JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Hal Yang Tak Diharapkan Gagah


__ADS_3

Setelah menghadiri rapat antar direksi cabang, Gagah kembali ke ruang kerjanya. Dia ingin bersiap untuk pergi ke rumah Bintang Gumilang seperti yang sudah ia janjikan sebelumnya pada Farah.


Gagah tidak ingin telat tiba di rumah Bintang, hingga ia menyerahkan beberapa jadwal yang harus ia lakukan kepada wakilnya, sebab selepas istirahat nanti Gagah dijadwalkan bertemu salah satu koleganya dari luar Jawa.


"Wi, saya harus bertemu dengan Pak Bintang. Apa ada dokumen yang perlu saya tanda tangani lagi atau tidak?" tanya Gagah saat melintasi meja sekretarisnya itu.


"Semua sudah beres, Pak. Untuk bertemu dengan Pak Gilbert sudah diserahkan kepada Pak Erlan, kan, Pak?" Dewi memastikan.


"Iya, nanti Pak Erlan saja yang menemui Pak Gilbert. Nanti kamu ikut saja mendampingi Pak Erlan, Wi." perintah Gagah kemudian.


"Baik, Pak." sahut Dewi, sebelum Gagah masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Ddrrtt ddrrtt


Gagah mengambil ponsel dari dalam saku blazernya ketika ponselnya itu berbunyi. Nama Farah yang muncul di layar ponselnya itu. Gagah menduga jika Farah ingin mengingatkan dirinya untuk tidak lupa datang ke rumah Bintang.


"Selamat siang, Bu Farah. Saya baru akan berangkat ke sana." Gagah langsung mengangkat panggilan telepon dari Farah dan menyampaikan jika dia tidak lupa dengan janjinya tersebut.


"Kamu tidak usah ke rumah, Gagah. Bapak di rumah sakit sekarang." Suara Farah terdengar parau, seperti baru saja menangis.


Gagah terkesiap mendengar kabar yang disampaikan oleh Farah.


"Pak Bintang di rumah sakit? Di rumah sakit mana? Bagaimana kondisi Pak Bintang sekarang ini, Bu?" tanyanya ingin tahu kondisi pemilik perusahaan yang ia pimpin saat ini.


"Di Get Well Soon Hospital. Bapak sedang di ruang ICCU." Suara Farah terdengar penuh kesedihan.


"Baiklah, saya ke sana sekarang, Bu. Saya akan tutup sambungan teleponnya. Saya akan segera ke rumah sakit. Selamat siang, Bu." Tak menunggu jawaban dari Farah, Gagah langsung mematikan sambungan teleponnya itu. Dia bergegas keluar dari ruangannya tanpa sempat mematikan laptopnya terlebih dahulu.


"Wi, saya pergi sekarang. Tolong kamu rapihkan meja saya. Laptop saya tolong kamu matikan juga." Sambil melangkah ke arah lift, Gagah memberi perintah kepada Dewi. Gagah sangat mempercayai Dewi. Dewi sudah cukup lama bekerja di kantor itu, jauh sebelum ia menjabat CEO di perusahaan milik Bintang Gumilang tersebut.


"Baik, Pak." Setelah Gagah masuk ke dalam lift, Dewi langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh Gagah kepadanya.


***


Gagah nampak tidak tenang dalam perjalanan menuju Get Well Soon Hospital. Kondisi Bintang Gumilang lah yang membuat hatinya merasa cemas. Selama tiga tahun terakhir, kondisi kesehatan Bintang Gumilang memang tak se fit sebelumnya. Pria paruh baya itu sering keluar masuk rumah sakit. Itulah yang membuat Gagah merasa khawatir.


Baginya, Bintang sudah ia anggap seperti ayah sendiri, hingga akhirnya Bintang memberikan posisi sebagai CEO kepadanya, menandakan jika Bintang begitu mempercayainya untuk mengelola perusahaan besar milik Bintang itu.


Ddrrtt ddrrtt


Gagah memasang di earphone nya ketika ponselnya berdering, dan ia melihat nama papanya yang saat ini menghunginya.


"Assalamualikum, Pa." sapa Gagah ketika ia menjawab panggilan telepon dari Prasetyo.


"Waalaikumsalam ... kamu sudah berangkat ke rumah Pak Bintang, Gah?" tanya Prasetyo.


"Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, Pa. Tadi Bu Farah mengabari jika Pak Bintang drop dan saat ini berada di ruang ICCU," ucap Gagah menjelaskan pada papanya tentang kabar Bintang yang saat ini dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


"Di rumah sakit mana Pak Bintang dirawat, Gah?" tanya Prasetyo turut prihatin dengan kondisi Bintang yang dirawat di rumah sakit.


"Di Get Well Soon Hospital, Pa. Apa Papa akan ke sana?" tanya Gagah.


"Siang ini Papa tidak bisa, Gah. Kamu kabari saja bagaimana kondisi Pak Bintang. Insya Allah nanti sore Papa ajak Mama sekalian membesuk ke sana," ujar Bintang.


"Baik, Pa." sahut Gagah.


"Sampaikan saja salam Papa, semoga kondisi Pak Bintang cepat membaik," ujar Prasetyo kemudian.


"Baik, Pa. Nanti aku sampaikan," ucap Gagah.


"Ya sudah, kamu sedang berkendaraan, kan? Papa tutup teleponnya dulu. Assalamualaikum ..." pamit Prasetyo mengakhiri panggilan teleponnya.


"Waalaikumsalam ..." Gagah kemudian melepas earphone dari telinganya dan melanjutkan konsentrasi dengan kemudinya menuju rumah sakit yang tuju.


Sekitar empat puluh lima menit waktu yang diperlukan bagi Gagah untuk sampai di rumah sakit yang merawat Bintang Gumilang. Apalagi kondisi jalanan di kota Jakarrta siang ini begitu padat. Gagah turun dari mobil yang sudah ia parkirkan. Dia memasuki lobby rumah sakit dan segera menghampiri meja resepsionis untuk mencari tahu di mana.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu, Mas?" tanya seorang resepsionis menyapa Gagah dengan senyuman mengembang di bibirnya. Selain memang harus bersikap ramah dengan posisinya sebagai resepsionis, tentu saja pesona Gagah yang berwajah tampan dan berpenampilan menarik dengan wangi maskulin membuat siapa pun yang melihatnya akan terkagun-kagum dengan pria itu.


"Di mana letak ruang ICCU? Intensive Cardiology Care Unit." tanya Gagah agar tak salah dengan ruang ICU.


"Ruang ICCU ada di lantai dua, Pak. Silahkan dari lift sebelah kiri, nanti ke arah kanan saja, lalu ke kiri lagi, ruangannya paling ujung." Resepsionis itu mengarahkan di mana letak ruangan khusus untuk merawat pasien penyakit jantung di rawat.


"Terima kasih." Setelah mendapatkan penjelasan dari resepsionis tadi, Gagah lalu berjalan menuju arah lift.


Gagah mencari ruangan yang dimaksud oleh resepsionis tadi setelah ia keluar dari pintu lift. Namun, ketika ia sampai di tempat yang dituju, ia tidak melihat Farah atau Florencia menunggu di luar ruangan ICCU. Gagah sempat melongok pintu kaca ruangan ICCU untuk melihat di mana Bintang dirawat.


Gagah langsung menolehkan pandangan dan mendapati seorang perawat pria yang tadi bicara kepadanya.


"Oh, saya mencari pasien yang bernama Pak Bintang Gumilang. Menurut keluarganya beliau dirawat di ruang ICCU ini." Gagah menjelaskan apa yang sedang ia cari.


"Pak Bintang Gumilang?" Terlihat ekspresi terkejut dari wajah perawat itu saat mendengar nama Bintang Gumilang.


"Iya, di sebelah mana ruangan beliau?" tanya Gagah bertanya berharap mendapat jawaban dari perawat tersebut.


"Maaf sekali, Pak. Pasien bernama Pak Bintang Gumilang sudah dibawa ke kamar jenazah." Perawat pria itu memberitahukan kabar yang tentu saja tidak Gagah harapkan.


Tubuh Gagah seakan melemas hingga terhuyung selangkah ke belakang saat ia mendengar kalimat yang sangat menakutkan baginya. Bintang Gumilang sudah dibawa ke kamar jenazah, artinya pria pemilik perusahaan retail itu meninggal diunia.


"Maksud kamu, Pak Bintang Gumilang sudah meninggal? Kapan?" Sejujurnya Gagah berharap apa yang ia dengar tadi adalah tidak benar.


"Benar, Pak. Almarhum meninggal setengah jam lalu," lanjut perawat itu memastikan jika apa yang didengar Gagah itu benar.


Gagah menarik nafas yang terasa berat dan mengusap kasar wajahnya. Kepergian Bintang Gumilang tentu merupakan pu kulan terberat bagi Gagah. "Innalillahi Wainnaillahi roji'un ...."


"Di mana letak kamar jenazah?" tanya suara tercekat, Gagah menanyakan di mana kamar jenazah di mana.

__ADS_1


"Di lantai bawah di paling belakang dekat pintu keluar belakang rumah sakit ini, Pak." sahut perawat pria itu.


"Terima kasih." Gagah bergegas turun ke bawah untuk ke ruang jenazah.


Ketika sampai di depan ruang jenazah, Gagah tidak menemukan anggota keluarga Bintang, sehingga membuatnya heran. Di mana Farah atau Florencia? Sama sekali tidak ada satu orang pun dari mereka.


"Pak, kalau jenazah Pak Bintang Gumilang yang baru saja meninggal ada di dalam?" Saat melihat seorang petugas rumah sakit dari dalam kamar dengan membawa brankar jenazah kosong.


"Jenazah Pak Bintang Gumilang baru saja dibawa pulang ke rumah duka oleh keluarganya," jelas petugas rumah sakit.


"Baru keluar dari sini?" tanya Gagah kecewa karena telat sampai.


"Benar, Pak. Mungkin sekitar lima menitan keluar dari sini," jelas petugas rumah sakit.


"Oke, terima kasih." Gagah kemudian meninggalkan kamar jenazah untuk segera pergi ke rumah Bintang.


Gagah mengambil ponselnya. Ia ingin mengabari Prasetyo tentang apa yang terjadi pada Bintang, karena sebelumnya papanya itu minta ia untuk mengabari kondisi Bintang Gumilang.


"Assalamualaikum, Pa." sapa Gagah saat sambungan teleponnya terhubung dengan Prasetyo.


"Waalaikumsalam, Gah. Bagaimana, Gah? Sudah sampai di rumah sakit?" tanya Prasetyo.


"Sudah, Pa." Hempasan nafas berat Gagah terdengar. Sangat berat baginya mengabarkan berita tentang kepergian Bintang.


"Ada apa, Gah?" Prasetyo merasakan ada hal buruk dari dengusan nafas Gagah.


"Ada kabar duka, Pa. Pak Bintang sudah meninggal ..." Gagah menyampaikan kabar duka itu pada Prasetyo.


"Innalillahi Wainnaillahi roji'un ..." ucap Prasetyo menanggapi kabar yang disampaikan Gagah.


"Kamu masih di rumah sakit sekarang?" tanya Prasetyo kemudian.


"Saya akan ke rumah almarhum, Pa. Karena saat aku sampai di rumah sakit ternyata almarhum sudah dibawa pihak keluarga ke rumah beliau," jelas Gagah.


"Ya sudah, nanti Papa coba usahakan agar dapat takziah ke rumah almarhum secepatnya," ujar Prasetyo.


"Iya, Pa. Aku mau langsung ke sana sekarang. Assalamualaikum ..." Gagah berpamitan ingin mengakhiri panggilan teleponnya.


"Waalaikumsalam ..." jawab Prasetyo.


Gagah kembali memasukkan ponsel ke dalam saku blazernya setelah itu ia bergegas menuju arah parkiran rumah sakit karena ia ingin segera berada di rumah Bintang. Gagah belum memberitahu wakil atau staf Bintang soal meninggalnya Bintang. Dia berencana memberitahu setelah ia sampai ke rumah Bintang.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2