
Setelah berbicara dengan Gadis dan Pak Jojo tentang rencana perekrutan pegawai dari beberapa cabang Bintang Departement Store. Gagah segera menghubungi Haikal untuk memberitahu soal rencananya yang ingin menarik Haikal bergabung dengan Bintang Departement Store pusat di Jakarta.
Bukan karena aji mumpung, namun Gagah memang sudah mendapat rekomendasi dari manager di tempat Haikal berkerja jika Haikal memang salah satu pegawai teladan dan berdedikasi tinggi di sana. Gagah merasa butuh orang-orang seperti Haikal bergabung di kantor pusat.
"Assalamualaikum, Kak Gagah." Suara Haikal terdengar ketika panggilan teleponnya terhubung dengan Haikal.
"Waalaikumsalam, Kal. Kamu sedang di kantor?" tanya Gagah pada adik istrinya itu.
"Iya, Kak. Ada apa, Kak?" tanya Haikal setelah menjawab pertanyaan Gagah.
"Haikal, aku berencana menarik kamu untuk bergabung di kantor pusat. Karena ada beberapa staff di sini yang akan resign bulan depan, jadi kamu bersiap saja. Bilang juga pada Bapak dan Ibu tentang rencana perpindahan kamu ini." Gagah menyuruh Haikal meminta ijin pada kedua orang tuanya.
"Aku bekerja di kantor pusat, Kak?" Suara Haikal terdengar terkejut dengan informasi yang disampaikan oleh Gagah.
"Iya, ini kesempatan besar untuk kamu merintis karirmu di BDS pusat, Haikal. Nanti kamu bisa ikut kuliah karyawan, biar aku yang akan membiayai kuliah kamu, agar kamu bisa mendapatkan posisi yang lebih baik dan salary yang sepadan dengan keahlian kamu nantinya." Gagah bahkan berencana akan membiayai kuliah Haikal agar Haikal mendapat gelar akademis demi mendapatkan posisi yang lebih baik.
"Aduh, Kak. Aku tidak merepotkan Kak Gagah." Haikal menolak, tak enak jika dia harus membebani Gagah dengan membiayai kuliah yang pasti tidak sedikit meskipun ia tahu jika kakak iparnya itu sangat kaya raya.
"Kamu adik Airin, berarti adikku juga. Tidak usah sungkan terhadapku. Kalau memang kamu mempunyai peluang mengembangkan karir kamu, lakukan saja. Apalagi di Jakarta ini kamu ada aku, kakakmu dan juga keluarga Om Fajar, jadi kamu tidak perlu merasa khawatir akan kesulitan di sini." Gagah meyakinkan Haikal agar bersemangat menggapai prestasi tertinggi dalam bidang pekerjaan. Baginya, seorang pria harus bekerja keras mencapai karir dan sukses agar Haikal menjadi pria yang mapan.
Tak ada jawaban dari Haikal, sepertinya pria itu sedang berpikir mengenai tawaran yang diberikan Gagah kepadanya.
"Baiklah, Kak. Nanti aku bicarakan hal ini sama bapak dan ibu," ujarnya kemudian.
"Ya sudah, nanti saya akan hubungi manager di sana tentang rencana kamu promosi ke kantor pusat. Aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum ..." Gagah ingin mengakhiri sambungan telepon dengan Haikal.
"Baik, Kak. Waalaikumsalam ..." sahut Haikal sebelum panggilan telepon berakhir.
***
Setelah Maghrib, Haikal sampai di rumah orang tuanya. Dia memarkirkan motornya di teras lalu masuk ke dalam rumah orang tuanya. Sebelum waktu kerja berakhir, Manager BDS Yogyakarta memanggilnya untuk membicarakan rencana Gagah yang akan menarik Haikal ke Jakarta.
Sejujurnya Haikal merasa tak enak, bukan hanya kepada bosnya saja tapi juga pada pegawai lainnya terutama yang sudah berkarir cukup lama di sana. Sebab dialah yang mendapatkan promosi ke kantor pusat, yang berarti kemungkinan untuk bisa naik jabatan sangat tinggi. Apalagi semua pegawai di sana sudah mengetahui jika dirinya adalah adik ipar dari Gagah, orang yang punya pengaruh kuat di perusahaan retail tersebut. Tak sedikit pegawai di sana yang mencibir, jika kepindahan Haikal dari pramuniaga biasa menjadi supervisor adalah karena campur tangan Gagah. Dan kalau sekarang dirinya jadi dipromosikan ke kantor pusat, makin kencanglah gunjingan di antara pegawai di sana.
"Assalamualaikum ..." Haikal membuka pintu rumah dan berjalan masuk dan menaruh helm di atas rak dekat pintu.
"Waalaikumsalam, kok baru pulang, Kal?" tanya Ibu Heny membuka gordyn yang memisahkan ruangan tamu dengan ruang keluarga.
"Iya, Bu. Tadi disuruh menghadap bos dulu." Haikal mencium tangan Ibunya.
"Bapak mana, Bu?" tanya Haikal mencari keberadaan Pak Baskoro.
"Bapak sedang nonton bola di ruang keluarga," sahut Ibu Heny.
"Oh ..." Haikal lalu berjalan ke arah ruang keluarga. Dia melihat Pak Baskoro serius menonton pertandigan sepakbola.
"Berapa-berapa skornya, Pak?" Haikal langsung bergabung dengan Pak Baskoro menonton pertandingan sepakbola. Hampir setiap ada pertandingan sepak bola lokal ataupun tim nasional, jika ada waktu bersama, dia selalu nonton bareng pertandingan sepakbola di televisi dengan bapaknya. Dan moment itu sepertinya akan berakhir jika dia jadi pindah ke Jakarta.
"Satu kosong untuk timnas, Kal." jawab Pak Baskoro.
Haikal memperhatikan Pak Baskoro, secepatnya dia harus menyampaikan tentang rencana perpindahannya ke Jakarta kepada Pak Baskoro seperti yang diminta oleh Gagah.
"Kamu sudah sholat Maghrib, Kal?" tanya Ibu Heny yang membuatkan teh hangat untuk Haikal.
"Sudah, Bu. Tadi sebelum pulang aku sholat dulu," jawab Haikal.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu, Ibu mau siapkan makanan." Ibu Heny kembali ke dapur, sebab dia ingin menyiapkan menu makan malam untuk keluarganya.
"Pak, tadi Kak Gagah telepon aku." Tak menuruti perintah Ibunya, Haikal justru membicarakan soal rencana promosinya kepada Pak Baskoro.
Pak Baskoro menoleh pada Haikal, apa pun tentang menantunya yang kaya raya pasti dia rasakan sangat penting.
"Ada apa Gagah menghubungimu, Kal? Airin baik-baik saja, kan?" tanya Pak Baskoro.
"Kalau Mbak Airin ada masalah, teleponnya ke Ibu bukan ke aku, Pak." sahut Haikal terkekeh.
__ADS_1
"Ada apa Gagah telepon kamu? Apa masalah pekerjaan? Apa kamu kena teguran? Kamu harus jaga nama baik kakak iparmu, Haikal." Mengira anaknya melakukan kelalaian dalam pekerjaan, Pak Baskoro menegur dan menasehati Haikal.
"Bapak tenang saja, ini bukan hal buruk, kok, Pak. Mana mungkin aku mengecewakan Kak Gagah dan Mbak Airin," tepis Gagah menyanggah dugaan Pak Baskoro.
"Lalu ada urusan apa, Haikal? Kamu jangan bikin Bapak penasaran gini, dong!" Menganggap Haikal terlalu bertele-tele, Pak Baskoro tidak sabar ingin tahu apa yang dibicarakan Gagah pada Haikal.
"Kak Gagah ingin aku kerja di pusat, Pak. Kebetulan di sana ada beberapa karyawan yang resign, jadi aku dipromosikan ke pusat." Haikal menceritakan hal apa yang dibicarakan dengan Gagah di telepon siang tadi.
"Kamu pindah ke Jakarta?" Pak Baskoro terkesiap mendengar kabar dari Haikal, tentang rencana Gagah. Pak Baskoro sampai mengambil remote dan menurunkan volume suara televisi yang sedang ia tonton.
"Iya, Pak." sahut Haikal, "Menurut Bapak gimana?" Haikal minta pendapat Bapaknya.
Pak Baskoro menghempas nafas perlahan, sebagai orang tua tentu saja ia merasa senang anaknya mendapatkan pekerjaan yang mapan, tapi dia juga khawatir jika hal tersebut akan timbul kecemburuan di antara karyawan BDS lainnya jika mengetahui Haikal banyak dibantu Gagah untuk mendapatkan posisi yang cukup bergengsi di usianya yang masih muda.
"Memangnya tidak masalah kalau kamu pindah ke sana, Haikal? Bapak takut akan jadi pergunjingan karyawan di sana, Kal. Apalagi kalau tahu kamu adik ipar Gagah dan cuma lulusan SMA." Rasa cemas Pak Baskoro tak dapat disembunyikan.
"Kak Gagah bilang, nanti aku bisa kerja sambil kuliah di sana, Pak." jawab Haikal.
"Kerja sambil kuliah? Apa kamu bisa mengatur waktunya, Haikal?" tanya Pak Baskoro.
"Iya, nanti bisa ambil kelas karyawan, Pak. Kuliah malam hari atau di akhir pekan," jelas Haikal, dia sempat mencaritahu di mana dia bisa berkuliah seandainya ia pindah ke Jakarta nanti.
"Coba kamu bicarakan dulu dengan Mbakmu, Kal. Bagaimana menurut dia? Jangan sampai rencana mempromosikan kamu ke kantor pusat jadi bomerang, apalagi kamu bilang sendiri jika direktur utama di sana bukan kakak iparmu lagi," saran Pak Baskoro menyuruh Haikal konsultasi dengan Airin.
"Iya, Pak. Nanti aku bicara dengan Mbak Airin." Sebagai anak yang patuh pada orang tua, Haikal tentu akan melaksanakan apa yang dianjurkan oleh Bapaknya.
"Lho, kamu kok belum mandi, Kal?" Ibu Heny kembali ke ruang keluarga dan masih mendapati Haikal belum mandi hingga membuatnya bertanya.
"Tadi aku habis ngobrol sama Bapak dulu, Bu." Haikal bangkit dan berjalan ke arah kamarnya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum ikut makan malam bersama kedua orang tuanya.
"Bicara apa sih, Pak?" Bu Heny penasaran.
"Hanya membahas soal bola." Pak Baskoro kembali menaikkan volume suara televisi di hadapannya, tak ingin membahas soal rencana kepindahan Haikal pada istrinya saat ini.
***
Sejujurnya Airin sangat merindukan sentuhan dari sang suami. Sejak dirinya diketahui hamil, mereka berdua tidak pernah melakukan hubungan in tim suami istri dengan alasan karena kehamilan Airin yang masih sangat muda, Gagah merasa tak tega mengga uli istrinya di kehamilan trimester pertama Airin.
Airin melirik ke arah pintu penghubung kamar Luna dengan kamar Gagah. Ada keinginan untuk 'minta jatah' pada sang suami, tapi dia malu melakukannya. Padahal bersama Rey, tanpa malu dia sering memulai lebih dahulu jika sedang ingin bercinta.
Airin berjalan perlahan meninggalkan kamar Luna kembali ke kamar Gagah. Dia melakukan apa yang dilakukan putri kemarin, mengintip Gagah dari balik dinding kamar Luna. Gagah terlihat sedang duduk bersandar di headboard tempat tidur dengan laptop di pangkuannya.
Airin menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Dia mengikat rambutnya menjadi satu lalu berjalan mendekat ke arah tempat tidur dengan membuka jubah berbahan satin, hingga kini hanya mengenakan lingerie tipis setengah paha. Dia berharap Gagah menangkap kode yang dia berikan pada suaminya itu.
Gagah melirik saat melihat Airin masuk ke dalam kamar, membuka jubah tidur hingga memperlihatkan lekuk tubuh indah sang istri. Senyumnya terkulum, menyadari jika sedang ada sesuatu pada sikap Airin saat ini, sebab tidak biasanya istrinya itu mau berpakaian sek si di hadapannya seperti saat ini.
Tatap mata Gagah terus mengikuti gerak-gerik Airin hingga kini istrinya itu menyibak selimut lalu merebahkan tubuh menghadap ke arahnya.
"Mas tidak tidur?" tanya Airin berpura-pura biasa saja padahal has ratnya untuk bercinta sedang menggebu.
Gagah menaruh laptop di atas nakas tanpa ditutup terlebih dahulu, lalu merebahkan tubuhnya di samping Airin dengan menatap wajah cantik istrinya itu. Buku jarinya mengusap lengan berkulit halus Airin.
"Kamu cantik pakai baju tidur seperti ini, sangat menggoda, tapi sungguh membuat aku tersiksa," keluh Gagah.
Kening Airin berkerut mendengar keluhan suami, lalu ia bertanya, "Tersiksa kenapa, Mas?"
"Karena aku tidak bisa melakukannya," jawab Gagah memasang wajah sedih.
"Kenapa tidak bisa, Mas?"
"Kamu sedang hamil muda, Airin. Aku tidak ingin menyakiti calon anak kita." Kini Gagah mengusap perut Airin.
"Tidak apa-apa jika dilakukan perlahan, Mas," Tanpa sadar Airin memperjelas kode agar suaminya mau melakukan hubungan suami istri seperti yang diinginkannya.
Gagah sedang menahan tawa, dia sebenarnya sedang memancing istrinya, dan jawaban yang terlontar dari mulut Airin mempertegas jika sang istri sedang menginginkan bersentuhan dengannya, tepat seperti dugaannya.
__ADS_1
Gagah mendekat dan mengikis jarak antara dirinya dengan Airin, lalu mengarahkan bibirnya ke bibir sang istri, merasakan manisnya bibir Airin yang makin lama menjadi candu baginya.
Airin menyambut sentuhan bibir yang diberikan oleh suaminya, bahkan ia lebih bersemangat mencium bibir Gagah.
Gagah tersenyum, dia senang melihat istrinya begitu berga irah, hingga dia pun makin memperdalam ciumannya. Dia mulai melanjutkan menghujani kecupan di seluruh bagian wajah dan leher sang istri, bahkan ia pun meninggalkan love bite di leher mulus Airin hingga kulit putih mulus Airin dihiasi warna merah tanda cinta darinya.
"Aaakkkhh ..." Airin mendesah, merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan beberapa Minggu ini. Tangannya kini mengarahkan tangan Gagah ke bukit kembarnya, hingga sang suami mulai meremas keduanya.
Breeettt
Gagah mengoyak lingerie tipis milik sang istri. Pemandangan indah itu terlihat jelas di depan matanya, dengan kedua bukit yang tinggi menjulang begitu menggoda untuk didakinya.
"Aaakkhh ..." Kembali Airin mendesah saat kedua bukitnya merasakan lembab rongga mulut Gagah. Saat ini sang suami sedang menjajah kedua bukit kembarnya.
Wanita cantik itu menggigit bibirnya, has ratnya yang semakin membuncah makin tak tertahankan, hingga dia mendorong tubuh Gagah menjauh dari tubuhnya. Kening Gagah mengeryitkan saat melihat sang istri mendorongnya kembali hingga dia terjatuh di samping tubuh Airin.
Airin bangkit dari tidur dan memposisikan tubuh duduk di atas perut Gagah. Sikap Airin membuat Gagah menaikkan kedua alisnya dengan senyuman terkulum di bibir pria itu.
Airin menyingkirkan lingerie yang sudah terkoyak dari tubuhnya dan menjatuhkan lingerie itu ke lantai. Perse tan dengan rasa malu, saat ini Airin sudah menjadi Airin yang sesungguhnya, wanita yang pandai melayani suami. Bahkan ia rela bersikap seperti pela cur di atas ranjang hanya untuk memberi kepuasan terhadap sang suami.
Gagah meloloskan pakaian atasnya dan langsung menangkup kedua bukit indah milik Airin, kedua tangannya memijat dengan memutar dan memainkan puncak dengan jemarinya.
Airin. merebahkan dadanya di dada Gagah, lalu menyatukan bibir mereka kembali. Sama seperti Gagah, dia pun melakukan hal yang sama dengan menghujani kecupan di wajah, leher, dada dan kini mulai turun ke perut sixpack Gagah.
Gagah menelan saliva. Serbuan gai rah sudah mulai dia rasakan, apalagi bagian bawah perutnya mulai meronta ingin segera dilepaskan untuk berkelana ke goa kenikmatan.
Airin dapat melihat pusaka milik sang suami sudah menegang dari balik boxer milik Gagah. Tanpa dikomandoi tangannya menyentuh dan mengusap bagian tubuh Gagah yang masih terbungkus boxer itu. Airin pun menurunkan boxer sang suami hingga pusaka sakti yang telah berhasil menanamkan binih di janinnya itu kini tegak berdiri.
Airin melirik ke arah Gagah, terlihat sang suami pun merasakan serbuan gairah yang sama dengannya. Perlahan Airin mendekatkan mulutnya ke pusaka Gagah dan mulai menikmati milik suaminya itu
"Aaarrrgg ...!" Gagah mengerang, saat ini Airin benar-benar sedang melayani dan memberikan kenikmatan padanya. Kepalanya seperti ingin meledak, tak tahan untuk melakukan aktivitas bercinta lebih dalam.
Jari-jari kokoh Gagah membelai kepala Airin, lalu ia bangkit terduduk, masih membiarkan Airin bermain dengan pusakanya hingga beberapa saat. Hingga kini ia menjatuhkan istrinya terlentang di tempah tidur. Gagah berganti memberikan kenikmatan yang sama pada milik istrinya dengan sentuhan ujung lidahnya membuat Airin tak henti memdesah, bahkan tubuh wanita itu menggelinjang.
"Aaakkkhh ... Mas, sekarang saja, kepalaku sudah pusing." Tak kuasa menahan ga irah yang makin membuncah, Airin meminta sang suami untuk segera memasuki babak utama dalam percintaan mereka.
Menyetujui permintaan sang istri, Gagah mulai menyatukan tubuh mereka, menggerakkan miliknya perlahan di dalam inti Airin.
"Segini nyaman tidak?" Tak ingin membuat Airin kesakitan, Gagah menanyakan apakah gerakannya membuat nyaman sang istri atau tidak.
Airin hanya mengangguk dengan mata terpejam, memfokuskan diri menikmati penyatuan mereka. Hingga beberapa menit berlalu akhirnya mereka mendapatkan pelepasan atas penyatuan mereka. Setelahnya Gagah dan Airin bergantian membersikan sisa percintaan mereka di kamar mandi.
Saat ini Airin dan Gagah sudah kembali berbaring dengan tubuh Airin memeluk sang suami. Berada dalam pelukan suami adalah hal ternyaman yang ia rasakan saat ini.
"Aku senang jika kamu memberi kode seperti tadi, meminta untuk bercinta lebih dahulu. Aku merasa dibutuhkan sebagai suami." Gagah terkekeh menggoda Airin.
Wajah Airin langsung bersemu dengan sindiran Gagah, kini ia menyembunyikan wajahnya di ketiak sang suami sambil menjawab, "Janin di perut aku ini yang ingin ketemu Papanya," jawab Airin beralasan.
*
*
*
Bersambung ...
Visual Airin
Visual Gagah
Yang ingin tahu Visual Gadis dan Haikal ada di bab 109 ya
__ADS_1
Happy Reading❤️