
Widya memperhatikan Gadis yang terlihat gelisah dengan sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya. Pada akhirnya Gadis berkata pada Widya, jika ia akan menunggu Haikal saja yang membawa mobilnya dan mengantarnya pulang.
Gadis tak terlalu ahli menutupi perasaannya, hingga Widya pun mulai menebak-nebak Gadis memang berharap diantar oleh Haikal. Widya tak merasa heran jika Gadis memilih Haikal, adik dari menantunya tak hanya berwajah tampan, namun juga memiliki sikap yang santun, wajar jika Gadis merasa nyaman dengan Haikal. Widya sudah dapat menebak itu, meskipun Gagah sendiri tidak bercerita tentang Gadis yang tertarik pada Haikal.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya orang yang ditunggu Gadis tiba juga di rumah Prasetyo dengan memakai ojek online. Haikal sengaja menyewa ojek online ke rumah Prasetyo. Akan menjadi kerjaan dua kali jika ia membawa motor sendiri karena ia harus kembali ke rumah Prasetyo setelah mengantar Gadis pulang.
"Assalamualaikum ..." Haikal mengucap salam ketika masuk ke dalam rumah Prasetyo.
"Waalaikumsalam ..." Widya dan Gadis menjawab berbarengan.
"Tante ..." Haikal menghampiri Widya dan mencium punggung tangan Widya seperti pada orang tuanya sendiri.
"Apa kabar kamu, Kal?" Widya menanyakan kabar Haikal.
"Alhamdulillah baik, Tante." jawab Haikal, "Tante bagaimana?" Haikal balik menanyakan kabar Widya.
"Alhamdulillah, masih dikasih sekat, Kal." jawab Widya.
"Mbak Airin mana, Tante?" Haikal menanyakan kakaknya sebab tidak terlihat di ruangan itu.
Basa-basi yang dilakukan Haikal pada Widya membuat Gadis memberengut. Dia sudah lama-lama menunggu, bukannya menanyakan dirinya, Haikal justru bercakap-cakap dengan Widya.
"Airin, Gagah dan Luna menginap di apartemen Gagah," jawab Widya.
"Kak Gagah pindah ke sana, Tante?" Haikal tidak tahu menahu soal apartemen Gagah.
"Tidak, Kal. Mereka hanya ingin menginap saja pas liburan." Widya menerangkan.
"Hmmm, aku pamit dulu, ya, Tante." Gadis langsung berpamitan, karena sudah terlalu lama menunggu di Haikal.
"Mau pulang sekarang, Dis? Haikal baru datang, belum juga minum," tanya Widya.
"Iya, Tan. Tadi sudah kelamaan nunggunya." Gadis bangkit, dan berpamitan kemudian menyalami dan mencium tangan Widya.
Termrsenyum mendengar jawaban Gadis kemudian Widya berkata, "Ya sudah, hati-hati, ya. Jangan mengebut bawa mobilnya, Kal." Widya pun menasehati Haikal.
"Iya, Tante. Saya permisi ... Assalamualikum ..." Haikal juga berpamitan pada Widya.
"Waalaikumsalam ..." sahut Widya, melepas Haikal dan Gadis pergi dari rumahnya.
Haikal menerima kunci dari Gadis, kemudian ia berjalan ke arah mobil milik Gadis. Setelah ia membukakan pintu untuk Gadis, ia pun kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Memangnya Pak Abdul ke mana?" Haikal bertanya sambil memakai seat belt nya.
"Pak Abdul aku suruh pulang, karena aku pikir Kak Haikal tinggal di rumah Om Pras," jujur Gadis mengatakan jika dia memang berharap Haikal yang akan mengantarnya pulang.
Pengakuan jujur Gadis membuat Haikal melirik wanita itu dari kaca spion. Untungnya Gadis tidak melakukan hal yang sama, pandangan Gadis berpusat pada ponselnya.
"Saya memang tidak tinggal di rumah orang tua Kak Gagah," jawab Haikal.
"Memang Kak Haikal tinggal di mana? Harusnya Kak Haikal kasih tahu tinggalnya di mana? Biar aku tahu ke mana harus mencari kalau aku butuh bantuan Kak Haikal." Gadis menyebut alasan agar Haikal menyebut di mana pria tampan itu tinggal. Padahal kalau ia memang membutuhkan Haikal, bisa saja menghubungi Haikal tanpa perlu mencari di mana Haikal tinggal.
"Saya tinggal di rumah Om saya," jawab Haikal.
"Jauh dari rumahku?" tanya Gadis ingin tahu.
"Lebih deket ke arah kantor daripada ke rumah kamu," jawab Haikal. Sesuai dengan yang diinginkan oleh Gadis, Haikal tidak memakai embel-embel kata 'Mbak' jika berada di luar kantor.
Gadis menoleh Haikal, ia merasa ucapan Haikal sedikit menyindir dirinya yang memberi tugas pada Haikal untuk menjemputnya setiap pergi dan pulang dari kantor.
"Kak Haikal keberatan aku suruh antar jemput aku ke kantor?" Dengan memasang wajah memberengut Gadis menduga sebenarnya Haikal terpaksa melakukan tugasnya.
"Saya tidak mengatakan hal itu," sanggah Haikal menepis anggapan Gadis meskipun dirinya memang sengaja menyindir. Matanya melirik ke spion, hingga kini matanya bertatapan dengan mata indah Gadis yang juga sedang mengarahkan pandangan ke arah spion. Pandangan mata mereka saling bertautan hingga beberapa saat.
Detak jantung Gadis berpacu kencang saat tatapan Haikal seakan menyihir dirinya, hingga akhirnya ia tertunduk tak mampu saling beradu pandang dengan pria itu lebih lama.
"Kita langsung pulang sekarang?" Haikal mulai menjalankan mobil keluar dari rumah Prasetyo.
"Hmmm, kita cari makan dulu, deh." Tak mungkin Gadis melepas kesempatan pergi keluar bersama Haikal meskipun hatinya selalu berdebar-debar ketika bersama Haikal.
"Kamu mau makan di mana?" tanya Haikal.
"Cari mall dekat sini saja, aku sudah lapar banget dari tadi kelamaan nunggu Kak Haikal datang." Gadis menganggap Haikal bertanggung jawab karena telat sampai ke rumah Prasetyo dan membuatnya kelaparan.
Sesuai permintaan Gadis, Haikal mengendarai mobil mencari mall terdekat di sekitar wilayah itu. Lima belas menit berselang, mobil yang Haikal kendarai sudah sampai di parkiran sebuah mall walaupun tidak sebesar Bintang Departement Store.
Gadis tidak turun di teras lobby mall, dia memilih ikut dengan Haikal sampai Haikal memarkirkan mobil, lalu mereka berdua masuk ke dalam mall tersebut. Orang awam tentu tak tak akan mengira jika status Gadis dan Haikal adalah bos dan asistennya. Orang pasti akan menduga jika mereka adalah muda mudi yang menjalin hubungan asmara.
Ketika hendak melewati beberapa wanita cantik yang akan berpapasan dengannya, Gadis segera berlari mensejajarkan langkahnya dengan Haikal sambil melingkarkan tangannya di lengan kokoh Haikal.
Apa yang dilakukan Gadis, sontak membuat Haikal terkesiap, tak menyangka jika Gadis akan menggandeng tangannya. Haikal juga tak berpikir jika tujuan Gadis melakukan hal tersebut agar wanita-wanita yang berjalan berlainan arah dengan mereka tidak akan menggoda Haikal.
__ADS_1
"Kak Haikal jalannya jangan cepat-cepat, dong! Aku ketinggalan terus." Gadis berkelit, seakan tindakannya karena ia selalu tertinggal dengan langkah Haikal.
Kali ini justru Haikal yang merasa grogi, sebab kulit halus Gadis kini menyentuh kulit lengannya. Seketika itu juga ia menjadi serba salah.
"Cepat, Kak! Aku sudah lapar." Gadis menarik lengan Haikal agar mereka segera mencari restoran, hingga mereka melewati beberapa wanita itu.
Benar saja apa yang diperkirakan oleh Gadis, kehadiran sosok Haikal yang mempunyai fisik yang menawan menarik perhatian para wanita itu. Namun, melihat Gadis yang merangkul Haikal, mereka tidak berani menggoda hanya tersenyum dengan berbisik-bisik.
Seringai tipis terlihat di sudut Gadis, sebab tindakannya tadi berhasil membuat Haikal aman dari godaan wanita-wanita yang tadi melintas.
"Saya sudah berjalan pelan, kamu tidak usah takut tertinggal dan tidak perlu memegang tangan saya seperti ini," ucap Haikal saat tangan Gadis semakin erat memeluk lengannya.
Seketika Gadis mengurai pelukan di lengan Haikal. Dia tertunduk malu saat menyadari jika dirinya sudah berani bersentuhan dengan Gagah, rona merah pun seketika mewarnai wajah cantiknya.
"Kamu jadi mau makan di mana?" Haikal tahu, saat ini Gadis sedang menahan malu karena tindakan Gadis tadi yang menggandeng tangannya, sehingga ia mengalihkan dengan menanyakan di mana Gadis ingin makan, karena harus diakui, ia pun sejujurnya jantungnya pun seketika berdetak cukup kencang ketika menyentuh tangannya
Gadis tak menjawab pertanyaan Haikal, dia hanya melanjutkan langkahnya mendahului Haikal menuju restoran yang ia tuju.
****
Gadis memilih menu ramen untuk makan siangnya. Bersama dengan Haikal, Gadis menikmati salah satu menu favoritnya itu. Gadis berusaha menguasai diri dan bersikap normal kembali apalagi saat ini dia duduk berhadapan dengan Haikal.
"Kak Haikal sudah daftar untuk kuliah?" Gadis mencari topik pembicaraan yang ia anggap cukup pas ia diskusikan dengan Haikal. Sebab Haikal pernah mengatakan akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam pendidikan akademik.
"Mungkin awal bulan depan, karena pendaftaran semester genap dimulai bulan Oktober," sahut Haikal.
"Sudah pilih universitasnya?" tanya Gadis ingin tahu.
"Sudah, tidak jauh dari rumah Om saya, sekitar sepuluh menit dari rumah," jawab Haikal.
"Hmmm, kenapa Kak Haikal tidak mulai kuliah tahun depan saja?" tanya Gadis kemudian, sebab tahun depan dia pun sudah menyelesaikan sekolahnya, dan bisa ikut daftar kuliah di kampus yang sama dengan Haikal.
"Pendaftaran gelombang satu memang mulai Oktober, tapi kuliah baru dimulai tahun depan, sekitar bulan Maret." Haikal menjabarkan kapan waktu kuliahnya.
"Kenapa tidak mulai tengahan tahun depan saja, Kak?" Gadis akan lebih senang jika Haikal mau mengikuti sarannya.
"Terlalu lama kalau harus menunggu pertengahan tahun depan," jawab Haikal.
Gadis mendesah, sepertinya ia gagal untuk membujuk Haikal mengikuti keinginannya. Padahal ia sangat berharap jika ia pun bisa kuliah di tempat dan waktu yang sama dengan Haikal, selain ia bisa lebih dekat dengan Haikal, ia pun bisa mencegah kemungkinan ada mahasiswi kelas karyawan yang akan menggoda dan jatuh cinta pada Haikal.
"Lho, Kak Haikal ada di sini? Bilangnya mau kerja, ternyata ..." Tiba-tiba suara Feby terdengar mengagetkan Haikal terutama Gadis yang langsung menatap penuh curiga ketika ada wanita muda seusianya mengenali Haikal.
"Sama teman aku di sana." Feby menunjuk teman-temannya yang baru masuk restoran itu. Pandangannya kini menoleh ke arah Gadis yang sedang menatapnya tak bersahabat. Tentulah Feby terheran mendapat tatapan mata Gadis yang terlihat mengintimidasinya.
"Geser, dong, Kak!" Feby duduk dan menggeser tubuh Haikal dengan mendorong lengan Haikal agar memberi tempat untuknya duduk.
"Katanya Kak Haikal mau kerja, tidak tahunya janjian sama cewek, tahu begitu aku ikut saja kalau tahu mau ke sini." Feby bukannya tidak tahu jika wanita di hadapannya saat ini adalah bos dari Haikal sebab sebelumnya ia pernah tahu foto Gadis. Dia hanya sengaja ingin 'mengacaukan' suasana, apalagi melihat sikap tak bersahabat Gadis, Feby sengaja berkata menyindir.
"Aku tidak bohong, By. Ini bos aku, namanya Gadis." Haikal memperkenalkan Gadis pada Feby.
"Oh, jadi ini bos Kak Haikal? Ternyata cantik juga bos Kak Haikal, masih muda lagi, aku pikir ini pacar Kak Haikal." Feby terkekeh meledek. "Hai, kenalkan ... Aku Feby, adik sepupu Kak Haikal." Feby mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya pada Gadis yang sejak tadi memasang wajah memberengut.
Saat Feby memperkenalkan dirinya, seketika raut wajah Gadis berubah. Ia langsung menggi git bibirnya sebab rasa malu akan sikapnya yang tadi terlihat jutek pada Feby. Dia pun lalu menyambut uluran tangan Feby yang mengajaknya berkenalan.
"Gadis ..." Suara Gadis terdengar pelan.
"Aku senang akhirnya bisa bertemu sama kamu, siapa tahu kita bisa jadi tememan ..." Inilah yang diharapkan Feby, dan tanpa diduga keinginannya akhirnya menjadi kenyataan bisa bertemu dengan Gadis tanpa disengaja.
"By, kamu pesan apa?" Terdengar seruan teman Feby dari meja lain.
"Aku balik ke temanku dulu, deh." Feby bangkit dari duduk. "Kalau kamu butuh nomer HP aku, minta ke Kak Haikal saja, ya!" Sambil melambaikan tangannya, Feby berlari kecil menuju meja teman-temannya.
Gadis memperhatikan Feby yang kembali bergabung dengan teman-temannya. Seketika ia pun merindukan moment-moment seperti itu. Namun, karena pilihan hidupnya yang ingin mengabdi pada perusahaan sang Papa, ia harus meninggalkan kesenangan-kesenangan seperti yang dilakukan Feby saat ini.
Gadis mendesah lalu kembali menyantap ramen di hadapannya, sesekali ia menatap kembali ke arah Feby ketika mendengar suara tawa Feby yang sedang bercanda dengan teman-temannya.
Sikap Gadis yang terlihat termenung tertangkap netra Haikal. Sejak kehadiran Feby, Gadis tak mengucapkan sepatah kata pun selain menyebutkan nama saat berkenalan dengan Feby tadi.
Mata Haikal menoleh ke arah meja di mana adik sepupunya berada. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh Feby dan temannya itu, namun Haikal tahu, masa-masa seusia Feby dan Gadis adalah masa yang paling menyenangkan.
"Waktu Feby tahu bos aku masih seusia dia, dia ingin sekali kenal dengan kamu, dia bilang, ingin bisa berteman dengan kamu." Haikal mengatakan yang sejujurnya tentang keinginan sepupunya.
Gadis menaikkan pandangan menatap Haikal. Dari ucapan Haikal yang ia tangkap, artinya Feby sudah tahu tentang dirinya. Dia pun berpikir jika Haikal pernah bercerita tentangnya pada Feby. Seketika itu juga hati Gadis seketika berbunga-bunga.
"Kak Haikal cerita tentang aku ke Feby?" Bahkan wajahnya putihnya langsung bersemu merah.
"Mbak Airin yang cerita."
Jawaban Haikal membuat Gadis lesu. Bunga-bunga yang awalnya bermekaran seketika menjadi layu saat Haikal mengakui bukan dia yang bercerita pada Feby.
Haikal menahan senyuman melihat perubahan air muka Gadis. Airin memang yang bercerita pada Tante Mira soal Gadis, dan cerita tentang Gadis sampai juga di telinga Feby. Tapi, Feby tahu foto Gadis memang karena ia yang menunjukkannya.
__ADS_1
"Apa Feby boleh minta nomer HP kamu?" tanya Haikal kemudian, ia tak ingin Gadis mengetahui jika ia sedang menertawakan Gadis dalam hati.
Gadis tak seketika menjawab, pandangannya kembali mengarah pada Feby yang masih asyik bersenda gurau dengan teman-temannya. Gadis berpikir, tidak ada salahnya juga ia berteman dengan Feby. Feby adalah sepupu Haikal, jika ia berteman dengan Feby, itu sebuah keuntungan baginya.
"Kasih saja," jawab Gadis mengijinkan, "Aku juga minta nomer Feby, deh." Lalu ia mengambil ponsel di Sling bag untuk menyimpan nomer ponsel milik Feby.
"Saya kirim kontak Feby ke kamu saja." Haikal pun mengambil ponsel lalu mengirim kontak nomer Feby kepada Gadis.
Dua detik kemudian nomer kontak Feby sudah masuk ke dalam ponsel Gadis. Gadis kemudian menyimpannya agar bisa ia hubungi di lain waktu.
***
Sebelum pulang kembali ke rumah Prasetyo, Airin bertemu dengan Liliana dan Ambar bersama suami dan anak-anaknya. Itu adalah rutinitas mereka setiap bulan untuk mempererat persahabatan mereka. Namun, sejak menikah dengan Gagah, Airin baru berkumpul kembali dengan Liliana dan Ambar lengkap bersama keluarganya.
"Akhirnya bisa bawa kamu dan suami kamu gabung juga, Rin." ujar Liliana senang dengan kedatangan Airin dan Gagah.
"Iya, Li. Aku juga senang bisa gabung lagi," sahut Airin.
"Aura kamu sekarang beda, lho, Rin. Aura ibu bos." Ambar terkekeh menggoda Airin.
"Ah, itu hanya perasaan kamu saja, Bar." tepis Airin, "Mungkin karena sekarang ini aku lebih bahagia, Bar." Airin menatap sang suami yang sedang berbincang dengan Eko dan Sonny di sisi berbeda dari mejanya.
"Oh ya, aku dengar katanya Rey kecelakaan, Rin. Bagaimana kabarnya?" Entah dari mana Liliana mendengar kabar soal kecelakaan Rey.
"Iya, Li. Papanya Luna kecelakaan bersama wanita itu, naasnya wanita itu meninggal seketika di tempat kejadian," cerita Airin memaparkan apa yang sudah dialami oleh Rey.
"Wanita itu tewas?" Ambar terbelalak, terkejut mengetahui nasib si al yang dialami Joice.
"Iya," lirih Airin masih merasa prihatin, meskipun Joice telah merenggut kebahagiannya.
"Lalu si Rey itu gimana nasibnya?" Liliana masih belum bisa memaafkan Rey, walaupun bukan dia yang menjadi korban Rey.
Airin menghela nafas jika ingat kondisi Rey yang saat ini mengalami kelumpuhan.
"Saat ini Papanya Luna mengalami kelumpuhan, Li. Tapi kemungkinan bisa sembuh jika menjalani terapi," jawabnya.
"Rey mendapatkan karma atas perbuatannya dulu, Rin." ujar Liliana tak terlihat rasa empati atas musibah yang dialami Rey.
Airin menggelengkan kepala pelan, ia tak sependapat dengan Liliana, tak sampai hati ia menyebut Papa dari anaknya itu mendapatkan karma.
"Sudahlah, Li. Tidak perlu menganggap seperti itu. Saat ini aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang ini. Doakan saja dia bisa sembuh lebih cepat dan mengambil hikmah atas semua kejadian yang sudah dia alami." Airin berusaha bersikap bijak, tak ingin terus terjebak pada perasaan dendam dan sakit hati atas luka yang pernah ditorehkan Rey di hatinya.
"Oh ya, bagaimana kehamilanmu, Rin?" Ambar mengusap perut Airin, "Nanti kalau acara empat bulanan kita diundang juga, Rin!" ujar Ambar merubah topik pembicaraan.
"Insya Allah, kalian tidak mungkin aku lewatkan, Bar." sahut Airin.
"Oh ya, kamu tadi bilang dari apartemen? Kamu sudah pindah sekarang?" tanya Liliana kembali.
"Tidak, Li. Kami hanya menikmati waktu weekend menginap di apartment Mas Gagah, biar bisa mendapatkan privasi," jawab Airin.
"Hmmm, enak banget kalau orang kaya raya, ya, Li? Punya tempat tinggal di mana-mana." Ambar membayangkan betapa menyenangkan menjadi Airin, yang sebenarnya berasal dari kalangan ekonomi menengah seperti dirinya, namun sangat beruntung mendapatkan suami seperti Gagah.
"Rumah milik suamiku hanya apartemen itu, Bar. Yang kami tinggali itu rumah mertuaku, Bar." Airin bukan hanya merendah, tapi memang hanya apartemen itu tempat tinggal pribadi milik Gagah yang ia ketahui.
"Rumah mertua juga tapi gede banget gitu, Rin. Bisa menginap orang se RT, hoki banget nasibmu, Rin." lanjut Ambar kembali.
"Alhamdulillah, Bar. Itu Allah sayang sama aku," jawab Airin tersenyum bahagia.
"Ay, kita pulang sekarang?" Gagah mendekati Airin, dengan menggendong Luna yang sudah mengantuk. Dia sudah selesai berbincang dengan suami Liliana dan Eko. Waktu pun saat ini sudah melewati jam sembilan malam. Dia tidak ingin istrinya terlalu kecapean dan ingin Airin secepatnya istirahat.
"Iya, Mas." Airin bangkit dari duduknya, "Aku duluan ya, Li, Bar." Lalu ia berpamitan pada kedua temannya, saling berpelukan.
"Oke, Rin. Semoga bulan depan bisa gabung lagi sama kita," harap Liliana.
"Insya Allah ..." jawab Airin, "Aku pamit dulu ya, Mas Eko, Mas Sonny." Airin pun berpamitan kepada suami teman-temannya itu.
"Assalamualaikum ..." Airin dan Gagah berpamitan kepada kedua sahabat dan suami mereka.
"Waalaikumsalam ..." sahut Liliana, Ambar dan kedua semua mereka bersamaan.
Setelah berpamitan, Airin dan Gagah yang menggendong Luna berjalan keluar dari restoran. Sebab di ponsel Gagah dan Airin mulai bermunculan pesan dan panggilan masuk dari Widya dan mencemaskan mereka bertiga karena tidak juga sampai di rumah.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1