
Airin dilanda kebingungan dengan permintaan Gagah kali ini. Permintaan Gagah kali ini lebih berat dari sekedar memberikan nomer HP nya. Bisa dibayangkan bagaimana hebohnya keluarga Om Fajar jika sampai Gagah datang menjemputnya pagi-pagi sekali ke rumah. Belum lagi jika sampai Gagah mengantar ke tempat kerja, entah apa reaksi orang-orang di kantornya jika dia datang diantar pakai mobil mewah milik Gagah, apalagi Gagah dikenal sebagai nasabah besar di Central Bank tempatnya bekerja.
" Apa kamu bisa kirim lokasi kamu sekarang? Biar saya mudah mencari alamat kamu," lanjut pesan Gagah.
" Kenapa dia maksa banget, sih?" Airin mendengus kesal. " Dia pikir aku suka dikejar-kejar dia!? Menyebalkan sekali!" gerutu Airin.
Akhirnya Airin mengetik alamat rumah lamanya bersama Rey kepada Gagah, karena Airin tidak ingin Gagah menjemput dan mengantarnya ke kantor.
" Oke, besok pagi saya akan jemput kamu," balas Gagah.
" Maaf kalau mengganggu kamu yang sedang menemani anakmu tidur, selamat malam."
Setelah mendapatkan alamat palsu Airin, Gagah mengakhiri percakapan via chatting nya.
" Pasti dia marah kalau tahu aku memberikan alamat lama aku. Biarkan sajalah ... syukur-syukur kalau dia marah, jadi acara makan siang besok batal." Airin sangat berharap Gagah akan kecewa, marah dan akhirnya menggagalkan acara mengajaknya malam siang.
" Aku tidak ingin Om Fajar apalagi Tante Mira sampai tahu kalau Pak Gagah sedang mendekatiku. Bisa heboh nantinya." Airin langsung menonaktifkan ponselnya lalu kembali berbaring.
Sebenarnya dia butuh cerita dengan seseorang yang berpihak padanya tentang Gagah. Namun, dia tidak tahu siapa orang tepat untuk dia ajak curhat, karena semua orang yang tahu, justru akan mendukung Gagah mendekatinya. Tidak itu Tantenya, apalagi sahabat-sahabatnya. Airin terpaksa merahasiakannya dari mereka.
***
Selepas Shubuh, biasanya Gagah kembali beristirahat sambil menunggu waktu sarapan dan bekerja. Tapi, pagi ini dia justru bersiap pergi untuk menjemput dan mengantar Airin ke kantornya.
Gagah mengenakan setelan kemeja dan celana berbahan denim, dengan lengan ditekut tiga perempat dan menggunakan sneakers warna putih, penampilan pria itu benar-benar Gagah seperti namanya. Sepertinya keluarga Prasetyo tepat sekali memberi nama Gagah pada putra bungsunya itu.
Gagah keluar dari kamar dan berlari kecil menuruni anak tangga. Dia tidak ingin sampai telat datang ke tempat Airin hingga membuat wanita itu pergi lebih dulu dari rumahnya.
" Gah, Gagah! Kamu mau ke mana, Nak?" Suara Widya terdengar dari arah belakang Gagah hingga Gagah menghentikan langkah dan memutar tubuhnya.
" Kamu mau ke mana pagi-pagi sekali sudah rapih seperti ini?" Widya yang menyusul langkah Gagah dan memperhatikan penampilan maskulin putranya yang mengenakan pakaian berwarna denim yang membalut tubuh berkulit putih pria tampan itu.
" Aku ada urusan sebentar, Ma." sahut Gagah, enggan mengatakan tujuannya ingin menjemput Airin, meskipun jika dia mengaku, hal itu akan membuat Widya senang.
" Memang kamu tidak ke kantor?" tanya Widya lagi.
" Aku berangkat ke kantor jam sembilan, ini baru jam setengah enam. Sebelum jam sembilan juga aku sudah kembali ke rumah, Ma. Aku berangkat dulu, Ma. Assalamualaikum ..." Gagah berpamitan seraya mengecup kening Widya lalu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
" Waalaikumsalam ..." sahut Widya dengan kening berkerut, merasa heran mau ke mana anaknya itu pergi.
***
Gagah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dari alamat yang dia dapat dari Airin semalam, diperkirakan sekitar dua puluh menit dia akan sampai di tempat Airin.
Lebih lima belas menit dari waktu yang diperkirakan Gagah, dia akhirnya sampai juga di alamat yang diberikan oleh Airin kepadanya.
Dari dalam mobilnya, Gagah menatap bangunan rumah lantai dua di hadapannya. Rumah yang dia anggap adalah rumah sahabat Mamanya itu terlihat sepi.
Gagah memilih keluar dari mobil, karena tidak ada yang akan membukakan pintu untuknya, jika tetap menunggu di dalam mobil. Dia juga tidak mungkin membunyikan klakson mobil karena akan dianggap tidak sopan, apalagi dia baru kali ini datang ke tempat itu.
__ADS_1
Gagah menghampiri pintu untuk menekan bel yang ada di gerbang. Dua kali dia menekan bel di pintu, barulah seorang yang dia duga ART keluar dari dalam rumah.
" Maaf, cari siapa, ya, Mas?" tanya ART memperhatikan Gagah dari ujung rambut sampai sepatu putih bersih milik Gagah setelah menghampiri Gagah masih belum membukakan pintu gerbang untuk Gagah.
" Apa Airin ada, Bu?" tanya Gagah, namun pandangan matanya menatap ke arah pintu masuk rumah itu. Sama sekali tak nampak aktivitas Airin yang hendak mengantar sepupunya pergi ke sekolah seperti yang diceritakan Airin semalam.
Tak ada juga motor yang terparkir di halaman seperti yang disebut Airin akan digunakan wanita itu untuk berangkat ke tempat kerja.
" Maaf, Mas ini siapa, ya? Ada apa mencari Bu Airin?" tanya ART itu menatap dengan penuh selidik pria tampan di hadapannya saat ini.
" Saya ingin menjemput Airin. Katanya dia akan mengantar sepupunya ke sekolah. Apa dia sudah berangkat?" Gagah sampai curiga jika Airin sengaja berangkat lebih awal agar tidak bertemu dengannya.
" Maaf, Mas. Sekarang ini Bu Airin sudah tidak tinggal di sini." ART itu lalu menjelaskan.
" Airin tidak tinggal di sini?" Gagah mengerutkan keningnya merasa heran. " Maksud Ibu bagaimana? Memangnya ini rumah siapa?" tanya Gagah kemudian.
" Ini rumah Pak Rey, Mas. Dulu memang Bu Airin tinggal di sini, tapi sejak berpisah dengan Pak Rey, Bu Airin sudah pindah dari sini, Mas." ART di rumah Rey menjelaskan kepada Gagah lebih lengkap.
Gagah mendengus kasar setelah dia menyadari jika dirinya telah dikerjai oleh Airin.
" Si al! Wanita itu mengerjaiku rupanya!" umpat Gagah dalam hati.
" Apa ibu tahu di mana Airin tinggal sekarang ini?" tanya Gagah penasaran, siapa tahu dari ART itu dia mendapatkan informasi tentang tempat tinggal Airin saat ini.
" Saya kurang paham, Mas." aku ART itu jujur.
" Oke, oke, kalau begitu saya permisi." Gagah berpamitan hendak kembali ke mobilnya. Namun, dia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya kembali menghadap ke arah rumah Rey. Dia melihat ART tadi masih belum beranjak dari tempatnya dan masih terus memandangnya.
" Hanya Pak Rey, Mas. Tapi, Pak Rey juga sudah jarang sekali datang ke rumah ini," ungkap ART itu kembali.
" Oke, terima kasih." Gagah kemudian melanjutkan langkahnya hingga sampai di mobilnya.
" Berani sekali dia mengerjai aku seperti ini!" Gagah masih menggerutu dengan gigi mengerat karena merasa telah dipermainkan oleh Airin. Padahal dia sudah rela pagi-pagi sekali keluar dari rumahnya demi mengantar Airin ke kantor.
Gagah langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomer ponsel Airin.
" Nomer yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service area, cobalah beberapa saat lagi ..." justru operatorlah yang merespon panggilannya.
" Kamu sudah berani menipuku, awas saja kamu, Airin!" Seringai tipis langsung terbentuk di sudut bibirnya. Gagah tentu akan semakin nekat dengan penolakan-penolakan yang dilancarkan Airin padanya.
Sementara di rumah Om Fajar ...
" Luna, Mama berangkat dulu, ya?" Airin menciumi pipi chubby Luna yang sudah harum aroma baby powder karena anaknya itu sudah mandi. Airin memang membiasakan anaknya itu sedari dini bangun dan mandi pagi, sebelum dia berangkat mengantar Feby sekolah.
" Mama nanti beli cokat, ya!" Luna meminta dibelikan coklat oleh Mamanya.
" Tidak boleh makan coklat banyak-banyak, Sayang! Nanti gigi Luna berlubang dan rusak." Airin melarang Luna memakan banyak coklat.
" Ndak banyak, Ma! Catu aja cokatnya." Luna dengan pintar menjawab.
__ADS_1
" Ya sudah, nanti Mama belikan coklatnya." Airin menuruti apa yang diminta Luna. Dia lalu menuntun Luna keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.
" Luna sudah mandi, ya?" Dari bawah tangga Tante Mira langsung menyambut Luna dengan merentangkan kedua tangannya.
" Sudah, Nek." Airin yang menjawab sementara Luna hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Tante Mira namun dia langsung memeluk Neneknya itu.
" Feby mana, Tan?" tanya Airin pada Tante Mira.
" Dia sudah di teras, sedang memakai sepatu," sahut Tante Mira.
" Aku berangkat dulu, Tante." Airin mencium punggung tangan Tante Mira. " Aku titip Luna, ya, Tan." Setiap kali ingin meninggalkan putrinya, Airin selalu mengatakan hal tersebut pada Tante Mira.
" Iya, Rin." sahut Tante Mira.
" Luna jangan nakal kalau Mama kerja, nurut sama Nenek, ya!" Airin mengusap kepala Luna.
" Iya, Ma." Luna pun mencium punggung tangan Mamanya.
" Aku berangkat, Tante. Assalamualaikum ..." Airin lalu melangkah ke luar rumah.
" Waalaikumsalam ..." jawab Tante Mira.
" Sudah siap, Feb?" tanya Airin memasang helm di kepalanya.
" Ayo, Mbak." Feby berlari menyusul sambil berseru, " Ma, Feby berangkat ...! Assalamualaikum ...!"
" Waalaikumsalam, hati-hati ...!" Dari dalam rumah terdengar Tante Mira menyahuti.
Airin melirik arloji di tangannya. Saat ini tepat jam 06.30 menit. Dia teringat Gagah yang berencana menjemputnya. Airin yakin jika saat ini Gagah sudah sampai di rumah tempat tinggalnya dulu bersama Rey. Dan dia dapat memastikan jika saat ini pria itu sedang menggerutu karena sudah dia kerjai.
" Kenapa senyum-senyum sendiri, Mbak?"
Dari spion, Feby melihat Airin sedang tersenyum-senyum sendiri bukannya segera menyalakan mesin motornya. Tentu saja Airin merasa senang karena berhasil mengerjai Gagah.
" Tidak apa-apa, kok. Kita berangkat sekarang?" Airin menoleh ke belakang.
" Siap, meluncur ..." sahut Feby.
" Bismillahirahmanirohim ..." Setelah berdoa, Airin pun langsung menjalankan motornya menuju sekolah Feby terlebih dahulu sebelum ke tempat kerjanya.
*
*
*
Bersambung ...
Maaf, update masih ga teratur, masih repot sama pekerjaan kantor🙏
__ADS_1
Happy Reading ❤️