
Haikal menoleh ke arah pintu, dia melihat sosok Gadis yang berjalan menuruni anak tangga teras rumah Gadis. Pagi ini dia melihat Gadis dengan penampilan berbeda, dengan kemeja dan celana panjang ditambah dengan blazer dan Tote bag yang tersampir di pundaknya juga menjinjing tas laptop di tangannya. Penampilan Gadis pagi ini terlihat lebih dewasa layak seorang eksekutif muda, bukan remaja belia.
Haikal berlari menghampiri Gadis, sebab ia ingin membantu membawakan tas laptop yang dipegang Gadis.
"Selamat pagi, Mbak. Mari saya bantu bawakan tasnya." Haikal meminta tas laptop di tangan Gadis untuk dia bawa.
"Ini." Gadis menyerahkan tas yang ia bawa pada Haikal.
Haikal mengambil tas itu, namun tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan Gadis hingga menyentuh kulit halus mulus Gadis. Sentuhan tangan Haikal di kulit tangannya membuat Gadis terkesiap hingga bola matanya melebar.
"Oh, maaf, Mbak." Haikal buru-buru melepas genggaman tangannya hingga tas itu gagal berpindah tangan padanya, saat ia menyadari dirinya telah berbuat kesalahan.
"Eh, jangan cari-cari kesempatan pegang-pegang tangan, ya!" hardik Gadis menganggap Haikal sengaja menyentuh tangannya.
"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja, saya tidak bermaksud bersikap kurang ajar," tepis Haikal menolak dianggap sengaja mencuri kesempatan pegang-pegang tangan Gadis.
Gadis membuang pandangan, meskipun mulutnya berkata ketus, namun tak dapat dipungkiri jantung nya berdekat kencang, hatinya pun berdebar tak karuan akibat sentuhan kulit mereka yang tak disengaja.
"Ya sudah cepat berangkat!" Gadis berjalan lebih dahulu ke arah mobil, sebab ia tidak ingin Haikal tahu jika saat ini dirinya mendadak salah tingkah.
"Baik, Mbak." Haikal bergegas mengejar Gadis lalu membukakan pintu untuk Gadis.
"Hati-hati bawa mobilnya!" ujar Gadis ketika Haikal sudah duduk di belakang kemudi.
"Baik, Mbak." sahut Haikal. Setelah membaca doa untuk keselamatan dalam perjalanan, Haikal pun mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil keluar dari pekarangan rumah mewah pengusaha retail, Bintang Gumilang.
Haikal mengendarai mobil Gadis dengan kecepatan sedang, dia terlalu hati-hati mengendarai mobil itu. Mobil yang ia bawa adalah mobil mahal, tentu ia tidak ingin mobil itu sampai lecet sedikit pun.
"Kalau bawa mobilnya kayak gini? Kapan sampai di kantor?!" Gadis mengeluh karena Haikal terlalu pelan menjalankan mobil.
"Maaf, Mbak. Saya belum terbiasa membawa mobil mahal seperti ini." Haikal beralasan sejujurnya.
"Kalau Kak Haikal tidak biasa nyetir mobil ini, kenapa tidak bilang? Tahu gini, biar Pak Abdul saja yang bawa mobil!" Gadis menggerutu, tak puas dengan jawaban Haikal.
"Maaf, Mbak." sesal Haikal, telah mengecewakan Gadis. "Nanti saya hubungi Pak Abdul saja, biar waktu pulang kantor Mbak dijemput sama Pak Abdul." Haikal memberikan saran.
"Kok, malah Kak Haikal yang mengatur aku!? Memangnya yang jadi bos itu aku atau Kak Haikal?" protes Gadis, menganggap Haikal mengambil keputusan sendiri.
Haikal menghela nafas dan membuangnya perlahan. Sikap Gadis sungguh membuat dirinya bingung, apa pun yang ia lakukan selalu saja salah di mata Gadis.
"Maaf, Mbak." sesal Haikal kembali.
Gadis memalingkan wajah, melempar pandangan ke luar jendela. Sementara Haikal kembali memfokuskan konsentrasi pada jalan di depannya, meskipun dia bingung dengan sikap wanita yang menjadi bosnya itu.
Hening beberapa saat, tak ada susunan kata-kata yang terlontar dari bibir dua orang di dalam mobil itu, hingga akhirnya Gadis melirik ke arah Haikal. Gadis perhatikan Haikal serius dengan kemudinya. Rahang tegas Haikal membuat asistennya itu terlihat semakin tampan. Hanya memandang seperti itu saja sudah membuat hati Gadis tiba-tiba berdebar-debar.
Gadis berpikir betapa beruntungnya jika mempunyai kekasih seperti Haikal, tidak hanya tampan tapi juga penyabar. Mengingat soal kekasih, tiba-tiba saja Gadis teringat akan sosok wanita di akun media sosial milik Haikal.
"Hmmm, foto yang di medsos Kak Haikal itu benar mantan Kak Haikal?" Entah kenapa pertanyaan itu terlontar dari mulut Gadis, seakan masih penasaran dengan wanita yang berpose mesra dengan Haikal.
Haikal terkejut mendengar pertanyaan Gadis, tak menduga Gadis akan mempertanyakan soal mantan kekasihnya dulu.
"Hmmm, iya, Mbak." Haikal canggung membalas pertanyaan Gadis yang menyinggung soal masalah pribadinya.
"Kenapa fotonya masih ada di akun Kak Haikal." Gadis terkesan ingin tahu. Padahal Haikal sudah pernah menjawab pertanyaan itu saat mereka disidang di ruangan kerja Gagah dulu.
"Akun saya sudah lama tidak dibuka dan saya juga lupa passwordnya." Haikal memberi alasannya.
"Oh ..." sahut Gadis.
"Hmmm, maaf, Mbak. Apa saya juga harus beraktivitas di weekend?" Merasa kemarahan Gadis mereda, bahkan Gadis sudah bertanya-tanya soal pribadinya, Haikal pun memberanikan diri bertanya soal jam kerja dirinya sebagai asisten pribadi Gadis.
"Memangnya kenapa? Kak Haikal keberatan kerja di waktu weekend?" tanya Gadis. Gadis berpikir, jika weekend Haikal libur, sudah pasti dia tidak dapat bertemu dengan Haikal, namun kalau dia paksa Haikal untuk beraktivitas, memangnya Haikal harus mengerjakan apa? Kantor BDS sendiri hari Sabtu pun libur.
"Oh, bukan begitu, Mbak." tepis Haikal, "Hmmm, sebenarnya Kak Gagah menginginkan saya meneruskan pendidikan di bangku kuliah," jelas Haikal menerangkan alasannya menanyakan soal jam kerjanya.
"Kuliah? Jadi Kak Haikal akan berhenti bekerja?" Gadis terkejut mendengar rencana Haikal akan kuliah. Jika Haikal akan kuliah, dia mengira Haikal akan resign dari pekerjaan, artinya ia tidak akan bertemu dengan Haikal kembali.
__ADS_1
"Oh, tidak, Mbak. Saya tetap bekerja, hanya saja saya ikut kuliah kelas karyawan, kuliah di luar jam kerja." Haikal memaparkan rencana melanjutkan ke jenjang pendidikan akademik.
"Oh ..." Gadis menarik nafas lega saat mengetahui Haikal tetap bekerja dengannya, hatinya pun merasa tenang mendengar hal tersebut.
"Memangnya Kak Haikal ingin kuliah di mana?" tanya Gadis kemudian.
"Saya belum memilih kampusnya, Mbak. Saya masih mencari waktu untuk kuliah. Kemungkinan malam hari atau di waktu weekend," ujar Haikal.
"Oh, ya sudah, kalau Kak Haikal mau kuliah, silahkan saja." Bagi Gadis tidak masalah jika Haikal akan kuliah selama tidak menganggu waktu kerja Haikal.
***
Sebelum berangkat ke kantor, Gagah mengajak Luna membesuk Rey. Dia tidak membawa mobil sendiri, sebab dia tidak fokus harus mengendarai mobil sekaligus mengawasi Luna, sehingga ia meminta Pak Mamat, salah seorang supir pribadi keluarga Prasetyo untuk mengantarnya. Sementara Airin sendiri memilih tidak ikut membesuk Rey dan akan menyusul Luna siang nanti ke kantor Gagah.
"Di sini, Mas?" tanya Pak Mamat ketika menghentikan laju mobilnya di depan rumah yang disebut Gagah adalah rumah Rey.
"Benar, Pak Mamat. Berhenti depan gerbang saja, Pak." perintah Gagah.
"Baik, Mas." Pak Mamat mengikuti apa yang diperintahkan Gagah.
"Ayo, kita turun, Luna." Gagah mengangkat tubuh Luna lalu membuka pintu dan turun dari mobil.
"Luna ingat tidak ini rumah siapa?" Gagah mencoba membuka ingatan Luna, menguji apakah anak sambungnya itu masih ingat dengan rumah orang tua Luna saat masih tinggal bersama.
Pandangan Luna menatap rumah yang ditunjuk Gagah, membuat keningnya berkerut. Sepertinya Luna sedang berpikir keras. "Lumah Papat Ley." Ingatan Luna ternyata masih sangat tajam, ia masih dapat mengingat jika ruamh itu adalah rumah Papanya.
"Anak pintar." Gagah mengecup kening Luna. Dia lalu menekan bel di pagar rumah Rey. Gagah teringat jika dirinya pernah datang ke rumah itu ketika dirinya dibohongi Airin dengan memberikan alamat palsu saat dia sedang berusaha mendekati Airin.
Sekitar satu menit menunggu, pintu rumah Rey terbuka, dan terlihat ART yang berlari ke arah pagar untuk membukakan pintu bagi Gagah.
"Eh, Neng Luna?" Bibi terkejut saat melihat Luna yang sedang digendong Gagah.
"Assalamualaikum, Ibu Wulan ada, Bi?" tanya Gagah ketika Bibi membuka kunci pintu gerbang.
"Waalaikumsalam, Pak. Bu Wulan ada, silahkan ..." Bibi mempersilahkan Gagah dan Luna masuk.
"Eh, Luna sudah datang, ya?" Dari pintu rumah, Wulan muncul menyambut Luna dan Gagah. Sebelumnya Airin sudah memberitahu Wulan jika Gagah akan mengantar Luna membesuk Papanya.
"Nenek Ulan ..." Luna menyapa Nenek dari Papanya. Luna merentangkan tangannya minta digendong oleh Neneknya.
"Assalamualaikum, Bu." sapa Gagah.
"Waalaikumsalam, Nak Gagah. Mari silahkan masuk. Maaf jadi merepotkan Nak Gagah sampai harus datang kemari," ucap Wulan, karena menganggap dirinya sudah mengganggu waktu kerja Gagah.
"Tidak apa-apa, Bu. Sekalian berangkat ke kantor," jawab Gagah.
"Kalau Nak Gagah sibuk, biar Luna di sini saja. Nanti kalau Nak Gagah pulang dari kantor bisa jemput Luna kemari." Wulan menyarankan agar Luna ditinggal bersamanya sementara Gagah bekerjam
Gagah menghela nafas mendengar permintaan Wulan. Dia tak berani meninggalkan Luna, bukan hanya khawatir Luna akan menangis, tapi juga dia khawatir Airin akan menyalahkannya. "Maaf, Bu. Bukannya saya tidak memberikan ijin Luna ditinggal di sini, tapi saya khawatir Luna akan menangis seperti kemarin. Mungkin untuk lain waktu, saya bisa kasih ijin Luna di sini lebih lama." Gagah menjelaskan alasannya menolak permintaan Wulan.
"Ya sudah, tidak apa-apa, Nak Gagah." Untung saja Wulan dapat memaklumi alasan yang disampaikan oleh Gagah.
"Papa Ley mana, Nek?" tanya Luna menanyakan keberadaan Papanya.
"Luna mau ketemu Papa Rey? Ayo, kita ke kamar Papa." Wulan mengajak Luna menemui Papanya, "Silahkan, Nak Gagah." Wulan mengajak Gagah juga.
"Silahkan Luna saja dulu, Bu. Biar saya menunggu di sini." Gagah memilih menunggu di ruangan tamu, dia memberi kesempatan Rey untuk bertemu dengan Luna tanpa didampingi olehnya.
"Ya sudah, Ibu tinggal sebentar, Nak Gagah." Wulan ijin membawa masuk Luna ke kamar Rey.
"Silahkan, Bu." sahut Gagah.
Sepeninggal Wulan, Gagah mengedar pandangannya ke seluruh sudut ruangan tamu rumah Rey, tak lama kemudian ia berjalan ke teras, memilih menunggu di kursi teras. Mengingat rumah yang ia kunjungi adalah rumah lama Airin dan Rey, rasanya tak sanggup membayangkan saat Airin dan Rey masih bersama. Apalagi jika dia tadi ikut masuk ke dalam kamar Rey, mungkin di kamar itu dulu Rey dan Airin sering bermesraan seperti dirinya bersama Airin. Saat ini, ia tak bisa membayangkan ketika pria lain menyentuh tubuh mulus istrinya, meskipun itu adalah suami pertama Airin.
Sementara di kamar Rey ...
"Papa Ley, ini Luna datang, Pa." Wulan mengikuti cara bicara Luna menyapa Rey.
__ADS_1
"Luna?" Terlihat raut wajah bahagia saat Rey melihat kedatangan Luna.
Luna memeluk erat neneknya ketika melihat Papanya, masih ada keraguan di hati Luna untuk mendekat ke tempat tidur Rey.
"Tidak apa-apa, Luna. Papa sudah sembuh, kok." Wulan mengusap punggung Luna, mencoba menenangkan cucunya itu. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah Rey perlahan sambil mencoba memberi pengertian terhadap Luna agar tidak takut berada dekat Rey.
"Luna, sayang ..." Rey senang akhirnya bisa bertemu kembali dengan anaknya, "Sini sama Papa, Nak. Luna jangan takut sama Papa." Suara lembut Rey berusaha membujuk anaknya.
"Papa kakinya masih cakit?" Luna melihat kaki Rey yang masih diperban.
"Iya, sayang. Kaki Papa Rey masih sakit. " Wulan yang menjawab pertanyaan Luna.
"Luna ke sini sama siapa, Ma?" tanya Rey.
"Sama Gagah, Nak Gagah menunggu di luar, dia ingin memberi kesempatan pada Luna agar bisa mengobrol dengan kamu, Rey." Wulan menjelaskan alasan Gagah tidak ikut masuk ke dalam kamar Rey.
"Airin tidak ikut kemari, Ma?" Rey justru menanyakan keberadaan mantan istrinya itu.
Wulan mendengus kesal mendengar pertanyaan putranya. Seakan Rey tidak peka atas apa yang sudah anaknya itu perbuat pada Airin dan Luna.
"Apa kamu pikir Airin mau menginjakkan kaki ke rumah ini lagi?! Di rumah ini penuh kenangan menyakitkan baginya, kalau Mama jadi Airin, Mama juga tidak akan sudi datang ke sini, meskipun hanya untuk membesuk," sindir Wulan atas ucapan Rey tadi.
"Apa Luna akan ditinggal di sini, Ma?" tanya Rey mengalihkan pembicaraan, dia tahu Mamanya akan terus menceramahinya jika menyinggung soal Airin. Selamanya, Mamanya akan terus menyalahkan dirinya dalam kasus perceraiannya dengan Airin, apalagi Mamanya sudah tahu jelas penyebab perceraiannya dengan Airin.
"Sementara ini tidak, mungkin lain waktu," jawab Wulan, mengutip jawaban yang diberikan oleh Gagah.
"Kenapa aku susah sekali bisa punya banyak waktu bersama Luna?" keluh Rey kecewa sebab tidak diberikan kesempatan lebih lama bersama anak kandungnya sendiri.
"Seharusnya kamu memikirkan resiko saat kamu memutuskan berselingkuh, Rey. Seandainya kamu tidak tergoda dengan wanita ..." Wulan mengontrol ucapannya, tidak kelepasan mengumpat Joice, sebab wanita itu telah tiada. "Kalo kamu bisa setia, mungkin saat ini kamu masih hidup bahagia bersama Airin," lanjutnya kemudian.
Rey menghela nafas panjang dan terdiam, dia kembali salah memberikan pertanyaan. Dan hal itu jadi makanan empuk bagi Wulan untuk kembali menceramahi dirinya. Bahkan Mamanya sampai menyinggung soal Joice. Setiap kalimat yang terucap dari mulut Wulan soal perselingkuhannya, nada bicara sang Mama selalu penuh penekanan dan penuh dengan amarah.
"Mama tinggalkan Luna sama kamu sebentar, tapi waktu kamu tidak lama, karena Nak Gagah akan berangkat setelah ini. Gunakan waktu sebaik mungkin, tapi jangan menanamkan hal negatif pada Luna!" Wulan memperingatkan agar Rey tidak berbuat yang aneh-aneh.
"Luna di sini dulu sama Papa, ya! Nenek mau temani Papa Gagah di luar." Wulan mengusap kepala cucunya, meyakinkan cucunya itu agar tidak khawatir ia tinggal.
"Luna mau ikut Papa kelja, Nek." Luna menolak ditinggal oleh Wulan, ia takut akan ditinggal oleh Gagah pergi.
Perkataan Luna tadi membuat hati Rey mencelos, melihat kedekatan Luna dengan Gagah membuat dia merasa tersingkirkan di hati dan pikiran Luna. Luna yang dulunya begitu dekat dengan dirinya, kini justru seakan tidak menganggap dirinya.
"Papa Gagah sedang menunggu di luar, Nak. Nanti kalau Luna sudah selesai bicara sama Papa Rey, Luna nanti ikut sama Papa Gagah kerja." Wulan menerangkan pada Luna agar Luna tidak takut ditinggal bersama Rey.
"Tidak apa-apa, Luna." Wulan mencoba menenangkan Luna kembali, hingga akhirnya Luna mau menurut ditinggal oleh Wulan.
"Luna, kangen Papa tidak?" tanya Rey ketika Wulan meninggalkan kamarnya,
Pertanyaan Rey dibalas anggukkan kepala Luna. Sementara mata Luna masih memperhatikan balutan perban di kaki Rey.
"Luna takut lihat kaki Papa?" tanya Rey lagi.
"Kaki Papa napa dikacih itu?" tanya Luna kembali.
"Papa kecelakaan, Luna." Rey menerangkan.
"Kecelakaan itu apa, Pa?" tanya Luna tidak paham.
"Mobil Papa tabrakan jadi Papa sakit seperti ini," jawab Rey, mungkin dengan jawaban itu Luna akan lebih mengerti.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1