
Gagah turun dari mobil dengan mengangkat tubuh kecil Luna yang tertidur di lengannya. Luna sepertinya kelelahan sampai pulang pun tidak juga mau membuka mata, hanya menggeliat saja. Sepertinya putri sambungnya itu terlalu kelelahan karena telat tidur siang. Dan Gagah membiarkan saja tidak membangunkan Luna.
Airin yang sejak tadi menunggu kedatangan suaminya di sofa tamu sambil membaca majalah Ibu dan Anak segera menyambut Gagah di teras rumah ketika mendengar suara mobil Gagah berhenti di depan rumah.
"Assalamualaikum ..." Gagah mengucap salam sebagaimana biasanya.
"Waalaikumsalam, Luna masih tidur, Mas?" Airin ingin mengambil Luna tapi Gagah melarangnya.
"Biar aku saja," tolak Gagah, lalu menyerahkan tas kerja di tangannya kepada Airin kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
"Luna sudah mandi belum, Mas?" tanya Airin.
"Belum," jawab Gagah sambil menaiki anak tangga.
"Sudah lama Luna tidurnya?" tanya Airin mengekor di belakang Gagah.
"Hampir dua jam," sahut Gagah, "Nanti dibangunin saja pelan-pelan. Dia juga belum makan sore," ujarnya kemudian.
Sampai di kamarnya, Gagah merebahkan tubuh Luna di tempat tidurnya, bukan di kamar Luna. Namun tiba-tiba saja cairan merembes dari celana Luna.
Airin terbelalak saat menyadari putrinya itu mengompol. Dia buru-buru mengangkat tubuh Luna yang tertidur di spring bed kamarnya.
"Kenapa?" Gagah yang tidak mengetahui jika Luna mengompol bertanya heran, sebab Airin mengangkat Luna. Gagah kembali mengambil tubuh Luna dari tangan Airin karena tak ingin istrinya itu menggendong Luna, padahal Airin sedang hamil.
"Luna ngompol, Mas." Airin menggigit bibirnyam Dia melihat kemeja yang dipakai suaminya lah yang kini terkena ompol Luna.
Gagah baru merasakan lembab di kemaja yang ia pakai. Sebagai seorang yang sangat perfeksionis, hal-hal seperti ini adalah hal yang tidak dia sukai. Namun, tak mungkin juga doa dia menolak Luna. Mau tidak mau dia tetap bersikap yang tidak mengecewakan Airin.
"M-maaf, Mas." Airin memasang wajah bersalah. "Mas tidak memakaikan Luna pampers?" Padahal Airin sudah membawakan diapers ketika Luna pergi tadi.
"Aku pikir dia tidak akan ngompol." Gagah meletakkan tubuh Luna kembali ke atas spring bed namun letaknya berbeda dari yang sebelumnya.
"Kamu bangunkan Luna dulu, suruh mandi." Setelah menyuruh Airin mengurus Luna, Gagah kemudian melepas kemejanya dan berjalan ke arah kamar mandi di kamarnya, ia sendiri ingin segera membersihkan tubuhnya.
***
"Ma, Luna mau bobo cama Mama cama Papa ..."
Airin menghentikan lagu yang dinyanyikannya sebagai pengantar tidur saat Lana mengatakan suatu hal yang diinginkannya.
"Nanti Luna ngompol ..." Airin melarang sebab dia tidak enak hati pada Gagah jika Luna sampai ngompol lagi di tempat tidur mereka. Sore tadi saja, Gagah langsung menyuruh ART untuk membersihkan bekas ompol Luna di sping bed agar tidak menimbulkan bau tidak enak di kamar mereka.
"Luna pakai pempes, Ma." Luna menepuk pan tatnya sendiri menunjukkan jika memakai diapers.
"Sudah, Luna bobo di sini saja." Airin tetap melarang keinginan putrinya.
Luna tiba-tiba bangkit dan turun dari tempat tidurnya, membuat Airin pun ikut bangkit.
"Luna mau ke mana, Nak?" Airin melihat Luna berlari ke arah kamar orang tuanya.
"Mau bobo cama Papa," sahut Luna, namun ia berhenti di pintu, melongok ke arah tempat tidur Gagah, tapi dia tak melihat keberadaan Gagah di tempat tidur.
"Papa masih kerja, tuh." Airin menunjuk ke arah Gagah yang masih serius menatap laptop di depan meja kerjanya.
Suara Airin terdengar oleh Gagah, hingga membuat pria itu menoleh ke arah pintu. Keningnya berkerut saat melihat Luna dan Airin berdiri di dekat pintu menatap ke arahnya.
"Lho, Luna belum bobo?" tanya Gagah mendorong kursi yang dia duduki dengan punggungnya.
"Luna minta tidur di sini, Mas." jawab Airin.
"Luna ndak ngompol lagi, Pa. Luna pakai pempes." Luna kembali menepuk pan tatnya.
Gagah tersenyum melihat Luna yang berjanji tidak akan mengompol. Dia lalu bangkit dan berjalan mendekat ke arah Luna.
"Luna mau bobo sama Papa?" Gagah mengangkat tubuh Luna dan membawanya ke tempat tidur.
"Iya, Papa bobo jangan kelja telus, udah malam." Luna menahan lengan Gagah dan meminta Gagah berhenti dengan aktivitas pekerjaannya lalu menemaninya tidur.
"Kenapa Papa tidak boleh kerja?" tanya Gagah merebahkan tubuhnya di samping Luna.
"Tadi ciang Papa udah kelja, nanti Papa cakit kalau kelja banyak-banyak," sahut Luna, menganggap Gagah sudah cukup lelah bekerja siang hari.
Gagah tersenyum seraya melirik ke arah Airin yang baru duduk di tepi tempat tidur di sisi tang berseberang dengannya.. Dia senang melihat Luna yang tulus menyayanginya dan mempedulikan kesehatannya meskipun Luna masih sangat kecil.
"Anak Papa pintar sekali ini ... Cup ..." Sebuah kecupan dihadiahkan Gagah di pipi Luna. "Sekarang Luna juga harus bobo sudah malam." Gagah memeluk dengan melingkarkan tangannya di tubuh mungil Luna menyuruh Luna tidur.
__ADS_1
"Mama juga bobo sini sama Luna." Gagah menepuk tangannya di sisi kosong di samping Luna lalu mengajak istrinya untuk tidur bersama menemani Luna.
Airin menuruti apa yang diminta suaminya hingga kini dia merebahkan tubuhnya. Dia menatap Gagah dan putrinya secara bergantian. Tak sadar sudut bibirnya tertarik ke atas menampakkan senyum kebahagiaan yang tidak mungkin dia tampikkan.
Kehadiran sosok Gagah memang sangat berarti baginya. Gagah bagaikan penawar yang ampuh untuk mengobati luka hati yang disebabkan oleh Rey sebelumnya. Dan dia benar-benar bersyukur tak terus berkeras hati menolak niat yang ingin menikahinya.
***
Rey memperhatikan beberapa kantong belanjaan yang ditaruh Joice di dalam lemari ketika Joice sedang mandi. Satu persatu ia intip isi di dalam kantong belanjaan yang ternyata berisi dress, tas dan sepatu. Dari kantong belanjaan itu dapat dilihat jika semua barang yang dibeli oleh Joice semuanya barang-barang branded. Sementara hari ini tidak ada laporan pemakaian kartu kredit di ponselnya, mengartikan jika Joice tidak menggunakan kartu kredit miliknya.
Tak biasanya Joice seperti ini, biasanya Joice selalu memanfaatkan kartu kredit miliknya untuk memenuhi gaya hidup yang ingin selalu terlihat mewah. Hal ini tentu membuat kecurigaan Rey jika Joice memang mempunyai pria lain yang mendanai kebutuhan Joice, kemungkinan memang benar adanya.
Rey melihat ke arah tas milik Joice ingin mencari sesuatu di dalam tas Joice. Matanya melirik ke kamar mandi di kamar kost Joice, memastikan jika Joice masih lama di dalam sana. Rey merogoh tas untuk mencari ponsel Joice, ingin menyelidik dari mana Joice mendapat uang untuk membeli barang-barang yang berharga jutaan rupiah tersebut.
Kening Rey berkerut saat mengetahui kunci layar milik tidak dapat dibuka, sepertinya Joice mengganti kode layar ponselnya sehingga tidak bisa melihat aktivitas di ponsel Joice. Ada apa Joice sampai merubah kode layar ponselnya? Apa ada hal yang disembunyikan oleh Joice darinya? Rey makin bertanya-tanya.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka, Rey buru-buru memasukkan kembali ponsel milik Joice dan menjauh dari tas milik Joice.
"Kamu habis shopping? Banyak sekali belanjaannya. Siapa yang membayar ini semua? Tidak ada transaksi berasal dari credit card ku." selidik Rey sambil membuka kembali pintu lemari pakaian Joice sehingga semua kantong belanjaan Joice terlihat jelas.
"Hmmm, i-iya ... tadi ketemu teman lama dan aku dibelikan barang-barang ini." Joice berbohong soal siapa yang membayar belanjaannya.
"Hebat sekali temanmu memberikan kamu barang-barang sebanyak ini," sindir Rey tak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Joice.
Merasakan jika Rey mulai meragukannya, Joice segera melepas handuk yang menutupi tubuhnya hingga kini tubuhnya tak berbalut apa pun. Joice berjalan mendekat ke arah Rey dan memeluk Rey.
"Honey, kamu ini kenapa, sih? Marah-marah terus dari tadi?" Joice merangkul tengkuk Rey, berusaha meredakan amarah Rey dengan sentuhan-sentuhan yang biasanya sanggup meredakan kemarahan Rey.
Rey mendengus kasar, pemandangan tubuh Joice yang indah dan putih mulus memang selalu sanggup melunturkan imannya. Tapi, entah kenapa kali ini dia merasa tak bernaf su menikmati tubuh Joice, apalagi jika dia membayangkan pria lain pun telah menjamah tubuh. Joice.
Rey menepis Joice, menjauhkan tubuh Joice yang saat ini tak berbalut sehelai benang pun dari tubuhnya, sepertinya kekesalannya jauh melebihi godaan yang ada di depan matanya.
"Dengarkan kamu, Joice! Aku sudah banyak berkorban untukmu, jika sampai kamu mengkhianatiku dengan berselingkuh dengan pria lain, kau akan rasakan akibatnya!" Dengan tangan menunjuk ke arah wajah Joice, Rey memberi ancaman pada Joice.
"Honey, percayalah, sumpah mati aku tidak selingkuh!" Joice bersumpah jika tuduhan yang dilayangkan oleh Rey padanya tidaklah benar.
Sumpah yang diucapkan oleh Joice tak membuat Rey percaya begitu saja. Dia tak menggubris perkataan Joice lalu pergi meninggalkan Joice.
Rey bergegas meninggalkan tempat kost Joice dengan diselimuti emosi yang membuncah. Dia merasa sakit hati jika Joice benar mengkhianatinya. Dia sudah kehilangan keluarganya, bukan hanya Airin dan Luna, tapi juga orang tuanya yang tak sudi menerimanya pulang ke rumah karena perselingkuhan dan perceraiannya. Belum lagi materi yang dia miliki yang selama ini ia hamburkan untuk kesenangan Joice.
Rey menepikan mobilnya lalu keluar dari dalam mobilnya. Kehadiran Rey tentu saja menyita perhatian pria-pria yang kumpul di sana. Apalagi dengan penampilan Rey yang perlente menggunakan dasi juga blazer.
"Bu, saya minta kopi hitam satu." Rey memesan kopi kepada Ibu warung lalu duduk menghadap pria-pria yang bermain kartu.
"Abang-abang ini tidak bekerja?" tanya Rey pada orang yang ada di hadapannya.
"Kita kerjanya suka-suka kita, Mas." jawab salah satu pria berkumis.
"Maksudnya kerja kalau ada yang dikerjakan, bos." sahut pria berkepala plontos.
"Abang-abang ini sudah berkeluarga?" tanya Rey kemudian.
"Sudah, Mas." sahut pria berkumis.
"Kalau sudah berkeluarga, lalu tidak ada yang dikerjakan, lalu Abang dapat uangnya dari mana untuk diberikan pada keluarga?" Rey sudah seperti wartawan yang sedang mewawancarai nara sumber.
"Yaaaa ..." Pria berkepala plontos menjeda kalimatnya sambil melirik ke temannya, "Ya mengadu nasib seperti ini, Bos. Bos kalau bisa kasih kerjaan ke kita, kita juga mau kerja kayak bos, kerja kantoran, pakai jas, pakai dasi, pakai mobil," lanjutnya menyeringai.
Rey terkekeh mendengar ucapan pria berkepala plontis, "Sayangnya saya tidak punya usaha sendiri, Bang. Saya juga kerja di tempat orang." Rey mengambil dompet di saku blazernya dan mengeluarkan uang sebanyak dua ratus ribu rupiah.
"Bu, ini untuk bayar kopi saya dan punya Abang-abang ini, sisanya ambil saja." Rey menyerahkan uang itu pada ibu warung.
"Wah, makasih, nih, Bos." sahut pria berkepala plontos.
"Bu, sisanya buat bayar utang saya, Bu." Pria berkumis kepada ibu warung.
"Saya juga, Bu." pria berkepaka plontos mengikuti.
"Mana cukup nutupin hutang kalian," sahut Ibu warung.
"Tapi lumayan buat kurangin dikit hutang kitalah, Bu." kata pria berkumis.
Rey memperhatikan dua pria itu, otaknya mulai bekerja, sepertinya dia bisa meminta bantuan kedua pria itu untuk menyelidiki Joice.
__ADS_1
"Hmmm, berapa total hutang Abang-abang ini, Bu?" tanya Rey pada Ibu warung.
"Mau bayarin hutang kita, Bos?" tanya pria berkepala plontos.
"Berapa total semuanya?" tanya Rey kembali.
"Setengah juta, Pak." jawab Ibu warung.
Rey mengambil lima lembar uang seratus ribuan lalu menyerahkan kepada Ibu warung.
"Ini untuk membayar hutang-hutang mereka," ucapnya kemudian.
"Waduh, Bos. Makasih banyak sudah bayar hutang-hutang kami." Si plontos menyalami Rey sambil mengucapkan terima kasih.
"Makasih, Bos. Semoga bos lancar rejekinya," ujar pria berkumis.
"Saya ada job untuk kalian," kata Rey kemudian menyesap kopi.
"Job apa, Bos?" tanya si kepala plontos.
"Kalian ikut saya." Rey bangkit dari duduknya.
"Tunggu-tunggu, tapi bukan untuk melakukan kejahatan 'kan, Bos?" tanya pria berkumis curiga.
"Benar, Bos. Biarpun kita pengangguran, tapi kita tidak bisa pernah melakukan tindakan kejahatan yang menyakiti orang lain, paling cuma taruhan main kartu doang." Sambil menyeringai dan menggaruk tengkuknya, pria berkepala plontos itu mengatakan tidak ingin melakukan kejahatan yang mengancam nyawa orang lain.
Rey tersenyum seolah meyakinkan jika apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan hukum.
"Abang-abang tenang saja, saya tidak akan menyuruh Abang-abang ini melakukan tindakan kriminal," jawab Rey menegaskan.
Kedua pria itu saling berpandangan, setelah mengalahkan kepastian dari Rey jika mereka tidak disuruh melakukan hal negatif, akhirnya mereka berdua pun mau mengikuti Rey yang melangkah kembali ke dalam mobil.
***
Pak Jojo, kepala HRD menghadap pada Gagah. dia ingin menginformasikan pada Gagah rencana membuka lowongan pekerjaan karena ada beberapa staf dari perusahaan Bintang Departement Store yang akan mengakhiri masa tugasnya di perusahaan retail tersebut. Baik mereka yang masa tugasnya berakhir karena faktor usia maupun yang resign karena urusan pribadi.
"Berapa orang staff kita yang akan resign bulan depan, Pak Jojo?" tanya Gagah.
"Ada lima orang, Pak Gagah. Mereka adalah Pak Zaenudin dari divisi marketing, Pak Stevan dari Finance & Accounting dan tiga karyawan lainnya dari staff adiminstrasi dan General Affair, Pak." Pak Jojo menerangkan.
Tok tok tok
"Kak, ini sudah selesai aku cek dan aku tanda tangani." Gadis masuk ke dalam ruangan Gagah dan menyerahkan beberapa lembar berkas penting pada Gagah.
"Gadis, duduklah dulu." Gagah meminta Gadis untuk ikut berbicang dengannya dan Pak Jojo.
"Ada apa, Kak?" tanya Gadis kemudian duduk di kursi sebelah Pak Jojo.
"Pak Jojo baru saja melaporkan jika perusahaan kita akan merekrut beberapa tenaga untuk mengisi posisi karyawan yang akan resign bulan depan dan dua bulan ke depan. Biasanya kami memang membuka lowongan pekerjaan untuk umum. Nanti akan dipilih siapa saja yang berkompeten bisa bergabung dengan BDS." Gagah merasa wajib memberitahu rencana pengrekrutan tenaga baru di perusahaan itu kepada Gadis sebagai CEO di sana.
"Kalau memang seperti itu, aku sih setuju saja, Kak." sahut Gadis menuruti apa yang disebutkan oleh Gagah tadi.
"Tapi, untuk sekarang ini, saya berencana merekrut karyawan dari cabang yang memang mempunyai kemampuan yang mumpuni untuk bergabung dengan kita di pusat. Biar nanti mereka yang merekrut karyawan baru masing-masing di cabang." Gagah justru mengambil keputusan untuk mengambil beberapa karyawan terbaik dari beberapa staff di perusahaan cabang Bintang Departement Store yang ada di seluruh pulau Jawa.
"Bagaimana menurut Pak Jojo?" Gagah meminta pendapat Pak Jojo tentang keputusannya tersebut.
"Saya setuju, Pak. Lebih menghemat waktu kita, sebab mereka sudah menjadi bagian BDS sebelumnya, jadi sudah tahu cara kerja kita." Pak Jojo menyetujui usulan Gagah.
"Menurut kamu bagaimana, Gadis?" Kini Gagah meminta jawaban dari Gadis.
"Hmmm, aku sih setuju-setuju, Kak. Kalau menurut Kak Gagah dan Pak Jojo itu yang terbaik, aku menurut saja," jawab Gadis, tak mencurigai jika keputusan yang diambil oleh Gagah adalah rencana terselubung untuk menarik Haikal bergabung dengan Bintang Departement Store pusat yang berkantor pusat di Jakarta.
*
*
*
Bersambung ...
Visual Gadis
Visual Haikal
__ADS_1
Happy Reading❤️