
"Rin, Airin ...!"
Mata Airin hampir saja terpejam ketika ia mendengar suara Widya memanggilnya dari luar kamar Luna. Airin sedang menidurkan Luna, hingga membuat dirinya ikut mengantuk, dan mungkin saja terlelap jika Mama mertuanya itu tidak memanggil namanya.
Airin bangkit dan turun dari tempat tidur Luna. Ia beranjak menuju pintu kamar untuk membukakan pintu untuk Widya.
"Airin, Papa baru telepon, kata Gagah, Pak Bintang meninggal. Apa kamu mau ikut Mama melayat ke sana?" tanya Widya.
"Innalillahi Wainnaillahi Roji'un ..." ucap Airin tak menduga orang yang ingin ditemui suaminya itu ternyata tutup usia.
"Kamu mau ikut ke sana?" Widya menawarkan pada Airin.
"Aku mau ikut, Ma. Tapi, Luna baru saja tertidur. Kalau nanti bangun lalu aku tidak ada di sini, aku takut nanti dia nangis, Ma. Enaknya gimana, ya, Ma?" tanya Airin bingung. Sebenarnya ia ingin ikut bertakziah menemani Mama mertuanya, apalagi orang yang meninggal adalah pemilik perusahaan di mana suaminya bekerja. Tapi, ia tidak mungkin meninggalkan Luna yang sedang tidur. Luna pasti akan menangis jika menyadari tidak ada dirinya saat Luna terbangun nanti, terkecuali jika ada Tante Mira yang menjaga Luna.
"Ya sudah, kalau memang Luna sedang tidur kamu tidak usah ikut ke sana." Widya dapat mengerti dan tidak akan memaksa Airin untuk ikut bertakziah.
"Mama ..." Suara Luna terdengar memanggil Airin.
Airin menoleh ke arah tempat tidur Luna. Anaknya itu seperti menyadari jika Airin beranjak meninggalkan Luna hingga membuat Luna terbangun.
"Luna bangun?" Widya pun menoleh ke arah Luna tidur.
Airin berjalan menghampiri Luna. "Luna mau bobo lagi? Mama sama Nenek mau pergi, apa Luna mau di sini ditemani Bibi?" tanya Airin.
"Mama mau ke mana?" tanya Luna dengan tubuh menggeliat.
"Mama sama Nenek mau melayat orang yang meninggal. Luna di sini saja, ya!?" Airin membujuk agar Luna mau dia tinggal sebentar.
"Luna ikut ..." Luna bangkit dari tidurnya. Dia tidak ingin ditinggal sendiri di rumah itu tanpa ada Mamanya di dekatnya.
"Sebaiknya jangan bawa Luna, Rin. Kasihan mengajak anak kecil melayat orang meninggal." Widya tak tega jika Luna harus ikut datang melayat ke tempat orang meninggal.
"Luna, Mama sama Nenek mau melayat, mau ke makam. Sebaiknya Luna di sini saja, nanti Bibi yang menemani Luna di sini." Airin masih berusaha membujuk Luna.
"Ndak mau, Luna mau ikut Mama cama Nenek." Luna bersikukuh dengan pendiriannya. Dia merengek ingin ikut dengan Mamanya.
"Ya sudah, sebaiknya kamu tidak usah ke sana, Rin. Kasihan kalau Luna ikut ke sana, takut sawan." Widya khawatir.
"Maaf, ya, Ma." sesal Airin karena tidak dapat pergi sesuai dengan keinginan Widya.
"Tidak apa-apa, ada Papa, Mama dan Gagah. Itu sudah cukup untuk mewakili keluarga kita," ujar Widya memaklumi, "Mama berangkat dulu kalau begitu, Rin. Assalamualaikum ..." Widya berjalan ke arah pintu untuk meninggalkan kamar Luna.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ..." sambut Airin, lalu ia memperbaiki posisi tidur Luna karena ia ingin menidurkan putrinya kembali, sebab Luna baru sebentar tertidur.
***
Bersama kedua orang tuanya, Gagah ikut mengantar Bintang Gumilang ke tempat peristirahat terakhirnya. Sementara Florencia memilih tak mendampingi sang Mama yang terpu kul dengan kepergian Bintang.
Di antara anggota keluarga Bintang, mungkin hanya Farah dan Gadis, anak bungsu Bintang yang terlihat berduka. Sementara kedua adik tiri Bintang beserta istri terlihat hanya bersandiwara memasang wajah sedih. Mereka begitu hebat melakonkan peran berkabung hingga menitikkan air mata palsu. Karena saat Bintang hidup, mereka berdua selalu bertentangan dengan Bintang. Bahkan mungkin mereka merasa gembira dan bersuka cita atas kepergian Bintang untuk selama-lamanya
Gagah masih belum bisa bicara banyak dengan Farah, apalagi bertemu dengan Florencia. Dia masih belum dapat kejelasan akan hal yang menyebabkan Bintang meninggal dunia. Saat ini, Farah masih berduka, untuk bertanya tentang apa yang terjadi, dan apa yang ingin dibicarakan Bintang terakhir kali padanya pun, Gagah tak sampai hati. Apalagi kedua adik tiri Bintang selalu mengawasinya saat ia berdekatan dengan Farah.
"Bu Farah, saya dan istri sekali lagi menyampaikan duka cita yang sedalamnya atas kepergian Almarhum. Suatu berita yang sangat mengejutkan. Tapi, saya yakin ada hikmah dalam kejadian ini. Saya percaya Ibu dan anak-anak Ibu akan menjadi kuat dan tabah dalam menghadapi musibah ini." Prasetyo yang didampingi Widya dan Gagah kembali menyampaikan rasa belasungkawanya setelah acara pemakaman Bintang selesai.
"Terima kasih, Pak Pras, Bu Widya." lirih Farah mengusap air mata yang tak juga berhenti menetes di pipinya.
"Bu Farah yang sabar, ya! Jika Bu Farah butuh teman untuk bertukar pikiran, Bu Farah bisa datang ke rumah kami." Widya mengusap punggung Farah, mencoba menguatkan dan memberi dukungan moril kepada Farah.
Farah hanya menganggukkan kepala menanggapi ucapan Widya.
"Oh ya, Flo sama sekali tidak terlihat. Di mana dia?" Prasetyo baru menyadari ketidakhadiran Florencia sebagai putri sulung Bintang yang tak ada di rumah ataupun di pemakaman.
"Kak Flo tidak mau keluar dari kamar, Om. Sejak tahu Papa meninggal, Kak Flo mengurung diri di kamar. Mungkin Kak Flo syok karena Kak Flo yang membuat Papa jadi meninggal," tuding Gadis.
Perkataan Gadis sontak membuat Gagah dan kedua orang tuanya terkesiap. Ungkapan yang diucapkan Gadis membuat mereka menduga telah terjadi pertengkaran yang menyebabkan kondisi Bintang drop.
"Hmmm, kami permisi dulu, Bu Farah. Insya Allah saya dan Gagah akan hadir nanti malam." Merasakan ada pertikaian keluarga yang menyebabkan Bintang meninggal, Prasetyo langsung berpamitan, dan berjanji akan datang di acara tahlil malam nanti yang dilaksanakan di rumah duka.
"Sekali lagi terima kasih, Pak Pras, Bu Widya," sahut Farah. Dia lalu menoleh ke arah Gagah. Sebenarnya ada yang ingin ia sampaikan pada Gagah, namun saat ini dia merasa belum sanggup untuk banyak berkata-kata.
"Gagah, ada yang ingin Ibu sampaikan. Tapi, mungkin tidak saat ini," ucap Farah parau.
"Saya mengerti, Bu. Ibu butuh waktu untuk menenangkan diri Ibu. Jika memang Ibu sudah siap berbicara dengan saya, Ibu bisa segera menghubungi saya." Gagah cukup memahami kedukaan Farah, sehingga ia tidak ingin memaksa Farah untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, meskipun sejujurnya dirinya pun merasa penasaran apa yang ingin disampaikan Bintang kepadanya sebelum beliau meninggal.
"Terima kasih, Gagah." jawab Farah.
"Gadis, tolong jaga Mamamu." Gagah menepuk pundak Gadis, wanita belia yang masih duduk di bangku SMA itu merupakan putri bungsu pasangan Bintang dan Farah.
"Iya, Kak." sahut Gadis.
"Saya juga pamit, Bu. Assalamualaikum ..." Karena harus menyelesaikan pekerjaan di kantor dan tentu saja banyak yang harus ia diskusikan dengan dewan direksi tentang meninggalnya Bintang, yang pasti akan berimbas pada perusahaan, Gagah pun akhirnya berpamitan.
"Waalaikumsalam ..." sahut Farah dan Gadis sebelum akhirnya Gagah dan kedua orang tua Gagah pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
***
"Sudah pulang, Ma?" Saat Airin menuruni anak tangga, Airin melihat Widya keluar dari dalam kamar.
"Sudah dari lima belas menit lalu, Rin. Ini baru selesai mandi," sahut Widya.
"Luna juga udah mandi, Nek." Luna yang bergandengan tangan dengan Airin ikut menimpali ucapan Widya.
"Oh, Luna sudah mandi juga, ya? Pantas saja sudah cantik dan wangi." Widya menyambut Luna di bawah tangga.
"Bagaimana tadi, Ma? Pak Bintang meninggal karena apa?" tanya Airin.
"Kalau penyebab pasti, kenapa kondisi Pak Bintang drop, kami juga belum tahu, Rin. Tapi Pak Bintang memang bermasalah dengan jantungnya, karena itulah beliau menyerahkan perusahaan kepada Gagah untuk diurus dan kelola sampai anak-anak Pak Bintang mampu menghandle sendiri perusahaan itu. " Widya menjelaskan, "Rin, Mama mau bicara, kita bicara di ruang keluarga saja di atas." Widya ingin berdiskusi dengan Airin dan memilih ruang keluarga untuk berbincang.
"Baik, Ma. Aku mau ambilkan makan untuk Luna dulu, Ma." ujar Airin.
"Suruh Junah saja antar makanan Luna ke atas, Rin." kata Widya, "Jun, Junah ...!" Widya memanggil salah satu ART nya.
"Saya, Bu?" Tak menunggu waktu lama Bi Junah keluar dari arah dapur.
"Jun, siapkan makan untuk Luna dan bawa ke ruang keluarga di atas!" Widya memberi perintah pada Bi Junah.
"Baik, Bu." jawab Bi Junah.
"Luna mau liat ikan, Ma." Sementara Luna mengatakan dirinya ingin makan sambil melihat ikan di aquarium di teras samping rumah.
"Luna makan sama Bi Junah dulu, ya! Mama sama Nenek mau bicara di atas." Airin membujuk Luna agar mau makan bersama Bi Junah, dan Luna menganggukkan kepala menyetujui.
"Ayo, sini Neng Luna sama Bijun ..." Bi Junah mengulurkan tangannya pada Luna yang disambut langsung oleh bocah cilik itu.
"Saya titip Luna dulu, Bi. Maaf merepotkan," ucapan terima kasih langsung diucapkan oleh Airin pada Bi Junah, karena ART di rumah mertuanya itu membantunya menjaga Luna.
"Tidak apa-apa, Mbak." sahut Bi Junah, "Ayo, ambil maemnya dulu nanti kita lihat ikan." Bi Junah langsung membawa Luna ke arah dapur untuk mengambil nasi dan lauk untuk Luna, sementara Airin sendiri bersama Widya naik ke lantai atas menuju ruang keluarga yang berada di sebelah kamar Luna.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️