manggil Papa.


"Ini Papa, Sayang. Luna bobo di sini sama Papa Mama, ya." Gagah merebahkan tubuh Luna di tempat tidur.


"Ndak mau! Papaaa ...!! Huwaaaa ..." Luna berontak sambil memu kul dan menen dang tubuh Gagah.


"Luna, Luna tidak boleh seperti itu!" Airin menegur Luna karena sikap Luna yang tidak seperti biasanya.


"Mamaaaa ...! Papaaaa ...!" Dengan tersedu Luna berteriak memanggil Papa dan Mamanya.


Tok tok tok


"Gagah, Airin, Luna kenapa?" Dari luar kamar terdengar suara ketukan pintu bersamaan suara Widya terdengar.


Airin bergegas membukakan pintu kamar untuk Widya.


"Luna kenapa, Rin?" tanya Widya ketika daun pintu kamar terbuka.


"Sepertinya mimpi buruk, Ma." jawab Airin.


"Mamaaaaa ...!"


Airin kembali masuk ke dalam kamar ketika Luna memanggilnya, Widya pun ikut masuk ke dalam kamar Airin dan Gagah.


"Ini Mama, Sayang." Airin berbaring di samping Luna yang terus menangis. Dia mengusap dan menciumi wajah Luna yang memerah dengan mata sembab karena terus menangis.


"Luna, kenapa? Ini Nenek, Luna mau gendong Nenek?" Widya menawarkan diri menggendong Luna.


"Ndak mau!! Cana! Mamaaa ..." Luna masih terus mengamuk.


"Kamu panggil Papa saja, Gah." Widya menyuruh Gagah untuk memanggil Prasetyo, untuk minta didoakan agar Luna kembali tenang. Dulu saat masih balita, anaknya sering mengamuk seperti Luna, suaminya itu akan menenangkan anak-anaknya dengan membacakan doa.


"Iya, Ma." Gagah bergegas keluar kamar untuk memanggil Papanya.


Tidak lama kemudian, Gagah dan Prasetyo sudah kembali ke kamar.


"Sini Luna dipangku Kakek." Prasetyo mengulurkan tangan ke arah Luna, namun Luna menepisnya.


"Luna dipangku Mama saja kalau begitu, ya?" Prasetyo menyuruh Airin memangku Luna.


"Jangan Airin, Pa. Gagah saja! Takut Luna ngamuk terus menen dang perut Airin." Widya khawatir tanpa sadar Luna akan menyakiti perut Airin.


Dengan cekatan Gagah langsung mengangkat Luna walau Luna masih berontak dan menolak, tapi tenaga Gagah yang begitu kuat tak mampu dilawan oleh Luna.


Prasetyo lalu duduk di samping Gagah yang memeluk tubuh Luna yang masih menangis. Tangannya mengusap kepala Luna, sementara mulutnya mulai membacakan doa-doa.


"Bismillahirrahmanirrahim ..." Prasetyo membacakan doa, termasuk membacakan ayat Kursi untuk membuat Luna tenang lalu meniupkan di ubun-ubun Luna.


Sekitar lima belas menit berselang tangis Luna mulai berangsur reda, bahkan kelopak mata Luna yang membengkak mulai tertutup.


"Kamu bacakan saja ayat Kursi terus, Gah. Jangan ditaruh di tempat tidur dulu, biarkan seperti ini saja sampai Luna terlelap pulas," saran Prasetyo ketika Luna sudah terkendali.


"Iya, Pa. Terima kasih." Meskipun yang membantu menenangkan Luna adalah orang tuanya sendiri, Gagah tetap santun menghaturkan terima kasih.


"Terima kasih, Pa." Airin pun ikut mengucapkan terima kasih pada Papa mertuanya.


"Ya sudah, Papa sama Mama ke kamar lagi." Prasetyo dan Widya berpamitan kembali ke kamar mereka meninggalkan kamar Gagah.


Setelah mengantar kedua mertuanya sampai pintu kamar, Airin menutup pintu, kemudian menghampiri suaminya.


"Mas bersandar saja di headboard." Airin menyusun bantal agar suaminya itu duduk nyaman bersandar sambil memangku Luna


"Sebaiknya kamu tidur kembali, Airin." Gagah menyuruh Airin kembali berbaring sebab saat ini waktu sudah menunjukkan pu kul sebelas malam.


"Nanti saja kalau Luna sudah pulas, Mas." Airin duduk di samping Gagah dengan menyadarkan kepala di pundak Gagah sementara tangannya mengusap kening Luna agar putrinya itu makin pulas.


Hingga berjalan setengah jam sepasang suami istri itu sudah terlelap sambil duduk menyandarkan punggung di headboard springbed sementara Airin masih tetap menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.

__ADS_1


Airin kemudian menggeliat merasakan lehernya sakit karena memiringkan kepalanya. Airin melihat Luna yang terlihat tidur dalam pelukan Gagah dengan tenang dengan mulut terbuka. Dia menarik nafas lega akhirnya putrinya itu sudah tertidur pulas. Dia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba Luna mengamuk seperti tadi, padahal Luna tidak pernah menangis histeris seperti itu. Pandangannya kini menatap suaminya yang sampai tertidur memeluk Luna dalam pangkuannya dengan kepala menengadah menahan lelah.


Bola mata Airin seketika mengembun dipenuhi cairan bening. Sungguh haru rasa hatinya melihat Gagah begitu tulus mengasihi Luna padahal Luna bukanlah anak kandung Gagah. Sungguh beruntung dirinya mendapatkan suami pengertian dan baik hati seperti Gagah.


Airin menyeka air mata yang hampir menetes di pipinya. Dia lalu menepuk halus pundak Gagah mencoba membangunkan sang suami. Kasihan jika Gagah harus tertidur seperti itu sementara besok Gagah harus beraktivitas di kantor.


"Mas ..." Airin membangunkan Gagah dengan suara lembut.


Gagah terkesiap dan mengerjapkan mata saat Airin membangunkannya.


"Luna nangis lagi?" Gagah yang terkaget menanyakan apakah Luna mengamuk lagi padahal saat ini Luna sedang tenang dalam dekapan Gagah.


"Ssstttt, Luna sudah tidur, Mas." Airin menunjuk ke arah Luna, "Sebaiknya Luna ditidurkan saja di sini, Mas." Airin menyusun bantal untuk Luna berbaring.


"Ssstttt ..." Sambil merebahkan tubuh Luna di tempat tidur, Gagah menjaga agar Luna tidak terbangun. Setelahnya ia menyelimuti Luna hingga sebatas lehernya.


Gagah menghempas nafas panjang. Tadi dia benar-benar panik menghadapi Luna, Sama seperti istrinya, dia pun bingung kenapa Luna menangis dan rewel sangat ekstrim.


"Kenapa kamu tidak tidur, Airin?" tanya Gagah melihat istrinya masih terjaga.


"Aku baru saja terbangun, Mas." jawab Airin.


"Apa Luna pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Gagah.


"Tidak, Mas. Waktu masih bayi pernah rewel tapi tidak seperti ini," sahut Airin, "Aku sendiri tidak tahu kenapa Luna tadi mengamuk begitu, Mas. Mungkin Luna bermimpi yang menyeramkan hingga membuat Luna ketakutan." Airin menduga-duga.


"Ya sudah, sebaiknya kita tidur saja, sudah malam." Gagah menyuruh Airin beristirahat. Setelah Airin merebahkan tubuhnya dia pun ikut mengistirahatkan tubuh dan pikirannya beberapa saat, setidaknya sampai besok pagi jelang Shubuh.


***


Keesokan paginya Airin terbangun sebelum Shubuh. Dia melihat suaminya masih tertidur dengan memeluk Luna yang juga masih pulas. Senyuman mengembang di bibir Airin melihat kedekatan Luna dengan Gagah.


Tangan Airin membelai wajah Luna lalu dia mengecup pipi Luna sebagai tanda sayang. Kemudian bibirnya mencium pipi Gagah sebagai ungkapan rasa terima kasih sebab kehadiran Gagah dalam hidupnya begitu sangat berarti.


Gagah menggeliat dan terbangun ketika Airin mengecup pipinya, membuat Airin merasa bersalah sebab telah mengganggu tidur Gagah.


"Maaf, Mas. Aku mengganggu tidur Mas," sesal Airin.


"Jam berapa sekarang?" tanya Gagah mengusap-usap matanya.


Airin melirik jam dinding yang saat ini menunjukkan pu kul empat lewat lima menit.


"Jam empat, Mas." sahutnya kemudian.


Sama seperti Airin, kini Gagah pun mengecup pipi Luna sambil membelai kepala Luna.


"Anak pintar Papa semalam bikin Papa sama Mama senewen ini." Kembali Gagah mengecup pipi chubby Luna.


Gagah terkekeh kemudian menjauhkan tubuhnya dari Luna. Tangannya kemudian mengambil ponsel dari atas nakas, mengecek apakah ada pesan-pesan masuk ke ponselnya. Tiba-tiba sebuah informasi singkat muncul di atas layar ponselnya dari aplikasi yang sering menyajikan informasi terupdate hal yang terjadi di masyarakat.


"Sebuah kecelakaan maut terjadi semalam, salah satu dari dua korban lakalantas meninggal di TKP."


Gagah mengabaikan berita itu dengan menghapusnya karena menganggap informasi itu tidak berhubungan baginya. Gagah kembali menaruh ponselnya di nakas lalu kembali memeluk Luna dan memejamkan mata sambil menunggu waktu Shubuh tiba.


Ketika sarapan pagi, wajah Luna terlihat masih murung dan sendu dengan mata terlihat sembab, Luna tidak pernah mau lepas dari Airin. Ketika berkumpul di meja makan, Luna duduk di pangkuan Airin dengan memeluk Airin. Suhu tubuh Luna bahkan agak hangat, mungkin efek semalam Luna mengamuk dan banyak menangis.


"Luna makan dulu, Sayang." Airin menyuapi Luna dengan nasi dan sayuran, namun mulut Luna merapat dengan menggelengkan kepala.


"Ayo dimakan dulu nasinya, Luna. Nanti Luna sakit kalau tidak makan." Widya pun ikut membujuk Luna untuk makan.


"Papa yang suapin Luna, mau?" Gagah menawarkan diri menyuapi Luna tapi Luna tetap menggelengkan kepalanya.


"Luna mau ikut ke kantor Papa, tidak? Kalau Luna makan nanti Papa ajak Luna ke kantor Papa, Luna mau main ke Kidz Zone?" Gagah bahkan merayu dengan menawarkan pergi ke tempat permainan yang disukai Luna.


"Ndak mau, Mamaaaa ..." Luna mulai merengek.


"Sssttt ...! Luna tidak boleh menangis lagi." Airin mengusap punggung Luna menenangkan putrinya agar tidak merajuk kembali.


"Luna sering seperti ini sebelumnya, Rin?" tanya Widya.


"Biasanya Luna hanya rewel biasa saja, Ma. Tidak sampai seperti semalam," jawab Airin.


"Luna kemarin tidak ke mana-mana, di rumah saja, lho! Masa iya dia kesambet!?" Widya sampai menduga jika Luna diganggu mahluk halus hingga rewel dan mengamuk seperti semalam.


"Mama ini ada-ada saja ..." Prasetyo merespon dugaan istrinya, "Luna tidak ganggu mahluk halus, mungkin ada yang sedang dia rasakan Luna makanya dia seperti itu. Atau coba panggil dokter saja, Ma. Barangkali ada rasa sakit yang dialami Luna." Berbeda dengan sang istri, Prasetyo justru berpikir secara medis.


"Ya sudah, nanti selesai makan Mama telepon dokter suruh datang kemari," sahut Widya, "Sekarang Luna makan dulu, kalau tidak makan Luna nanti sakit," bujuk Widya kembali.


"Ayo, buka mulutnya, Sayang." Airin kembali menyuapkan nasi dan sayur pada Luna, tapi respon Luna tetap sama.


"Luna, Luna mau Papa belikan boneka lagi, tidak? Biar Mona sama Nola temannya bertambah." Sementara Gagah membujuk dengan menawarkan mainan pada Luna.


Tak biasanya, kali ini Luna menggelengkan kepala menolak tawaran boneka yang dijanjikan Gagah. Luna kali ini benar-benar tidak bersemangat.


Airin menghempas nafas panjang seraya mengusap kepala Luna. Dia mendekap Luna, sungguh dia merasa bingung kenapa anaknya berubah seperti ini.


"Kamu makan dulu saja, Airin." Melihat istrinya sedih, Gagah pun merasakan hal yang sama, tapi saat ini istrinya sedang hamil dan membutuhkan nutrisi agar ibu dan janin di dalam perut Airin tetap sehat.


Gagah mendekatkan kursinya ke dekat kursi Airin. Dia lalu mengambil makanan milik Airin, lalu mengambil satu sendok nasi dan lauknya kemudian mengarahkan ke mulut Airin.

__ADS_1


Airin langsung melirik ke arah Papa dan Mama mertuanya. Meskipun dia pernah menyuapi suaminya di hadapan kedua mertuanya itu, namun kali ini dia merasa malu, sebab saat ini dia dalam keadaan sadar, berbeda dengan saat itu, dia terpengaruh karena faktor ngidam.


"Maaf, Pa, Ma." Airin meminta maaf terlebih dahulu sebelum menerima suapan pertama dari sang suami.


"Tidak apa-apa, Airin. Kamu juga harus makan, terlebih saat ini ada janin di perut kamu." Widya dapat mengerti.


"Luna mau makan kayak Mama?" Gagah kini menyendok makanan milik Luna lalu menyodorkan ke hadapan mulut Luna. Namun Luna tetap menolak.


Gagah tak ingin memaksa, dia akan membujuk Luna perlahan. Kembali dia menyuapkan makanan kembali ke mulut Airin. Dan ia masih mencoba menyuapi Luna, meskipun penolakan-penolakan tetap dilakukan oleh Luna.


Sampai semua anggota keluarga yang lain menyelesaikan sarapan pagi mereka, Luna masih tetap menutup mulutnya, tak ada satu suap pun makanan yang berhasil masuk ke dalam mulutnya.


"Luna mau Papa belikan roti? Burger? Donut? Atau Luna mau Pizza?" Gagah masih berusaha menawarkan makanan pada Luna saat mereka kembali ke kamar.


Luna menggelengkan kepala, tidak berminat dengan apa pun kesukaannya yang ditawarkan Gagah padanya.


"Luna harus makan, Nak. Kalau tidak makan nanti Luna sakit." Gagah mengusap kepala Luna, wajah Luna terlihat lesu tak bersemangat.


"Mama buatkan sup cream saja, ya?" Airin menawarkan makanan yang mudah ditelan oleh Luna.


"Ndak mau ..." Tetap saja Luna menolak.


"Bagaimana ini, Mas?" Airin merasa seperti orang baru menghadapi anak kecil hingga kebingungan.


"Mama sudah menghubungi dokter, nanti dokter akan periksa." Gagah membelai kepala Airin, berusaha meminta Airin untuk bersikap tenang.


Ddrrtt ddrrtt


Suara getaran ponsel Airin terdengar dari meja di kamar Gagah. Gagah mengambil ponsel Airin, sebab saat ini Airin sedang memangku Luna.


Gagah memicingkan mata melihat nama yang tertera di layar ponsel Airin yang menghubungi Airin saat ini.


...Om Robby...


Itu nama orang yang menghubungi Airin. Dia tidak tahu siapa Om Robby yang dimaksud, apalagi foto profil pria bernama Om Robby itu masih muda dan juga cukup tampan.


"Om Robby? Siapa dia?" tanya Gagah menyelidik.


"Om Robby?" Airin mengeryitkan keningnya, "Oh, itu Om nya Luna, adik Papanya Luna." Airin menyebut siapa Robby.


"Ada apa dia menghubungimu? Apa dia disuruh kakaknya?" Gagah mengangkat panggilan telepon dari Robby.


"Halo?" sapa Gagah.


"Halo? Maaf, ini nomernya Mbak Airin?" Suara Robby terdengar kaget karena bukan Airin yang mengangkat telepon.


"Iya, saya suaminya." Suara Gagah terdengar tegas dan lugas, "Ada perlu apa, Anda menghubungi istri saya?" tanyanya kemudian.


"Maaf, Pak. Saya Robby, Om nya Luna. Saya hanya ingin memberitahu Mbak Airin jika Papanya Luna semalam mengalami kecelakaan parah dan saat ini kondisi Papanya Luna masih kritis di ICU." Robby menjelaskan alasannya menghubungi Airin pagi ini.


"Ada apa, Mas?" tanya Airin karena wajah suaminya saat ini terlihat serius mendengarkan perkataan Robby.


"Saya memberitahu Mbak Airin, sebab bagaimanapun perbuatan Kakak saya, dia adalah Papa kandung Luna." Robby menjelaskan agar Gagah tidak salah paham.


"Sebentar ..." Gagah lalu menyodorkan ponsel Airin pada istrinya itu.


"Halo, assalamualaikum, Rob. Ada apa?" tanya Airin saat ia mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Waalaikumsalam, Mbak Airin. Maaf aku ganggu Mbak pagi-pagi begini. Aku hanya ingin menyampaikan kabar mengenai Bang Rey. Semalam Bang Rey mengalami kecelakaan dan saat ini kondisinya sedang kritis di ICU."


"Ya Allah ..." Airin merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada mantan suaminya itu. "Di rumah sakit mana Papanya Luna dirawat, Rob?" tanya Airin. Dan Robby pun menyebutkan nama rumah sakit tempat kakaknya dirawat.


"Rumah Sakit Segera Sehat, Mbak. Aku rasa perlu memberitahu Mbak, karena Bang Rey adalah Papanya Luna, bukan bermaksud lain," ujar Robby menjelaskan, "Aku juga menwakili Bang Rey menyampaikan permintaan maaf kalau selama ini Bang Rey sudah sangat menyakiti hati Mbak Airin." Robby belum sempat berkomunikasi dengan Airin setelah perceraian Rey dengan Airin, karena sejujurnya ia merasa malu dengan perilaku kakaknya itu.


"Iya, Rob. Terima kasih kamu sudah memberi kabar ini. Semua sudah menjadi masa lalu, tidak usah membahas hal itu lagi, Rob. Mbak hanya bisa ikut bantu doa, semoga Papanya Luna bisa melewati masa kritisnya." Tidak mungkin Airin merasa senang dengan musibah yang menimpa Rey.


"Aamiin, terima kasih, Mbak. Itu saja yang ingin aku sampaikan ke Mbak Airin. Aku pamit dulu, Mbak. Assalamualaikum ..." Robby mengakhiri percakapan telepon mereka.


"Waalaikumsalam ..." Airin menutup panggilan telepon dari Robby dan menaruh ponsel di tepi tempat duduk. "Papanya Luna kritis karena kecelakaan, Mas." Airin memberitahu Gagah, dia tidak tahu jika Gagah sudah mendengarnya dari Robby sebelum memberikan ponsel pada Airin.


Gagah kemudian duduk di samping Airin sambil mengusap wajah Luna. Sepertinya ia mengerti sekarang, kenapa sejak semalam Luna menangis dan mengamuk. Mungkin karena ikatan batin Luna dengan Papa kandungannya. Luna sepertinya merasakan kesakitan yang saat ini dirasakan oleh Rey.


"Mungkin kecelakaan Papanya yang membuat Luna bersikap seperti semalam," ucapnya kemudian.


"Iya, Mas." lirih Airin menciumi wajah Luna.


"Di mana dia dirawat?" tanya Gagah.


"Di Rumah Sakit Segera Sehat, Mas." jawab. Airin.


"Ya sudah, nanti siang aku sempatkan membesuk Papanya Luna. Kamu dan Luna tidak usah ke sana dulu, nanti aku akan jelaskan kondisi kamu dan Luna saat ini pada keluarga Papanya Luna." Gagah tidak membiarkan Airin dan Luna membesuk Rey saat ini.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2