JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Bukan Dunia Dongeng


__ADS_3

Gagah menyodorkan segelas su su hamil untuk Airin yang sudah kembali ke kamar setelah melaksanakan aktivitas menemani Luna sampai tertidur. Setiap malam sebelum tidur, Gagah selalu menyiapkan su su untuk dikomsumsi Airin sebagai salah satu kebutuhan gizi selama masa kehamilan.


"Terima kasih, Mas." Airin menerima segelas su su hamil dari sang suami lalu meneguknya hingga tak tersisa, setelahnya ia menyerahkan gelas yang telah kosong itu kembali kepada sang suami.


Setelah menaruh gelas kosong di atas nakas, Gagah kemudian bergabung bersama Airin di atas peraduan.


"Apa Haikal sudah punya kekasih di Jogya?" Gagah tertarik membicarakan Haikal dan Gadis kepada istrinya.


Airin menoleh ke arah sang suami saat mendengar pertanyaan Gagah yang menyinggung masalah pribadi adiknya.


"Kenapa memangnya, Mas?" tanya Airin heran karena tiba-tiba suaminya menanyakan status Haikal.


"Hanya ingin tahu saja, dia sudah punya kekasih atau belum?" Gagah tidak langsung memberitahukan soal Gadis yang sempat bertanya-tanya soal Haikal padanya siang tadi.


"Setahuku dulu memang sudah punya pacar, tapi apakah sekarang masih pacaran atau sudah putus, aku tidak tahu, Mas." jawab Airin," Memangnya ada apa, sih, Mas?" tanya Airin penasaran.


Gagah mengembangkan senyuman ketika sang istri justru merasa penasaran dengan kata-katanya tadi. Tangannya lalu melingkar di pundak Airin merengkuh tubuh sang istri.


"Kemarin, waktu Haikal datang ke kantor, dia bertemu dengan Gadis ...."


Airin memutar tubuhnya yang sedang dalam rengkuhan Gagah dengan kedua alis mata terangkat.


"Apa Haikal menggoda Gadis, Mas?" Airin memo tong ucapan Gagah, ia justru curiga jika adiknya menggoda Gadis, layaknya seorang pria terhadap wanita. Apalagi Gadis memang terlihat sangat cantik, bahkan ia sendiri saja sempat takut sang suami akan terpikat terhadap Gadis.


Airin juga pasti tidak akan mendukung jika adiknya itu menyukai Gadis, karena ia sadar diri jika keluarganya hanya orang biasa, bukan dari kalangan orang kaya raya. Meskipun dirinya sendiri mendapatkan suami dari kalangan orang berada, tapi, apa mungkin adiknya juga akan mendapatkan keberuntungan sama dengannya?


"Bukan, tidak seperti itu!" tepis Gagah menampik dugaan Airin, "Justru Gadis yang tanya-tanya tentang Haikal," lanjutnya.


"Gadis tanya soal Haikal? Tanya tentang apa saja, Mas?" Airin makin khawatir, takut jika sampai Gadis tahu posisi yang dipegang oleh adiknya sebagai supervisor di sana adalah karena bantuan Gagah. Dan ia takut hal tersebut akan berimbas pada pekerjaan suaminya.


"Jadi begini ... Siang tadi selesai rapat, aku mendengar keluhan Gadis yang merasa penat harus dibebani dengan urusan pekerjaan. Sampai dia berharap dikirimkan pangeran baik hati yang dapat membantunya mengerjakan tugas-tugasnya, lalu tiba-tiba muncullah Haikal masuk ke dalam ruanganku ..." Gagah menceritakan kenapa ia sampai menanyakan status Haikal.


"Ya ampun, Mas. Kita itu hidup di dunia nyata bukan dunia dongeng atau novel, di mana orang kaya bisa jatuh cinta dan bucin setengah mati sama orang biasa." Bola mata Airin berputar menganggap jika sang suami terlalu berlebihan menganggap apa yang diucapkan Gadis dengan kehadiran Haikal saing berkaitan.


"Aaawww ...!" pekik Airin tiba-tiba saat pipinya dicubit Gagah. "Kok, aku dicubit?" protes Airin merasa tak salah namun dicubit oleh suaminya.


"Kerasa tidak dicubitnya?" Bukannya meminta maaf, Gagah justru terkekeh dan melempar pertanyaan.


"Kerasalah, Mas." Airin mengusap pipi dengan memberengut.


"Nyata tidak cubitannya? Bukan hayalan, kan?" tanya Gagah kembali.


"Kalau begini kerasa tidak sakitnya? Nyata, tidak?" Airin membalas dengan mencubit pinggang Gagah, membuat Gagah tertawa.


"Hahaha ... ternyata kamu orangnya pendendam, ya?" Gagah justru menikmati canda tawa mereka, merasakan kehangatan dalam pernikahan yang selama ini ia harapkan.


"Lagian, aku salah apa malah dicubit?" Airin masih memberengut.


"Aku hanya memastikan jika kita itu hidup di dunia nyata bukan di dongeng atau novel." Gagah mencoba memberi penjelasan kepada Airin alasan dia mencubit pipi Airin.


"Lalu apa hubungannya dengan kita?" tanya Airin.


"Bukankah kisah kita ini seperti dalam sebuah kisah dongeng? Seorang pangeran yang jatuh hati dan menikah dengan wanita baik hati dan sederhana?" Gagah menganggap jika kisah cintanya dengan Airin bagaikan sebuah dongeng.


"Bilang saja aku ini orang yang miskin, gitu!?" Airin kembali salah paham dengan maksud ucapan suaminya.


Kembali Gagah tergelak melihat istrinya yang berubah menjadi sensitif dan cepat merajuk.


"Ya ampun, Ibu hamil sensitif banget, deh. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek," ledek Gagah menanggapi sikap Airin.


"Sudah, deh. Cepat lanjut cerita yang tadi, kenapa Gadis tanya-tanya soal Haikal?" Airin ingin suaminya kembali menceritakan hal yang awalnya mereka perbincangkan.


"Aku saling mengenalkan siapa Haikal dan siapa Gadis, tapi waktu Haikal menyapa Gadis, dia panggil Gadis dengan panggilan 'Bu', dan itu membuat Gadis marah, karena merasa jika dia masih remaja dan bukan ibu-ibu," papar Gagah.


"Ya ampun, Haikal bikin masalah saja!" Airin menggerutu menyesalkan sikap adiknya yang sudah membuat Gadis marah.


"Aku rasa apa yang dikatakan Haikal adalah hal yang wajar, dia hanya berusaha menghormati Gadis sebagai atasannya." Namun, Gagah justru membela adik iparnya itu.


"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?" Airin makin bertambah penasaran.


"Tadi siang Gadis tanya, apakah Haikal kerja di BDS, lalu dia mengira jika Haikal kerja di BDS karena aku yang merekomendasikan," cerita Gagah kemudian.


"Nah, kan!? Aku juga mikirnya Gadis pasti akan curiga kalau Mas yang membantu Haikal naik jabatan," cemas Airin.

__ADS_1


"Tidak usah cemas seperti itu, aku merekomendasikan Haikal naik jabatan tidak sembarangan, lho. Aku juga lihat bagaimana kinerja dia selama ini di BDS cabang Jogya." Gagah menampik jika dia berperan penuh dengan kenaikan posisi Haikal yang awalnya hanya pramuniaga biasa menjadi salah seorang supervisor.


"Lalu, Gadis tanya apa lagi?" tanya Airin kembali.


"Aku ledekin dia, aku sebut jika dia ada hati dengan adikmu." Gagah tertawa mengingat bagaimana Gadis dibuat tak berkutik olehnya siang tadi.


"Mas jangan begitu, kasihan Gadis." Airin tidak suka suaminya menggoda Gadis.


"Hanya iseng saja, kok." bantah Gagah membela diri.


"Jangan iseng, Mas. Bagaimana nanti jika Gadis atau Bu Farah tersinggung dengan sikap Mas yang iseng terhadap Gadis? Aku tidak ingin Mas dan Haikal bermasalah nantinya." Airin tetap tak puas dengan kata-kata Gagah.


"Kamu tenang saja, jangan diambil serius tentang hal ini. Sebaiknya kita istirahat." Gagah merebahkan tubuhnya terlebih dahulu dan merentangkan lengannya, siap untuk menjadi bantal untuk kepala Airin. Airin pun mengikuti apa yang diperintah oleh suaminya, hingga ia merebahkan tubuh dengan berbantalkan lengan kokoh Gagah dan melingkarkan tangan di perut sang suami, mengeratkan pelukan ke tubuh Gagah.


***


Gadis menuruni anak tangga untuk bergabung dengan sang Mama menikmati sarapan pagi. Kehidupan Farah dan keluarganya kini mulai berjalan normal. Perlahan, Farah sudah dapat menerima kepergian suami tercintanya dengan ikhlas, begitu juga dengan Gadis.


Kedua adik tiri Bintang, meskipun mereka tidak mendapatkan bagian dalam perusahaan retail Bintang Departement Store, namun Bintang tidak benar-benar tega terhadap mereka berdua. Kedua adik-adik tirinya mendapatkan rumah tinggal masing-masing senilai empat milyar rupiah dan uang tunai sejumlah satu milyar rupiah untuk modal usaha mereka. Di hadapan notaris dan juga pengacara mereka terpaksa harus berjanji tidak akan mengusik harta peninggalan Bingung Gumilang. Tapi, apakah mereka berdua tidak akan mengganggu di kemudian hari? Farah maupun Gadis tidak dapat menjamin.


"Kamu sarapan dulu sini, Dis." Farah menarik kursi untuk Gadis duduk di depan meja makan dan menyantap sarapan.


"Terima kasih, Ma." Gadis duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh sang Mama.


"Mama sudah buatkan sup asparagus untuk kamu, makanlah mumpung masih hangat." Melihat putri bungsunya harus sibuk belajar dan mengurus perusahaan, Farah merasa kasihan terhadap Gadis, hingga ia berusaha melayani Gadis sebaik mungkin termasuk menyiapkan sarapan untuk Gadis.


"Baunya menggugah selera, Ma." sahut Gadis, kemudian mulai mencoba menikmati sup itu perlahan.


"Apa kamu bisa mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh Gagah?" tanya Farah.


Gadis menganggukkan kepala mengiyakan.


"Kamu pasti capek ya, Nak?" Farah mengusap lengan Gadis. Sebenarnya ia merasa bersalah karena seperti sudah memaksa anaknya terjun ke dunia bisnis terlalu dini.


"Biasa saja, Ma." Walaupun sempat mengeluh lelah, Namun tidak mungkin Gadis mengeluh di hadapan sang Mama.


"Pelan-pelan saja mempelajarinya, Gadis. Jangan terburu-buru." Sama seperti yang dikatakan oleh Gagah, Farah pun meminta anaknya untuk lebih rileks dalam mengurus perusahaan karena masih ada Gagah yang mendampingi mereka.


"Oh ya, Ma. Apa Mama tahu kalau adik dari istrinya Kak Gagah itu karyawan BDS di Jogya?" Tiba-tiba saja, Gadis membahas soal Haikal, pria yang sedikit menyita perhatiannya kepada sang Mama.


"Adik istrinya Gagah? Siapa? Mama tidak tahu," jawab Farah, "Ada apa memangnya dengan adik ipar Gagah? Apa dia melakukan kesalahan dalam pekerjaan?" tanyanya kemudian.


"Mama tidak curiga jika adik iparnya Kak Gagah itu bisa kerja di sana karena pengaruh Kak Gagah?" tanya Gadis mencoba mempengaruhi Mamanya.


Farah mengedikkan bahunya, merasa tak mengerti urusan perusahaan.


"Memang kenapa jika itu karena Gagah? Gagah itu sangat profesional, tidak mungkin melakukan kesalahan dalam mengambil tindakan. Jika Gagah memang mempekerjakan dia, mungkin memang dia mempunyai kemampuan." Farah berkomentar memberikan pendapatnya.


"Hmmm, aku tidak yakin, Ma." bantah Gadis jika Haikal memang punya kemampuan.


"Memangnya kenapa, Dis? Kalau dia tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaan, kenapa kita harus mengusik dia?" Farah tidak mempermasalahkan jika Gagah merekrut adik iparnya untuk bekerja di perusahaan milik sang suami, selama tidak merugikan dan melakukan kesalahan. Farah juga menganggap jika hal seperti itu adalah hal yang wajar.


"Aku belum yakin kalau dia memang punya kemampuan sebagai supervisor BDS di sana ." Gadis tetap mempertahankan asumsinya.


"Sudahlah, Gadis. Jangan mempermasalahkam hal itu, tidak enak jika Gagah sampai mendengar tuduhan kamu itu." Farah menasehati Gadis agar jangan mengusik orang-orang dalam circle Gagah. "Sudah cepat habiskan supnya."


Gadis diam tak ingin berdebat dengan Mamanya, sehingga ia tidak melanjutkan membicarakan tentang Haikal dengan Mamanya.


***


Gadis keluar dari kantor ketika istirahat makan siang. Dia meminta supirnya untuk mengantarnya pergi ke suatu tempat. Dan tempat yang ingin dia kunjungi adalah rumah keluarga Prasetyo untuk menemui Airin.


Sebelumnya ia membeli pizza untuk diberikan pada Luna. Karena dia sendiri sudah mulai akrab dengan anak sambung Gagah itu, bahkan tiap Airin datang bersama Luna ke kantor Gagah, dia selalu mengajak Luna ke ruangannya.


Sampai di rumah Prasetyo, Gadis turun dari mobil kemudian melangkah ke arah teras rumah orang tua Gagah, lalu menekan bel di dekat pintu rumah Presetyo


Tak beberapa lama pintu rumah Prasetyo dibuka dari dalam dan muncullah Bi Junah.


"Assalamualaikum, Bi. Kak Airin sama Luna ada?" sapa Gadis pada Bi Junah.


"Waalaikumsalam ... ini Non Gadis, ya?" Bi Junah mencoba mengingat-ingat wanita belia di depannya, sebab dulu Bintang dan Farah sering berkunjung ke rumah Prasetyo membawa kedua putri mereka.


"Iya, Bi. Bi Jun masih ingat aku, ya?" Gadis menyahut dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Non Gadis sudah besar sekarang, ya? Makin cantik lagi." Bi Junah memperhatikan Gadis dari ujung rambut sampai ujung kaki meskipun kaki.


"Sudah besar, dong, Bi. Kan, tiap hari dikasih makan," canda Gadis, "Kak Airin ada tidak, Bi?" Gadis mengulang pertanyaan, sebab Bi Junah tadi belum menjawab pertanyaannya.


"Oh, ada, Non. Ayo, silahkan masuk dulu, Bibi jadi kelupaan menyuruh Non Gadis masuk." Bi Junah terkekeh karena menyadari terlupa menyuruh masuk Gadis masuk.


"Sebentar Bibi panggilkan Mbak Airin nya, Non." Setelah menyuruh Gadis masuk, Bi Junah segera berjalan menaiki anak tangga untuk memberitahu Airin soal kedatangan Gadis.


Di dalam kamarnya, Airin baru selesai melaksanakan sholat Dzuhur bersama Luna. Setelahnya ia berniat menyuruh Luna tidur siang, sebab dia dan Luna sudah makan siang satu jam sebelumnya.


Tok tok tok


"Mbak Airin, ada Non Gadis di depan, Non."


Suara ketuk pintu dan suara Bi Junah membuat Airin menghentikan niatnya mengantar Luna tidur, dan memutar arah langkahnya ke arah pintu kamar.


"Ada apa, Bi?" tanya Airnya ketika membuka pintu.


"Maaf, Mbak. Ada Non Gadis di depan cari Mbak Airin," jawab Bi Junah.


Airin membulatkan bola matanya ketika mendengar kedatangan Gadis untuk menemuinya. Seketika ia teringat cerita sang suami tentang Gadis dan Haikal. Ada apa Gadis menemuinya? Tidak biasanya Gadis menemuinya di rumah Apa kedatangan Gadis ada hubungannya dengan Haikal? Airin bertanya-tanya.


Airin pun lalu keluar dari kamarnya bersama Luna untuk menemui Gadis.


"Kak Adis ...!" Dari anak tangga Luna berteriak memanggil nama Gadis ketika matanya melihat keberadaan Gadis duduk di sofa. Sifat introvert Luna makin lama makin mengikis seiring makin banyak ia berinteraksi dengan orang-orang, terutama di kantor Gagah.


"Hai, Luna!" Gadis melambaikan tangannya ke arah Luna, "Halo, Kak Airin," lanjutnya menyapa Airin seraya bangkit dari sofa.


"Wah, ada apa gerangan kedatangan tamu istimewa siang ini?" tanya Airin dengan bercanda.


"Kebetulan saja mampir, Kak." jawab Gadis berbohong, padahal memang tujuannya adalah bertemu dengan Airin.


"Kak Gadis beli pizza untuk Luna, Luna mau tidak?" Gadis menyodorkan pizza pada Luna.


Luna mendongakkan kepala menatap Mamanya meminta ijin. Dan setelah Airin menganggukkan kepala menyetujui, Luna langsung menerima pizza dari tangan Gadis.


"Makacih, Kak Adis." Luna lalu menyerahkan pizza kepada Airin, "Buka, Ma." Luna ingin memakan pizza itu.


"Luna mau makan pizza, ya?" Airin lalu membuka tali plastik yang mengikat kardus pizza lalu mengambil satu potong dan mulai menyuapkan ke mulut Luna.


"Luna suka makan pizza, ya?" tanya Gadis.


"Iya, Kak. Enak ..." Luna menyantap pizza sambil mengangkat jempolnya.


"Kamu dari mana, Gadis?" tanya Airin sambil menyuapkan pizza ke Luna.


"Hmmm, habis dari teman, Kak. Dekat-dekat sini juga, sih." Kembali Gadis berbohong agar tidak ketahuan jika sebenarnya dia sengaja ke sana.


"Kak Airin tidak ke kantor BDS?" tanya Gadis.


"Tidak, Dis. Tidak enak setiap hari ke sana," jawab Airin, "Oh ya, Dis. Saya minta maaf soal adik saya, ya. Barangkali ada ucapkan dia ga g sudah membuat hati kamu tersinggung." Airin merasa perlu minta maaf kepada Gadis mengenal sikap adiknya.


Gadis terkesiap ketika Airin menyinggung soal Haikal. Dia menduga jika Gagah lah yang sudah bercerita soal kejadian pertemuan dirinya dengan Haikal beberapa hari lalu.


"Kak Gagah yang cerita, ya, Kak?" tanya Gadis malu.


"Iya ..." jawab Airin.


"Hmmm, Kak Gagah cerita apa saja?" Gadis menduga jika Gagah akan menambah-nambahi kejadian yang sebenarnya.


"Mas Gagah hanya cerita kamu marah waktu Haikal sapa kamu dengan panggilan 'Bu'," sahut Airin.


"Ah, aku tidak marah, kok. Kak Gagah saja yang terlalu berlebihan menduga seperti itu," tepis Gadis mencoba menyangkal sikap yang sebenarnya. Dia malu pada Airin, hanya karena panggilan itu saja dia harus merajuk seperti itu.


"Oh ya, adik Kak Airin itu kerja di BDS sudah lama?" Gadis mencoba menutupi rasa malunya dengan bertanya tentang Haikal pada Airin.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2