JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Membuat Luna Menjadi Ceria


__ADS_3

Ibu Heny terlihat gembira saat Tante Mira mengabarkan akan berkunjung ke Yogyakarta. Tentu saja ia merasa senang dikunjungi oleh iparnya itu. Namun, dia heran ketika Tante Mira menyebut tidak datang ke Yogyakarta bersama sang suami, melainkan bersama Airin, Feby, Luna dan seseorang yang ia tidak tahu, siapa yang dimaksud oleh Tante Mira, karena Tante Mira menjeda ucapannya.


"Dengan siapa lagi, Mir?" Ibu Heny penasaran, siapa satu orang lagi yang ikut bersama Tante Mira jika bukan Fajar.


"Sama ... calon menantu Mbakyu yang baru ...."


Jawaban Tante Mira sukses membuat Ibu Heny tercengang. Dia sampai tak percaya akan pendengarannya. Calon menantu yang baru? Airin sudah mempunyai calon pendamping yang baru? Bukankah perceraian Airin dengan Rey terhitung baru empat bulan saja. Tapi, bagaimana mungkin Airin secepat itu mendapatkan calon pendamping? Apalagi selama ini dia tahu jika Airin begitu mencintai Rey.


"Hahh?? Calon menantuku, Mir? Kamu jangan bercanda, Mir!" Masih dengan nada tak percaya, Ibu Heny bertanya.


"Benar, Mbakyu. Mbakyu kaget, ya?" Tante Mira terkekeh mendengar keterkejutan kakak iparnya itu.


"Iya, Mir. Aku kaget banget ini. Kemarin Airin telepon aku, tapi tidak mengatakan apa-apa soal itu " Mengingat percakapannya beberapa hari lalu dengan Airin, putrinya itu memang tidak membicarakan soal rencana untuk mencari pendamping hidup yang baru.


"Anak Mbakyu itu memang masih malu-malu, Mbakyu. Masih ragu juga karena baru saja bercerai," jelas Tante Mira.


"Nah, itu dia, Mir. Aku juga kaget, kok' Airin tiba-tiba sudah punya calon saja. Apa dia tidak khawatir mencari pendamping hidup secepat ini? Aku takut Airin hanya mencari tempat pelarian atas rasa kecewanya itu, Mir." Sebagai seorang ibu yang putrinya gagal dalam rumah tangga, sudah pasti Ibu Heny sangat mencemaskan Airin.


"Airin tidak seperti itu, kok, Mbakyu. Percaya, deh!" Tante Mira mencoba meyakinkan Ibu Heny agar tidak mencemaskan Airin.


"Oh ya, Mir. Memangnya calon Airin itu siapa? Airin kenal pria itu di mana?" Penasaran Bu Heny akan sosok calon menantu barunya.


"Namanya Gagah Prasetyo, Mbakyu. Dia itu anak teman aku waktu aku ikut di sanggar tari dulu," ujar Tante Mira, "Calon mantu Mbakyu ini lebih hebat dari mantan mantu Mbakyu yang dulu. Jabatannya saja CEO, Direktur Utama PT Bintang Departement Store. Mall besar yang punya cabang di mana-mana." Tante Mira menjelaskan siapa calon menantu Ibu Heny sekarang ini.


"CEO? Ya ampun, Mir. Yang manager saja berani selingkuh, apalagi ini CEO. Apa tidak lebih besar godaannya?" Ibu Heny semakin khawatir mengetahui jabatan calon menantunya sekarang. Seorang Direktur Utama, jabatan tertinggi dalam suatu perusahaan, pasti akan banyak wanita yang mengincar pria dengan profesi itu. Terutama wanita yang hanya mengejar kekayaan semata. Dan Ibu Heny tidak ingin anaknya akan kecewa untuk kedua kalinya.


"Mbakyu tidak udah khawatir soal Gagah. Dia tidak seperti yang Mbakyu khawatirkan. Temanku itu mencarikan Gagah calon istri, karena anaknya itu sulit untuk jatuh cinta. Tapi, waktu pertama kali bertemu Airin justru langsung tertarik." Tak ingin kakak iparnya meragukan Gagah, Tante Mira kembali meyakinkan Ibu Heny, "Nanti Mbakyu akan lihat sendiri, apalagi Luna sudah lengket banget sama Gagah."


"Ya, semoga saja kekhawatiranku tidak menjadi kenyataan, Mir. Ya sudah, aku tunggu kedatangan kalian," sahut Ibu Heny.


"Tapi, Mbakyu. Mbakyu jangan bilang sama Airin, aku cerita soal rencana ke sana, ya! Ini sebenarnya kejutan untuk Mbakyu dan Mas Bas. Tapi, aku tidak sabar memberitahunya." Dengan tertawa kecil, Tante Mira meminta Ibu Heny untuk merasahasiakan hal tersebut.


"Iya, Mir." jawab Bu Heny.


"Ya sudah, Mbakyu, aku tutup dulu teleponnya, ya, Mbakyu. Assalamualaikum ..." Tante Mira berniat mengakhiri percakapan telepon mereka.


"Waalaikumsalam ..." sahut Ibu Heny. Kemudian menaruh ponselnya.


"Ya Allah, jika Engkau sudah menentukan jodoh untuk anak hamba, semoga ini adalah yang terbaik untuk Airin," harap Ibu Heny.


***


Airin memperhatikan pria tampan yang baru masuk ke dalam kantor Central Bank. Pria itu langsung mengarahkan pandangan padanya. Senyuman terkulum dari bibir pria itu, saat melihat dirinya sedang memperhatikan pria berwajah tampan yang tak lain adalah Gagah.


Gagah lalu berjalan ke arah salah satu kursi kosong di depan customer service lalu mendudukinya. Sepertinya dia sengaja ingin menunggu Airin menyelesaikan pekerjaannya sebelum istirahat makan siang.


"Kamu makan siang dengan Pak Gagah, Rin?" tanya Fany yang juga melihat kedatangan Gagah.


Airin terkesiap saat mendegar suara Fany. Sepertinya dia begitu terpesona memperhatikan kedatangan Gagah.


"Oh, iya, Fan." Airin bergegas merapihkan mejanya lebih dahulu. Kemudian dia mengantongi ponselnya, tak membawa dompet, karena pasti Gagah yang akan membayar makanan nanti.


"Aku istirahat dulu, ya!" Airin berpamitan kepada rekan-rekannya kemudian berjalan mendekati Gagah, "Saya absen dulu, Pak." Airin pun berpamitan kepada Gagah untuk mengisi absensi sebelum keluar makan siang.


Sesudah turun kembali setelah melakukan absensi, Airin bersama Gagah keluar dari bank. Jangan ditanya bagaimana reaksi rekan-rekan kerja Airin. Mereka tidak tahan untuk tidak berkomentar dengan kemunculan Gagah di sana. Apalagi setelah mereka tahu jika Gagah adalah seorang CEO dari perusahaan besar dan nasabah penting di Central Bank.


Airin berusaha mengacuhkan apa yang diperhatikan dan dibicarakan oleh rekan-rekannya itu. Gagah sudah bulat dengan keputusannya. Jika tidak ada halangan, dirinya mungkin akan benar-benar pasrah menjadi istri Gagah. Dan mungkin benar apa yang dikatakan oleh Fany. Jika dia menikah dengan Gagah, dia yakin Gagah tidak akan mengijinkannya bekerja. Jadi mulai saat ini, dia harus belajar bersikap masa bodoh dengan gunjingan rekan-rekan sekantornya. Lagipula, tidak ada yang salah dengan dirinya. Dia tidak berselingkuh dan juga tidak merebut suami orang.


"Kamu ingin makan di mana?" tanya Gagah saat Gagah menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan kendaraan roda empatnya itu keluar dari area parkir Central Bank.


"Terserah Bapak saja," sahut Airin.


"Kamu masih saja memanggil saya Bapak, tapi kamu tetap memanggil Mas pada mantan suamimu itu." Gagah protes. Karena saat bertemu dengan Rey, dia sempat mendengar Airin menyebut mantan suaminya Airin dengan panggilan 'Mas', sementara terhadapnya, Airin masih saja menyebut 'Pak'.


"Apa kamu masih enggan memanggil saya dengan panggilan yang sama dengan kamu memanggil mantanmu itu?" tanya Gagah kemudian.


"Maaf, saya belum terbiasa." Airin beralasan. Padahal dia pun biasa menyebut pria yang berusia di atasnya dengan sebutan 'Mas'.


"Kalau begitu, biasakan dari sekarang, agar kamu terbiasa memanggil saya seperti itu." Gagah seolah tidak menerima alasan tersebut.


Airin mendesah, alasan apa pun yang diberikan olehnya, seolah tak bisa diterima oleh Gagah. Dan dia hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Gagah.


"Iya," sahut Airin.


"Iya, apa?" tanya Gagah meminta kepastian Airin menyetujui permintaannya.


Airin menoleh ke arah Gagah, dia merasa jika Gagah menganggapnya seperti anak kecil yang sedang didikte oleh orang tuanya.


"Bapak menyuruh saya memanggil Mas, kan?" tanyanya bingung.


"Lalu, kenapa kamu masih memanggil Bapak?" tanya Gagah karena lagi-lagi Airin memanggilnya Bapak.


Airin menghempas nafas perlahan. Gagah pintar berkata-kata, sehingga dia kesulitan menjawab apa yang dikatakan oleh Gagah.


"Maaf, Mas." Memanggil Mas pada Gagah membuat wajah Airin merona, hingga dia menutupinya dengan melempar pandangan ke luar jendela.


Terkulum senyuman di bibir Gagah mendengar Airin memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Terasa teduh terdengar di telinganya, panggilan itu keluar dari mulut Airin. Ia pun berharap hubungannya dengan Airin secepatnya melangkah ke jenjang yang lebih serius.

__ADS_1


"Jadi, kita akan makan di mana?" Gagah mengulang pertanyaan yang sama.


"Terserah saja," jawab Airin.


"Mau makan bakso?" Gagah menujuk kedai bakso di depan jalan yang akan mereka lalui.


Kening Airin berkerut melihat tempat yang ditunjuk oleh Gagah. Dia tahu bakso yang dijual di sana memang sangat enak dan selalu ramai. Tapi, setahu dia, orang yang datang ke tempat itu lebih banyak para pegawai atau orang-orang dari kalangan menengah ke bawah.


"Bapak, hmmm, Mas yakin mau makan di sana?" tanya Airin ragu.


"Memangnya kenapa? Tidak enak bakso di sana?" tanya Gagah.


"Bukan, bukan begitu. Hanya saja, Mas yakin akan makan di sana?" tanya Airin memastikan.


"Kenapa?" Gagah menoleh ke arah Airin.


"Karena tidak ada bos yang makan di sana," ujar Airin kemudian.


"Memang ada larangan profesi seperti saya ini makan di sana?" tanya Gagah.


"Tidak juga." Airin bingung menjelaskan.


"Ya sudah, kalau tidak ada larangan, kita makan di sana saja." Gagah lalu memarkirkan mobilnya di tepi jalan di depan kedai bakso itu.


Gagah membuka seat belt dan mematikan mesin mobilnya. Dia mengajak Airin turun lalu melangkah masuk ke dalam kedai bakso itu.


Saat Gagah hendak duduk di meja yang kosong, ia melihat sedikit debu yang ada di meja itu. Membuatnya berpikir ulang untuk makan di tempat itu.


"Kita jangan makan di sini!" Gagah menggenggam pergelangan tangan Airin, dan membawa Airin pergi dari kedai bakso itu.


"Kenapa tidak jadi?" tanya Airin heran.


"Jangan makan di sana! Di sana tidak bersih! Mejanya berdebu seperti itu!" Gagah mengeluhkan kondisi kedai yang dia rasa tidak cukup higienis baginya yang perfeksionis.


Airin tersenyum mencibir. Ia sudah mengingatkan Gagah, karena dia merasa tempat itu tidak cocok untuk orang yang berprofesi seperti Gagah, ia justru tidak tahu jika Gagah seorang yang perfeksionis.


"Saya sudah bilang sama Mas tadi, kan?" Airin menanggapi sikap Gagah yang tidak menggubrisnya.


"Kita makan di restoran yang bersih saja." Gagah kembali menjalankan mobilnya dan membawa Airin ke restoran elit yang dia rasa cukup cocok dengan seleranya.


***


Bunyi pintu bel sebuah rumah kost elit berbunyi. Salah satu penghuni kost itu adalah Joice. Joice sudah lama tinggal di tempat kost elit tersebut. Gaya hidupnya sebagai seorang yang berkerja di tempat hiburan, apalagi dia menjalin hubungan dengan salah seorang manager, membuatnya selalu ingin berpenampilan serba mewah.


ART yang bertugas melayani kebutuhan para penghuni kost berlari membuka pintu gerbang kost tersebut.


"Eh, Mas Rey." Inem, ART di sana membukakan pintu gerbang untuk Rey. Kost itu sangat privacy, tidak semua orang orang dapat keluar masuk ke dalam rumah kost itu.


"Mbak Joice ada, Mas. Silahkan masuk, Mas." Bi Inem menutup kembali pintu gerbang setelah Rey masuk ke dalam.


Tanpa menunggu Bi Inem, Rey melangkah masuk ke dalam rumah kost itu menuju kamar Joice yang berada di lantai atas.


Pintu kamar Joice dikunci dari dalam, sehingga Rey tidak dapat membuka pintunya.


Tok tok tok


"Joice, buka pintunya!"


Rey baru sempat menemui Joice sehari setelah dia mendapatkan kabar dari Wulan soal kedatangan wanita itu ke Bali.


Rey sebenarnya merasa geram, karena Joice tidak memberitahu apalagi meminta ijin padanya terlebih dahulu soal rencana ke Bali.


Ia yang sedang berusaha meluluhkan hati orang tuanya, setelah membuat orang tuanya kecewa karena perceraiannya dengan Airin. Namun, kedatangan Joice menemui Wulan justru mengacaukan segalanya.


Tok tok tok


"Joice, buka pintunya!" Rey kembali mengulang perkataannya.


"Mbak Joice sedang tidur mungkin, Mas." ucap Bi Inem memberitahukan.


Ceklek


Pintu kamar akhirnya terbuka bersamaan ucapan Bi Inem berakhir. Joice muncul dari dalam kamarnya menggunakan lingerie mini tanpa lengan berbahan satin.


"Honey?" Joice melingkarkan lengannya di pinggang Rey tanpa merasa malu pada Bi Inem yang melihatnya meradegan in tim bersama Rey.


Bi Inem kemudian berlalu meninggalkan Rey dan Joice. Baginya tidak aneh melihat adegan mesra seperti yang dilakukan dua orang tadi. Rumah kost itu memang dikenal sebagai tempat kost wanita-wanita yang berprofesi sebagai wanita penghibur, juga sebagai tempat kost wanita-wanita simpanan pria hidung belang yang mencari kesenangan semata.


"Joice, apa yang sudah kamu lakukan di Bali? Kenapa kamu menemui orang tuaku?" tanya Rey dengan geram.


"Karena kamu tidak juga mau mengenalkan aku pada orang tuamu, Honey." Tak perduli Rey merasa kesal padanya, Joice justru bergelayut manja pada Rey.


"Apa kamu tidak bisa bersabar sedikit? Kamu tanya!? Apa yang kamu lakukan telah membuat orang tuaku marah, dan itu mempersulit posisiku saat ini!" Rey menepis tangan Joice yang bergelayut manja. Rey emosi, karena ulah Joice justru membuatnya semakin dibenci dan dijauhi oleh orang tuanya.


"Kenapa kamu marah sama aku, Honey? Seharusnya salahkan mantan istrimu itu! Dia tidak becus sebagai istri, selingkuh dengan pria lain, yang lebih tampan dan lebih mapan. Pantas saja dia membuangmu!" Joice melempar kesalahan pada Airin dan menganggap Rey terlalu bodoh karena mudah ditipu oleh Airin.


"Diam, kau! Jangan bicara apa pun soal Airin dan pria itu!" Rey semakin tersulut, karena Joice membandingkannya dengan Gagah. Dia menyadari, jika dia memang akan kalah bersaing dengan Gagah. Secara fisik dan juga status ekonomi, dia kalah jauh dari Gagah. Apalagi saat ini Gagah bersama Airin. Semakin berkobarlah kecemburuan di dalam hati pria itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu marah-marah padaku, Honey? Seharusnya kamu itu bersyukur, terlepas dari wanita pengkhianat seperti itu!" Joice tak terima, Rey menyalahkan, dan masih saja membela Airin.


"Sudahlah, aku pusing!" Rey memijat pelipisnya, karena rentetan masalah yang menerpanya saat ini.


Mengetahui Rey sedang lemah, Joice dengan senjata andalannya berusaha meluluhkan hati Rey. Wanita itu memeluk Rey kembali. Lalu membuka blazer yang dikenakan oleh Rey.


Tangan Joice begitu ahli melepas dasi dan melucuti satu persatu kancing kemeja yang dipakai Rey.


"Kita bersenang-senang, biar pikiran kamu jadi rileks," bisik Joice kemudian menarik lemah cuping telinga Rey dengan giginya. Tak berselang lama dia mendorong tubuh Rey ke atas tempat tidur dan ia pun mulai melepas satu persatu kain yang menutupi tubuh Rey.


Setelah semua berhasil dia loloskan, Joice pun melepas apa yang dia pakai di tubuhnya, lalu menjatuhkan tubuhnya indahnya itu di atas tubuh Rey, hingga mereka mulai melakukan aktivitas penuh dosa yang memabukkan.


***


Ayuning mengantar Widya berbelanja oleh-oleh untuk orang tua Airin di Yogyakarta. Saat Gagah menyampaikan rencana berkunjung ke rumah orang tua Airin di Yogyakarta, Widya pun berniat ingin ikut pergi ke sana.


Awalnya Gagah melarang mamanya itu ikut, namun Widya bersikukuh ingin ikut dengan alasan agar orang tua Airin makin yakin, jika Gagah dan keluarganya benar-benar serius ingin meminang Airin.


"Mama mau beli apa untuk orang tua Airin?" tanya Ayuning.


"Mama mau belikan gamis, baju koko sama perhiasan untuk Mamanya Airin, Yu." sahut Widya.


"Kita belanja baju gamis di butik langganan kita, Ma?" tanya Ayuning kembali.


"Iya, di sana saja. Dia sana modelnya bagus-bagus, bahannya juga nyaman dipakai," jawab Widya.


"Oke, Ma." Ayuning mengendarai sendiri mobilnya.


"Akhirnya, Gagah ketemu juga sama jodohnya, ya, Ma?" Ayuning turut merasakan bahagia karena Gagah akan segera berjodoh dengan Airin.


"Iya, Yu. Mama senang banget, deh! Akhirnya Gagah bertemu jodoh sesuai yang Mama inginkan. Mama awalnya takut, Gagah salah memilih jodohnya. Apalagi Gagah seorang CEO, pasti banyak wanita yang memburunya. Alhamdulillah, Gagah tidak tergoda dengan wanita seperti itu." Widya memang bisa bernafas lega. Ketakutannya jika Gagah terjerat wanita yang hanya mengejar harta semata tidaklah terjadi.


"Justru Gagah terpikatnya dengan janda muda yang


cantik, ya, Ma?" Ayuning berseloroh sambil tertawa kecil.


"Bagi Mama tidak masalah status Airin saat ini. Dia wanita yang baik, dan taat beragama. Mama ingin Gagah mendapat jodoh seperti Bagus dan Tegar mendapatkan jodoh mereka. Kamu dan Putri, kalian menantu idaman Mama, Mama berharap Airin juga seperti kalian." Widya melambungkan harapannya.


"Aamiin, Ma. Insya Allah ..." sahut Ayuning.


"Oh ya, Yu. Gagah kemarin cerita sama Mama, ingin mendaftarkan Luna bersekolah di fullday school bersama Ica. Coba kamu bujuk Airin agar mau mendaftarkan Luna di sana, biar Luna banyak teman." Selain pada Tante Mira, Gagah juga sudah bercerita pada Widya soal rencananya mendaftarkan Luna sekolah di salah satu fullday school bonafit di kota itu.


"Gagah sudah sampai memikirkan pendidikan Luna, Ma?" Ayuning terkesiap mendengar rencana Gagah.


"Iya, Yu. Tidak apa-apa, biar Airin yakin dengan kesungguhan hati Gagah. Dan Gagah membuktikan jika dia tidak hanya menyukai Airin, tapi juga pada anaknya." Widya setuju dengan keputusan Gagah yang memperhatikan Luna seperti anak kandungnya sendiri. Hal itu sangat baik, untuk hubungan Gagah dan calon anak sambungnya itu ke depannya.


"Luna memang dekat sekali sama Gagah, lho, Ma. Waktu makan malam kemarin saja, Luna juga maunya nempel terus sama Gagah. Sudah cocok sih, Gagah itu jadi Papa." Ayuning menceritakan kedekatan antara Gagah dan Luna yang dia tangkap saat pertemuan makan malam bersama beberapa waktu lalu.


"Gagah memang sengaja mendekati Luna agar hati Airin mudah luluh, Yu." jawab Widya.


"Iya, memang benar begitu, Ma." Ayuning pun setuju dengan sikap Gagah pada Luna.


***


Sabtu pagi, Gagah bersama rombongan terbang ke Yogyakarta sekitar pu kul 07.40 menit. Hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam saja, mereka sudah sampai di Yogyakarta International Airport menggunakan maskapai penerbangan nomer satu di Indonesia.


Mereka berenam menggunakan dua buah taksi untuk menuju ke rumah orang tua Airin. Gagah berada satu mobil dengan Airin, Widya dan Luna. Sementara satu taksi lagi membawa Tante Mira dan Feby.


"Setahun berapa kali kamu pulang ke Jogya, Rin?" tanya Widya saat dalam perjalanan menuju rumah Airin.


"Biasanya hanya setahun sekali, Bu." jawab Airin. Karena dia dan Rey sama-sama bekerja. Dia harus membagi waktu berkunjung ke rumah orang tuanya dan ke rumah mertuanya. Jika lebaran tahun ini dia pulang ke rumah orang tuanya, berarti saat mengambil cuti kerja nanti, dia dan Rey akan berkunjung ke rumah orang tua Rey. Begitu juga sebaliknya. Rey dan Airin selalu menyempatkan diri menemui orang tuanya dan orang tua Rey satu tahun sekali.


"Luna senang tidak ingin bertemu dengan Nenek?" Widya bertanya pada Luna yang sedang bernyanyi di pangkuan Gagah yang duduk di kursi depan.


"Cenang, Nek." sahut Luna, "Om, nanti cali ikan di kolam, ya, Om!" Luna mengajak Gagah untuk memancing di kolam pemancingan ikan.


"Kenapa ikannya dicari? Ikannya 'kan ada di kolam. Nanti kita lihat saja ikannya lalu beri makan ikan hiasnya." Gagah menduga kolam yang dimaksud oleh Luna adalah kolam di depan rumah yang berisi ikan hias.


"Ikannya ndak diliat, Om! Ikannya diambil telus digoleng cama Mama cama Nenek buat makan." Luna menceritakan kebiasaannya saat bersama Rey dulu. Setelah mendapat ikan dari hasil pancingan, Rey akan membawa hasil pancingannya itu ke rumah, lalu Airin dan Ibu Heny yang memasak ikan hasil pancingan itu untuk dimakan bersama keluarganya.


"Kok' ikannya digoreng? Kasihan ikannya cantik-cantik harus digoreng," ujar Gagah.


"Itu ikan dari kolam pemancingan ikan. Bukan ikan hias di kolam." Airin menjawab pertanyaan Gagah, karena Luna dan Gagah sama-sama tidak mengerti maksud dari lawan bicara mereka.


"Oh, pemancingan ikan ..." Gagah menganggukkan kepala tanda mengerti maksud Luna.


"Iya, Om." sahut Luna.


"Om kira ikan hias yang digoreng lalu dimakan Luna." Gagah berseloroh lalu menciumi pipi Luna hingga Luna terkekeh kegelian.


Momen kedekatan dan kemesraan Luna dan Gagah tentu saja tidak luput dari perhatian Widya juga Airin. Kedua orang wanita dari dua generasi itu sama-sama mengulum senyuman, merasa senang melihat keakraban Luna dan Gagah, terlebih Airin. Airin senang, anaknya selalu riang sejak mengenal Gagah. Luna juga tidak pernah rewel mencari Rey, karena Rey tidak pernah pulang. Justru sekarang ini, Gagah lah yang seperti mengisi hari-hari Luna sehingga membuat Luna menjadi ceria.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2