
Gagah membuka pintu kamar perlahan, ia ingin memberi kejutan pada Airin dan Luna tanpa membuat kegaduhan. Namun, saat ia masuk ke dalam kamar ternyata istri dan anak sambungnya itu sudah terlelap bahkan mungkin sudah berada dalam buaian mimpi.
Gagah berjalan mengendap agar kedatangannya tidak menggangu tidur mereka. Langkahnya mendekat ke arah tempat tidur, memandang wajah sang istri tanpa menyentuhnya, sebab ia belum mencuci tangan dan wajahnya.
"Bisa-bisanya kamu tidur nyenyak, Ay. Sedangkan aku tidak mungkin bisa tidur tanpa memelukmu," gumam Gagah, menganggap istrinya curang.
Gagah lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian yang ia bawa dari rumah. Dia sempat pulang terlebih dahulu ke rumah untuk mengambil pakaian sebelum pergi ke bandara.
Setelah membersihkan tubuh, Gagah langsung membaring dengan memeluk tubuh Airin dan memberikan kecupan di pipi istrinya itu.
Airin menggeliat, merasakan ada sesuatu yang menindih betisnya. Ia pun merasakan seperti ada seseorang yang mendekapnya, bahkan aroma maskulin yang familiar di penciumannya kini ia rasakan menyeruak ke dalam hidungnya.
Senyuman seketika melengkung di bibir Airin, tanpa membuka kelopak matanya. Mungkin karena ia merindukan sang suami, hingga alam bawah sadarnya sedang berangan merasakan sang suami saat ini sedang berada di dekatnya.
Semakin lama, Airin merasa keasyikan tidurnya terganggu, apalagi aroma khas Gagah semakin kuat menyeruak di penciumannya, hingga akhirnya ia membuka kelopak mata perlahan. Pandangan matanya melihat lengan kokoh melingkar di pinggangnya.
Bola mata Airin membulat, seketika ia menengok ke belakang. Di saat itulah ia dapati wajah tampan Gagah dengan pandangan menatapnya penuh keteduhan.
"Mas?" Airin. langsung memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Gagah. "Kok, Mas ada di sini? Kenapa Mas kemari?" tanya Airin dengan tangan meraba wajah sang suami mencoba meyakinkan jika dirinya tidak sedang bermimpi dengan kehadiran Gagah di sampingnya.
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh datang ke rumah mertuaku?" Gagah balik bertanya.
"Tapi, besok juga aku kembali ke Jakarta, Mas. Kenapa Mas capek-capek datang kemari?" Airin senang ada Gagah di dekatnya, namun ia merasa kasihan karena Gagah menyusulnya selepas pulang dari kantor, pasti sangat melelahkan menurutnya.
"Kamu adalah obat penghilang rasa capekku, Ay. Kamu dan Luna adalah penawar rasa lelahku. Bagaimana aku bisa jauh darimu? Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu, tidak bisa tidur tanpa menciummu. Rasanya itu lebih tersiksa bagiku, Ay." ucap Gagah membelai kepala Airin penuh rasa cinta.
"Ya ampun, Mas." Airin langsung mendekap tubuh Gagah, menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami. "Mas baik banget, sih." ucapnya kemudian.
"Cuma baik saja?" Pertanyaan Gagah bernada protes, sebab Airin hanya menyebutnya baik tanpa embel-embel lainnya.
"Hmmm, baik, penyayang, terus ... bucin," ledek Airin terkekeh.
"Apa kamu tidak suka dengan semua perlakuanku ini, Ay?" tanya Gagah menanggapi sindiran Airin yang menyebutnya bucin.
"Sekarang aku suka, Mas." Airin kembali terkekeh mengingat dulu ia sempat menolak Gagah.
__ADS_1
Gagah kini menyentuh perut Airin yang sudah membuncit. Rasanya tak sabar menunggu darah dagingnya itu lahir ke dunia. Hidupnya akan semakin sempurna dengan mempunyai keturunan sendiri.
"Semoga baby di sini sehat selalu, Papa tidak sabar menunggu beberapa bulan lagi untuk melihat kamu, Nak." ucapnya.
Airin menatap Gagah, suaminya itu terlihat bahagia ingin menyambut kelahiran anak mereka. Dia masih berpikir, apakah Gagah akan memperlakukan Luna sama seperti saat ini ketika anak mereka lahir.
"Mas ..." Airin memberanikan diri bertanya untuk meyakinkan dirinya jika Gagah tidak akan merubah sikapnya terhadap Luna.
"Kenapa, Ay?" Gagah menatap istrinya, di sana terlihat ada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan oleh Airin.
"Apa Mas akan menyanyangi Luna kalau kita punya anak sendiri?" tanya Airin.
Gagah tersenyum, sama sekali tak marah mendegar pertanyaan istrinya tadi. Gagah menganggap kekhawatiran Airin adalah hal yang wajar dirasakan oleh istrinya itu.
"Aku pernah katakan, menikahimu harus siap menjadi Papa bagi Luna, dan itu berlaku selamanya, Ay. Meskipun nanti akan lahir adik-adik Luna dari perutmu ini." Jawaban yang diberikan Gagah sanggup membuat hati Airin merasa bergetar. " Jadi, jangan pernah ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu lagi," pinta Gagah.
"Iya, Mas." sahut Airin mengangguk.
"Sebaiknya kita tidur, agar besok pagi tidak kesiangan dan tertinggal pesawat," ujar Gagah menyuruh Airin kembali tertidur, lalu mereka berdua mengistirahatkan tubuh mereka dengan Airin menjadikan bahu Gagah sebagai bantalan kepalanya.
***
Suasana di sekitar Malioboro terekam mata Gadis sangat ramai meskipun ini bukan akhir pekan. Banyak orang yang lalu lalang menikmati suasana kawasan yang memang sangat terkenal di Yogyakarta. Dan ini adalah pertama kalinya Gadis menginjakkan kaki di tempat itu.
"Kamu mau coba lumpia? Pernah makan lumpia sebelumnya?" Haikal menawarkan lumpia yang sangat terkenal di daerah itu pada Gadis.
"Lumpia?" Gadis pernah mendengar namun ia sendiri tidak tahu rasanya seperti apa.
"Iya, coba, ya!?" Walau beberapa makanan yang ditawarkan ditolak, namun Haikal masih berusaha menawarkan makanan lain pada Gadis.
"Aku sudah kenyang, Kak." Gadis masih menolak.
"Sediki saja, coba dulu. Nanti pasti kamu akan ketagihan." Tanpa menunggu persetujuan Gadis, Haikal melangkah ke kedai lumpia itu. Mau tak mau. Gadis pun mengikuti langkah kaki Haikal yang menuju ke kedai lumpia.
Haikal memesan empat lumpia. Dua berisi sayur dan ayam, dua laginya ditambah telur di dalamnya untuk mereka makan berdua. Haikal memilih tempat untuk duduk, sedangkan Gadis masih terlihat ragu untuk ikut duduk. Gadis tidak biasa berkunjung ke tempat seperti kedai lumpia itu. Dia lebih familiar datang ke restoran mewah yang harga permenunya menyentuh jutaan rupiah.
__ADS_1
"Duduk dulu, makan ini dulu baru kita pulang." Haikal menyiapkan kursi untuk Gadis dan menyuruh Gadis duduk, sebab Gadis hanya berdiri saja.
Haikal lalu menyodorkan piring beralas kertas nasi yang berisi dua buah lumpia dengan toping bengkoang yang dihaluskan dengan bawang putih.
Gadis memperhatikan makanan yang ada di hadapannya. Makanan yang belum pernah ia makan sebelumnya, rasanya seperti apa pun dia tidak tahu. Namun, jika ia lihat banyakan pembeli, sepertinya makanan dihadapannya itu sangat enak.
"Jangan dilihat saja, makanannya, dimakan, itu enak, kok." ujar Haikal, "Ini coba dulu punyaku." Haikal membelah satu buah lumpia menjadi dua bagian, lalu menyodorkan satu potongan lumpia itu ke arah mulut Gadis.
Gadis terbelalak melihat Haikal ingin menyuapinya. Ah, bukankah itu yang ia inginkan? Bukankah ini cocok disebut dengan kencan pertama? Hati Gadis seketika berbunga-bunga. Gadis tersipu malu, tanpa pikir panjang dan melihat jika lumpia itu masih panas, Gadis langsung mendekatkan mulutnya ke arah suapan dari tangan Haikal.
"Aaakkhh ..." Gadis menjauhkan mulutnya dari lumpia yang dipegang Haikal dengan mengibas tangan di depan mulutnya. "Panas, Kak." Gadis memberengut karena sudah dikerjai oleh Haikal.
"Lagian masih panas, bukannya ditiup dulu." Haikal terkekeh melihat Gadis mencebikkan bibirnya
"Mas nya iseng banget ngerjain pacarnya," celetuk pengunjung yang kebetulan memperhatikan tingkah Haikal dan Gadis tadi.
Haikal dan Gadis sontak menoleh ke arah suara orang itu. Rona merah semakin jelas di wajah Gadis mendengar orang tadi mengatakan jika ia adalah kekasih Haikal Sementara Haikal juga merasa malu sebab aksinya menjadi tontonan orang. Mereka akhirnya menikmati lumpia tanpa ada pembicaraan sama sekali, karena situasi menjadi kikuk.
Sesudah menghabiskan lumpia, Haikal memutuskan untuk kembali pulang. Gadis masih memegangi pundak Haikal karena takut terjatuh. Haikal sendiri mengendarai motor dengan kecepatan sedang, karena ia tak ingin membuat Gadis ketakutan jika ia ngebut.
Tiba-tiba sebuah motor merapat ke arah motor Haikal ketika Haikal melewati jalanan yang tidak terlalu padat. Sekejap kemudian ia merasakan motornya oleng seperti ditarik ke samping.
"Eh, jambreeettt ...!" Di saat yang bersamaan suara Gadis berteriak, membuat Haikal hilang konsentrasi dan baru menyadari jika orang yang merapatkan motor dengan motornya bermaksud tidak baik.
Haikal mencoba menstabilkan laju motornya agar tak terjatuh, namun tidak dengan Gadis, karena mencoba mempertahankan slingbagnya, tubuhnya terjatuh ke jalan.
Buuuggghh
"Aaakkkhhh ...!" Suara erangan kesakitan Gadis pun terdengar saat wanita itu merasakan benturan anggota tubuhnya menghan tam aspal.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️