
Kedua alis Gagah hampir bertautan bersamaan ia mengerutkan keningnya saat Pak Baskoro mengabarkan musibah yang menimpa Gadis. Dia terkejut dan baru mengetahui jika Gadis tidak ada di rumah keluarga istrinya saat ia datang tadi. Gagah begitu merindukan Airin, ingin sekali segera bertemu, memeluk dan menciumi istrinya, hingga ia mengesampingkan keberadaan Gadis saat ini.
Wajahnya pun mulai menegang. Gadis jatuh dari motor adalah hal paling mengerikan bagi Gagah, apalagi hal itu terjadi saat Gadis bersama dengan keluarga Airin. Dia bahkan tidak pernah berpikir jika Gadis akan pergi mengunakan motor. Gadis sudah seperti adik kandungnya, sudah pasti ia merasakan khawatir dengan hal buruk yang dialami Gadis.
"Memangnya Gadis dan Haikal sedang ke mana sampai Gadis jatuh dari motor, Pak?" tanya Gagah.
"Tadi itu mereka pergi jalan-jalan ke luar, Nak." jawab Pak Baskoro dengan tak enak hati.
Gagah mengusap kasar wajahnya mencoba menahan untuk tidak terpengaruh emosi. Dia tidak mungkin berkata kasar pada mertuanya. Dia hanya masih terheran, bagaimana Gadis sampai mau pergi menggunakan motor padahal selama ini Gadis selalu dimanjakan dengan fasilitas kemewahan kekayaan orang tuanya.
"Bapak? Ibu? Ada apa, Pak? Bu?" Dari belakang Gagah, Airin muncul dan bertanya heran melihat kedua orang tuanya ada di depan kamarnya.
"Aku akan pergi ke rumah sakit, Ay. Kamu tunggu di sini saja, ya!?" Belum sempat Pak Baskoro dan Ibu Heny menjawab pertanyaan Airin, Gagah sudah berpamitan kepada istrinya. Dia kemudian mengambil jaket karena ingin menyusul Haikal dan Gadis di rumah sakit.
"Ke rumah sakit? Memangnya ada apa, Mas? Siapa yang sakit?" tanya Airin semakin bingung.
"Haikal bilang Gadis jatuh dari motor dan sekarang sedang menjalani pemeriksaan dokter." Gagah menjelaskan pada Airin.
"Astaghfirullahal adzim." Airin terkesiap, ia menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Haikal sama Gadis memang pergi ke mana? Kok bisa Gadis bisa jatuh dari motor, Pak?" Sama seperti Gagah, Airin pun tidak tahu jika adiknya membawa Gadis pergi jalan-jalan menikmati suasana malam kota Yogyakarta. Sebab, setelah makan malam, Airin memilih masuk ke dalam kamarnya ingin menelepon Gagah.
"Tadi Haikal mengajak Gadis menikmati suasana malam hari kota Jogya, Rin." jelas Pak Baskoro.
"Lalu kondisi Gadis bagaimana, Pa? Duh, bikin masalah saja Haikal ini. Kenapa bisa naik motor, sih? Kenapa tidak pakai mobil saja?" Airin lebih lepas mengkritis adiknya ketimbang Gagah yang menahan diri.
"Sudahlah, Ay. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Gagah meminta istrinya untuk tenang. "Aku berangkat dulu, kamu istirahat saja, jangan terlalu memikirkan hal ini, nanti aku yang urus." Gagah mengecup kening Airin berpamitan.
"Aku ikut, Mas." Airin menahan lengan Gagah.
"Tidak, Ay. Kamu tidak boleh ikut ke sana! Ini sudah malam, tidak baik untukmu pergi malam-malam." Gagah tak mengijinkan istrinya yang ingin ikut.
"Tapi, Mas ...."
"Kamu tunggu di sini sama Ibu saja, Rin. Biar Ibu menemani kamu. Nanti Bapak yang antar Nak Gagah ke rumah sakit." Pak Baskoro mendukung keputusan Gagah yang melarang Airin ikut.
"Aku berangkat sekarang. Mari, Pak." Gagah mengajak Pak Baskoro untuk segera menuju rumah sakit. "Saya titip Airin, Bu." Tak lupa Gagah pun minta bantuan ibu mertuanya untuk menjaga Airin.
"Iya, Nak Gagah. Hari-hati di jalan," sahut Ibu Heny melepas kepergian suami dan juga menantunya.
***
__ADS_1
Gagah mengendarai mobil milik mertuanya menuju rumah sakit. Mobil itu adalah mobil pemberian Gagah kepada Pak Baskoro, sebulan setelah pernikahannya dengan Airin.
"Bapak minta maaf atas kelalaian Haikal, Nak Gagah." Pak Baskoro merasa tidak enak terhadap Gagah, dan meminta maaf kepada menantunya. Dia khawatir apa yang terjadi pada Gadis akan mempengaruhi posisi pekerjaan Gagah di kantor BDS.
"Saya tidak mengerti, kenapa Gadis bisa sampai jatuh, Pak?" Gadis bukanlah anak kecil seusia Luna yang mungkin masih belum stabil duduk dibonceng di belakang, sehingga Gagah bertanya heran.
"Haikal bilang kalau Gadis tadi jadi korban penjambretan, Nak." Pak Baskoro akhirnya berani membuka apa yang menyebabkan Gadis sampai terjatuh.
"Apa? Gadis dijambret?" Gagah terperanjat hingga ia menginjak rem secara mendadak. Dia tak menyangka jika Gadis menjadi korban perbuatan kriminal orang tak bertanggungjawab.
"Itu yang dikatakan Haikal tadi, Nak. Tapi Haikal tidak cerita banyak tentang pelaku dan bagaimana kejadian sebenarnya," jawab Pak Baskoro, sebab ia juga belum mendapatkan informasi seputar peristiwa penjambretan yang dialami Gadis.
Sementara di rumah sakit, Haikal sedang menghadap dokter yang menangani Gadis untuk mengetahui hasil pemeriksaan atas luka yang didapat Gadis.
"Puji Tuhan, tidak ada hal yang serius yang dialami oleh Mbak Gadis, Mas. Hanya lecet sedikit saja. Begitu juga luka di kepala. Sudah ditangani oleh suster. Sudah diberi gel agar meredam membesarnya benjolan karena benturan tadi. Mungkin psikis Mbak Gadis agak syok saja karena mengalami peristiwa penjambretan yang diceritakan Mas tadi." Dokter Freddy menerangkan hasil pemeriksaannya pada Haikal. Sebelumnya Haikal sempat mengatakan apa yang menyebabkan Gadis terjatuh dari motor yang ia kendarai.
"Syukurlah jika begitu, Dok." Haikal menarik nafas lega mendengar penjelasan dari dokter Freddy. "Lalu, apa dia bisa pulang, Dok?" tanyanya kemudian.
"Kalau mau pulang sebaiknya Mbak Gadis dibawa pakai mobil saja, Mas." saran Dokter Freddy.
"Baik, Dok. Orang tua saya sedang menjemput ke sini." Haikal sudah dikabari Bapaknya jika Bapaknya dan Gagah sedang meluncur ke rumah sakit. "Apa saya bisa melihat kondisi Gadis, Dok?" Haikal lalu meminta ijin untuk menemui Gadis.
"Silahkan, Mas." Dokter Freddy mempersilahkan.
"Kak ..." ujar Gadis saat melihat kehadiran Haikal di dalam kamar rawatnya.
"Bagaimana? Apa masih terasa sakit dan pusing?" tanya Haikal mengusap pucuk kepala Gadis, seakan melupakan jika dia hanyalah keryawan dari Gadis.
"Sedikit," jawab Gadis.
"Saya permisi dulu, Mbak Gadis. Semoga cepat sembuh." Perawat yang menemani Gadis tadi berpamitan meninggalkan mereka berdua.
"Bapak dan Kak Gagah sedang kemari menjemput kamu," ujar Haikal seraya menarik kursi dan mendekatkannya di tepi brankar sehingga bisa mendudukinya.
"Aku takut, Kak. Ngeri sekali membayangkan kejadian tadi." Bola mata Gadis kembali bergenang air mata.
"Saya minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik." Haikal menyampaikan permohonan maafnya sebab dia merasa gagal menjaga Gadis. Apalagi melihat trauma Gadis sampai ketakutan seperti itu.
"Tapi Kak Haikal tidak salah, perampok itu saja yang jahat." Gadis tidak menyalahkan Haikal atas peristiwa yang dialaminya.
__ADS_1
"Tapi seharusnya saya bisa lebih baik lagi menjaga kamu." Haikal tetap menganggap jika ia pun mempunyai andil besar membuat Gadis dijambret.
"Ini kamarnya, Pak. Silahkan ..." Suara seorang perawat terdengar dari luar ruang rawat Gadis, membuat Haikal melirik ke arah pintu.
"Assalamualaikum ...." Tak berselang lama muncul Pak Baskoro dan Gagah dari pintu masuk ruangan rawat Gadis ketika pintu terbuka, dibarengi ucapan salam yang bersamaan diucapkan Pak Baskoro dan Gagah.
"Gadis, kamu tidak apa-apa?" Gagah berjalan cepat menghampiri brankar Gadis.
"Kak, aku takut ... hiks ..." Gadis langsung memeluk Gagah ketika Gagah mendekat ke arahnya. Dia sudah menganggap Gagah seperti kakak baginya, sehingga ia ingin mengadu perihal mengerikan yang terjadi padanya tadi.
"Kamu tentang saja, semua sudah aman." Gagah mencoba menenangkan Gadis yang terisak dalam pelukannya. Pandangannya lalu Gagah menoleh ke arah Haikal yang seketika itu berdiri. "Bagaimana pemeriksaan dokter?" tanya Gagah kemudian pada Haikal.
"Dokter bilang tidak ada luka serius, Kak." jawab Haikal.
"Apa sudah melakukan pemeriksaan CT Scan?" tanya Gagah saat melihat perban di kepala Gadis. Dia khawatir ada luka di dalam yang butuh pemeriksaan lebih intensif.
"Dokter bilang cideranya ringan, tidak memerlukan pemeriksaan CT Scan, hanya mungkin Gadis agak syok saja dengan kejadian tadi, Kak." Haikal menjelaskan, "Maafkan aku, Kak." Entah berapa banyak lagi kata permohonan maaf yang akan keluar dari mulut Haikal? Karena banyak orang yang mesti ia hadapi, selain Gadis, oramg tuanya sendiri, kakak juga kakak iparnya, dan yang paling berat mungkin menyampaikan permintaan maaf pada orang tua Gadis.
"Bagaimana dengan pelaku? Apa mereka berhasil ditangkap?" tanya Gagah.
"Maaf, Kak. Aku tidak sempat memikirkan pelaku, sebab aku panik melihat Gadis jatuh, Kak." Memang bukan pelaku yang ada di pikiran Haikal saat itu. Dia lebih fokus menolong Gadis dan membawa Gadis secepatnya ke rumah sakit.
"Apa di sekitar tempat kejadian ada terpasang cctv?" Mungkin dari rekaman cctv warga bisa dilacak kendaraan pelaku yang melakukan percobaan penjambretan kepada Gadis.
"Sepertinya tidak ada, Kak. Karena itu daerah sepi dan jarang ada perumahan penduduk," terang Haikal.
"Daerah sepi? Kenapa kamu lewat jalan yang sepi, Kal?" Pak Baskoro ikut mengintrogasi putranya.
"Aku no tong jalan, Pak. Agar tidak terlalu jauh dan tidak terlalu malam sampai di rumah." Haikal beralasan.
"Cepat sampai? Dan apa yang terjadi sekarang? Kamu malah membuat Nak Gadis celaka, Haikal!" Tak terbendung Pak Baskoro mengeluarkan kemarahannya pada Haikal.
Haikal tak membantah, ia hanya diam, karena kenyataannya dia memang banyak membuat kesalahan hingga membuat Gadis celaka. Sedangkan Gadis memandang Haikal dengan rasa iba, sebab disalahkan orang tuanya karena dirinya terjatuh. Padahal itu bukan murni kesalahan Haikal. Dia berharap, Mamanya nanti dapat mengerti dan tidak menyalahkan Haikal jika nanti sang Mama tahu musibah yang dialaminya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️