
Gadis tak bisa mengontrol degup jantungnya yang semakin kencang, untung saja suara detaknya itu hanya bisa ia rasakan tak sampai didengar oleh Haikal. Seandainya Haikal bisa mendengar suara detak jantungnya yang begitu cepat dan kencang ketika ia berhadapan dengan Haikal, betapa malunya ia pada pria itu.
Akhirnya Gadis memang menuruti apa yang diminta oleh Haikal, untuk pertama kalinya ia mengikuti apa yang diarahkan Haikal padanya, sehingga kini mereka berada di sebuah restoran cepat saji. Gadis memesan nasi, fried chicken juga french fries, sedangkan Luna meminta burger dan ice cream. Sementara Haikal tak memesan makanan, hanya menyupapi Luna saja.
Gadis memperhatikan Haikal yang terlihat sabar mengurus Luna, hingga membuatnya tak menyentuh makanan di hadapannya, hanya menyesap minuman yang ia pesan.
"Kak Adis ndak dimakan chickennya?" Ternyata sikap Gadis diperhatikan oleh Luna, membuat bocah cilik itu bertanya, karena melihat Gadis tak segera menyantap makanan di hadapannya.
Haikal langsung menoleh ke arah Gadis ketika mendengar ucapan Luna. Terlihat makanan Gadis masih utuh tak tersentuh secuil pun.
Gadis seketika terkesiap saat kedua orang di hadapannya kini mengarahkan pandangan kepadanya.
"Hmmmm, Luna mau chickennya?" Untuk menyamarkan jika dirinya tadi asyik memperhatikan Haikal, Gadis menawarkan ayam goreng tepung itu pada Luna.
"Ndak, Luna mau bulgel aja," sahut Luna menggelengkan kepala sambil menunjuk burger kesukaannya yang sedang dipegang Haikal.
"Benar tidak mau chicken ini? Ini enak, lho." Gadis sengaja mengajak Luna berkomunikasi agar rasa groginya pada Haikal mengikis.
"Ndak, Luna udah kenyang. Kacih Om Ikal aja, Om Ikal 'kan belum makan," celetuk Luna.
Di luar dugaan Gadis, Luna justru menyuruhnya memberikan ayam goreng yang tadi ia tawarkan ke Luna pada Haikal. Sudah pasti hal itu semakin membuat Gadis salah tingkah dengan wajah bersemu merah, menyadari jika ternyata Luna justru membuatnya serba salah dengan celoteh lugunya.
Haikal juga terkesiap dengan celotehan keponakannya yang membuat suasana menjadi kaku dan serba canggung. Tatapannya kembali mengarah pada Gadis yang sedang memandangnya, namun Gadis langsung memu tus pandangan darinya dengan semu merah di wajahnya.
"Luna ayo cepat dihabiskan burgernya, nanti Mama kelamaan tunggu Luna, ini waktu Luna bobo, kan?" Haikal sengaja mengatakan hal tersebut agar Gadis segera menghabiskan makanannya. Dia juga tidak ingin berlama-lama berada dalam situasi yang tidak nyaman seperti saat ini. Baginya mending berkutat di meja kerja daripada menemani Gadis pergi dengan segala macam tingkah laku Gadis yang membingungkan baginya.
"Kak Adis ndak dimakan chickennya, Om." Luna protes karena hanya dirinya yang ditegur Haikal, sementara Gadis yang sama sekali tidak menyentuh makanan tidak ditegur Haikal. Kali ini Luna begitu cerewet dari biasanya. Celetukan bocah cilik itu justru membuat dua orang dewasa di hadapannya benar-benar serba salah.
"Sebaiknya Mbak Gadis habiskan makanannya. Saya takut Mbak Airin mencari Luna, sebab ini sudah masuk waktu istirahat untuk Luna." Mendengar protes dari keponakannya, Haikal akhirnya menegur Gadis juga.
"Kak Haikal tidak makan?" tanya Gadis, sebab Haikal tidak ikut memesan makanan.
"Saya nanti saja makannya, Mbak. Mbak Gadis saja dulu," jawab Haikal.
"Ya sudah, sebaiknya kita kembali ke kantor saja kalau Luna mau istirahat." Gadis menghabiskan minumannya, dan mengambil tissue yang tersedia di baki untuk mengelap sisa minuman yang menempel di bibirnya.
"Ini mau dibungkus saja, Mbak?" tanya Haikal.
"Tidak usah, tinggalkan saja," sahut Gadis langsung bangkit dari duduknya.
"Tapi Mbak Gadis belum makan." Haikal ingin Gadis menghabiskan makanannya dulu sebelum meninggalkan restoran itu.
"Tidak enak makan diburu-buru." Gadis memberi alasan jika ia tidak nyaman makan dikejar waktu sebab Haikal menyebut harus secepatnya membawa Luna kembali kepada Airin.
"Oh, maksud saya bukan seperti itu, Mbak." Haikal merasa tidak enak karena ucapannya tadi justru membuat Gadis mengurungkan niat makannya. "Saya akan menunggu Mbak Gadis menghabiskan makanannya dulu." Haikal mengklarifikasi agar Gadis tidak salah paham.
"Tidak usah, lagipula tidak enak aku makan sendirian." Gadis melihat burger yang dimakan Luna sudah hampir habis.
"Kalau begitu saya temani Mbak makan, asal Mbak menghabiskan makanan punya Mbak juga." Haikal berusaha menahan Gadis. Dia tidak ingin disalahkan karena Gadis telat makan apalagi sampai mogok makan.
"Aku tidak mau disalahkan karena membawa Luna terlalu lama." Gadis beralasan dan tetap menolak untuk menghabiskan makanan yang sudah ia pesan
"Jangan membuang makanan seperti ini, Mbak. Itu tidak baik! Di luar sana banyak orang kelaparan yang tidak seberuntung Mbak Gadis, bisa makan enak dan hidup berkecukupan." Haikal menasehati Gadis, Haikal menganggap sikap Gadis memang sangat kekanakkan dan ia harus sabar menghadapi bosnya itu.
"Saya temani Mbak Gadis makan." Melihat Gadis tidak marah dan tersinggung dengan ucapannya, Haikal kembali membujuk agar Gadis mau makan.
"Saya pesankan makanan yang baru untuk Mbak Gadis, biar yang itu untuk saya." Haikal menaruh sisa burger milik Luna di atas wadah kertas, lalu bangkit dan berjalan untuk memesan makanan kembali tanpa menunggu persetujuan dari Gadis.
Bola mata Gadis mengekor gerakan langkah Haikal yang ingin memesan makanan untuknya. Gadis menopang dagu dengan tangannya. Tanpa ia sadari sudut bibirnya mengembangkan senyuman. Sikap Haikal begitu manis ia rasakan. Tidak hanya pada Luna, ternyata terhadapnya pun Haikal bersikap sangat sabar.
Rasa kagum terhadap Haikal makin menguat di hati Gadis, apalagi sejauh ini Haikal selalu bersikap sopan terhadapnya. Rasanya senang jika terus bisa berlama-lama dengan Haikal. Gadis lalu teringat pada bocah cilik di hadapannya, terlihat Luna sedang menghabiskan burgernya.
"Luna, Luna senang tidak pergi sama Kak Gadis dan Om Haikal?" tanya Gadis sambil mengelap mayones yang tertinggal di bibir Luna.
"Cenang, tapi Kak Adis cama Om Ikal jangan belantem telus ..." sahut Luna dengan mulut penuh dengan makanan.
"Nanti Kak Gadis main ke rumah Luna boleh, tidak?" tanya Gadis kembali. Tentu saja itu hanya modus agar dia bisa bertemu dengan Haikal jika hari libur kantor.
"Boleh, Kak." jawab Luna dengan menganggukkan kepala.
"Ya sudah, nanti Kak Gadis main ke rumah Luna, ya!?" ujar Gadis dengan senyum-senyum tersipu.
"Iya, Kak." Luna kembali mengangguk senang karena Gadis berjanji akan mengunjunginya, bocah itu sama sekali tidak tahu jika tujuan Gadis ingin berkunjung adalah agar bisa bertemu dengan Haikal. Namun, Gadis tidak mengetahui jika Haikal tidak tinggal di rumah Prasetyo. Sementara dia menganggap jika Haikal ikut tinggal di rumah itu.
"Ini makanannya, Mbak. Mbak Gadis makan yang ini saja masih hangat." Haikal sudah selesai memesan makanan. Dia menyajikan makanan yang sama dengan yang dipesan oleh Gadis sebelumnya.
"Makasih, Kak." Gadis lalu menyodorkan pesanan pertamanya untuk Haikal. "Kak Haikal tidak apa-apa makan bekas aku?" tanya Gadis.
"Belum Mbak makan juga, kan?!" Haikal tidak mempermasalahkan, sebab makanan itu belum disentuh oleh Gadis.
"Kalau di luar kantor Kak Haikal jangan panggil aku Mbak, dong!" protes Gadis tak nyaman dipanggil dengan sebutan 'Mbak' oleh Haikal.
__ADS_1
"Lalu saya harus panggil apa?" tanya Haikal bingung.
"Panggil nama saja, deh." Gadis mulai menyantap makanan yang baru dipesankan oleh Haikal.
"Maaf, Mbak. Tidak enak kalau hanya panggil nama saja." Haikal merasa kurang sopan jika dia memanggil Gadis tanpa embel-embel kata 'Mbak' di depannya.
"Hanya di luar kantor saja kok, Kak." ujar Gadis.
Haikal tak langsung menjawab, dia bingung dengan permintaan Gadis kali ini.
"Ya sudah, cepat dimakan dulu, katanya takut Luna dicari." Gadis menyuruh Haikal cepat menghabiskan makanannya, sebab Haikal hanya diam saja mendengar permintaannya tadi.
***
Sambil menikmati su su formula dari botol su su, Luna mendengarkan suara merdu Sang Mama yang melantunkan sholawat untuk membuatnya tertidur. Matanya menatap langit-langit kamar orang tuanya dan juga terpejam.
"Ma ..." Luna melepas nip ple botol su sunya.
"Kenapa, Sayang? Kok, Luna belum bobo?" Airin mengusap kening Luna.
"Kak Adis pacalan cama Om Ikal, Ma." Luna tiba-tiba teringat kejadian siang tadi.
Airin membulatkan matanya mendengar ucapan anaknya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Gadis dan Haikal sampai Luna berpendapat seperti itu.
"Luna masih kecil, tidak boleh bicara seperti itu!" tegur Airin, dia tidak ingin anaknya membahas hal yang tidak sepentasnya dibicarakan oleh anaknya.
Luna menoleh dan menatap Mamanya. Dia tak memahami apa yang dikatakan Mamanya.
"Om Ikal pegang-pegang tangan Kak Adis," lanjut Luna, tetap membahas tentang Haikal dan Gadis.
Airin kembali terbelalak, tak menyangka jika adiknya berani memegang tangan Gadis. Membuat dirinya makin penasaran akan hal yang terjadi pada Haikal dan Gadis.
"Kak Adis cama Om Ikal belantem kayak Papa cama Mama, telus Kak Adis malah-malah telus pelgi, telus Om Ikal pegang tangan Kak Adis, telus malahnya ilang." Tanpa diminta oleh Airin, Luna menceritakan apa yang terjadi pada Haikal dan Gadis menurut versinya dengan bahasa yang amburadul.
"Ayo bobo, Luna! Jangan terus bicara!" Airin segera menyuruh anaknya tidur. Karena ia ingin segera menghubungi adiknya, ingin meminta klarifikasi dari adiknya.
Sepuluh menit kemudian, Luna sudah benar-benar terlelap. Airin lalu bangkit mengambil ponselnya untuk menghubungi adiknya.
"Assalamualaikum, ada apa, Mbak?" Saat sambungan teleponnya terhubung, suara Haikal terdengar di telinga Airin.
"Waalaikumsalam ... Kal, Luna bilang kamu pegang-pegang tangan Gadis. Apa itu benar?" Airin langsung menyelidik dengan nada ketus.
"Kal, kamu jangan kurang ajar begitu pada Gadis! Kamu jangan bikin malu kakak, jangan bikin malu kakak ipar kamu! Bagaimana kalau orang tua Gadis tidak terima kamu pegang-pegang anaknya!? Kamu harus ingat siapa kamu, bagaimana keluar kita, Kal. Jangan terbawa perasaan saat di dekat Gadis, Mbak tidak ingin kamu terjebak karena asmara, Kal." Airin menegur keras adiknya, sebab Airin takut Haikal lepas kendali.
"Maaf, Mbak. Itu tidak seperti yang Mbak Airin pikirkan," tepis Haikal menyangkal tuduhan Airin, "Tadi aku hanya menahan Gadis agar tidak terus marah." Haikal memberi alasan atas apa yang dilakukannya.
Airin mendesah, dia hanya khawatir adiknya benar terlibat cinta dengan Gadis.
"Ya sudah, jangan lagi mengambil tindakan yang akan menimbulkan masalah!"
"Ada apa, Ay?" Suara Gagah terdengar dari pintu kamar, membuat Airin terkesiap.
"Hmmm, Mbak tutup dulu teleponnya, Kal. Assalamualaikum." Mengetahui suaminya sudah kembali ke kamar, Airin berniat mengakhiri panggilan teleponnya.
"Waalaikumsalam ...."
***
Widya memperhatikan Airin yang sedang menemani Luna bermain di teras samping rumahnya. Rindangnya pepohonan di taman samping rumah membuat nyaman jika duduk bersantai di teras samping rumah.
Seperti inilah kegiatan menantunya sejak resign dari pekerjaannya. Sebenarnya ia merasa kasihan melihat Airin, ia yakin ada kejenuhan di hati Airin menjalani aktivitasnya saat ini, hanya diam di rumah, mengurus Luna dan menunggu suami pulang dari kantor.
Widya berjalan mendekati Airin lalu duduk di samping Airin. Dia ingin mengajak menantunya itu keluar rumah untuk refreshing menghilangkan kejenuhan.
"Rin, ikut sama Mama, yuk!"
Airin menoleh ke arah Widya yang baru saja duduk di sebelahnya. "Mau ke mana, Ma?" tanya Airin.
"Cari udara di luar, refreshing, biar kamu tidak jenuh di rumah terus," ujar Widya mengatakan alasannya mengajak Airin pergi.
"Aku tidak jenuh, kok, Ma." Meskipun apa yang dikatakan oleh Mama mertuanya itu benar, tidak mungkin Airin mengakui ada rasa jenuh yang kadang menghampiri karena tidak ada aktivitas yang ia lakukan sehari-harinya selain mengurus anak dan suami. Apalagi sebelumnya Airin adalah wanita pekerja yang terbiasa dengan kesibukan di kantor.
"Kamu perlu refresing, Rin. Kita ke rumah Bagus saja, main ke tempat Ayu." Widya mengajak Airin mengunjungi rumah anak pertamanya. "Kamu mau, tidak?" tanyanya kemudian.
"Ke rumah Mbak Ayu, Mah? Hmmm, boleh, Ma. Aku belum tahu rumah Mas Bagus dan Mbak Ayu." Airin menyetujui ajakan Mam mertuanya, sebab selama ia menikah dengan Gagah, dia belum pernah berkunjung ke rumah kakak pertama suaminya.
"Ya sudah, kamu bersiap dulu, deh. Mama juga mau ganti pakaian." Widya kembali bangkit dan kembali masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Luna, ayo mau ikut, tidak? Kita mau main ke rumahnya Ica." Airin mengajak Luna yang masih asik dengan mainannya, untuk segera merapihkan mainannya karena mereka akan pergi.
Hanya lima belas menit waktu yang dibutuhkanoleh Airin dan Widya untuk bersiap hingga kini mereka sudah berada dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Mamat menuju rumah Bagus.
__ADS_1
"Rumah Mbak Ayu jauh dari sini, Ma?" tanya Airin.
"Sekitar setengah jam perjalanan dari sini, Rin." jawab Widya. "Kalau rumah Putri lebih jauh, hampir satu jam dari rumah," sambung Widya menerangkan.
"Pantas Mbak Ayu lebih cepat sampai kalau ada acara di rumah, Ma." ujar Airin terkekeh.
"Sebenarnya Gagah punya apartemen di dekat rumah Bagus, Rin. Gagah pernah cerita sama kamu?" tanya Widya menoleh ke arah menantunya.
"Kalau tidak salah, Mas Gagah pernah bilang, kok, Ma." Airin lupa-lupa ingat.
"Berarti kamu belum pernah diajak ke sana, dong?" Awalnya Widya berpikir Gagah sudah pernah membawa Airin ke apatemen pribadi Gagah.
"Belum, Ma." sahut Airin jujur. Dia juga tidak mempermasalahkan jika Gagah tidak membawanya ke apartemen pribadi Gagah, sebab di rumah mertuanya pun ia sudah sangat bahagia. Jika sebagian orang merasa tinggal bersama mertua bagaikan di neraka, bagi dirinya justru merasa bagaikan berada di surga. Bagaimana tidak? Anggota keluarga mertuanya itu sangat baik dan melimpahkan kasih sayang kepadanya juga kepada anaknya.
"Awalnya Gagah berencana akan pindah ke sana kalau sudah menikah nanti. Tapi, Mama senang akhirnya Gagah mengurungkan niatnya itu. Mama senang ada kamu di rumah yang menemani Mama, Rin." Widya mengusap lengan Airin. Tak bisa dipungkiri, karakter menantu yang ia inginkan untuk mendampingi Gagah ada pada diri Airin. Airin dapat merubah sikap Gagah menjadi lebih hangat terhadap keluarga terutama pada kedua orang tua.
"Oh ya, Ma. Apa dulu Mama pernah kasih foto aku ke Mas Gagah?" Airin tiba-tiba ingat soal fotonya yang dibilang Gagah pernah dirobek oleh suaminya itu.
"Foto? Foto apa, Rin?" Widya sendiri sudah melupakan kejadian dirinya menunjukkan foto Airin pada Gagah.
"Mas Gagah bilang, waktu Mama ingin menjodohkan aku dengan Mas Gagah, Mama pernah kasih tunjuk foto aku lalu fotoku itu disobek sama Mas Gagah." Airin menerangkan maksud yang ia tanyakan pada Widya.
"Gagah sobek foto kamu? Kata siapa, Rin? Mama ingat Mama pernah kasih foto kamu itu, tapi ..." Widya tidak tahu jika Gagah merobek foto Airin, "Mama tidak tahu kalau Gagah merobek foto kamu. Waktu itu Mama tinggalkan foto itu di meja kerja Gagah." Widya akhirnya mengingat jelas apa yang terjadi kala itu. Ketika ia mengajak Ayuning menemui Gagah di kantor BDS untuk memperkenalkan calon yang ingin ia jodohkan dengan Gagah.
"Mas Gagah yang bilang, Ma. Mas bilang Mama juga tahu kalau Mas Gagah sobek foto aku karena Mas Gagah tidak suka Mama terus menjodohkan Mas Gagah dengan aku," tutur Airin.
"Mama tidak tahu soal Gagah merobek foto kamu, lho, Rin. Mama malah baru dengar sekarang dari kamu." Widya justru kaget mendengar Gagah separah itu sampai mengoyak foto Airin.
Widya menghempas nafas kesal. Dia merasa kecewa dengan perbuatan putranya. Dia tak habis pikir kenapa Gagah sampai mengatakan hal yang tidak seharusnya disampaikan pada Airin? Apakah Gagah tidak memikirkan dampak dari pengakuannya itu?
"Gagah benar-benar keterlaluan. Makanya kualat sekarang, jadi bucin sama kamu. Mama doakan selama-lamanya dia bucin sama kamu, Rin." Widya mengungkap rasa kesalnya dengan mengumpat anaknya.
Tak menjadi marah karena kelakuan sang suami, Airin justru menahan tawa melihat sang Mama mertua membelanya bahkan mengutuk Gagah akan terus menerus bucin kepadanya. Siapa yang tidak ingin diperlakukan dan disayang pria seperti Gagah? Tampan, baik dan juga mapan. Wanita beruntunglah yang bisa mendapatkan hal itu dari Gagah.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Pak Mamat sampai di rumah Bagus.
"Luna ...!" Suara Clarissa terdengar berteriak dari arah teras memanggil Luna ketika ia melihat Luna dibantu Neneknya turun dari mobil.
"Ica ...!" Luna berlari mendekat ke arah Clarissa.
"Assalamualaikum ..." Airin dan Widya menyapa Ayuning yang menyambut kedatangan mereka di teras.
"Waalaikumsalam ..." Ayuning menyalami dan memeluk Mama mertuanya
"Hai, Rin. Selamat datang di rumahku, akhirnya kamu mampir juga ke sini." Giliran Airin yang dipeluk Ayuning.
"Iya, Mbak. Kalau nunggu Mas Gagah, entah kapan bisa berkunjung kemari. Untung saja Mama mengajakku ke sini." Airin beruntung diajak sang Mama mertua.
"Ayo, masuk, Ma. Rin." Ayuning mengajak Widya dan Airin masuk ke dalam rumahnya.
"Mama sama Airin sudah malam belum?" tanya Ayuning.
"Sudah, Yu." jawab Widya.
"Tumben Mama bawa Airin kemari, Ma?" Ayuning sebelumnya sudah dikabari Widya soal rencana kedatangannya.
"Mama kasihan sama Airin, Yu. Barangkali dia jenuh di rumah terus, makanya Mama ajak Airin ke sini." Widya mengatakan tujuannya membawa Airin ke rumah Bagus.
"Ma, Ica mau main cama Luna di Kamal ya, Ma!?" Clarissa meminta ijin mengajak Luna bermain di kamarnya.
"Iya, minta ditemani Mbak Siti sana." Ayuning memberikan ijin pada putrinya. "Aku ambil minum dulu, Ma." Ayuning berjalan ke arah dapur.
Pandangan mata Airin mengedar ke seluruh sudut ruangan. Rumah Bagus tak sebesar dan semewah rumah Prasetyo. Namun dia yakin rumah yang ditempati Ayuning itu berharga milyaran rupiah.
"Rumah ini tadinya punya Gagah, Rin."
Airin terkejut saat mendengar pengakuan sang Mama. Dia tidak tahu jika rumah yang ditempati oleh Bagus ternyata dulu milik Gagah.
"Benar, Ma?" tanya Airin tak percaya.
"Iya, rumah ini dijual, karena dia ingin memperkuat karirnya. Uang penjualan rumah ini sebagian besar dia pakai untuk membeli saham di BDS, dan untuk membeli apartemen pribadinya itu," papar Widya menjelaskan.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1