JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Jangan Sampai Merasa Iba


__ADS_3

Ketakutan Putri siang tadi tentang kemungkinan Rey akan menderita amnesia cukup menggelitik hati Airin. Apa mungkin hal itu bisa terjadi? Hal-hal semacam itu hanya ia dijumpai di film-film. Bukannya ia tidak percaya dengan penyakit amnesia, tapi yang tidak diterima adalah seandainya Rey masih menganggap mereka masih dalam ikatan pernikahan dan masih menganggap dirinya adalah istri Rey.


Saat Airin menyampaikan perkataan Putri kepada suaminya, tentu saja hal tersebut membuat Gagah merespon keras dengan mata mendelik tajam ke arah Airin.


"Apa maksudmu? Apa kamu masih mengharapkan menjadi istri dia?" tanya Gagah curiga.


Airin terkekeh merespon ucapan sang suami. Sudah ia duga Gagah pasti akan bereaksi keras dengan ucapannya tadi.


"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Gagah serius masih dengan tatapan galak.


"Setelah apa yang sudah dia lakukan, Mas pikir, apa aku punya alasan yang tepat untuk kembali ke dia?" Airin balik bertanya kepada istrinya.


"Yang pasti, tidak ada alasan untuk kamu meninggalkan aku," tegas Gagah penuh percaya diri.


Airin tersenyum mendengar jawaban sang suami. Benar apa yang dikatakan oleh Gagah, tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan suaminya itu, apalagi saat ini sudah ada janin di dalam perut Airin.


"Kalau Mas tahu, kenapa Mas kasih pertanyaan tadi?" tanya Airin mengusap cambang sang suami.


"Lalu, kenapa kamu memberi pertanyaan itu?" Gagah tak mau kalah, justru bertanya balik.


"Aku hanya menyampaikan apa yang ditakutkan Mbak Putri saja, kok." Airin beralasan.


"Putri? Memangnya apa yang dia katakan padamu?" tanya Gagah.


"Mbak Putri takut jika sampai Papanya Luna menderita amnesia dan masih menganggap aku ini istrinya." Airin menceritakan apa yang dikatakan oleh Putri pada Gagah.


"Pasangan itu, tidak suaminya, tidak juga istrinya, kalau bicara seperti tidak dipikirkan dulu." Gagah mendengus setelah mengetahui jika istri kakaknya lah yang menghembuskan peryataan yang ia anggap tidak dapat dipertanggungjawabkan.


"Jangan menyalahkan Mbak Putri, Mas. Kekhawatiran Mbak Putri aku rasa itu hal yang wajar. Mbak Putri pasti tidak ingin sampai ada yang mengganggu keutuhan rumah tangga kita berdua." Airin membela Putri dengan meminta Gagah tidak menyalahkan kakak ipar mereka.


"Ya sudah, tidak usah membahas hal itu lagi. Sebaiknya kita istirahat. Kamu pasti lelah hari ini menghadapi Luna." Gagah mengajak Airin beristirahat, karena ia tahu istrinya hari ini tidak dapat istirahat dengan tenang, sebab harus menghadapi Luna yang masih saja rewel.


***


Sudah dua hari ini Gagah selalu mengajak Luna dan Airin ke kantornya, semua Gagah lakukan demi menghibur Luna agar tidak selalu teringat akan Rey untuk sementara waktu sampai kondisi Rey membaik.


Rey sendiri masih belum tersadar. Pria itu masih belum juga melewati masa kritisnya dan masih bergantung pada peralatan medis pada tubuhnya. Bahkan keluarga Rey sudah pasrah jika sampai terjadi hal terburuk pada Rey, meskipun mereka tak putus meminta pada Sang Pemilik kehidupan agar Rey diberikan kesembuhan.


"Bagaimana kondisi Papanya Luna sekarang ini, Gah? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Prasetyo saat mereka berdua berbincang di ruang kerja Prasetyo setelah makan malam.


"Menurut kabar dari Pak Robby, masih belum ada tanda-tanda membaik, masih kritis, Pa." jawab Gagah.


"Kasihan juga kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk, apalagi dia belum sempat memperbaiki kesalahannya." Gagah banyak bercerita pada Prasetyo tentang sepak terjang Papa kandung Luna, sehingga Prasetyo bisa berpendapat seperti itu.


"Benar, Pa." sahut Gagah kembali.


"Saran Papa, sebaiknya ajak Luna sekali-kali membesuk Papanya. Bagaimanapun juga mereka mempunyai ikatan darah. Siapa tahu kehadiran Luna di sana dapat membantu kesembuhan Papanya. Luna dapat merasakan apa yang dialami oleh Papanya, semoga Papanya juga dapat merasakan kegelisahan Luna hingga membuat semangat untuk hidupnya lebih besar." Prasetyo memberi saran dengan sangat bijak, berharap anaknya mengambil keputusan yang tepat demi kebaikan bersama.


"Tapi Luna masih kecil, Pa. Bukannya aku tidak mau mempertemukan Luna dengan Papanya, aku hanya takut hal itu akan mempengaruhi Luna." Gagah beralasan jika keputusan yang dia ambil sudah sangat tepat.


"Mungkin kalau Papanya Luna sudah di ruang rawat dan sudah siuman, aku pasti ijinkan Luna membesuk Papanya, Pa." tegas Gagah tetap pada keputusannya.


Prasetyo menghela nafas dan menghembuskannya perlahan, untuk hal ini sebenarnya ia berbeda pendapat dengan Gagah. Dia mengerti alasan menutupi dari Luna, hanya saja dirinya khawatir jika kondisi Rey makin memburuk dan Luna terlambat bertemu dengan Rey.


"Ya sudah jika menurut kamu itu yang terbaik. Papa hanya khawatir jika sampai terjadi hal yang tidak kita inginkan, sebab kita tidak tahu umur seseorang." Prasetyo bangkit dari kursi kerjanya ingin mengakhiri perbincangan mereka.


"Sebaiknya kita istirahat ..." Lalu ia berjalan meninggalkan Gagah.


Gagah menyusul di belakang Prasetyo meninggalkan ruang kerja sang Papa dan kembali ke kamarnya. Di dalam kamarnya ia melihat Airin masih melantunkan sholawat sebab Luna masih terjaga.


"Lho, Luna belum bobo?" Gagah menghampiri tempat tidurnya kemudian merebahkan tubuh di samping Luna.


"Luna nunggu Papa bobonya," sahut Airin mengatakan jika anaknya ingin ditemani Gagah tidur.


"Oalah, Pada tidak tahu kalau Luna nungguin Papa." Sebuah kecupan langsung disematkan Gagah di kening Luna, dia juga memeluk tubuh bocah cilik itu. "Sekarang Luna bobo, sudah malam. Sudah baca doa belum?" tanya Gagah kemudian.


Luna yang masih memegang botol su su menganggukkan kepalanya. Dia lalu menyerahkan botol itu yang telah habis pada Airin, kemudian memutar posisi tidur menghadap Gagah, sepertinya dengan memeluk Papa sambungnya itu membuat Luna merasa nyaman.

__ADS_1


Tak sampai lima menit kemudian, Luna sudah pulas dalam tidurnya. Benar seperti yang dikatakan oleh Airin jika Luna memang menunggu Gagah hingga bisa terlelap.


"Tadi Papa tanya, apa aku tidak berkeinginan membawa kamu dan Luna menjenguk Papanya Luna." Gagah bercerita apa yang dibicarakan dengan Papanya.


Gagah sering berbincang dengan Prasetyo tentang segala hal di ruang kerja Prasetyo di rumah itu. Namun, Airin tidak pernah menanyakan apa yang sudah diperbincangkan suami dan papa mertuanya, karena ia tidak ingin dianggap ikut campur. Tapi karena saat ini yang dibahas oleh Gagah dan Prasetyo adalah tentang dirinya dan Luna, Airin pun merespon dan ingin tahu apa saja yang dibicarakan mereka.


"Kenapa Papa tiba-tiba tanya seperti itu, Mas?" tanya Airin.


"Papa khawatir Papanya Luna tidak ada umur dan Luna serta kamu terlambat bertemu. Papa juga mengharapkan ada keajaiban jika saja kehadiran Luna di sana bisa membuat Papanya tersadar." Gagah menerangkan apa saja yang dibahas dengan Prasetyo.


"Lalu, Mas jawab apa?" Airin penasaran dengan jawaban Gagah, karena sejujurnya dia juga ingin membesuk, setidaknya sekali membesuk sebagai wujud rasa empati dan bisa menguatkan keluarga Rey, terutama Wulan.


"Aku masih khawatir Luna akan takut, apalagi Luna masih kecil, tidak baik anak kecil berada di lingkungan seputar rumah sakit." Gagah juga sangat memperhatikan kesehatan Luna, takut terkontaminasi dengan rumah sakit yang tentu banyak dihuni pasien-pasien dengan beraneka ragam penyakit di sana.


Airin mendesah, sudah ia duga jika suaminya itu tidak mengijinkannya membesuk Rey. Dan Airin tidak ingin membangkang apa yang sudah diputuskan oleh sang suami.


"Menurut kamu sendiri bagaimana?"


Airin terkesiap ketika Gagah tiba-tiba meminta pendapatnya. Dia tidak menduga jika suaminya itu akan bertanya padanya.


"Aku??" Airin bingung menjawab.


"Iya, pendapat kamu sendiri bagaimana?" Gagah mengulang pertanyaannya, "Keinginan kamu sendiri bagaimana?"


"Tapi Mas jangan marah, ya!?" Airin takut jika suaminya akan marah dengan apa yang ingin ia katakan.


"Tidak, katakan saja." Gagah berjanji tidak akan marah.


"Kalau bicara jujur, aku juga sependapat dengan Papa, Mas. Bukan karena aku masih cinta atau kenapa-kenapa." Airin langsung mengklarifikasi saat tatapan suami terlihat serius saat dia tak setuju dengan keputusan Gagah.


"Papa benar, bukannya kita ingin mendahului kehendak Sang Illahi, hanya saja kita memang tidak tahu sampai kapan kita hidup di dunia ini? Mungkin kita akan bisa memberi penjelasan pada Luna. Masalah kesehatan, Luna bisa pakai masker dan menggunakan handsanitizer." Airin mencoba merubah pandangan Gagah.


"Jadi kamu ingin membesuk dia?" tanya Gagah.


"Jika Mas keberatan, aku tidak ingin memaksa," sahut Airin, tak menampakkan wajah kecewa sama sekali, karena ia tahu, maksud Gagah bersikap seperti itu untuk kebaikkan dirinya dan juga Luna.


Gagah mendengus lalu terdiam beberapa saat. Dia berpikir, terlalu egois jika dia mempertahankan keputusannya itu dan tidak menerima pendapat istri dan Papanya.


"Terima kasih, Mas." Airin tersenyum bahagia, sebab Gagah mau mengalah dan memberikan kesempatan padanya dan Luna untuk bertemu dengan Rey.


"Tapi kamu harus janji!" Gagah memberikan syarat yang harus dipenuhi oleh Airin.


"Apa, Mas?" tanya Airin.


"Setelah melihat dia, jangan sampai kamu merasa iba dan ingin kembali lagi dengan dia." Gagah menyeringai menggoda Airin.


"Ya ampun, Mas." Airin memutar bola matanya menanggapi ucapan Gagah tadi. Tentu saja hal itu sudah tidak mungkin terjadi. Rasa cinta yang ia miliki untuk Rey sudah hilang ditelan bumi, apalagi saat ini Gagah memberikan limpahan kasih sayang kepadanya, bahkan apa yang ia dapat dari Gagah melebihi dari yang ia dapat selama bersama Rey. Jadi tidak ada alasan baginya untuk kembali pada Rey.


***


Seperti janji Gagah pada Airin, jika dia akan membawa Airin dan Luna membesuk Rey, hari ini Gagah menepati janjinya itu. Tidak hanya Gagah, Airin dan Luna saja yang pergi, tapi Prasetyo dan Widya pun ikut mendampingi membesuk Rey.


Mereka berlima tiba di rumah sakit pas ketika masuk jam besuk. Di sana hanya ada Wulan yang menjaga Rey, sementara Robby harus bekerja dan suami Wulan sendiri baru pagi tadi ke Bali karena ada urusan yang harus ia selesaikan di Bali.


Gagah meminta kedua orang tuanya juga Airin dan Luna untuk menunggu di luar ruang ICU. Dia ingin meminta ijin terlebih dahulu pada perawat yang berjaga di ruang ICU. Setelah mendapat ijin, perawat memberitahu Wulan yang sedang berada di dalam ruang ICU soal kedatangan tamu yang ingin membesuk Rey.


"Assalamualaikum, Bu Wulan." sapa Gagah saat melihat Wulan keluar dari ruang ICU.


"Waalaikumsalam ... Nak Gagah?" Wulan terkesiap saat melihat Gagah.


"Nenek ...!" Suara Luna membuat Wulan makin terkejut, mendengar suara Luna di belakang Gagah.


"Luna?" Wulan melihat Luna yang bergandengan tangan dengan Airin memakai masker.


"Ibu ..." Airin menyalami Wulan.


"Apa kabar Bu Wulan?" Kini Widya yang menyapa Wulan.

__ADS_1


Kedatangan Gagah dan keluarganya sukses membuat Wulan terkejut. Wulan seperti mendapatkan dukungan moral pada dirinya yang sedang down karena musibah yang dialami Rey.


"Pak Prasetyo, Bu Widya, terima kasih sudah datang membesuk anak saya," ucap Wulan.


"Bagaimana keadaan putra Bu Wulan?" tanya Widya kemudian.


"Masih belum ada perubahan, Bu Widya." jawab Widya.


"Papa Ley mana, Nek?" Luna menanyakan keberadaan Papanya.


"Hmmm ..." Wulan bingung harus membalas pertanyaan Luna. Dia lalu menoleh ke arah Airin dan Gagah.


"Luna mau lihat Papa Rey?" Gagah mengangkat tubuh Luna.


"Iya, Pa." sahut Luna.


"Papa Rey sedang sakit. Nanti kalau lihat Papa Rey, Luna jangan nangis, ya!?" Gagah menasehati Luna, karena ia khawatir Luna akan terkejut melihat kondisi Rey.


"Sebaiknya kamu, Airin dan Luna masuk ke dalam, Gah." Prasetyo menyuruh Gagah segera masuk ke dalam.


Gagah dan Airin juga Luna akhirnya masuk ke dalam ruang ICU. Airin menahan nafas saat melihat mantan sang suami terkulai tak berdaya dengan bantuan peralatan medis. Sementara Luna justru menyembunyikan wajahnya di bahu Gagah saat melihat kondisi Papanya, bahkan Luna mengeratkan pelukan di tubuh Gagah seakan merasa takut melihat penampakan Papanya sendiri.


"Papa, takut ..." Luna ketakutan tak ingin melihat Rey.


"Kenapa Luna takut? Ini Papa Rey, Luna katanya mau lihat Papa Rey, Papa Rey sedang sakit." Gagah menjelaskan siapa yang berbaring di atas brankar.


"Bukan Papa Ley, Luna ndak mauuuu ... takut, Pa." Luna merengek minta keluar dari kamar.


"Ya sudah, tapi Luna jangan menangis." Gagah ingin membawa Luna dari kamar Rey, dia tidak ingin membuat Luna terus ketakutan.


"Tunggu sebentar di sini, nanti aku suruh Ibu Wulan menemani kamu." Sementara kepada Airin, Gagah meminta istrinya itu untuk tetap berada di ruang ICU.


Airin mengangguk, meskipun ia merasa canggung berada di dalam ruangan ICU berdua saja dengan Rey yang masih tak berdaya, namun dia tidak membantah apa yang diminta suaminya.


Airin mendekat ke arah brankar tempat Rey. Memang sangat memprihatinkan keadaan mantan suaminya saat ini.


"Aku berharap Allah SWT berkenan memberi kesembuhan pada Mas Rey, agar Mas Rey bisa memperbaiki diri Mas Rey," gumam Airin membatin, "Agar Mas Rey bisa membuat Luna bangga mempunyai Papa seperti Mas Rey," lanjutnya.


"Luna takut melihat Papanya, ya?" Suara Wulan membuat Airin menoleh ke arah Wulan.


"Oh, iya, Bu." sahut Airin.


"Mama benar-benar minta maaf atas perbuatan Rey ya, Rin. Mungkin ini adalah balasan atas apa yang sudah Rey lakukan dulu terhadap kamu," ujar Wulan.


Airin merangkulkan tangannya ke pundak Wulan mencoba menenangkan hati Wulan yang masih merasa kecewa dan sedih atas apa yang terjadi dengan putranya.


"Sudahlah, Bu. Sekarang ini kita hanya berdoa agar Mas Rey cepat diberikan kesembuhan." Airin berusaha untuk melupakan semua yang telah terjadi.


"Terima kasih, Airin." Wulan mengusap air matanya.


Sementara di luar kamar ICU


"Papa, pulang ... Luna mau pulang ..." Luna merengek, tak ingin berada di tempat itu lama-lama.


"Iya, nanti kita pulang, sebentar tunggu Mama dulu." Gagah ingin menunggu Airin selesai membesuk Rey di dalam, karena mereka baru saja datang.


"Kamu sama Airin pulang saja dulu, Gah. Biar Papa sama Mama tetap di sini dulu." Prasetyo memberikan solusi.


"Iya, Pa. Tunggu Airin dulu sebentar," jawab Gagah.


"Biar Mama panggil Airin." Widya kemudian masuk ke dalam ruang ICU untuk menyuruh Airin pulang bersama Gagah dan Luna.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2