
Keesokan paginya, Airin terbangun sebelum Shubuh. Ia langsung meraih ponsel yang yang ia letakkan di dekat bantal di sisi kanannya. Dia teringat jika semalam ia tertidur di temani video call sang suami.
Airin membuka ponselnya dan mendapati sebuah pesan masuk dari Gagah. Sebuah pesan gambar dirinya yang terlelap semalam dan membuat tanda Love melingkari fotonya itu.
"I love U, Ay.❤️"
Pesan gambar dibarengi pesan bertuliskan I Love You itu membuat Airin tersenyum bahagia. Bahkan dengan cepat ia pun mengetik balasan pesan suaminya itu.
"I love U too, My Hubby😘"
Ddrrtt ddrrtt
Suara getaran dari ponsel Airin berbunyi, membuat Airin terkesiap. Dia tidak menyangka jika sang suami sudah terbangun dan langsung menghubunginya. Airin segera mengusap layar ponselnya untuk mengangkat panggilan video tersebut.
"Assalamualaikum, Ay. Kamu sudah bangun?" Suara Gagah terdengar dibarengi wajah tampan Gagah yang memenuhi layar ponsel Airin saat ini.
"Waalaikumsalam, aku baru bangun, Mas." sahut Airin, "Mas bangun jam berapa?" tanya Airin saat ia melirik waktu di ponselnya menunjukkan pu kul 04.00 pagi.
"Aku tidak bisa tidur, Ay." jawab Gagah.
"Mas tidak tidur?" Airin terkejut saat sang suami mengatakan tidak tidur. "Mas nanti sakit kalau tidak tidur." Rasa khawatir melanda Airin mengkhawatirkan kondisi sang suami.
"Aku tidak bisa tidur tanpa mencium harum tubuhmu, Ay." ucap Gagah menggoda Airin.
"Tapi, Mas 'kan harus bekerja," ujar Airin tak memperdulikan candaan suaminya.
"Nanti aku akan istirahat di kantor, Ay. Kamu jangan khawatir." Gagah berharap sang istri tidak mencemaskannya.
"Lalu, Mas kapan pulang?" tanya Airin kemudian.
__ADS_1
"Mungkin nanti kalau Luna sudah bangun dan sarapan, Ay." jawab Gagah.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ...."
Terdengar adzan berkumandang dari luar kamar. Tak jauh dari rumah Prasetyo memang terdapat masjid yang dibangun atas dana yang disumbangkan oleh Prasetyo untuk pembangunan masjid di wilayah perumahan elit tersebut.
"Sudah Adzan, Mas. Aku mau sholat dulu, Mas." Airin ingin mengakhiri panggilan video call mereka karena ingin bersiap melaksanakan ibadah dua rakaatnya.
"Ya sudah, aku juga mau sholat. Assalamualaikum." Gagah mengakhiri panggilan video mereka.
"Waalaikumsalam, Mas." sahut Airin sebelum panggilan mereka benar-benar berakhir.
***
Selesai Wulan menyuapi Luna makan, Gagah berpamitan pulang kepada Wulan dan juga Rey. Sebab Gagah harus beraktivitas hari ini, sedangkan Luna juga tidak ingin ditinggal oleh Gagah sendirian di rumah Rey. Wulan maupun Rey tak dapat berbuat apa-apa untuk menahan Luna agar tetap mau berada di sana sampai Gagah pulang sore nanti. Wulan sendiri tidak ingin membuat Luna merasa tidak nyaman di rumah itu.
"Papa, Luna pulang dulu, ya. Papa minum obatnya bial Papa cepat cembuh, bial Papa bisa jalan lagi." Luna memeluk Rey dan memberikan kecupan di pipi Rey. Bocah lugu itu memberikan nasehat layaknya orang tua kepada Rey.
"Saya permisi dulu, Pak Rey. Semoga kondisi Anda cepat membaik." Gagah mendekat ke arah Rey yang duduk di kursi roda.
"Terima kasih," sahut Rey datar, sepertinya ia masih belum ikhlas terhadap pria yang saat ini sudah menjadi suami dari mantan istrinya itu.
Gagah menarik tipis sudut bibirnya melihat reaksi Rey yang terlihat jelas masih belum bisa bersikap bersahabat dengannya. Namun, Gagah tidak mempermasalahkan hal tersebut. Saat ini Airin telah menjadi istrinya. Airin juga sudah sangat bahagia bersamanya, sehingga ia tidak ingin terlalu pusing dengan sikap Rey kepadanya.
"Saya pamit dulu, Bu." Setelah berpamitan dengan Rey, Gagah berpamitan dengan Wulan.
"Terima kasih, Nak Gagah sudah meluangkan waktu mengantar dan menemani Luna di sini." Berbeda dengan Rey, Wulan justru selalu bersikap ramah dan berbaik sangka terhadap Gagah.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini sudah menjadi kewajiban saya menjaga Luna," jawab Gagah tanpa melirik ke arah Rey. "Kami pergi dulu, Assalamualaikum. Ayo, Luna." Gagah mengulurkan tangannya pada Luna, yang disambut oleh tangan mungil Luna.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ..." Hanya suara Wulan yang terdengar membalas salam yang diucapkan oleh Gagah.
"Daaagg Papa. Daaaggg Nenek ..." Luna melambaikan tangannya ke arah Rey dan Wulan sebelum akhirnya Gagah membawa Luna mejauh dari pandangan Wulan dan Rey.
Wualn melirik ke arah Rey yang terus menatap kepergian Gagah juga Luna. Dari raut wajah putranya, nampak penyesalan terlihat jelas di wajah Rey. Wulan mendegus kasar melihat anaknya yang saat ini justru seperti pesakitan karena perbuatan Rey sendiri.
"Nasi sudah menjadi bubur, Rey. Kamu membuang berlian yang akhirnya ditemukan orang seperti Gagah. Mama harap kamu bisa memperbaiki diri dan bertobat, minta ampunan agar kamu tidak berada di kursi roda sampai tua nanti." Setelah mengatakan hal tersebut, Wulan masuk ke dalam rumah meninggalkan Rey sendiri di ruangan tamu.
Sedangkan di rumah Prasetyo, Airin menunggu suami dan anaknya pulang kembali ke rumah. Tak ada pekerjaan yang Airin lakukan, Airin memilih bergabung dengan ART di dapur yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga mertuanya dan juga dirinya.
"Luna belum pulang, Rin?" tanya Widya, yang juga turun ke dapur karena mendengar suara obrolan Airin dan ART dari arah dapur.
"Sedang dalam perjalanan pulang, Ma." jawab Airin.
"Luna rewel tidak di sana, Rin?" tanya Widya seraya menarik kursi dan mendudukinya.
"Mas Gagah bilang sih, tidak, Ma." sahut Airin seperti yang diceritakan suaminya.
"Mama tidak enak dengan Bu Wulan, Rin. Mama khawatir, Bu Wulan akan salah paham terhadap Gagah. Mama takut Bu Wulan beranggapan kalau Gagah terlalu membatasi interaksi Luna dengan Papa kandungnya." Widya menyampaikan rasa khawatirnya. Sebab, bisa saja keluarga Rey beranggapan jika Gagah tidak membiarkan Rey bebas bertemu dengan Luna.
"Mama tidak usah khawatir, Bu Wulan tidak seperti anaknya. Beliau pasti bisa mengerti, Ma." Selama berpacaran sampai dirinya menikah dan akhirnya berpisah dengan Rey hingga saat ini, tidak sekalipun ia berselisih paham dengan Wulan. Bahkan hubungan dirinya dengan Wulan masih terjalin dengan baik walaupun hubungan antara mertua dan menantu sudah berakhir.
"Pantas Bu Wulan sangat menyanyangi kamu meskipun kamu sudah tidak menjadi menantunya, Rin." Widya menepuk pundak Airin. Tak terlihat kebencian yang terpancar dari wajah Airin saat menjelaskan soal Wulan. Tak heran jika Airin menjadi menantu idaman tidak hanya bagi Wulan tapi juga baginya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️